
Lucas berusaha menjelaskan, tapi dia tidak memiliki kesempatan untuk berbicara, dia sudah mendengar suara rendah seorang pria yang terdengar dari pintu.
"Sudah bangun?" Victor masuk ke dalam dengan membawa Morgan, di tangan Morgan terdapat mangkuk sup panas, dia berjalan ketepi ranjang, dengan datar melihat sekilas pada Lucas, Lucas segera menundukkan kepalanya dan melangkah mundur.
Victor kemudian duduk bersandar di ranjang, mengulurkan tangan untuk membantu Lexie, "Apa kamu ingin bangun dan duduk?"
Victor sendiri tidak merasakannya, sebaliknya, Morgan yang berdiri di samping tidak bisa menahan bibirnya yang berkedut, jika dia tidak melihatnya sendiri, dia juga tidak akan percaya jika majikannya ini memiliki sisi yang lembut, meskipun tidak bisa di katakan lembut, tapi setidaknya bisa di katakan baik.
Lexie mengangguk, duduk di bawah bantuannya, tidak mempedulikan di dalam ruangan itu masih terdapat Morgan dan Lucas, dengan erat memegang lengan Victor, kemudian menyandarkan kepalanya di dada Victor, "Aku sangat senang Yang Mulia datang menyelamatkanku."
Victor terdiam sesaat tapi raut wajahnya tidak berubah sama sekali, "Bagaimana jika aku tidak datang?"
"Tidak datang ..." Lexie tampaknya takut, tubuhnya bergetar tanpa sadar, "Jika kamu tidak datang maka aku benar-benar akan dikotori oleh orang itu ... Jika benar begitu, aku tidak memiliki muka untuk menemui Yang Mulia lagi, jika benar begitu, sepertinya aku sekarang sudah bunuh diri, hanya saja aku tidak rela ..."
"Hmm." Victor mengangkat alisnya.
Lexie menyenderkan pipinya di dada Victor, "Jika mati, apa tidak akan pernah bisa bertemu dengan Yang Mulia lagi?"
"Sudahlah, minum sup." Victor tidak menjawab pertanyaannya, tapi hanya menolehkan kepala dan menatap Morgan, lalu Morgan segera memberikan sup itu.
Lexie pingsan terlalu lama perutnya benar-benar lapar, dia mengulurkan tangan ingin mengambil mangkuk sup, tapi dia malah melihat gerakan Victor mengambil sup lebih cepat dari pada gerakannya, kemudian menyerahkan mangkuk itu ke depan bibir Lexie, "Minumlah."
Raja Victor sedang menyuapinya meminum sup?
__ADS_1
Mata Lexie menatapnya dengan jernih, mata Morgan menatapnya dengan ngeri, Lucas menatapnya dengan curiga, tapi tidak peduli bagaimana orang-orang di sekitarnya menatapnya, bagi raja Victor tampaknya tidak ada pengaruhnya, gerakannya elegan dan tenang seperti biasanya.
"Hmm." Lexie menyeringai dengan senyum manis, membuka mulutnya dan meminumnya, sepertinya Lexie meminumnya dengan sangat hati-hati dan menghargainya.
Di luar dugaan Lexie, sup ini ternyata adalah sup ayam! Di tempat Budhisme seperti ini, hanya raja Victor yang seenaknya inilah yang dapat melakukan hal seperti ini.
Ada senyum terharu di wajah Lexie, tapi hatinya malah menghina, bukankah ini berati bahwa Victor adalah orang yang tidak beriman? Di mata Victor, mungkin hanya ada dirinya sendiri.
Victor tampaknya memiliki perubahan sikap pada Lexie, tapi bukankah ini dikarenakan Lexie menuruti perkataanya dan juga ingin menyenangkannya, begitu Lexie berani melawannya apa yang akan terjadi padanya?
Jadi, tulus, terharu? Lexie-nya sudah lama melewati periode naif itu.
"Anak busuk ini, kamu benar-benar membuat sup ayam di kuil Budha milikku!" Seorang bhikkuni tua tiba-tiba menerjang masuk dan menatap marah pada Lexie yang sedang minum sup.
"Aku bingung mengapa aku mencium bau ini pagi-pagi sekali ... Gadis kecil, apa sup itu enak di minum?" Biksu tua itu memicingkan matanya ke tepi ranjang, bertanya sambil menelan ludahnya.
Melihat tampilan Lexie yang begitu bangga, Victor menjadi semakin lembut, mengulurkan tangan dan mendorong biksu tua yang datang itu, "Untuk apa kamu datang?"
