Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
Menolong Nyawa Seseorang


__ADS_3

Pemburu tua itu mengangguk, "Ya, luka ini harus di tangani. Tapi tidak ada tabib di gunung ini. Jika luka umum aku masih bisa menanganinya, tapi luka itu sangat berat aku tidak tahu bagaimana memulainya."


Wanita tua itu sedikit takut, tapi dia berhati baik, "Jika tidak, kita segera mengirimnya ke kota. Hanya dua jam dari sini, tidak tahu apa dia bisa bertahan."


"Ya, kulihat hanya bisa seperti itu. Aku ingat ketika terakhir kali putraku terluka, obat pertolongan darurat yang aku beli waktu itu masih tersisa, aku akan mengambilnya untuk menggunakannya padanya, kita balut dulu lukanya kemudian kita akan segera membawanya ke kota." Pemburu tua itu terlihat ganas, tapi dia juga adalah orang yang baik, tidak peduli siapa orang ini, tidak peduli bagaimana orang ini terluka, yang pasti dia tidak akan diam saja melihat nyawa seseorang sekarat di hadapannya.


Pemburu tua itu pergi untuk mengambil obat, wanita tua itu juga pergi mengambil sebuah kain bersih, tapi luka orang ini terlalu mengerikan, wanita tua itu sedikit takut dan tidak berani membalutnya, Lexie mengambil alih kain putih di tangannya, kemudian ingin menutup luka pada pria itu.


Hanya saja, jari-jarinya baru menyentuh lengan pria itu, pria itu sudah begitu kesakitan, lalu membuka matanya, melotot lekat pada Lexie, dengan dingin berkata: "Aku tidak bisa bertahan hingga 2 jam! Tangani saja lukaku di sini!"


Ternyata dia mendengar rencana mereka tadi.


"Aku tidak bisa menangani luka, mereka juga tidak bisa." Lexie mengerutkan alisnya, kekuatan tangan pria ini sangat kuat, dalam kondisi cedera saja, dia ternyata bisa menangkap pergelangan tangan Lexie dan membuatnya sakit.


Lelaki itu terengah-engah, sepertinya lukanya kembali sakit, "Aku akan memberitahumu bagaimana cara melakukannya!"


Lexie melihatnya yang bersikeras, dan juga dari matanya, tampaknya tidak ada rasa takut, harus di ketahui, di bawah kondisi tidak ada obat bius, sangat menyakitkan untuk menangani luka, terutama lukanya yang begitu mengerikan seperti ini, ujung gigi tajam itu saja masih menyangkut di celah tulang.


Tapi dia masih bersikeras merawat lukanya sesegera mungkin.


Lexie seketika mengerti, ini adalah keinginan kuatnya untuk bertahan hidup, karena di telah membuat pilihan yang paling sulit, maka Lexie harus menghormati nyawanya, pilihannya.


"Baik." Setelah Lexie menyetujuinya dia baru melepaskan tangan Lexie.


Pemburu tua dengan cepat mengambil obat, obat itu di bungkus dengan kantong kertas, dia membuka kantong kertas itu, di dalamnya hanya ada sekelompok kecil obat. Obat sekecil ini di sebarkan di luka besar yang terbuka ini, jelas tidak ada gunanya.


Ketika pemburu itu hendak menaburkan obat pada luka pria itu, pria itu menggelengkan kepalanya, "Jangan! Tunggu dulu lukanya di tangani kemudian baru membubuhkan obat."


"Menangani lukanya?" Ketika pemburu tua itu mendengarnya dia terkejut hingga membelalakkan matanya.


Lexie kemudian baru mengatakan permintaan orang itu pada pemburu tua, ketika pemburu tua itu mendengarkan, dia melambaikan tangannya berulang-ulang, "Benar-benar tidak ingin hidup, luka sebesar itu, bagaiman menanganinya, menyuruhku membunuh domba dan harimau bisa saja, memintaku menangani luka ini, aku benar-benar tidak berani melakukannya."


Satu-satunya pria di sini adalah sang pemburu tua, pemburu tua itu tidak berani melakukannya, pria itu mengalihkan pandangannya ke wajah Lexie.


Sudut bibir Lexie mengatup, apa tampilannya terlalu tenang? Jadi orang itu begitu "mempercayai" dirinya?


"Kamu saja!" Pria itu mengucapkan kata-kata dengan tegas.


Lexie memandangi sekilas pandangan mata pemburu yang menghindar, kemudian memandangi wanita tua yang begitu ketakutan hingga dia bahkan tidak berani membuka matanya, Lexie menghela nafas dan mengangguk, "Baiklah aku akan melakukanya, tapi aku bukan ahli, jika aku tidak bisa menanganinya dengan baik dan kamu kehilangan nyawamu, kamu jangan salahkan aku."


