Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
Mendapat Hukuman


__ADS_3

"Seharusnya ada penjaga lain di dalam penjara air ini, kamu pergilah lebih dulu mencari guru, aku akan pergi berkeliling


dan melihat penjaga lainnya terlebih dahulu." Memasuki penjara air, wajah Kevin menjadi makin tidak enak di lihat.


Lexie bergegas merespon, melihat Kevin berbalik dan pergi, semakin cepat Lexie melangkahkan kakinya maju, penjara air ini lebih besar dari yang dia bayangkan, dengan saluran yang di bangun di tengah batu sebagai partisi, di bagi menjadi dua sisi, ada lebih dari puluhan penjara di setiap sisi, di setiap penjara terdapat kayu sebagai penghalang.


Yang paling mengejutkan adalah setiap penjara itu di dalamnya terdapat orang, hanya saja orang-orang itu, tampaknya sudah kehilangan kecemerlangannya, bahkan walau ada orang masuk pun mereka tidak menanggapi.


Lexie pergi ke ujung lorong dan masih tidak menemukan guru Damian, hatinya makin cemas, tapi dia juga menghibur dirinya sendiri, dengan status guru Damian di pavilliun Heaven, bahkan jika itu adalah sel penjara pasti akan memiliki perlakuan istimewa, lagipula guru Damian menggantikannya di penjara dan juga berkontribusi pada pavilliun Heaven Selma bertahun-tahun, jika melecehkan guru Damian, maka akan sulit bagi pemilik pavilliun untuk menjelaskan pada anggota lainnya.


Di ujung lorong ada gerbang besi, ada jendela besar berbentuk telapak tangan diatas gerbang besi, Lexie berjinjit dan melihat ke dalam, dalam sekilas kemudian dia mundur.


Di balik gerbang besi yang tertutup itu ternyata guru Damian, dia di tahan di tempat yang berbeda tapi ...


Lexie menutup mulutnya, butuh beberapa saat untuk pulih dari keterkejutannya, Lexie menggertakan giginya dan bangkit berdiri, sekali lagi berjinjit dan melihat ke dalam gerbang besi.


Betapa Lexie berharap, adegan yang baru saja di lihatnya itu adalah ilusi, merupakan gambar yang muncul di karenakan ketakutannya, tapi kali ini, yang dia lihat masihlah adalah pria kurus yang tergantung di kait besi.


Guru Damian di gantung pada kait besi di dinding, kait besi melewati pundak di kedua sisi, ujung yang tajam menjalar di bawah dagunya, ada darah yang terus mengalir keluar dari tulang belikatnya menuruni dadanya kemudian pinggangnya dan kemudian menuruni paha dan akhirnya jatuh di ujung kakinya.


Pandangan mata Lexie terpaku pada kedua kaki guru Damian, kedua kaki telanjang itu berdarah terutama sepuluh jari kaki, ternyata setiap kukunya di cabut!


"Bagaimana mungkin! bagaimana bisa!" Lexie sesak nafas, merasa dirinya sudah tidak bisa bernafas, pasti ada sesuatu yang salah dalam hal ini, sebenarnya apa yang telah dia abaikan? Orang itu adalah tetua Damian, tetua keempat dari pavilliun Heaven, bagaimana bisa mereka melakukan ini padanya?

__ADS_1


Air mata memburamkan pandangan mata Lexie, tapi Lexie dengan keras kepala tahu bahwa ini bukan saatnya dia melampiaskan emosinya, dia menggertakan giginya dan mencoba membuka pintu, tapi pintu besi itu terkunci rapat, Lexie menggunakan kekuatannya tapi pintu besi itu tidak bergeming sama sekali.


Ketika Lexie sedang panik, dia malah mendengar ada langkah kaki di belakangnya, Lexie menoleh dan melihat Kevin yang bergegas datang.


"Para penjaga datang, ayo kita pergi lebih dulu." Kevin menarik lengan Lexie dan berjalan keluar.


Lexie melawan, "Tidak! Aku merasa ada yang tidak beres dengan masalah ini, aku harus menanyakan pada guru apa yang sedang terjadi, jika itu hanya pencurian, bahkan jika guru adalah tersangka mereka tidak perlu menghukumnya dengan berat seperti ini!"


Langkah kaki Kevin terhenti, agak bingung dengan perkataan Lexie, "Apa maksudmu tetua Damian di hukum?"


Lexie mengangguk dengan sedih, menunjuk ke gerbang besi, "Lihatlah sendiri."


Kevin mengerutkan kening, dia melihat melalui jendela di gerbang besi, raut wajahnya seketika berubah, "Aku, aku tidak menyangka... Tapi sekarang kita tidak punya waktu, bahkan jika kamu memiliki keraguan sekarang itu bukan saatnya untuk mengejarnya, kita bicarakan lagi ketika sudah keluar, kalau tidak bahkan jika ada masalah, kamu juga tidak akan dapat menyelesaikannya."


