Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
Surat Perjanjian


__ADS_3

"Berapa?" Lexie terkejut dan kembali bertanya.


Wajah Zio sudah amat sangat merah, "Saat ini hanya ada 30.000 perak ..."


Hati Lexie tergerak, tapi tidak menunjukkannya di raut wajahnya, hanya berdeham kemudian berkata: "Sudahlah, karena kamu adalah teman Yang Mulia, aku tetap harus memberimu muka, 30.000 perak saja sudah cukup."


Mendengar nada bicara Lexie seakan dia melakukan banyak pengorbanan, hanya Victor saja yang menyeringai meremehkan, wanita ini, matanya yang bersinar tadi sudah mengungjapkan pikirannya, bukankah itu hanya 30.000 perak, ternyata itu dapat membuatnya begitu bahagia hingga dirinya begitu bersemangat, sifat serakah akan harta ini, benar-benar ...


Zio mendengarnya, segera mengucapkan terima kasih berulang-ulang, "Terima kasih nona Lexie, aku akan secara pribadi mengantarkan uangnya sore nanti. Tapi, aku masih memiliki sebuah permintaan."


"Ya?" Masih ingin berkelit? Lexie menghela nafas dalam hati, begitu banyak perak yang di dapatkan, itu tidak begitu mudah.


"Aku benar-benar sangat tertarik dengan busur silang yang kamu buat, jika nona tidak keberatan, bisakah meminjamkan busur silang ini untuk beberapa hari kedepan padaku?" Sebagai seorang pengrajin perak, hal yang paling penting baginya bukanlah uang tapi teknologi, mengenai ini, pendekatannya benar-benar sangat mengagumkan.


Tapi Lexie tidak segera mengiyakannya, segera bertanya pada Victor, "Busur ini setelah selesai di buat adalah milik Yang Mulia, bagaimanapun keputusannya juga harus di putuskan oleh Yang Mulia, jadi ..."


Zio kemudian memandang ke arah Victor lagi, Victor mengangguk dengan elegan, "Tentu saja kamu dapat membawanya kembali untuk di pelajari, setelah beberapa saat, kamu harus mengawasi produksi busur ini secara masal, tapi mengenai masalah ini harus di rahasiakan, jangan sampai tersebar keluar."


"Tenang saja, aku tahu betapa pentingnya ini." Zio mendapatkan persetujuan Victor, segera memeluk busur itu dengan bersemangat an ingin pergi, tidak sabar ingin segera mempelajari struktur busur ini, tampilannya yang begitu terpana akan busur itu membuatnya tersenyum.


Setelah Zio pergi, Victor kemudian berkata pada Lexie: "Apa kamu benar begitu ingin meninggalkan kediamanku?"


"Yang Mulia, Kaisar sudah memberikanmu perintah untuk menikah, karena nona Yessika sudah akan menikah denganmu, dengan prasangka Nona Yessika padaku, aku tidak berpikir aku akan bisa hidup jika masih tinggal di sini. Aku bukannya ingin meninggalkan Yang Mulia, tapi hanya ingin membawa adikku untuk bisa melanjutkan hidup."


Lexie tidak cukup bodoh untuk mengatakan pemikirannya yang sebenarnya di dalam hatinya, dia tahu bahwa Victor akan menanyakan pertanyaan ini cepat atau lambat, jadi dia sudah mempersiapkan jawabannya.

__ADS_1


Victor tidak menjawabnya, dia juga tidak mengatakan apa apa lagi, hanya melambaikan tangannya dan meminta Morgan membawa Lexie pergi dari tempat latian.


Lexie membungkuk untuk memberi hormat kemudian pergi bersama Morgan, Lexie pergi ke tempat Lucas dan membawa kabar baik ini untuk Lucas, mereka dapat meninggalkan kediaman Victor!


Dengan bantuan Morgan, Lexie bisa menemui Lucas yang sedang membantu pekerjaan di kediaman depan, ketika Lucas melihat Lexie, dia meninggalkan pekerjaannya dan bergegas menghampiri Lexie.


"Kak." Setelah melewati periode waktu ini, Lucas akhirnya percaya bahwa wanita ini tidak sama dengan para putri yang menolongnya kemudian membiarkannya hanya demi menunjukkan kebaikannya saja, Lexie tulus pada dirinya.


Lexie mengelus kepala Lucas, berkata dengan lembut: "Yang Mulia, sudah berjanji untuk membiarkan kita keluar dari kediaman ini, setelah kita pergi, kakak akan mencari guru untuk mengajarimu belajar, hal yang paling penting bagi anak kecil adalah belajar."


