Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
Selera Para Petinggi


__ADS_3

"Apa ada masalah?" Seorang bhikkuni yang membuka pintu berusia sekitar 20 tahunan, bertanya dengan lembut.


Bhikkuni yang muda dan lembut ini membuat Morgan terpaku sesaat kemudian baru kembali tersadar, "Oh, begini pakaian adikku basah oleh hujan, kamu bisa melihat ada beberapa pria dewasa di depan pintu, adikku sedikit merasa malu, ingin bertanya apakah bisa masuk ke dalam untuk menghindari hujan, jika memungkinkan, maka ingin meminta pakaian bersih untuk dapat berganti."


Takut bhikkuni itu akan menolak Morgan mengeluarkan uang kemudian menyodorkannya, "Tentu saja kami tidak akan mendapatkannya dengan cuma-cuma, ini anggap saja sumbangan dariku untuk dupa dan juga minyak."


Ketika bhikkuni itu mendengar ucapannya seketika raut wajah lembut itu hilang, tampak tidak sabar, tapi ketika menatap jumlah uang tersebut, dia tampak ragu-ragu, dia menoleh dan menatap pada Lexie, keraguan di wajahnya seketika menghilang.


"Baiklah, kalau begitu silahkan wanita ini masuk." Bhikkuni itu berkata dengan lembut.


Morgan buru-buru meminta Lexie masuk ke dalam, Lexie memang sudah kedinginan hingga bibirnya sedikit membiru, jadi dia tidak membantah, melewati Morgan dan masuk ke kuil Tao.


Morgan kemudian menggandeng Lucas bersiap mengikuti untuk masuk, tapi di hentikan oleh bhikkuni itu, "Kalian berdua, berhenti!"


"Kenapa?" Wajah Morgan mengelap, suaranya jelas-jelas tidak senang.


"Kalian berdua tidak bisa masuk, mohon pengertiannya, di kuil ini semuanya adalah pendeta Tao wanita, jika ada pria yang memasuki kuil Tao, takutnya ..." Bhikkunj itu menghela nafas dengan kesulitan.


Langkah kaki Morgan yang terangkat juga menjadi ragu, akhirnya dia dan Lucas berdiri di depan pintu, "Baiklah kami akan menunggu di depan pintu, tolong bantu aku untuk merawat adikku."


"Tentu saja." Bhikkuni itu langsung menjawab.


Morgan tampaknya masih tidak tenang, kemudian berkata mengingatkan pada Lexie, "Kamu pergilah mengganti baju Persih terlebih dulu, jika takut maka cari kamu di depan pintu, kami akan terus berjaga di depan pintu."


Lexie masih belum bicara, tapi bhikkuni yang mendengarkan Morgan di samping tak bisa menahan senyum, "Kakak, di sini adalah kuil Tao dan bukannya gua serigala, apa gadis sebesar ini bisa hilang di dalam kuil Tao kami ini?"

__ADS_1


"Mohon pengertian darimu kakakku ini memang penakut." Lexie berkata dengan bercanda kemudian mengangguk pada Morgan.


Setelah bhikkuni itu menutup pintu, dia membawa Lexie masuk ke dalam, mendengar bhikkuni itu mengatakan melewati tiga pintu kecil ini maka akan sampai ke tempat dia tinggal.


Semakin berjalan masuk, hati Lexie semakin curiga, siang hari seperti ini, tapi tidak ada seorangpun yang sedang membaca kitab di dalam kuil, dan juga tidak melihat seorang pun yang membersihkan kuil.


Kuil Budha seperti ini, bukankah sangat mementingkan kebersihan.


"Di dalam kuil ini mengapa tidak ada orang?" Lexie yang mengikuti di belakang bhikkuni itu tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.


"Ada banyak orang, jangan melihat kuil ini kecil, ada lebih dari 20 saudari di sini, tapi sekarang sedang hujan, harusnya mereka semua sedang beristirahat di halaman belakang." Kata bhikkuni itu sambil berjalan masuk, kemudian melambaikan tangan kepada Lexie, "Ada ruang kosong di sini, kamu bisa menunggu sebentar di sini, aku akan mengambilkan pakaian bersih untukmu."


Lexie menjawab sekilas, kemudian masuk ke dalam kamar dan menemukan kursi untuk duduk.