Pria itu tidak berbicara hanya mengangguk pelan.

__ADS_1


Di bawah komando pria itu, pemburu tua pergi mengambil alkohol kemudian mencari sebuah pisau tajam, wanita tua itu pergi ke dapur untuk memasak sepanci besar air panas.


Mempersiapkan segalanya di bawah komando pria itu, Lexie memanaskan alkohol, memanaskan pisau dengan nyala api kemudian menggunakan pisau itu untuk memotong luka di lengan pria itu, Lexie melakukannya dengan sangat hati-hati, jari-jari putih itu sangat kontras dengan luka yang sangat mengerikan itu.


Seperti wanita cantik dan Binatang buas, keseluruhan gambar ini semacam warna yang saling berbenturan, tapi begitu menawan, hingga mengungkapkan semacam rasa keindahan.


"Cabut itu." Pria itu menggunakan tangannya untuk mengambil tongkat kayu di tanah dan menggigitnya di mulutnya.


Lexie melihat taring yang menempel di celah tulang, kulit kepalanya sedikit mati rasa, tapi dia masih mengulurkan tangan dan memasukan jari-jarinya ke dalam daging yang panas itu, kemudian memegang gigi runcing itu. Pria ini berdarah, darah panas membungkus jari-jarinya, sentuhan ini cukup untuk membuat jiwanya gemetar.


Namun Lexie tetap menggertakan giginya, dengan kencang mencabutnya!


Darah memercik di wajah Lexie yang putih, ada setetes darah yang jatuh di antara alisnya, warna merah cerah seperti bunga yang mekar, membuat wajah Lexie yang sudah cantik semakin menawan.


Sampai bertahun-tahun kemudian pria itu masih mengingat pemandangan yang indah dan menawan ini.


"Sudah di cabut." Lexie menghela nafas panjang, tapi hatinya sebenarnya masih agak khawatir, untungnya dia tahu, pada saat ini, semua ketakutannya itu berlebihan, jadi dia tidak membiarkan jarinya gemetar.


Pria itu sudah kesakitan hingga penuh dengan keringat, tongkat kayu yang di gigitnya di mulut sudah pecah menjadi dua bagian, dia mengangguk lemah, setelah beberapa detik, kembali berkata: "Sekarang bantu aku membalut lukanya, kemudian baru membubuhkan obat."


"Langsung membalutnya?" Meskipun Lexie bukan seorang tabib, tapi setidaknya pengetahuan dasarnya masih ada, luka seperti ini harus di jahit lebih dulu sebelum di balut, jika tidak, hanya dengan sedikit obat itu bagaimana mungkin dapat menghentikan pendarahan?


"Aku merasa lebih baik di jahit lebih dulu, baru di balut akan lebih baik." Lexie tidak takut akan tatapannya, bahkan mata dingin Victor yang acuh dan mengerikan itu saja Lexie bahkan sudah melihatnya, pandangan mata seperti apa lagi yang bisa membuatnya takut?


Pria itu mengerutkan kening, tiba-tiba mengangguk, "Ya, ikuti keinginanmu."


Hanya begitu saja?


Lexie rupanya tidak menyangka, orang ini bisa menerimanya dengan begitu mudah, tampaknya keduanya bukan membahas sesuatu yang penting? Apa dia tidak mengerti apa yang di maksud Lexie di jahit dulu baru di balut? Tanpa obat bius, rasa sakit seperti itu, bukanlah sesuatu yang dapat di tanggung oleh kebanyakan orang. Tapi, Lexie berpikir kembali, dia bahkan sudah menanggung rasa sakit ketika mencabut taring di tulangnya, sepertinya seharusnya bisa menanggung rasa sakit ketika di jahit.


Tapi, kepercayaan pria ini padanya, malah membuat hati Lexie senang.


Mendapat ijin orangnya, Lexie kemudian meminta wanita tua menyiapkan beberapa benang dan jarum, wanita tua itu mulanya tidak mengerti apa yang ingin Lexie lakukan, tapi ketika melihat Lexie memegang jarum dan benang untuk menjahit luka yang mengerikan itu, wanita tua itu menjerit dan menutup matanya.


Lexie menjahitnya dengan sangat serius, setiap kali menusuk jarumnya dia sangat hati-hati, pria itu terus menatap lekat wajah Lexie, tidak melewatkannya sejenak pun.


Mengetahui Lexie sudah selesai menjahit, pria itu baru menarik kembali pandangannya.


