
Ernie jauh lebih mampu bekerja dibanding yang dipikirkan Lexie, tangan dan kakinya juga begitu gesit, mungkin karena takut majikannya mengeluh, jadi dia bekerja sangat giat pada hari pertama tinggal di rumah Lexie, dia sudah membersihkan seluruh rumah dan juga sudah membuat makanan enak.
Begitu malam tiba, meja sudah di penuhi dengan makanan lezat yang begitu wangi.
Lucas mengendus dengan hidungnya, menatap meja yang penuh dengan makanan lezat, mulutnya makin meneteskan air liur, Lexie datang untuk melihat, dia juga terkejut, memanggil Ernie yang masih sibuk, "Ernie, dari mana kamu mempelajari ketrampilan memasak seperti ini? Kamu bisa membuka restoran dengan ketrampilanmu ini."
Ernie tersenyum malu-malu, "Ayahku dulunya adalah ya seorang koki, jadi aku belajar sedikit banyak darinya."
"Oh, aku benar-benar mendapatkan harta karun." Lexie memanggil Ernie untuk makan, Ernie awalnya masih sangat berhati-hati, tapi pada akhirnya tidak bisa menang dari Lexie, hanya bisa patuh duduk dan makan.
Cahaya lilin berwarna keemasan begitu indah, membuat tiga orang yang sedang makan yang bahagia itu tampak seperti sebuah lukisan yang indah.
Melihat Lucas yang makan dengan lahapnya, dan juga kegembiraan dari pandangan mata Ernie, Lexie memiliki perasaan terpisah dari dunia, dia bahkan tidak terlalu ingat kapan dia begitu tenang dan bebas duduk makan seperti ini.
Jika waktu berhenti berputar pada saat ini, betapa baiknya itu.
Sayangnya semakin orang tidak rela, maka semakin cepat itu pergi meninggalkan mereka.
Malam itu, sepertinya turun hujan rintik, suara hujan yang terus turun, bercampur dengan dingin angin yang meniup jendela, terus menimbulkan suara.
Lexie sedikit kesal dalam tidurnya, membuka matanya, tiba-tiba dia melebarkan matanya dan berbalik untuk menatap orang yang tidur di sebelahnya.
Tidur sampai tengah malam, tiba-tiba ada orang di sampingnya, jika bukan karena kualitas psikologisnya yang baik, takutnya dia sudah mati karena begitu terkejut.
Lexie hampir berteriak, tangan hangat pria itu tiba-tiba membungkam bibirnya.
"Ini aku."
__ADS_1
Kalimat sederhana itu, ditambah suara yang begitu familiar, seketika membuat mata Lexie makin membelalak, dari ketakutan awal hingga menjadi rileks, kemudian kebencian muncul di dalam hatinya!
"Yang Mulia, kenapa kamu bisa datang ke sini?" Lexie bergegas menutupi kebencian di pandangan matanya, menggantinya dengan tatapan bingung.
"Kenapa, kamu tidak senang melihatku?" Tidak terdengar emosi dari suara Victor.
Lexie menarik sudut bibirnya, "Bagaimana mungkin, aku tentu saja senang bertemu dengan Yang Mulia." Sial, melihat hantu bahkan jauh lebih baik, dari pada melihatnya.
"Baguslah." Victor mengulurkan tangannya dan menarik Lexie ke dalam pelukannya, "Apa kamu melewati hari-harimu dengan baik beberapa hari ini di luar kediamanku?"
"Hm, baik." Tempat dimana tidak ada dirinya, itu adalah tempat yang baik.
Tangan Victor menyentuh punggung Lexie perlahan bergerak turun, telapak tangannya sangat panas, tapi entah kenapa, Lexie malah kedinginan hingga menggigil.
"Yang, Yang Mulia, bukankah kamu mengatakan bahwa akan melepaskanku keluar dari kediamanmu?" Lexie menggertakan giginya, tapi dia tidak berani menunjukkan kemarahannya sedikit pun.
Benar-benar lelucon! Lelucon yang begitu nyata!
Lexie begitu marah, sangat ingin melepaskan tangannya yang sedang berada di atas pinggulnya, tapi Lexie tahu bahwa dia tidak bisa melakukannya, di depan pria ini, dia masih tidak memiliki ruang untuk melawan.
