
"Kamarku?" Lexie berpikir hati-hati, dia baru teringat bahwa ruangan yang terakhir di periksa oleh orang yang memeriksa kemarin adalah kamarnya, tapi kamarnya biasanya di bereskan olehnya sendiri, tidak pernah menemukan benda spesial apa pun.
Zacky mengangguk, "Ya, di kamarmu, ditemukan selembar gambar dan gambar itu adalah salah satu gambar yang di curi."
"Hanya dengan selembar gambar itu, lalu aku sudah di putuskan berdosa? Jika kukatakan aku tidak mengambil gambar apa kalian percaya?" Suara Lexie sedikit tercekat, fluktuasi emosional yang tiba-tiba datang membuatnya gemetar ketika berbicara, Lexie bukannya takut karena di jebak, tapi takut ketiga pria itu dengan tidak mudah sudah dekat dengan dirinya ini akan mencurigainya di karenakan hal ini.
Bahkan Lexie sendiri tidak tahu, betapa takut dan hati-hatinya pandangan mata ini.
Mungkin di karenakan pandangan matanya yang menyedihkan, jadi Alvaro yang sedari tadi masih bersikeras akhirnya melunak, dia menunduk tidak berani melihat wajah Lexie, hanya berani berkata dengan nada rendah: "Setelah pemilik pavilliun pergi kemarin, mungkin karena takut akan membuat kabur sang pencuri, jadi tidak memberi reaksi sama sekali, tapi setelah kita kembali ke rumah, pemilik pavilliun memanggil gitu keluar seorang diri. Guru tentu saja percaya padamu, dan dia bertengkar hebat dengan pemilik pavilliun, itu artinya tidak ada yang boleh menyentuhmu."
"Tidak hanya itu, karena masalah ini terlalu banyak yang terlibat, seperti yang kamu katakan, selembar gambar tidak bisa membuktikan apa pun, mungkin ada orang yang menjebakmu, tapi kamu menjadi tersangka terbesar. Maksud pemillik pavilliun itu adalah ingin kami untuk menahanmu diam-diam, kemudian menggunakan cara yang paling rendah hati untuk membawamu ke penjara air."
"Tapi permintaan ini tentu saja di tolak oleh guru." Zacky ingat hari itu, sebelum fajar guru diam-diam memanggilnya dan Alvaro untuk membicarakan masalah ini, dan juga beberapa hal yang sulit di percaya, "Pemilik pavilliun berpikir kalau kamu pasti memilki kawanan, jadi ingin diam-diam mengendalikanmu untuk menarik yang lainnya, guru juga benar-benar sangat keras kepala, tidak peduli metode apapun yang di usulkan oleh pemilik pavilliun, selama itu menyakitimu dia menolaknya, pada akhirnya tentu saja dia berselisih dengan pemilik pavilliun, lalu, lalu..."
"Lalu pemilik pavilliun menangkap guru?" Lexie menggertakan giginya, ketika mengatakan kalimat ini.
Zacky menggelengkan kepalanya, "Tidak, mereka tidak menangkap guru, tapi guru yang pergi secara suka rela, dia mengatakan bahwa dia yang akan menggantikanmu menjalani kepahitan ini, di saat bersamaan juga menjadi penjamin untukmu, dia menggunakan semua yang dia miliki untuk menjamin bahwa kamu bukanlah orang yang mencuri. Ketika di temukan gambar di kamarmu, tentu saja harus memberikan pertanggungjawaban pada pemilik pavilliun jadi orang lainnya jadi baru merasa di yakinkan, guru melakukan itu juga karena terpaksa. Jadi, kamu bisa berdiri di sini dalam keadaan baik-baik saja."
Perlindungan dari guru Damian, itu di luar perkiraan Lexie, hanya saja dalam pikirannya Lexie tidak menyangka bahwa gurunya akan berbuat hingga tahap seperti itu, hanya demi seorang murid yang baru masuk beberapa hari saja.
__ADS_1
Memikirkan orang tua itu yang biasanya selalu gembira dan sangat melindungi orangnya sendiri tapi malah memiliki tempramen buruk terhadap orang lain, Lexie sedih, apa yang di miliki Lexie hingga bisa membuat gurunya berkorban hingga seperti itu.
Tidak mengherankan pandangan mata Anita ketika melihatnya begitu mencela dan meremehkan, jika memikirkannya sekarang, jika itu adalah dirinya, dia mungkin juga akan bersikap demikian, membiarkan seorang pria tua yang menanggung penderitaan untuknya. Lexie tahu dirinya tidak bersalah, dia tahu, tapi yang lainnya tidak tahu, guru adalah orang pertama yang percaya dan yang melindunginya.