"Sudah selesai, tapi aku biasanya tidak melakukan pekerjaan menjahit, jadi jahitan luka ini agak jelek, kuharap kamu tidak keberatan." Lexie melihat jahitan luka yang berliku, meskipun itu sudah di jahit, tapi jika di lihat memang terlihat jelek, bahkan dia sendiri juga tidak bisa melihatnya.


"Tidak masalah." Pria itu hanya mengucapkan kalimat dengan datar.

__ADS_1


Lexie mengangguk kemudian baru mengambil obat untuk membubuhkannya pada lukanya, hanya saja kondisi kebersihan di sini memang agak kurang, meskipun lukanya sudah di tangani dengan baik, masih perlu di antar ke tabib tepat waktu, kalau tidak, jika sudah terinfeksi tetap saja dia tidak akan bisa hidup.


"Daniel." Pria itu tiba-tiba mengucapkan sebuah nama.


Lexie tidak bereaksi, menatapnya dengan aneh.


Dia menambahkan, "Namaku Daniel Ming."


"Oh ..." Lexie tidak fokus terhadap topik pembicaraan yang melenceng ini, "Namaku Rosie."


"Rosie ..." Pria itu menggunakan nama ini, sudut bibirnya mengulas senyum yang tidak bisa di pahami orang.


Lexie mengabaikan senyumnya itu, dan malah berkata pada pemburu tua di sebelahnya, "Paman, meskipun lukanya sudah di rawat, tapi dia masih harus pergi berobat ke tabib, kulihat tetap harus menyusahkan mu mengantarnya ke kota ..."


"Tidak perlu!" Daniel tiba-tiba langsung memotong perkataan Lexie, malah mengeluarkan sepotong batu giok dari balik lengannya dan menyerahkan pada pemburu tua itu, "Orang-orangku seharusnya sedang mencariku. Paman hanya perlu membawa batu giok ini dan berdiri di jalan, orang-orangku akan mengikutimu kemari. Ketika orang-orangku datang, maka akan ada orang yang bisa merawatku."


Batu giok itu berwarna hijau terang, sekilas sudah tahu bahwa harganya tidak biasa, dia malah menyerahkannya begitu saja pada pemburu tua, jelas memiliki kepercayaan pada pemburu tua itu.


Pemburu tua itu tidak mengerti akan giok, tapi dia juga tahu bahwa benda itu tidak murah, dia mengambil giok itu kemudian turun gunung.


Wanita tua dan Lexie membantu memapah Daniel untuk beristirahat di ranjang di ruang belakang.


Setelah melewati semua ini sudah lewat sore hari, Lexie menatap langit, kemudian menghela nafas, sudah begitu malam, jika dia turun gunung sekarang dengan kekuatan kakinya, mungkin sama sekali tidak bisa melewati sebuah kota, dan lagi jika wanita tua di biarkan sendirian untuk mengurus Daniel sepertinya akan sedikit kacau, sepertinya Lexie harus tinggal di sini selama satu malam lagi.


Benar saja seperti yang di katakan Daniel, pemburu tua itu turun dari gunung ke jalan, tidak berapa lama seseorang berinisiatif untuk mencarinya, bertanya padanya dari mana datangnya batu giok itu, pemburu tua itu segera mengatakan masalah Daniel yang cedera.


Ketika pemburu itu kembali, ada tujuh atau delapan pria yang mengikuti di belakangnya, pria-pria itu melihat Daniel yang berbaring di ranjang, mereka semua terkejut, tujuh atau delapan orang itu bergegas berlutut di depan ranjang.


"Kami datang terlambat, mohon tuan jangan marah!"


Sudut bibir Lexie berkedut, dalam masyarakat feodal ini, selalu mendengar para bawahan yang mengakui kesalahan seperti ini.


Daniel melambaikan tangan dan hanya berkata, "Sudahlah jangan banyak bicara, sekarang bukan waktunya untuk menunda, kita sudah harus bergegas kembali ke kota Campbell dalam waktu setengah bulan."


"Baik!" Beberapa pria itu segera menjawab, ada orang yang maju untuk membantu memapah Daniel dengan hati-hati.


Mata Lexie tiba-tiba berbinar tidak bisa menahan diri untuk bertanya: "Kalian ingin pergi ke kota Campbell?"


Daniel memandang ke arahnya, balik bertanya, "Kenapa?"


"Hei ... Kalian, apa ada kereta kuda?" Kota Campbell adalah ibukota negara Beiming, perjalanannya jauh, tidak aman jika Lexie seorang diri, orang-orang ini jelas memiliki kemampuan tidak biasa, dan lagi yang terpenting adalah jika ada kereta kuda Lexie bisa menumpang naik.

__ADS_1


__ADS_2