
Tidak heran merupakan seorang pejabat dinasti, pria ini sama bijaknya seperti rumor yang beredar.
Hanya dengan beberapa tindakan sederhana, Dexter sudah bahwa Kevin adalah orang yang mewakili kemampuan pavilliun Heaven, tapi Kevin tidak bisa melihat pavilliun Heaven kehilangan reputasinya dengan matanya sendiri dan dirinya tidak dapat melakukan apapun.
"Tuan Dexter tenang saja, aku hanyalah bawahan tuan, hanya akan membantu tuan muda saja, penyelesaian pembuatan senjata tentu saja hanya di selesaikan tuan muda." Ini adalah batas Kevin bisa mundur.
Dexter mengerutkan kening, tapi dia tidak mengatakan apa-apa, hanya kembali ke posisi duduknya.
Di pavilliun Champion, dua orang pemuda masing-masing bergelut di meja batu untuk membuat senjata, banyak rakyat yang menonton, tampaknya agak membosankan melihat mereka melakukan hal-hal itu tanpa bergerak, seseorang bahkan sudah membuat api unggun, mengeililingi di sekitar api unggun dan menari seiring irma.
Untuk sesaat, suasana di tempat kejadian cukup ramai.
Lexie tanpa sadar mendongak sekilas, tiba-tiba sudut bibirnya mengulas senyum, melihat irang-orang yang bernyanyi dan menari, tiba-tiba Lexie merasa manusia jika bisa begitu bahagia dalam hidup ini itu sudah cukup baik.
Sayangnya, Lexie bertemu dengan pria itu, sejak saat itu, hanya ada kegelapan yang tersisa dalam hidupnya, Lexie berharap suatu hari dirinya bisa menaklukan langit ini dan menghancurkan dunianya yang gelap untuk membuka sebuah jalan, jadi, dia tidak bisa mundur, bahkan walaupun itu sulit, Lexie juga akan membawa Lucas untuk mencari harapan, dia selalu percaya bahwa akan selalu ada hari ketika dia dan Lucas akan dapat hidup dengan tenang dan damai.
Lexie tidak tahu bahwa pandangannya yang iri, sedih serta juga raut wajahnya yang tersenyum di bawah cahaya matahari begitu cantiknya, pemandangan indah ini jatuh ke mata orang yang menyukainya.
Dexter terpaku menatap Lexie yang seperti ini, untuk sesaat dia tanpa sadar ikut tersenyum mengikuti senyum Lexie, tapi saat berikutnya senyumannya di tarik kembali.
Sejak Dexter tahu bahwa Lexie adalah pelayan yang menghangatkan ranjang raja Victor, antara dirinya dan Lexie itu sudah tidak mungkin, bahkan jika Dexter tahu lebih dulu siapa Lexie jauh lebih awal di banding yang Lexie pikir, tapi nasib benar-benar memberi lelucon besar di hidupnya. Tidak masalah jika dia wanita orang lain, tapi malah wanita orang itu.
William yang sedari tdi duduk di depan pavilliun Champion dia juga sedikit terpaku, dia tidak menyangka seorang pria bisa tersenyum begitu indahnya, alangkah baiknya jika dia adalah seorang wanita, tapi William berpikir sepertinya dia gila, jika dia adalah seorang wanita bagaimana mungkin berani menantang pavilliun Heaven, bagaimana mungkin bisa membuat senjata? Harus di ketahui, seorang pengrajin yang baik merupakan orang yang berbakat dan memiliki kemampuan.
__ADS_1
Waktu 2 jam berlalu dengan cepat, ketika Cendana akhirnya terbakar sampai habis, ketika kabut asap terakhir jatuh ke tanah, Dexter berdiri dan mengumumkan dengan keras, "Waktunya habis!"
Lexie menghentikan pekerjaannya dan memegang batang yang telah selesai di buat di tangannya, para penonton sekali lagi memusatkan perhatian mereka ke pavilliun Champion, ketika orang-orang melihat benda yang ada di tangan Lexie, hampir semua orang tertawa.
"Aku tidak salah lihat bukan, apakah itu labu?"
"Labu apanya, jelas-jelas itu sebuah bola?"
