Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
Sebersit Harapan


__ADS_3

Pagi berikutnya hujan sudah berhenti, tapi langit masih kelabu, seolah-olah abu bisa turun kapan saja.


Hari belum cerah, tapi Ernie sudah pergi ke dapur untuk membuat sarapan, ketika hari sudah terang, meja sudah di penuhi dengan bibir dan makanan yang lainnya. Dia pertama-tama mengetuk kamar Lucas, pintu di buka dengan cepat, Lucas keluar dengan wajahnya yang pucat, mungkin karena mata Lucas yang suram, Ernie terkejut hingga mengambil langkah mundur.


"Aku sudah selesai membuat sarapan apa ingin memanggil nona untuk bangun?" Ernie ragu-ragu sejenak, kemudian menambahkan, "Ada lagi, orang yang ada di kamar nona apa juga ingin makan?"


"Mereka sudah pergi." Lucas berjalan keluar dari pintu, pandangan matanya jatuh ke arah pintu Lexie, dengan tercekat tapi juga tegas berkata: "Biarkan kakak tidur untuk beberapa saat lagi, ayo kita pergi makan."


Lucas pergi ke ruang makan, dia duduk kemudian mulai mengubur kepalanya dan makan dengan pahit, dia memakan 3 mangkuk bubur sekaligus, ketika ingin mengambil mangkuk ke-4, Ernie menghentikan tangannya, "Kamu makan terlalu banyak, hati-hati nanti perutmu sakit."


"Jika aku tidak banyak makan, bagaimana aku akan tumbuh dewasa dengan cepat?" Lucas segera menyingkirkan tangan Ernie, kemudian mulai mengambil semangkuk.


Ernie menatap terpaku padanya, tapi dia tidak bisa menghentikannya hanya bisa melihat ke arah kamar tempat Lexie berada untuk mencari bantuan, sayangnya, pintu kamar tertutup dan tidak ada suara dari dalam.


Siang hatinya akhirnya Lexie bangun, dia tampak kedinginan, hari ini dia memakai jaket katun tebal, selain wajah yang masih terbuka, dia benar-benar membungkus dirinya dengan ketat.


"Kakak." Lucas sedang berlatih kuda-kuda di halaman, melihat lexie keluar, segera menghampirinya.


Lexie merapikan pakaiannya, melihat ke sekeliling, "Kenapa Ernie tidak kelihatan?"


"Aku memintanya pergi membeli ayam." Kata Lucas.

__ADS_1


"Lucas ingin makan yan." Lexie menarik Lucas untuk duduk di bangku di halaman.


Lucas menggelengkan kepalanya, berjalan ke belakang dan memijat bahunya, "Sup ayam untuk memperkuat tubuh, itu untuk kakak."


Dalam sekejab mata Lexie sudah berair, jika semalam adalah neraka baginya, maka saat ini Lexie cukup beruntung bisa keluar dari neraka untuk melihat cahaya harapan.


"Lucas terima kasih." Bukan hanya berterima kasih atas sup ayam, tapi juga berterima kasih karena telah membantunya melewati masa tersulit.


"Kak, jangan katakan terima kasih lagi, di kemudian hari, kita akan dapat hidup dengan sangat baik, suatu hari, kita juga akan dapat melarikan diri dari orang itu." Karena Lucas tadi sedang berlatih kuda-kuda, maka sekujur tubuhnya hangat saat ini, dia menyentuh tangan Lexie, mendapati tangannya begitu dingin, bergegas menggenggam tangan Lexie dengan tangan kecilnya.


Akhir-akhir ini, perkataan Lucas perlahan-lahan makin bertambah, meskipun dia masih begitu dingin jika di bandingkan dengan anak-anak biasanya, tapi jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya.


Ini juga satu-satunya hal yang membuat Lexie senang.


Ketika Ernie kembali dia melihat Lexie duduk di halaman dengan wajah yang ceria, seolah orang yang berteriak kesakitan semalam itu bukanlah dirinya. Ernie ingin menanyakan bagaimana kondisi majikannya, tapi ketika ingin menggerakkan bibirnya, dia malah melihat Lucas menggelengkan kepalanya, apa yang ingin di tanyakannya di simpan di dalam hatinya.


Terkadang, penghiburan terbesar bukannya bertanya dengan perhatian, tapi hanya membuatkannya saja dan tidak bertanya, mungkin itu adalah perhatian terbesar.


