
Bawahan Daniel itu melihat Lexie yang sedang duduk di halaman, sepertinya menebak pikirannya, jadi berjalan menghampiri Lexie, "Hari sudah gelap, apa nona lapar? Beberapa saudara sedang makan di aula depan penginapan, apa nona mau pergi makan? Atau menunggu seseorang untuk mengantarnya ke kamar?"
"Aku akan keluar makan bersama kalian!" Menurut logika, akan lebih baik jika dia jarang menampilkan wajahnya, tapi saat ini Lexie benar-benar tidak ingin mempedulikannya, setelah mendengarkan perkataannya Lexie merasa bahwa dia telah menemukan penyelamat, dia segera berdiri dan berjalan ke aula.
Rombongan mereka hanya terdapat tujuh atau delapan orang, meninggalkan 2 orang untuk berjaga di rumah kecil itu, sisa lainnya memesan makanan di aula depan penginapan.
Beberapa orang ketika melihat Lexie yang datang, ekspresi mereka begitu terpana, "Hei Santo, dari mana kamu menemukan nona kecil ini, kenapa, melihat tuan mencari seorang wanita, kamu juga tidak dapat menahannya?"
Beberapa orang mulai menggoda orang yang bernama Santo ini, Santo melotot pada beberapa orang itu, "Jangan sembarangan bicara, ini adalah nona Rosie, bukankah kalian melihatnya setiap hari?"
"Hah?" Beberapa orang itu terkejut, hingga akan menjatuhkan dagunya, orang yang pertama sadar juga langsung mengusap matanya, kemudian wajahnya memerah, "Ini, ini semua berkata bahwa wanita itu berubah ketika dewasa, ternyata ketika wanita setelah mandi juga bisa berubah begitu banyak, ini benar-benar dua orang yang berbeda ..."
Santo mana mungkin tidak memahami keterkejutan mereka, tadi ketika dia melihat Lexie itu juga mustahil, jika bukan karena dia terus berjaga di halaman, dia juga tidak bisa mempercayainya. Dia melihat Lexie sepertinya sedikit canggung, bergegas berteriak: "Sudahlah jangan bercanda lagi, cepat makan."
Ini adalah sebuah meja persegi, beberapa orang dengan perhatian memberikan Lexie satu sisi untuk di duduki dirinya, kemudian orang-orang lainnya duduk saling berdempetan, mungkin beberapa hari ini memakan makanan kering membuat mereka bosan, ketika melihat di atas meja penuh dengan makanan beraneka rasa, beberapa orang segera mulai makan dengan lahap, tapi karena ada Lexie, beberapa orang juga sedikit menahannya, mencoba untuk tidak membiarkan percikan ludah mereka masuk ke dalam makanan.
Lexie juga bukan orang yang perhitungan seperti itu, jadi dia mengambil piring dan mulai makan, dia juga sangat lapar, dengan tidak mudah akhirnya, bisa memakan makanan enak, jadi juga tidak menampilkan kelakuan yang elegan.
Selama proses makan dia juga makin dekat dengan para pria ini, orang-orang ini melihat Lexie tidak manja seperti wanita kebanyakan, jadi mereka juga merasa lebih mudah untuk berhubungan.
Setelah makan, beberapa orang pergi untuk melakukan urusannya masing-masing, dan hanya Lexie yang tersisa dan kembali canggung, dia kembali ke pintu rumah itu, melihat pintu kamar Daniel masih tertutup, meskipun dia berdiri jauh bahkan dia masih bisa mendengar suara ******* yang halus yang datang dari dalam, sangat jelas di ruangan itu dua orang sedang melakukan pertempuran yang paling menarik.
__ADS_1
Sudut bibir Lexie berkedut,segera keluar dari halaman, kebetulan melihat Santo yang ingin pergi ke luar penginapan , Lexie degan cepat mengejarnya, "Santo, apa kamu mau keluar?"
Santo mengangguk, "Aku ingin membeli beberapa barang yang di gunakan dalam perjalanan, kenapa, apa nona ingin keluar dan berjalan-jalan?"
Lexie ragu-ragu sejenak kemudian mengangguk, "Aku baru pertama kali datang ke perbatasan, jadi aku ingin keluar dan melihat-lihat."
"Baiklah, aku akan sekalian mengajakmu berkeliling, tapi di sini orang baik dan orang jahat bercampur, nanti kamu harus mengikutiku dengan baik, ini adalah wilayah negara Nanyue, kita tidak bisa terlalu mencolok mata, jadi cobalah untuk tidak membuat masalah, mengerti?" Santo memimpinnya berjalan keluar dan memperingatinya.
Ada penjual kecil di luar yang menjual syal sutra di depan pintu masuk penginapan, penjaja itu segera menyimpan barang dagangannya, Lexie bergegas berlari ke sana dan membeli syal sutra itu, kemudian dia menutupi separuh wajahnya dengan syal sutra, hanya memperlihatkan sepasang mata, "Lihatlah, apa begini sudah cukup. Terima kasih kak Santo sudah mengingatkan, aku akan memperhatikannya."