"Sepertinya bukan, benda itu terlihat seperti ketapel yang gagal di buat oleh anakku."
"Oh, sepertinya pemuda kecil ini kalah telak, benda itu terlihat rusak, apa benda itu dapat menembus buah pir? Candaan apa ini."
Diskusi orang-orang di kerumunan membuat William mengerutkan kening, tapi dia melihat tampilan bangga Lexie yang santai, sepertinya Lexie sudah memiliki perhitungan, tidak tahu mengapa, dengan anehnya William merasa tenang, sepertinya dia percaya, meskipun itu adalah kondisi yang tidak menguntungkan, tapi pada akhirnya pasti akan bisa berhasil.
Sebaliknya Dexter, dia tidak meragukan kemampuan Lexie dari awal hingga akhir.
Sebaliknya jika di bandingkan benda yang ada di tangan Lexie terlihat seperti sedikit menyedihkan, terlihat seperti senapan yang berhadapan dengan petasan, membuat orang dapat melihat hasil akhirnya dalam sekilas.
"Apa kalian sudah siap?" Tanya Dexter.
Lexie dan Anita keduanya mengangguk, raut wajah Anita begitu bangga.
Dexter mengambil Dua buah pir menempatkannya di dahan pohon plum di depan pavilliun Champion, meminta orang-orang di sekitar untuk mundur, kemudian bertanya, "Siapa diantara kalian yang ingin menguji senjata lebih dulu?"
__ADS_1
"Aku!" Anita maju tanpa berpikir, sangat jelas dia ingin memperlihatkan kemampuannyabpada Lexie, dia mengangkat busur di tangannya kemudian berkata: "Ini adalah busur hitam terkenal dari pavilliun Heaven, terhadap objek dalam jarak dua ouluh kaki, bahkan jika itu perisai besi pun dapat dengan mudah di tembus."
Sambil berbicara Anita menggunakan busur dan mengarahkannya pada pir di kejauhan, kemudian dengan pelan menarik busur, sebuah panah besi melesat, panah besi itu mengenai pir tanpa keraguan, dan lagi terbang melintasi pir itu di kejauhan dan pada akhirnya tertancap di sebuah pohon plum.
Pir itu jatuh terguling dari atas pohon ke tanah, di lingkungan yang tenang, suara itu ter dengar seperti tanduk sebelum kemenangan, seketika kerumunan langsung berseru.
"Bagaimana apa kamu masih ingin menggunakan benda aneh dibtananmu itu untuk mempermalukan dirimu di depan orang banyak?" Anita mendongak memandang ke arah Lexie, "Dengan kemampuanmu yang hanya seperti itu, masih ingin menantang pavilliun Heaven, kamu tidak mencoba mengukur kemampuan dirimu sendiri, cih!"
Lexie tidak marah tapi perlahan melangkah maju dan bertanya pada Dexter: "Tuan Dexter, apa aku sudah bisa mulai?"
"Tentu saja." Dexter mempersilahkan.
Lexie mengangguk dengan sopan kemudian dia mengangkat benda yang ada di tangannya, berkata: "Benda ini dibuat olehku tiba-tiba, aku belum memikirkan namanya, aku berpikir, sebut saja di jarum bunga pir."
"Jarum bunga pir?" Para penonton menggumamkan nama itu, suara tawa semakin menjadi keras, nama yang begitu feminim bagi orang awam, sepertinya terlihat bukan senjata yang hebat.
Lexie juga tidak memiliki niat untuk menjelaskan, terkadang lebih baik pergi untuk membuktikannya, untuk apa menjelaskannya?
Dalam ejekan kerumunan, Lexie mengangkat tangannya dengan tenang mengarahkan benda di tangannya pada pir pohon, kemudian melemparkannya, benda yang tampaknya seperti bola itu terbang ke arah pir itu.
"Sial, aku tidak salah lihatkan, ternyata itu senjatanya?"
"Langsung melemparkannya ke pir?"
__ADS_1
Semua orang menjadi canggung, senjata sederhana dan kasar ini, masih perlu untuk dibuat? Lebih baik langsung mengambil batu dari tanah dan melemparkannya!
Tapi cemoohan orang-orang seketika berhenti ketika melihat benda aneh itu bertabrakan dengan buah pir.