Ketika mereka baru berjalan ke pintu masuk lorong, mereka mendengar langkah kaki intensif dari arah sebaliknya, Kevin berbisik: "Gawat, mereka datang."


Lexie tidak tahu apa yang harus di lakukan, merasa dirinya di dorong ke belakang oleh Kevin, Lexie tidak keburu untuk menoleh, dia mendengar suara cemas Kevin datang dari belakang, "Aku akan memancing mereka pergi, kamu menyelinap keluarlah lebih dulu. Lagi pula aku adalah anak dari pemilik pavilliun, mereka tidak akan bertindak padaku."


Mendengar suara kaki yang hampir mendekat, Lexie hanya melihat bayangan di sampingnya, kemudian melihat Kevin bergegas berlari ke arah orang-orang itu.


Lexie menggertakan giginya, tidak menunda waktu lagi, mengangkat kakinya kemudian berlari ke arah pintu keluar, berlari hingga keluar dari gunung palsu itu dalam satu tarikan nafas, melihat Victor berdiri di luar, hatinya baru merasa sedikit tenang.


Victor mendengus sekilas, sepertinya terlalu malas untuk berbicara dengan Lexie, hanya memindahkan kembali bagian untuk menutup gunung palsu itu, Victor tidak mengatakan apa-apa kemudian menarik Lexie pergi.

__ADS_1


Lexie di tarik oleh Victor hingga berjalan tertatih-tatih, tapi masih tidak bisa menahan diri untuk menoleh ke belakang, "Kevin masih berada di dalam penjara air ..."


Victor menghentikan langkahnya, menatap dengan dingin, ada ejakan dan sinisan di pandangan matanya, tapi pada akhirnya dia hanya mendengus dan tidak berbicara sepatah kata pun.


Mungkin karena aura dingin yang di keluarkan oleh tubuh Victor terlalu mengetikkan, Lexie di tatap dengan dingin seperti itu olehnya, kemudian Lexie tidak berani lagi melihat lebih lanjut.


"Lexie! Aku hanya akan mengatakannya sekali, jika kamu masih ingin hidup maka dengarkan aku baik-baik. Kamu tidak perlu mempedulikan mengenai masalah pavilliun Heaven, jangan campur tangan, kamu hanyalah seorang wanita, banyak hal yang tidak bisa kamu dapatkan semuanya. Dan lagi sampai saat ini aku masih sangat puas dengan tubuhmu, jadi jangan membuat masalah untukku, selama kamu bersikap hal baik, mengenai hal ini, aku jamin kamu dapat mundur dengan selamat." Suara Victor dingin, bahkan jauh lebih dingin dari biasanya yang pernah di temui Lexie.


Ketika Lexie mendengarnya, dia segera menarik tangan Victor, dengan panik bettanya: "Yang Mulia, sebenarnya masalah apa, guruku sekarang sedang dalam keadaan bahaya bukan? Kumohon padamu, beritahu padaku, sebenarnya bagaimana cara agar aku bisa menyelamatkannya..."


"Kamu tidak bisa menyelamatkannya! Kevin juga tidak bisa menyelamatkannya!" Lexie masih peduli pada Kevin saat ini, sepertinya masalah Lexie yang langsung mencari Kevin ketika Lexie menemui masalah membuat Victor sangat tidak puas.


Sebenarnya dari awal Lexie berdiam meminta bantuan pada Victor, hanya saja nasib mempermainkannya, sebelum Lexie menemukan Victor, Kevin muncul. Tapi Lexie tidak akan menjelaskan hal ini pada Victor lagi, pada saat ini, pada tempramen Victor yang sedang curiga, apapun yang Lexie katakan Victor juga tidak akan percaya.


Victor meraih lengan Lexie, kemudian bergegas pergi, hingga sampai di depan pintu Victor baru melepaskan tangan Lexie, kemudian tiba-tiba berteriak ke semak-semak yang ada di samping: "Kalian masih tidak mau keluar."


Lexie sedang bingun dengan siapa Victor berbicara, kemudian dia melihat Alvaro dan Zacky keluar dari dalam hutan.


Alvaro menatap Victor, pndangan matanya tidak bisa di katakan baik, bertanya pada Lexie: "Apa dia orangnya yang ingin kamu mintai bantuan? Sebenarnya dia atau Kevin?"


"Aku..." Lexie hendak berbicara tapi Victor menyela kata-katanya.


"Aku tidak tertarik ikut campur dalam kekacauan ini." Setelah mengatakan hal itu, Victor berbalik badan dan pergi tanpa ragu-ragu.

__ADS_1


__ADS_2