Panggilan kak Santo itu membuat Santo meleleh, mana mungkin dia masih bisa berkata apa-apa lagi, hanya bisa membawanya berjalan-jalan memasuki jalanan yang ramai.
Lexie awalnya keluar bukan untuk jalan-jalan, tapi untuk menghindari kecanggungan melihat sisi nista Daniel, jadi dia juga tidak terburu-buru sepanjang jalan, mengikuti Santo kemana-mana.
"Apa nona lelah? Di depan ada kedai teh, apa kamu ingin minum teh?" Santo membawa banyak barang tapi masih bertanya pada Lexie dengan perhatian.
"Baiklah." Lexie menanggapi sekilas, membantu Santo membawa beberapa benda yang tidak berat.
Meskipun sudah malam, tapi bisnis kedai teh ini masih sangat baik, ada beberapa orang yang duduk di aula depan, kedua orang ini duduk setelah di bimbing oleh pelayan kedai ke sebuah meja kosong, Santo meminta secangkir teh, Lexie meminta secangkir air putih, pelayan itu melihat tatapan tidak puas ketika Lexie meminta air putih.
"Apa nona Rosie tidak minum teh?" Budaya minum teh sangat mendalam di sini, hanya ada sedikit orang yang tidak minum teh.
__ADS_1
Lexie tersenyum tipis, "Biasanya meminumnya, tapi akhir-akhir ini kondisi tubuhku tidak terlalu bagus, jadi aku tidak minum."
"Oh, ternyata begitu. Oh iya, apa nona Rosie pergi ke negara Beiming untuk mencari kerabat?" Menunggu pelayan itu menghidangkan teh, Santo dengan santai mencari topik dan mengobrol dengan Lexie.
"Sulit untuk di bicarakan, keluargaku dalam beberapa hari terakhir ini memiliki perubahan besar, jadi ingin pergi ke negara Beiming untuk mencari kerabat jauh, tidak tahu apa bisa menemukannya atau tidak, lagi pula sudah tidak pernah bertemu dengannya selama beberapa tahun." Ketika berbohong wajah Lexie sama sekali tidak memerah dan jantungnya tidak berdegup kencang.
Pelayan kedai itu menghidangkan teh dengan sangat cepat, secangkir teh di letakkan di depan Santo dan secangkir air putih di letakkan di depan Lexie, pelayan itu bahan tidak mengatakan basa basi, langsung berbalik badan kemudian pergi.
Lexie memang sedikit haus, jika memang ingin meminum air putih Lexie harus membuka syalnya, dia melihat sekeliling, untungnya tidak ada terlalu banyak orang di sekitar, jadi dia melepaskan syal itu dan meletakkannya di samping, mengambil cangkir dan dengan hati-hati meminumnya.
Santo terpaku memandangnya, tanpa sadar wajahnya memerah dan berkata: "Nona Rosie, kamu benar-benar sangat cantik, merupakan wanita tercantik yang pernah kulihat. Hmm ... Jangan salah paham, aku tidak bermaksud apa-apa."
Lexie mengangkat senyumnya, "Tidak masalah, aku tahu." Karena wajahnya inilah, dia baru bisa memasuki mata Victor, setiap orang memiliki hati menyukai keindahan, Victor mengatakan bahwa dia menyukai tubuhnya, tentu saja terlebih dulu dia harus puas dengan wajahnya ini. Tapi, memperlakukan orang berdasarkan tampang, seberapa banyak kesedihan di dalam hatinya?
Keduanya meminum teh untuk beberapa saat, sudah cukup beristirahat, membayar uang kemudian bersiap untuk pergi.
Lexie kembali mengenakan syalnya itu, dari lantai 3 turun lima atau enam orang yang kuat, dalam cuaca seperti ini tampaknya orang-orang itu tidak takut dingin, hanya mengenakan pendek, memperlihatkan lengan mereka yang terbuka dan memiliki tato, sekali di lihat juga sudah tahu merupakan orang yang berbaur di jalanan.
"Nona kecil, jangan buru-buru pergi, kakakku menyukaimu, ayo temani kakak kami menghabiskan malam bersama." Pria yang memimpin itu tertawa sambil menghadang di depan Lexie dan Santo.
Ingin menculik wanita secara terang-terangan seperti ini, hanya kota perbatasan yang kacau seperti ini saja yang bisa terjadi hal seperti itu, Lexie tidak menyangka, hanya meminum teh saja bisa menemui masalah seperti ini. Di menatap Santo dengan pandangan meminta maaf, sebelum pergi, dia sudah memperingatkan Lexie untuk bersikap rendah hati dan tidak membuat masalah, tidak di sangka, sekarang dia masih membuat masalah untuknya.
__ADS_1