Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
Irama Pembuka


__ADS_3

Karena Ernie bukan datang untuk berpartisipasi dalam penyaringan para murid, jadi pria berbaju hitam itu tidak mengizinkan untuk mengikuti dalam kondisi seperti ini, Ernie di tinggalkan di restoran, Lexie memberinya sejumlah uang, bersiap mencari cara untuk menjemputnya setelah memasuki pavilliun Heaven.


Lexie tidak terburu-buru, lagipula terlepas dia lulus atau tidak, dia sudah memiliki jalan masuk, jadi dia melihat ke arah Wilson dan Martin, Martin juga tidak ingin terburu-buru, bahkan dari awal hingga akhir raut wajahnya tidak berubah.


Wilson menatap dengan dingin mereka yang sudah lama berdiskusi,"Dasar orang-orang biasa!"


Kepercayaan diri ini begitu tinggi, Lexie tersenyum Tak berdaya, tidak berbicara.


"Bukankah kamu mengatakan bahwa kamu dapat membantu? Katakan kita harus berjalan ke arah mana?" Wilson memandang Martin dengan provokatif.


Martin tidak marah, tapi hanya mengangkat tangannya dan dengan perlahan mengarahkannya ke satu arah, dia menunjuk dengan sangat santai, begitu santai hingga membuat orang merasa bahwa dia tidak memikirkannya sama sekali, tapi hanya menunjuk berdasarkan keberuntungan.


Bibir Lexie berkedut, tidak bisa menahan diri untuk bertanya, "Tidak perlu menghitungnya?"


"Apa yang harus di hitung?" Martin bertanya dengan raut serius, tidak seperti sedang bercanda.


Lexie terpaku ditanya seperti itu, hanya bisa menoleh dan melihat ke arah Wilson, "Apa menurutmu juga berjalan ke arah itu?"


Raut wajah Wilson saat ini sangat aneh, beberapa kali, Lexie melihat tenggorokannya bergulir seakan ingin mengatakan sesuatu pada Martin, tapi pada akhirnya dia memilih untuk tidak berbicara, hanya mengangguk pada Lexie.


"Bahkan begini pun benar." Wilson mengangguk, artinya Wilson setuju dengan arah pilihan Martin? Ini membuat Lexie memiliki pandangan berbeda terhadap Martin, ketika sama sekali tidak ada arah, Martin bisa menunjuk dengan santai ke arah jalan yang benar, ini benar-benar adalah irama pembukaan.


Ketiganya berjalan ke arah pilihan mereka, kabut makin tebal, sama sekali tidak dapat melihat sekeliling, bahkan yang awalnya masih bisa mendengar suara orang-orang yang masih berdiskusi tidak jauh, setelah beberapa saat selain nafas teratur dari ketiganya, bahkan tidak bisa mendengar suara-suara lain.


Bahkan suara burung, serangga dan binatang yang lainnya pun tidak ada!


Lexie akhirnya mengerti, mengapa penyaringan ini mengharuskan orang-orang bergabung membentuk tim, jika seseorang berjalan dalam kabut tebal sendirian, tidak bisa melihat apapun, tidak bisa mendengar apapun, situasi seperti ini terlalu mengerikan, jika bentuk tim, setidaknya masih bisa melihat orang-orang di sekitar, setidaknya membuktikan bahwa diri sendiri masih hidup.

__ADS_1


Setelah berjalan beberapa saat di tengah kabut, akhirnya bisa bisa melihat pepohonan di sekitar, pohon-pohon itu sangat tinggi, ketika mendongak melihat ke atas, di selimuti oleh kabut tebal, bahkan langit pun tidak terlihat, hanya bisa melihat pohon lebat di sekeliling.


Wilson yang berada di garis depan menghentikan langkahnya, kembali menoleh untuk bertanya pada Martin yang berjalan di belakang, "Kali ini, menurutmu kemana harus pergi?"


Martin malah mendengus dingin, "Kenapa bertanya padaku lagi, bukankah kamu sangat percaya diri? Kali ini kamu yang mengatakannya!"


Singkatnya dapat di lihat bahwa meskipun Martin selalu tersenyum, tapi juga bukan orang yang bisa berbicara baik-baik, dia sudah menunjukannya sekali, kali ini, giliran Wilson.


Wison juga tahu bahwa dirinya tidak bisa mendebatnya, jadi dia berbalik dan mengambil arah ke sisi kiri.


Lexie tidak mengerti dan terlalu malas untuk mengungkapkan pendapatnya, hanya mengikuti Wilson, tapi Martin ternyata mengangguk, tidak berbicara dan mengikuti.