Masih belum ada kabar dari saudara seperguruan Morgan, jadi Lexie harus menyiapkan rencana lain, bahkan jika Lucas harus mengikuti saudara seperguruan Morgan untuk belajar seni bela diri di kemudian hari, belajar banyak hal sebelumnya itu juga hal yang baik.


"Kita benar-benar bisa pergi?" Lucas tampaknya tidak percaya, matanya terus menatapnya.


Lexie mengangguk, "Ya, aku sudah mengatakan, akan membawamu hidup dengan tenang."


Lexie menariknya ke dalam pelukannya, "Tidak peduli apa yang kita alami sebelumnya, kita harus selalu keluar dari bayang-bayang, tidak peduli itu kamu atau aku, kita akan bisa melewati kehidupan yang baik di masa depan."


Lexie menemani Lucas berbicara beberapa saat, kemudian batu mulai kembali ke ruangannya untuk memulai mengemas barangnya, meskipun dia tadi berusaha menghibur Lucas, tapi jika ingin di katakan sebelum benar-benar meninggalkan kediaman ini, dia masih memiliki kegelisahan, dia masih tidak percaya, Victor akan membiarkan mereka pergi dengan begitu mudah.


Sore hari, Zio menepati janji untuk mengantarkan uang 30.000 perak, Lexie menerimanya dengan segan. Memiliki uang ini setelah meninggalkan tempat ini, dia dan Lucas tidak perlu memikirkan bagaimana cara melewati hidup.


Sampai hari berikutnya, Hadi datang lebih awal untuk menunggunya, mengatakan bahwa dia akan mengantarnya keluar, Lexie baru tersadar bahwa semuanya ini benar-benar akan terjadi.


Lexie tidak memiliki banyak barang, dia juga sudah berkemas kemarin, jadi dengan cepat Lexie mengambil bawaannya, lalu pergi mengikuti Hadi.

__ADS_1


Ketika tiba di pintu Lexie melihat Lucas yang juga membawa bawaannya, Morgan membawa Lucas dan menunggu di depan pintu, melihat Lexie datang dia kemudian berkata: "Yang Mulia, memintaku untuk mengantar Nona pergi."


"Yang Mulia, dia ..."


"Yang Mulia berkata, agar nona hidup dengan baik-baik di kemudian hari." Setelah Morgan mengatakan kalimat ini, dia kembali berkata: "Jika ada berita mengenai saudara seperguruanku, maka aku akan memberitahu nona."


"Kalau begitu, merepotkan komandan Morgan." Lexie tersenyum dan mengangguk, saat ini Lexie baru saja menunjukkan senyum tulus, dia mengandeng tangan Lucas, berpamitan pada Morgan dan Hadi kemudian pergi, ketika pergi bahkan tidak menoleh ke belakang sekalipun.


Lexie tidak tahu adegan ini terlihat oleh pandangan seseorang.


"Benar-benar tidak berperasaan." Di atas kereta kuda di kejauhan, meletakkan tirai, wajahnya di hiasi dengan senyum yang bermakna, "Benar-benar berpikir aku begitu gampang di bodohi ..."


Di kedua sisi jalan yang ramai, ada banyak toko, pelajan kaki yang terburu-buru tampak selaras satu sama lain.


Semua orang senang, Lexie juga merasa bahwa seluruh dunia jauh lebih baik.


Lucas melihat Lexie yang bahagia, dia juga sedikit tersenyum, "Kak, kita benar-benar sudah meninggalkan tempat itu."


"Ya, ini nyata." Lexie bahkan tidak berani mempercayai fakta ini, dia selalu merasa bahwa kepergiannya itu terlalu mulus.


"Kak, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Lucas.


Lexie berpikir sejenak, "Pertama-tama cari tempat untuk menetap terlebih dulu, kita masih harus menunggu kabar dari komandan Morgan, dan juga harus mencarikan seorang guru untuk mengajarimu, jadi tidak bisa meninggalkan kota Phoenix ini untuk sementara waktu."


Lucas menjawab sekilas dengan patuh mengikutinya.

__ADS_1


Di ujung jalan Lexie melihat sebuah toko yang menjual rumah, mirip dengan agen perumahan modern. Ketika pemilik toko mendengarkan perkataan Lexie yang ingin membeli rumah, dia merasa dia akan memiliki bisnis besar jadi segera memperkenalkan pada keduan orang itu dengan antusias.


__ADS_2