Jika dulu Lexie mungkin akan menggelengkan kepalanya dan berkata, bagaimana ini mungkin? Apa ini bukan pertunjukkan? Bagaimana bisa ada orang yang begitu idiot di dunia ini, mana mungkin ada orang seperti itu di masyarakat seperti ini? Bagaimana mungkin seseorang bisa mengorbankan dirinya untuk orang lain?
Namun, Lexie malah bertemu dengan orang yang seperti itu.
"Adik seperguruan, karena guru sudah membuat keputusan, aku dan kakak akan mendukungnya, hanya dengan mengetahui orang yang mencuri, itu secepat mungkin baru bisa membersihkan tuduhan darimu dan juga baru bisa menyelamatkan guru." Membicarakan sampai di sini, Zacky menepuk-nepuk pundak Alvaro, kemudian Alvaro baru mengangkat kepalanya dan menghadapi Lexie.
Dengan menggunakan keberanian yang besar, Lexie baru bisa memaksakan dirinya untuk tenang, wajahnya sedikit pucat, dengan tercekat berkata: "Guru ... di mana dia sekarang?"
Zacky menghela nafas mengucapkan dua kata, "Penjara air."
Bibirnya bergetar, kukunya tertancap di dalam daging, mengambil nafas dalam-dalam dan mengambil nafas dalam-dalam lagi, baru bisa membuat dirinya tidak pingsan karena rasa sakit.
"Huh, hanya saja tidak ada petunjuk mengenai pencurian ini sama sekali sekarang, meskipun kita memiliki niat untuk mencari orang itu tapi kita juga tidak berdaya. Jika tahu dari awal kami tidak akan mempelajari pembuatan senjata, seharusnya mempelajari bagaimana menyelesaikan kasus, jadi tidak sama seperti sekarang, sama sekali tidak memiliki petunjuk dan tidak tahu harus berbuat apa." Alvaro menghentakkan kakinya dengan keras, kemudian melangkah mundur dua langkah dan duduk di kursi sambil marah.
Zacky juga mengerutkan kening, dan tidak tahu bagaimana cara menjawabnya, dia dan Alvaro sudah bertengkar beberapa kali hari ini, di karenakan masalah ini.
__ADS_1
Perkataan mereka membuat suasana hati Lexie semakin berat, biasanya mereka berdua hanya fokus pada pembuatan senjata, tidak hanya tidak pandai dalam masalah menemukan petunjuk, bahkan hubungan antar sesama pun berdasarkan hubungan bisnis, di pavilliun Heaven yang begitu besar, tidak mudah bagi mereka untuk menanyakan beberapa informasi.
Lexie juga adalah pendatang baru, tidak begitu mengenal orang di pavilliun heaven dan juga masih menjadi tersangka dalam kasus pencurian kali ini, bahkan lebih tidak memungkinkan baginya untuk melakukan hal itu.
Tidak tahu mengapa, pada saat ini Lexie tiba-tiba teringat Victor, hal seperti itu bagi Victor itu bukan hal yang sulit bukan?
Tanpa di duga setiap kali Lexie menghadapi kesulitan dan bahaya, yang pertama kali Lexie pikirkan adalah Victor?
Lexie tidak mempedulikan keterkejutan di dalam hatinya, hanya mengatakan beberapa patah kata pada Alvaro, "Kalian tunggulah, aku akan mencari seseorang yang pandai menangani hal-hal seperti ini untuk membantu!"
Setelah selesai berbicara, Lexie berlari keluar, Alvaro dan Zacky tidak mengerti apa yang Lexie maksud, hanya melihat Lexie sudah menghilang di luar halaman.
"Kak, Lexie tidak begitu mengenal siapa pun di pavilliun ini, hanya beberapa orang yang dapat membantunya, dia tidak mungkin pergi mencari Kevin bukan?" Zacky berkata den khawatir.
Alvaro juga gelisah, "Sulit untuk di bicarakan, Kevin, anak itu tidak miliki niat yang baik terhadap Lexie, jika Lexie mencarinya pada saat ini, bagaimana jika Kevin mengambil kesempatan untuk membuat permintaan pada Lexie?"
"Bagaimana ini ... Kurasa lebih baik kita mengikuti Lexie, atau bahkan jika guru kembali juga tidak akan menjamin dia tidak akan mematahkan kaki kita."
"Kalau begitu, mengapa masih tetap diam saja, cepat kejar!" Keduanya bersama-sama bergegas mengejar Lexie.
__ADS_1
Di luar halaman pavilliun, Lexie menghentikan langkahnya terengah-engah, ketika hendak ingin masuk ke dalam tiba-tiba muncul seseorang di sampingnya, itu bukan orang lain, itu adalah Kevin.
"Aku tahu, kamu pasti akan datang." Ketika Kevin berbicara, dia menghadang di depan Lexie.