Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
Membiarkannya Hidup


__ADS_3

Ernie terpaku, baru saja ingin berbicara, tapi lengan bajunya di tarik oleh Lucas.


"Kakak mabuk, sudah tidur." Lucas tidak berharap Lexie akan kembali ditindas di hari yang bahagia ini, jadi ketika dia menghadapi Victor, rasa ketidakpuasan di matanya tidak disembunyikan.


Victor mendengus sekilas, menatap Lucas dengan tajam, tapi pada akhirnya dia mengalihkan pandangannya, kemudian berbalik badan menuju ke kamar Lexie.


Lucas ragu-ragu sejenak melangkah ke depan, berlutut di depan Victor, "Yang Mulia, hari ini Tahun baru, kamu ... Kamu lepaskanlah dia."


Perkataan Lucas akhirnya membuat marah Victor, pandangan matanya yang dalam menyapu wajah Lucas, memerintahkan pada Morgan di sebelahnya, "Morgan, bawa dia keluar."


Ketika Morgan mendengarnya, khawatir Lucas akan memprovokasi Victor, dia maju dan menarik Lucas, kemudian berjalan pergi, Morgan menggunakan kekuatan penuh, Lucas yang hanya seorang anak kecil sama sekali tidak memiliki ruang untuk melakukan perlawanan.


Victor tidak lagi melihatnya, berbalik badan dan pergi ke kamar Lexie.


Di dalam rumah tidak bisa di bilang gelap, tampaknya menyalahkan sebuah lampu perunggu untuk menerangi, suara dengkuran tidak keras dan tidak pelan terdengar dari dalam kamar, Victor berjalan mendekat ke depan pintu, alisnya mengernyit, Lexie biasanya tidak mendengkur.


Memikirkannya ketika Victor membuka pintu dan masuk, aroma minuman beralkohol yang pekat menyerang, wajahnya agak suram, tapi pada akhirnya Victor melangkah masuk.


Victor juga tidak tahu ada apa hari ini, mungkin agak membosankan seorang diri memakan hidangan yang begitu banyaknya, tiba-tiba dia teringat akan wanita yang sering memberontak terhadapnya ini. Victor berpikir, malam seperti ini, di tinggalkan oleh Victor di rumah kecil ini, sudah pasti dia sangat tidak senang, siapa tahu Lexie sedang menangis, memikirkannya, Victor kemudian ingin datang melihat, melihat apa Lexie akan memohon belas kasihan akan dirinya.


Jadi, Victor kemudian datang kemari.


Hanya saja, Lexie tampaknya melewati hari jauh lebih baik dari yang Victor bayangkan, setidaknya ketika Victor berdiri di samping ranjang dan menatap Lexie yang tidur di atas ranjang dengan mengulas senyum di wajahnya, Victor tanpa sadar mendengus sekilas.


"Lexie!" Victor memanggilnya dengan suara rendah.


Lexie tertidur dengan nyenyak, sama sekali tidak bergerak, dan lebih tidak mempedulikan, sebenarnya apa yang salah dari Yang Mulia ini.


Melihat Lexie yang tidak bergerak, Victor mengangkat tangannya dan menepuk-nepuk wajah Lexie, menepuknya terus-terusan, pada awalnya kekuatannya sangat ringan, tapi ketika Victor melihat Lexie tertidur dengan lelapnya, kekuatannya berangsur-angsur meningkat, hingga akhirnya suara? Plakk? Yang nyaring terdengar, Lexie akhirnya membuka matanya.


"Sial, orang buta mana yang berani memukul wajahku!"


Secara naluriah memaki kalimat seperti itu, Lexie tiba-tiba bangkit dan duduk. Kalimat ini membuat Victor terpaku, apa ini adalah sifat aslinya?


Tapi Lexie tampaknya tidak sepenuhnya sadar, melotot sekilas dengan linglung, kemudian bersiap untuk kembali melanjutkan tidur.


Mungkin kesabarannya kini sudah dipoles habis, dan lagi Victor memang aslinya tidak memiliki kesabaran, ketika Victor hendak mengangkat tangannya, dia malah melihat Lexie kembali duduk.


Lexie menoleh dan menatap ke arah Victor, untuk beberapa saat Lexie akhirnya tersadar, "Kupikir aku sedang bermimpi, ternyata itu benar!"


"Melihatku, kamu sepertinya tidak bahagia." Suara Victor dingin, tidak terdengar emosinya.


