Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
Pergi Turun Tangan


__ADS_3

"Dasar kamu pelayan kecil, apa kamu di dedikasi untuk bersumpah? Kereta kuda kami berjalan di jalur yang benar, kamu yang tiba-tiba saja menerjang, aku tidak menyalahkanmu karena mengejutkan kudaku saja itu sudah tidak buruk, kamu sekarang malah menuduhku?" Sang kusir sangat marah mengangkat cambuk di tangannya dan ingin di arahkan di tubuh Ernie.


"Sudahlah." Ada suara bermartabat yang keluar dari dalam kereta, "Kita baru tiba di kota Phoenix, sebaiknya jangan membuat masalah, dan lagi, mana ada waktu untuk di tunda di sini."


Ketika kusir itu mendengarnya dia kemudian meletakkan cambuk, "Anggap saja kamu beruntung, majikanku dalam suasana hati yang baik, jika biasanya kamu sudah pasti berada dalam kesulitan."


Sang kusir bergegas menjalankan kereta kuda, beberapa gerbong di belakang juga mengikuti dan perlahan-lahan melintas di depan mata Ernie.


Ernie masih merasakan kemarahan, tapi dalam sekejab mata dia tidak melihat sosok Lexie, ketika dia sedang panik, dia melihat Lexie yang keluar dari kerumunan, dan pandangan matanya jatuh pada kereta kuda yang sudah melintas jauh untuk waktu yang lama.


"Nona, apa kamu mengenal orang-orang itu?" Ernie memandang pandangan mata Lexie sedikit aneh, jadi tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.


Lexie tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya, "Tidak kenal."


Bagaimana mungkin tidak kenal, betapa buruknya perlakuan keluarga ini padanya sebelumnya, hanya saja, Peter ternyata di pindahkan ke ibukota? Pengaturan takdir seperti membuat Lexie sedikit memiliki harapan di masa depan, lagi pula Lexie sudah biasa menjadi pendendam, dia dan Winny hampir mati di tangan Claudia, istri sang jendral, dendam ini, pasti akan di balasnya jika ada kesempatan.


Keduanya menyewa kereta di gerbang kota, roda berguling, kereta kuda itu semakin jauh dari kita Phoenix. Di dalam kereta Lexie tidak tahan untuk menyibak tirai dan melihat sekilas ke belakang, kota Phoenix yang sibuk, ketika Lexie kembali setengah tahun kemudian, akan seperti apa pemandangannya?


Di dalam kediaman Victor, ada orang yang mengirimkan seekor harimau putih, harimau itu di kurung dalam sangkar besi, menatap tajam ke arah orang-orang disekitarnya.


Victor mengambil sepotong daging segar berdarah dari tangan bawahannya, kemudian melemparkannya ke dalam kandang, harimau itu menggigit daging segar itu dan memakannya dengan lahap.

__ADS_1


"Yang Mulia, nona Lexie sudah meninggalkan kota." Morgan berjalan masuk dari luar, raut wajahnya tidak berubah ketika melihat harimau putih itu.


Victor mendengus, "Dia ternyata begitu tidak sabar ingin pergi."


"Nona Lexie hanya pergi setengah tahun, akan segera kembali." Morgan juga belajar bagaimana Victor mengambil sepotong daging dan melemparkannya ke dalam kandang, tapi bahkan harimau itu tidak melihatnya, langsung menuju ke sisi lain kandang, "Hei, mengapa binatang itu begitu pintar?"


"Alami, kalau tidak bagaimana mungkin aku menerimanya." Victor memerintahkan orang untuk membersihkan daging segar yang tidak di makan harimau itu, kemudian Victor mengambil kain putih dan menyeka tangannya, "Akan kembali dalam setengah tahun? Apa kamu pikir aku bisa menunggu selama setengah tahun?"


"Kalau begitu maksud Yang Mulia, membiarkan nona Lexie pergi adalah?" Morgan makin bingung.


Victor menyeka bersih tangannya dan pergi ke ruang kerja, "Kita mencari begitu lama, tapi tidak pernah menemukan sarang pavilliun Heaven, menurutmu, bukankah mengikuti Lexie, bukankah akan lebih mudah menemukannya?"


"Memang ada orang yang mengikuti, tapi ketika sudah hampir sampai di pavilliun Heaven, orang-orang ini sudah tidak berguna, di katakan bahwa pengawasan di pavillun Heaven itu sangat berat, menurutmu apa orang-orang ini dapat masuk ke dalam?" Victor tersenyum dengan tenang, berjalan ke arah rak buku, tidak tahu apa yang di tekan oleh Victor, rak buku terbuka ke samping, kemudian mengungkapkan kegelapan di bagian dalam Victor mengambil sebuah kotak di kegelapan.