Bhikkuni itu keluar kamar, dan berjalan ke arah yang lebih dalam, ketika dia pergi dia masih mengatakan, "Angin dan hujan agak lebat, aku akan membantumu menutup pintu, jangan sampai air hujan masuk ke dalam dan membuat basah barang-barang yang ada di dalam."


Lexie menggosok tangannya, tiba-tiba gerakannya terhenti, dalam benaknya kemudian teringat sebuah gambaran, yaitu adegan ketika bhikkuni itu menutup pintu, tangan bhikkuni itu putih dan lembut, bukanlah tangan yang terbiasa melakukan berbagai hal.


Lexie kaget, bergegas membuka pintu, menarik pintu, kemudian dia mendengar rantai di luar pintu yang saling bergesekan!


Pintu ini benar-benar di kunci dari luar!


Lexie sudah merasa aneh ketika memasuki kuil Tao ini, mana mungkin ada Taois yang rasa senangnya terlihat begitu jelas ketika melihat uang? Jika memikirkannya sekarang, memang kuil Tao ini memang sudah aneh, dan lagi Taois yang menyebut sesama Taois "Saudari?"


"Aku benar-benar bodoh!" Lexie kesal dan memaki, memukul kepalanya sendiri beberapa kali, hujan turun, apa otaknya juga ikut membeku?

__ADS_1


Lexie mondar-mandir di dalam kamar beberapa saat, perabotan di ruangan ini sangat sederhana, bahkan mencari benda untuk di jadikan senjata pun tidak ada.


Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar dari pintu luar, sepertinya lebih dari satu orang.


Lexie terkejut, dalam kepanikan Lexie melihat mangkuk teh di sudut, tanpa berpikir lagi langsung melempar mangkuk teh itu ke lantai, mangkuk teh itu pecah, dia bergegas mengambil sepotong pecahan itu kemudian menyembunyikannya di balik lengan bajunya.


Di luar pintu terdengar suara dialog para wanita.


"Katamu, gadis itu sangat cantik?"


"Ya, kamu akan tahu ketika melihatnya, di jamin lebih cantik di bandingkan yang ada di sini. Tubuhnya itu jangankan pria, wanita pun tidak bisa menahan diri untuk menyentuhnya."


"Jika seperti yang kamu katakan maka itu sangat baik, heh, siapa tahu hari ini kita kedatangan tamu yang begitu sulit dilayani, begitu banyak saudari disini tapi tidak ada yang di sukainya! Dan lagi, identitas orang itu juga bukanlah yang bisa kita provokasi, tamu di hati hujan saat ini, orang itu juga tidak punya niat untuk pergi, dari mana kita bisa mendapatkan orang yang bisa memuaskan dirinya dalam waktu singkat, jika dia tidak puas, mungkin saja jika dia merasa tidak senang dia akan merayakan tempat kita itu hal yang mudah baginya!"


"Kakak, jangan khawatir kamu akan tahu ketika kamu melihat wanita di dalam ruangan ini, jika seorang pria, tidak mungkin akan merasa tidak puas. Tapi, wanita itu sepertinya tidak akan mendengarkan kita dengan mudah ..."


"Apanya yang dia tidak mendengarkan kita? Mengenai wanita yang tidak patuh, aku memiliki cara."


Beberapa wanita di depan begitu sombong hingga tidak peduli pada orang yang ada di dalam ruangan, mungkin kata-kata ini di maksudkan untuk di dengar oleh orang didalam ruangan, jadi mereka tidak perlu repot untuk menjelaskan bagi mereka, orang di ruangan itu sudah menjadi mangsa mereka.


Mendengar perkataan ini, Lexie asih bingung tempat apa kuil ini.


Beberapa hari yang lalu, mendengar beberapa pelayan di kediaman Victor bergosip, berkata bahwa sekarang selera orang berkuasa sangat berat, tidak hanya menyukai wanita yang berada di rumah bordil, tapi lebih suka mencari yang menegangkan dan menghabiskan uang banyak.


Memikirkannya bermain dengan bhikkuni di kuil Tao, juga merupakan selera yang di sukai para pejabat tinggi itu.

__ADS_1


Beberapa wanita di luar pintu mendengarkan sesuatu di hancurkan. Di dalam ruangan, bergegas melepaskan rantai dan menerjang masuk, melihat Lexie yang berdiri di sana baik-baik saja, mereka seketika menghela nafas lega.


"Oh, ternyata benar-benar wanita cantik." Kepala bhikkuni itu menatap Lexie, seketika wajahnya tampak bahagia.


__ADS_2