"Tidak bahagia?" Lexie tersenyum, senyum itu jelas berbeda dengan senyum lembut yang pura-pura biasanya dia keluarkan, saat ini, Lexie dalam keadaan mabuk, tersenyum dengan sedikit bodoh, mengulurkan tangan dan meraih sabuk Victor, "Tampan, bagaimana mungkin aku tidak bahagia? Malam tahun baru seperti ini kamu pasti hadiah yang di berikan tuhan padaku karna melihatku yang begitu menyedihkan benar kan? Aku biasanya di tiduri dengan begitu mengenaskan, jadi Tuhan membuka mata hari ini, membiarkan aku meniduri orang!"


Victor melihat mata Lexie yang linglung, segera mengetahui sepertinya wanita ini takutnya bahkan tidak sadar dengan apa yang dia lakukan, Victor tidak tertarik membuang-buang waktu dengan wanita yang mabuk, menghela nafas berbalik dan ingin pergi, tapi baru saja bergerak, wanita ini sudah merangkak naik ke atas tubuhnya.


"Pria tampan, jangan pergi, kakak akan sangat menyayangimu, tenang saja, kakak tidak akan menggunakan metode Victor si gila itu padamu, kakak akan bersikap lembut padamu." Ketika Lexie berbicara dari mulutnya tercium bau alkohol yang sangat pekat, dia juga mengangkat tangannya dan menyentuh wajah Victor, "Hei, wajah ini sangat tampan, tuhan sangat baik padaku!"


"Lexie!" Victor sedikit marah, mengulurkan tangan ingin melepaskan diri dari wanita ini, tapi siapa tahu tangan wanita ini tiba-tiba menyerangnya.


"Pria tampan, kakak datang." Lexie mengucapkan kalimat seperti itu, kemudian dengan ganas menerjang ke arah Victor.

__ADS_1


"Lexie!"


"Panggilah, panggilah lebih keras pun tidak akan ada yang menyelamatkanmu! Sial! Kakak akan melampiaskannya hari ini!" Suara Lexie pada akhirnya menjadi suara ******* rendah.


Malam hari ketika berada di situasi yang tercium aroma anggur ringan terlihat lebih sedikit berwarna.


Ketika bangun keesokan harinya, Lexie merasa kepalanya sudah hampir meledak, kepalanya tidak hanya sakit tapi juga setiap bagian tubuhnya menjerit karena rasa pegal dan sakit.


Lexie terhuyung-huyung melihat tubuh depannya, dalam sekilas sudah melihat jejak-jejak yang mencurigakan di seluruh tubuhnya, dia adalah wanita dewasa, jejak-jejak itu melambangkan apa, tentu saja di amat sangat jelas.


Kemudian Lexie melihat Victor yang berbaring di sebelahnya.


Lexie tidak dapat menahan diri menarik nafas dingin, memijat pelipisnya yang terasa menyakitkan itu, mengenai apa yang Lexie lakukan tadi malam, Lexie benar-benar tidak bisa mengingatnya, tapi ... Jika dia masih hidup, maka itu berati Victor masih mentoleransinya untuk hidup.


Mungkin karena merasakan pandangan mata Lexie, Victor yang sedang tidur akhirnya membuka matanya, pandangan mata Victor tertuju pada Lexie, sedikit dingin dan juga sedikit di lecehkan.


"Itu, Yang Mulia, aku terlalu banyak minum kemarin, jika aku melakukan sesuatu yang menyinggung Yang Mulia, aku meminta Yang Mulia untuk memaafkanku." dirimu yang


"Kamu masih tahu bahwa mabuk, maka akan berbuat sesuatu yang menyinggungku?" Ejekan di wajah Victor semakin jelas, "Kamu tidak mengatakan seperti ini kemarin. Biarkan aku memikirkannya kembali, apa yang kamu katakan kemarin? Oh, aku sudah ingat, kamu berkata bahwa kamu ingin meniduriku baik-baik, ingin menggunakan cara yang tidak bisa di pikirkan oleh Victor si gila mesumm itu untuk melecehkanku ..."


Victor, di mata Lexie adalah seorang mesum!


"Hehe ... Hehe ..." Bibir Lexie berkedut, kembali berkedut, setelah canggung untuk beberapa saat, Lexie menepuk bahu Victor, "Yang Mulia kamu benar-benar bisa bercanda."


Sial! Apa yang dia katakan? Apa dia benar-benar mengatakan bahwa Victor adalah gila mesum? Apa dia bisa keluar hidup-hidup? Apa Lucas dan Ernie juga akan terseret?


"Aku tidak pernah bercanda." Victor mendengus sekilas, dia sudah bangkit duduk, "Layani aku untuk berpakaian."


Pada saat ini, walaupun Lexie memiliki nyali besar, dia juga tidak berani mengatakan tidak, Lexie bangkit, dengan lembut melayani Victor mengenakan pakaiannya dari awal hingga akhir, kembali menjadi pelayan penghangat ranjang yang patuh.