Lexie tidak berbicara, Victor malah menghela nafas dan berkata: "Yang kamu katakan benar, lebih baik kamu tinggal di luar kediamanku, ketika Yessika menikah dan masuk ke dalam kediamanku, dengan prasangkanya terhadapmu, kamu memang tidak akan bisa memiliki hidup yang baik, aku juga tidak ingin memikirkan hal ini, jadi akan lebih baik jika kamu tinggal di sini."
Ternyata Victor membiarkannya pergi karena alasan ini!
Lexie mencibir dan bertanya: "Yang Mulia, jadi apakah aku bisa di katakan sebagai wanita yang di pelihara Yang Mulia di luar? Kekasih gelap? Atau selingkuhan yang tidak tahu malu?"
Lexie benar-benar tidak berpikir bahwa pemikiran pria ini bisa begitu tidak tahu malu, hingga sampai di titik ini, dari awal sampai akhir, dia hanya mempedulikan dirinya sendiri, yang Victor pikirkan itu bagaimana dia bisa menguasai tubuh Lexie, dan menghindari masalah yang tidak perlu, lalu bagaimana dengan Lexie, bagaimana dengan martabat Lexie, bagaimana dengan hidup Lexie?
__ADS_1
Hanya karena dia adalah Yang Mulia berpangkat tinggi, jadi Lexie harus melekat padanya untuk bertahan hidup?
"Apa maksud dari kekasih gelap dan selingkuhan?" Tangan Victor meraba-raba tubuh Lexie, menyadari kekakuannya, akhirnya Victor menyadari kalau Lexie sedang marah, "Kenapa, kamu menginginkan status?"
Status? Di pandangan mata Victor yang Lexie pedulikan sekarang adalah status?
Ada kesedihan di mata Lexie, tiba-tiba tidak punya keinginan untuk berbicara lagi, apa yang bisa dia katakan pada seorang pria yang tidak bisa di ajak berkomunikasi?
Melihat Lexie yang diam, Victor kembali mendekat ke kepala Lexie, aroma harum memasuki hidungnya, alisnya masih berkerut, setelah beberapa saat, dia menekan Lexie di bawah tubuhnya, "Hal yang seharusnya tidak kamu pikirkan jangan terlalu banyak berpikir."
Malam hari, ketika hujan semakin lebat, makin menjadi dingin hingga menusuk tulang.
Malam itu terdengar suara Lexie yang kesakitan dari ruangan itu, suara Lexie membangunkan Lucas dan Ernie yang ada di kamar sebelah, mereka berjalan keluar pintu dan hendak berlari ke kamar Lexie, tapi melihat orang yang menghadang di depan pintu.
"Ternyata kamu." Langkah Lucas terhenti, matanya menatap lurus ke arah Morgan yang sedang melipat tangganya di depan dadanya, Morgan ada di sini, jadi siapa yang ada di dalam kamar Lexie itu sudah sangat jelas.
Ernie memicingkan matanya ingin bertanya, tapi takut karena aura yang di keluarkan Morgan hingga dia tidak berani bertanya.
"Kembalilah dan istirahat." Morgan menghela nafas dan tidak menjelaskan apa-apa.
Lucas melirik sekilas ke arah kamar Lexie, suara teriakan rendah terus berlanjut, dia tidak bisa menahan kepalan tangannya, untuk sesaat, dia ingin menerjang masuk tidak ingin mempedulikan apapun, tapi Lucas tidak melakukannya, dia tahu jika menerjang masuk saat ini, Victor tidak akan mati, tapi nantinya dia dan Lexie yang akan sangat sengsara.
Lucas menggertakan giginya, mendorong Ernie kembali ke dalam kamar, berteriak dengan rendah, "Jangan keluar!" Kemudian Lucas kembali ke kamar, melirik sekilas pada Morgan dengan dingin kemudian menutup pintu.
Hanya sayangnya pintu itu bisa menghalangi angin dan hujan, tapi tidak bisa menghentika mimpi buruk yang menjerat hidupnya.
Malam itu Lucas duduk di lantai belakang pintu dan menutup telinganya dengan erat, kebencian di matanya itu seperti nyala apai, nyala api itu semakin kuat, dalam hidupnya ini, jika nyala api itu tidak membakar orang yang di bencinya, maka hanya akan membakar dirinya sendiri.
__ADS_1
Di luar pintu, Morgan berdiri di koridor, terkadang hujan yang tidak sengaja tertiup oleh angin dingin terkena di tubuhnya, dia adalah ahli bela diri, dulu, angin dan hujan yang lebih kencang tidak bisa membuat dia mengerutkan alis, tapi saat ini dia malah merasa kedinginan.