"Apa aku tidak boleh datang untuk mencium aromanya? Bocah ini menempati tempatku, menggunakan dapur kuil budha milikku untuk memasak sup ayam dan sekarang kamu masih bersikap seperti ini padaku?" Biksu tua itu sepertinya akrab dengan Victor, cara bicaranya juga sangat tidak segan, sama sekali tidak mempermasalahkan Victor yang baru saja mendorongnya.
Terhadap tuduhannya, tanggapan Victor hanya diam, bahkan dia tidak menatap pada biksu tua itu sekalipun.
Biksu tua itu melihat bahwa Victor mengabaikan dirinya, kemudian dia kembali maju, menatap pada Lexie, "Gadis kecil, kamu sudah minum begitu banyak, berikan sisanya untuk di minum oleh biksu tua ini."
__ADS_1
Mata Lexie melebar, dia pikir dirinya salah dengar, "Ini adalah sup ayam, apa kamu yang seorang biksu boleh meminumnya?"
"Alkohol dan daging melewati usus, aku yang biksu tua ini tidak memiliki begitu banyak aturan." Biksu tua itu tertawa bahagia, sama sekali tidak malu.
Lexie memutar bola mata padanya, "Sepertinya aku bertemu dengan seorang biksu palsu ..."
"Apanya yang biksu palsu, biksu tua ini merupakan guru Horald yang terkenal, gadis kecil ini benar-benar tidak mengenalku sama sekali." Guru Horald menyela kata-kata Lexie, melihat Lexie kembali meminum sup, dengan cemas berkata: " Gadis kecil! Berikan padaku sedikit, satu teguk saja?"
"Tidak boleh!" Lexie menolak dengan tegas, "Ini adalah sup ayam penuh cinta yang di berikan Yang Mulia padaku, jangankan satu teguk, setetes pun aku tidak rela memberikannya, selain itu, aku sudah meminumnya, di dalam sup ini juga terdapat air liurku, meskipun kamu adalah seorang biksu, tapi kamu ini juga adalah seorang pria, aku adalah wanita Yang Mulia, aku tidak bisa memberikan sup ini padamu."
Lexie terus menerus menyebut Yang Mulia, tampilannya yang sombong itu membuat guru Horald merasa aneh, ditambah lagi dia mendengarkan Lexie menyebutkan air liur, tiba-tiba dia tidak ingin minum.
Guru Horald mundur ke samping, berusaha untuk melotot pada Victor, "Bocah busuk, aku sudah mengatakan bahwa gadis ini adalah pembawa bencana, kamu masih tidak percaya, lihatlah apa yang dia katakan, berapa banyak wanita yang berani mengatakan hal seperti itu? Kurasa kamu harus secepatnya menemukan tempat untuk menguburnya sebelum gadis kecil ini berbuat seenaknya."
Ternyata biksu tua ini adalah pria botak yang di katakan oleh Lucas?
Ketika dia mengatakan untuk mengubur Lexie, Lucas bergegas menerjang memeluk pinggang biksu tua itu, lalu menggigit dagingnya, biksu tua itu terkejut dan sekuat tenaga berlari ke arah Victor, "Hei, lihatlah anak kecil ini sudah terpikat oleh gadis pembawa bencana itu, jika gadis itu mendapatkan kekuasaan, maka dia benar-benar akan bertindak seenaknya."
Lexie tidak menyangka bahwa guru Horald yang legendaris itu adalah seorang biksu tua yang tampaknya ceroboh dan cara bicaranya juga sama sekali tidak segan.
Tapi tidak ada orang yang akan begitu tenang dan tidak marah ketika mendengarkan ada orang yang ingin mengubur dirinya.
Lexie tidak terkecuali, tapi dia tahu hubungan antara biksu tua ini dan Victor tidak biasa, jika Lexie bertindak keras kepala tidak hanya akan membuat Victor tidak senang, tapi juga mungkin akan menerima hinaan bagi dirinya sendiri, jadi Lexie segera memasang ekspresi menyedihkan dan memandang ke arah Victor.
__ADS_1
"Yang Mulia, apa yang di katakan guru itu benar? Aku ... Apa aku benar-benar akan menjadi bencana? Apa aku akan menyakiti Yang Mulia?" Tanya Lexie dengan sangat serius, terlihat tidak marah sama sekali, tapi malah khawatir akan keselamatan Victor.
Bibir Victor mengulas senyum yang penuh arti, mengulurkan tangan kemudian Lucas terjatuh ke lantai di karenakan hembusan angin, kekuatan angin itu tidak kecil, Lucas terjatuh dan dahinya menghantam lantai, seketika menjadi benjol.