Membuka kotak itu, di dalamnya ada sebuah topeng kulit manusia, Victor mengambil topeng itu, topeng itu sangat tipis dan ringan, dibuat dengan sangat halus.


Morgan menatapnya dengan aneh, kemudian kembali tersadar, dengan terkejut berkata: "Apa Yang Mulia akan pergi sendiri?"


"Rahasia pavilliun Heaven juga cocok untuk diberitahu pada dunia, aku pernah mengatakannya, jika bisa berguna untukku maka itu sangat baik, jika tidak berguna bagiku, maka tidak boleh meninggalkan peluang pada musuh." Victor meletakkan topeng kulit itu menutupi wajahnya sendiri, topeng kulit itu seakan menyusut secara otomatis, dengan sangat cepat menyatu dengan kulit wajah Victor, tidak berapa lama, langsung menampilkan wajah yang benar-benar asing, "Begini juga bagus, setidaknya kali ini pergi ke pavilliun Heaven masih ada wanita cantik yang menemani."


Morgan tidak berbicara, wanita cantik yang menemani, itu juga karena wanita cantik itu nona Lexie, jika di ganti oleh orang lain, apa Yang Mulia memiliki minat yang begitu besar seperti ini?

__ADS_1


Hanya saja perkataan ini, Morgan tidak berani mengucapkannya, ada beberapa hal, ketika orang yang bersangkutan masih belum yakin, tidak peduli pada apapun yang di katakan oleh orang lain malah seakan mencari masalah bagi diri sendiri.


Lokasi paviliun Heaven terletak 800 mil jauhnya dari kota Phoenix, kota terdekat di sini bernama kota Eclipse, kota Eclipse ini tidak bisa di bilang ramai, ini adalah kota pedalaman yang sangat biasa, ada sebuah sungai besar yang melewati kota di tengah kota, kota ini menghadap gunung, ada gunung yang indah dan pemandangan yang indah bagai lukisan, sehingga kota Eclipse ini merupakan tempat yang menjadi kota favorit bagi banyak sastrawan.


Kereta kuda membutuhkan waktu 5 sampai 6 hari untuk tiba di kota Eclipse, Lexie dan Ernie bersiap untuk beristirahat selama 1 malam di kota Eclipse, kemudian pergi ke pavilliun Heaven keesokan harinya, lagipula, ketika tiba di kota Eclipse, itu sudah tidak jauh dari pavilliun Heaven, seharusnya dapat tiba dalam waktu kurang dari sehari.


Pergi ke beberapa penginapan, semua penginapan mengatakan bahwa tempat mereka sudah penuh, ini membuat Lexie terkejut, penginapan kota yang terbilang tidak ramai ini ternyata penuh dengan pelanggan, apa ada acara besar di kota ini?


Akhirnya dengan tidak mudah menemukan penginapan yang kosong, Lexie dan Ernie sudah sangat amat lelah, ketika pelayan penginapan membawa air panas ke dalam kamar, Lexie kemudian mengajukan pertanyaan.


"Adik kecil, apa ada hal besar yang terjadi di kota ini? Kenapa hampir di setiap penginapan penuh?"


Pelayan itu meletakkan air panas, tersenyum dan menjawab: "Kedua nona sekilas dilihat sepertinya belum pernah datang ke kota Eclipse ini, tapi kedua nona sudah tahu tentang pavilliun Heaven bukan? Pavilliun Heaven yang terkenal dengan desain dan pembuatan senjatanya?"


"Pavilliun Heaven ya, tentu saja pernah mendengarnya, apa hubungannya masalah ini dengan pavilliun Heaven?" Tanya Lexie tanpa mengubah raut wajahnya.


"Mengapa tidak ada hubungannya, pavilliun Heaven merekrut murid setiap tiga tahun sekali, dalam beberapa hari ini adalah hari di mana pavilliun Heaven merekrut murid, jadi orang-orang yang datang dari segala penjuru tentu saja banyak yang berdatangan untuk menghadirinya. Para pengrajin yang keluar dari pavilliun Heaven, yang mana yang bukan merupakan orang pandai dan memiliki kemampuan? Jika aku adalah pengrajin, maka aku juga ingin pergi mencobanya, jika masuk ke pavilliun Heaven masuk sudah tidak jauh dari kejayaan."


Pelayan berkata dengan raut penuh iri, kemudian menggelengkan kepalanya, "Sayangnya aku sama sekali tidak mengerti akan hal itu, tidak tahu orang-orang beruntung mana yang bisa memasuki pavilliun Heaven tahun ini."


Pelayan toko itu menggelengkan kepalanya dan keluar dari kamar, Ernie menuangkan air panas ke baskom dan bersiap ingin melayani Lexie untuk membersihkan diri, tiba-tiba Lexie melamun, "Nona, apa yang sedang kamu pikirkan?"

__ADS_1


__ADS_2