Lexie tahu bahwa kali ini, Wilson juga harusnya memilih jalan yang tepat.


Dua orang ini, tanpa alat bantu, ternyata dapat mengidentifikasi arah dalam kabut, dan juga memilih arah jalan yang benar, membuat Lexie seakan dirinya mendapatkan sebuah harta Karun, bagaimana bisa dua orang yang keberadaanya bagai dewa ini memilikinya yang tidak berguna?


Tiba-tiba terdengar teriakan ketakutan di kejauhan.


Langkah ketiga orang itu terpaku, tanpa sadar melihat ke arah itu.


"Suara ini, terdengar sedikit familiar." Ingatan Lexie sangat baik, suara yang didengarnya tidak sulit untuk diingat, benar juga, bukankah itu suara orang yang mengejeknya betkali-kali yang mengatakan bahwa Lexie adalah seorang wanita? Sepertinya mereka juga sudah datang ke sini?


"Ya, itu adalah beberapa orang yang mengataimu yang mengatakan bahwa wanita tidak layak untuk mengikuti ujian penyaringan." Kata Martin dengan datar, ada kekesalan dalam nada bicaranya.


Lexie tidak menyangka, dia juga mendengarnya, "Apa kita perlu pergi untuk melihatnya?"


"Terhadap mereka yang pernah menindasmu, kamu ingin pergi membantu?" Martin menarik sudut bibirnya, sangat jelas tidak setuju.

__ADS_1


Lexie mengangkat bahu, "Aku hanya bertanya, tidak mengatakan bahwa aku akan membantu."


Ketika Wilson mendengar percakapan kedua orang itu, dia segera mengangguk setuju, "Ya lebih baik kita segera pergi, karena dia berteriak meminta tolong, mungkin ada sesuatu di sekitar."


Lexie bukan Marry Sue, yang berbuat kebaikan dimana-mana, sebaliknya, Lexie sebenarnya adalah orang yang pendendam, jika di ganti orang lain yang meminta tolong, mungkin Lexie matih ragu, tapi terhadap beberapa orang itu, maaf, Lexie benar-benar tidak ingin menjadi orang yang terikat oleh moralitas.


Ketiganya terus bergerak masuk, suara meminta tolong itu juga perlahan mengecil, tidak berapa lama, sudah benar-benar tidak terdengar, mengenai apa yang mereka temui sepertinya tidak ada hubungannya dengan Lexie.


"Heh?" Wilson yang berada di depan tiba-tiba menghentikan langkahnya, membungkuk dan mengambil sebuah ranting di tanah, ada selembar kain yang tergantung di ranting itu, sepertinya terkait dari pakaian orang, ada darah yang masih belum mengering d kain itu.


Lexie dan Martin mendekat untuk melihatnya, raut wajah mereka menjadi serius, "Sepertinya ini lebih berbahaya dari yang kita pikirkan."


"Ya, orang yang terluka ini harusnya datang dari arah itu, dan kita juga akan pergi ke arah itu, hanya ada 1 gerbang hidup di hutan ini, kita tidak punya jalan lain." Wilson berkata dengan raut wajah yang tidak enak di lihat.


"Kalau begitu ayo kita pergi." Martin tiba-tiba mencondongkan tubuh ke depan dan menarik lengan Lexie untuk berada di sisinya, "Kamu berjalan di sampingku, jika ada sesuatu maka mendekat ke arahku."


Jika bukan karena dia mengatakannya dengan terlalu serius, kalimat ini terdengar seperti sedang menggoda Lexie.


"Oke." Lexie tidak berpura-pura mengatakan bahwa pria dan wanita tidak boleh saling berdekatan, ketika ada bahaya, jika ada sandaran, selama Lexie bisa menyelamatkan nyawanya maka dia tidak akan ragu untuk bergantung padanya.


Ketika Wilson mendengarnya, dia segera berjalan ke sisi lain Martin, dia juga berada sangat dekat dengan Martin.


"Apa yang kamu lakukan?" Martin sangat bingung terhadap perilaku Wilson yang tidak bisa di jelaskan.


Wilson memutar bola matanya pada Martin, "Kenapa, kita adalah rekan satu tim, bukankah kamu mengatakan jika ada bahaya maka mendekat ke arahmu? Aku tidak bisa bela diri, tentu saja harus mendekat padamu. Untuk apa kamu melihatku seperti itu, apa aku harus bisa bela diri?"


Wilson berkata seakan itu wajar, membuat orang tidak dapat menyangkalnya, hanya saja seorang pria dewasa berjalan di dekat seorang pria dewasa lainnya, adegan ini bagaimanapun di lihat juga terlihat canggung.

__ADS_1


__ADS_2