Wajah Lexie berkedut, "Yang Mulia, budak minum alkohol dan bertindak tidak sopan, aku tidak akan berani melakukannya lagi di kemudian hari."


"Tahu bahwa aku masih mentoleransimu untuk hidup?" Victor merentangkan kedua tangannya untuk memudahkan Lexie membantunya mengenakan pakaian.


Lexie terpaku, sepertinya sedang berpikir dengan hati-hati, "Karena hari ini adalah Tahun baru, jadi tidak boleh melihat darah?"


Victor tertawa, dengan sangat sinis, "Karena posturmu semalam membuatku puas."


Victor mana mungkin membiarkan seorang wanita menerjangnya, kecuali dirinya yang mengijinkannya, dan terhadap inisiatif Lexie, tampaknya Victor tidak pernah menolak.


Jika ada lubang, Lexie tidak sabar ingin masuk ke dalamnya, jika dulu Lexie sangat membenci pria ini karena perbuatannya yang menyiksa dirinya, lalu apa tadi malam? Lexie dengan tidak tahu malunya menyerang Victor!


Atau di dalam dirinya Lexie sangat menikmati hal semacam ini? Sama seperti konsep pernikahannya? Jika tidak bisa hidup bersama seumur hidup, untuk apa memiliki ikatan pernikahan? Dan yang benar-benar membuatnya tidak bisa menerimanya adalah, kerendahan hatinya sebagai budak dalam bayang-bayang Victor, harga dirinya yang menyedihkan itu sudah sangat buruk di hadapannya.


Apa Lexie membencinya? Tentu saja benci! Pria yang memperlakukannya sebagai mainan dan menginjak-injak hidupnya, pria yang selalu memperlakukannya dengan kejam, bisakah dia tidak membencinya?


Posturnya membuat Victor puas, jadi Lexie bisa hidup, bagi Victor, Lexie hanyalah sebuah alat saja.


Tiba-tiba Lexie kehilangan minat untuk berbicara, melayani Victor mengenakan pakaiannya dalam diam.


Pada hari pertama Tahun baru, sebagai seorang Raja, Victor harus memasuki istana untuk bertemu dengan Kaisar, karena orang yang ada di istana itu adalah saudaranya.

__ADS_1


Setelah Victor pergi dengan membawa Morgan, rumah itu kembali sunyi, setelah kejadian semalam, Ernie dan Lucas tidak lagi mengungkitnya, tahun baru seperti ini tidak boleh mengungkit hal-hal sial.


Karena merupakan tahun baru, seluruh kota Phoenix menjadi lebih tenang, hanya ada beberapa toko yang masih buka, kebanyakan dari mereka jika tidak bertamu menemui kerabat, maka hanya bertamu untuk meramaikan.


Jika di bandingkan rumah Lexie ini, benar-benar sangat hening dan sedikit mengerikan.


Untungnya, tepat ketika ketiganya bersiap mencari sesuatu untuk di lakukan, tetangga sebelah, istri leman mengetuk pintu rumah sambil tersenyum, "Nona Lexie, hei, semuanya ada di sini, kalau begitu kebetulan, aku takut kalian pergi mengunjungi kerabat."


"Tidak, pertama kali datang ke kota, tidak mengenal dengan banyak orang, juga tidak memiliki banyak saudara dan teman." Lexie tersenyum.


Istri leman terpaku sejenak, kemudian tersadar dan berkata: "Aku tahu seperti itu, jadi aku datang untuk memanggil kalian untuk makan di rumahku. Aku tidak menyembunyikan dirimu, kami juga belum lama pindah kemari, juga hanya mempunyai beberapa kerabat, kita ini tetangga, Rendi juga suka bermain dengan Lucas, jadi lebih baik keluarga kita berkumpul bersama untuk merayakannya."


Istri leman adalah orang yang langsung, tidak bertele-tele ketika dia berbicara, tapi karakter seperti itu tidak bisa membuat orang merasa sebal.


Lexie secara alami merasa itu adalah hal yang baik, jadi dia segera menyetujuinya, membawa Lucas dan Ernie pergi ke rumah leman.


Sepanjang jalan istri leman kembali bercerita mengenai kesehariannya, ternyata leman adalah seorang tukang kayu, keahliannya lumayan, kota kelahirannya mengalami bencana, jadi dia meninggalkan kota kelahirannya dan datang ke kota Phoenix untuk mencari nafkah, karena leman rajin, jadi meskipun datang kemari tidak lama, sudah banyak menerima pekerjaan.