Ernie adalah orang yang mengerti, setelah membungkuk pada keduannya dia pergi ke dapur untuk menyibukkan diri.


Aroma masakan menyebar seakan semua masih sama seperti biasanya, hanya saja, ada beberapa hal yang berbeda.

__ADS_1


Satu-satunya yang membuat Lexie bahagia adalah Victor tidak lagi datang setelah malam itu, jika bukan karena rasa sakit yang terlalu nyata, yang terukir di kedalaman jiwanya, bahkan Lexie bisa mengira bahwa itu hanya mimpi buruk yang mengerikan.


Dalam sekejab mata beberapa hari lagi adalah tahun baru, toko-toko di jalan semuanya sudah di hias dan ditempeli pernak-pernik, setiap malam, pedagang kecil menutup tokonya lebih malam dari biasanya, orang-orang yang membeli barang tahun baru pun pulang lebih malam di banding biasanya.


Rumah di mana Lexie dan yang lainnya tinggal bukanlah jalan utama, tapi sebuah gang terpencil, di dalam gang itu juga masih ada beberapa keluarga, karena sudah akan melewati Tahun baru, setiap keluarga sudah memasang lampion lebih awal, sehingga gang kecil yang tadinya gelap sekarang menjadi lebih terang.


Setelah makan malam, Lexie membawa Lucas dan Ernie duduk di halaman sambil memakan kuaci, tapi dia malah mendengar seseorang berteriak di luar halaman: "Apa ada orang di dalam?"


Lexie melihatnya dengan bingung, mereka baru pindah ke sini kurang dari setengah bulan, selain Victor tidak mengenal orang lain lagi yang begitu familiar, Lexie memberi isyarat pada Ernie, kemudian Ernie meletakkan kuacinya dan pergi untuk membuka pintu.


Di luar pintu, wanita paruh baya yang sedikit subur membawa sebuah keranjang dan melihat ke dalam pintu, dia mengulas senyum lebar di wajahnya, diikuti oleh anak laki-laki berusia sekitar enam atau tujuh tahun.


"Aku ini adalah istri leman di sebelah, sebentar lagi sudah akan tahun baru, aku membuat kue ketan dan membagikannya pada para tetangga." Ketika istri leman berbicara dia mengeluarkan sebuah bungkusan dari kertas dan memberikannya pada Ernie.


Ernie menoleh menatap pada Lexie, Lexie sudah bangkit berdiri dan tersenyum sambil berjalan ke arah pintu, "Ernie, cepat terima, kita harus berterima kasih padamu, anak-anak ini juga kebetulan sedang kelaparan."


"Hal sekecil ini untuk apa berterima kasih, kita ini tetangga, sudah seharusnya saling membantu di kemudian hari. Aku adalah orang daerah selatan tidak begitu mengenal orang di kota Phoenix ini, semuanya mengandalkan bantuan dari para tetangga." Ketika istri leman ini berbicara, anak laki-laki ini menatap lekat pada Lexie, terlihat istri leman dia langsung memukul kepalanya, "Anak ini untuk apa menatap orang seperti itu."


"Ibu, kakak ini sangat cantik." Bocah lelaki itu memeletkan lidahnya, tapi dia masih tidak mengalah, "Kamu yang mengatakan sendiri, kakak ini adalah tetangga yang baru datang, jadi kita kemari untuk melihat dia cantik atau tidak, bukankah kamu mengatakan jika cantik maka kamu akan menjadikannya istri kakak?"


Bocah lelaki itu mengatakannya dengan begitu jujur, raut wajah istri leman itu memerah, dia sangat marah hingga dia mengangkat tangannya dan menampak belakang kepala bocah itu, "Omong kosong! anak ini kenapa berbicara sembarangan, lain kali aku tidak akan membawamu keluar."

__ADS_1


Istri leman itu menolehkan kepalanya pada Lexie dan berkata: "Gadis muda, kamu jangan mendengarkan perkataanya, itu tidak benar. Seorang gadis cantik sepertimu, mana mungkin anakku itu bisa sepadan denganmu, tapi bukannya aku menyombongkan diri, aku mengenal orang-orang di jalanan ini, dalam setahun ini aku sudah menjodohkan 5 sampai 6 orang, gadis muda jika kamu masih belum menikah, aku bisa membantumu, apa orang tuamu ada di rumah?"


__ADS_2