Sekarang meskipun ini adalah hari pertama tahun baru, ada seorang pelanggan lama yang lemarinya bermasalah, jadi leman sudah bergegas pergi untuk membantu di pagi hari, jadi hanya ada istri dan dua anaknya di rumah.


Istri leman memiliki dua putra, putra tertua berusia remaja mengikuti leman pergi bekerja, putra bungsunya Rendi karena masih kecil jadi dia berada di rumah, mereka tidak mampu memberikan pendidikan pada anak mereka, jadi mereka tidak mengenali huruf sama sekali, tapi juga tidak berpikir betapa buruknya tidak berpendidikan.


Istri leman pergi ke dapur untuk ronde, Ernie dan Lexie juga ikut membantu, mereka bertiga berbicara dan tertawa sambil membuat ronde di dapur.


"Sebentar lagi ronde sudah selesai di buat, leman dan putra tertuaku seharusnya sudah akan pulang, sudah bertetangga begitu lama, mereka masih belum pernah menemui nona Lexie, tapi mereka itu orang-orang kasar, kamu jangan mengambil hati." Istri leman langsung memasukan ronde ke dalam panci, ronde yang panas mendidih, masing-masing di bungkus dengan gula merah.


"Bagaimana mungkin, aku malah harus berterima kasih padamu karena mengundang kami kemari untuk memakan ronde." Lexie tertawa, makin menyukai istri leman yang ramah dan juga sederhana ini.


Menurut Lexie merupakan hal yang luar biasa untuk dapat hidup dengan begitu sederhana dengan wajah yang penuh senyum.


Ketika sudah hampir tengah hari, ronde sudah di letakkan di atas meja, tinggal menunggu leman dan putra sulungnya kembali maka sudah bisa mulai makan.


Dari luar terdengar ketukan pintu, istri leman tersenyum dan berkata: "Sudah datang, sudah datang, mereka berdua ini, ketika pulang mengapa membuat suara yang begitu ribut, apa tidak tahu ada tamu yang datang ..."


Istri leman membuka pintu, melihat bahwa orang di pintu bukanlah leman, tapi orang yang sering bekerja pada leman, tiba-tiba dia terpaku, "Baim, kenapa kamu bisa datang?"


"Kakak ipar, gawat terjadi sesuatu pada leman, cepatlah kamu pergi melihatnya, leman di kirim ke pengadilan pemerintah!" Baim cemas dahinya penuh dengan keringat, bisa di lihat bahwa dia berlari untuk datang kesini.


"Ter, terjadi sesuatu? Tahun baru begini, apa yang terjadi Baim, kamu jangan menyakitiku!" Senyum di wajah istri leman seketika kaku, tangan yang memegang panel pintu sedikit gemetar.


Baim menghentakkan kakinya, "Kakak ipar, aku mana mungkin berani bercanda denganmu pada saat seperti ini, cepatlah kamu pergi untuk melihat, jika pergi sekarang mungkin masih bisa menemui leman untuk terakhir kalinya!"


Istri leman sudah ketakutan, dirinya tidak tahu harus berbuat apa, "Di mana, mereka dimana?"


"Di kantor administrasi! Cepatlah pergi." Baim menghela nafas, tahun baru seperti ini masalah apa ini.


Istri leman panik, menoleh ke arah Rendi, dia sudah menangis, dia hanyalah wanita biasa, mana mungkin pernah mengalami hal yang begitu besar seperti ini.


Ketika Lexie melihatnya, suasana hatinya menjadi suram, berjalan mendekat dan menghibur berkata: "Kakak ipar jangan panik aku akan pergi untuk menemani, tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan, sekarang masih belum tahu situasinya, jadi kita tidak boleh panik."


Istri leman hanya bisa menganggukkan kepala dengan linglung, sudah benar-benar tidak memiliki pendapat.

__ADS_1


Lexie menghela nafas, memerintah Ernie untuk menjaga Lucas dan Rendi, Lexie kemudian memapah istri leman untuk mengikuti Baim bersama-sama pergi ke kantor administrasi, hatinya mulai gelisah, meskipun hubungan dengan istri leman tidak bisa di bilang terlalu dalam, tapi terhadap keramahan istri leman ini, Lexie tidak bisa tidak berbuat apa-apa.


Dalam perjalanan, Baim menjelaskan situasi tentang leman, mengatakan bahwa leman bekerja di rumah sebuah keluarga besar, entah bagaimana melukai putra Pemiliki rumah, saat itu leman sudah di pukuli oleh pemilik rumah hingga parah, putra sulung leman karena ingin melindungi ayahnya makan dia juga bertindak, kemudian akhirnya di kirim ke kantor administrasi.


__ADS_2