Putri Yang Terlantar

Putri Yang Terlantar
Bukan Hanya Wanita itu


__ADS_3

Ketika angin bertiup, kelopak bunga plum jatuh berserakan, jatuh berserakan di antara celah keduanya.


Setelah angin berhembus, tampaknya udara menjadi agak dingin. Lexie memandangi kelopak bunga yang jatuh di tanah, sudut bibirnya tersenyum, "Tuan Dexter, waktu sudah larut, aku harus kembali."


"Apa kamu tahu bahwa dia sudah akan menikah?" Dexter melihat Lexie akan pergi, mengerutkan kening dan mengucapkan kalimat ini.


Lexie terpaku, senyum di wajahnya tidak berubah sama sekali, "Aku tahu, nona besar Yessika, wanita paling berbakat di kota Phoenix, sepadan dengannya."


"Kamu ..." Dexter tampaknya ingin mengatakan sesuatu tapi akhirnya tidak mengatakan apa-apa, kemudian dia kembali berkata: "Jika, maksudku, jika kamu membutuhkan sesuatu, maka datanglah ke tempat perdana Mentri untuk mencariku. Aku sudah pernah mengatakan kamu boleh memanggilku kak Dexter, panggilan kakak ini tidak akan membuatmu di rugikan."


"Baik." Lexie tidak menolak dengan segan, hanya menjawab sekilas, apakah Lexie benar-benar akan mencari Dexter? Di antara mereka, tidak akan bisa sampai di tahap saling membantu, Lexie tidak percaya cinta pada pandangan pertama, jika dia orang yang tidak mungkin masih bersikeras ingin mendekat, sudah pasti tidak hanya karena tertarik saja.


Tentu saja, Lexie tidak mengesampingkan kondisi khusus di tengahnya, keduanya sudah saling ingin bersama, tapi Lexie tidak.


Terutama di dalam masyarakat dengan konsep hirarki seperti ini, dia yang seorang pelayan yang menghangatkan ranjang, tidak memiliki pemikiran bahwa pria yang melihatnya akan jatuh cinta padanya. Mungkin, tindakan pencegahannya terlalu berat, singkatnya, Lexie tidak bisa mempercayai seseorang dengan mudah.


"Aku sudah meminta orang untuk menyiapkan kereta kuda, ayo pergi, aku akan mengantarkanmu." Dexter dengan sopan memimpin jalan.


Lexie mengangguk dan mengikutinya.


Setelah meminta Dexter mengantarnya ke jalan utama, Lexie turun dari kereta kuda, kemudian setelah berputar-putar beberapa kali di jalan, Lexie batu kembali ke rumahnya.


Ernie dan Lucas menunggu dengan cemas di depan pintu, ketika mereka melihat Lexie pulang, keduanya langsung menghampirinya.


"Bagaimana menang?" Ernie yang paling panik, tidak sabar ingin mengetahui hasilnya.


Lexie tersenyum, "Tentu saja, gelarku sebagai pembuat senjata tidaklah sia-sia."

__ADS_1


Ernie dengan senang memeluk Lexie, "Aku tahu, nona pasti akan menang, hebat, ini sudah akan tahun baru, ini hadiah tahunan yang terbaik!"


Meskipun Lucas senang, tapi dia tidak menunjukkannya secara berlebihan, hanya kedua matanya menatap lekat pada Lexie.


Sedikit canggung Lexie di tatap seperti itu, Lexie mengelus rambut Lucas, "Sudah, untuk apa menatapku seperti itu, kakak tahu, kamu menggumiku, aku tahu, tidak perlu menatap lagi."


Lucas baru mengambil kembali pandangannya.


"Oh iya, dua hari lagi akan tahun baru, kita juga harus pergi membeli beberapa barang untuk tahun baru. Ini adalah pertama kalinya kita bertiga yang tidak memiliki sandaran berkumpul bersama untuk merayakan tahun baru, jadi, kita harus melewati tahun baru ini dengan ramai." Lexie merasa pada saat ini harus membuat suasananya lebih meriah, jadi dia berinisiatif untuk menyambut tahun baru.


Setiap saat ini, Lexie teringat pelayannya sebelumnya, Winny, sejak bertemu dengan pembunuh itu, sudah tidak ada berita tentang Winny, Lexie juga sudah mencari seseorang untuk mencari kabar, tapi tidak ada berita.


Tidak ada berita merupakan berita terbaik, Lexie hanya bisa menggunakan ini untuk menghibur dirinya sendiri, dan lagi sebelum Lexie pergi dia sudah mengingatkan agar Winny melupakan dirinya dan hidup dengan baik, jika di pikir, mungkin sekarang Winny sedang berada di suatu tempat dan hidup dengan tenang.


Karena sudah akan tahun baru, jadi banyak lentera yang tergantung di sepanjang jalan, tentu saja sangat meriah, jadi setiap setelah makan malam, orang-orang akan keluar untuk jalan-jalan, menikmati lentera, sekalian untuk menurunkan makanan.


Setelah makan malam, Ernie menarik Lexie dan Lucas untuk menonton lentera, semua jenis lentera membuat Ernie dan Lucas menatapnya dengan begitu penasaran.


"Wow, lentera di sana jauh lebih merah dan lebih bagus." Mata Ernie menatap dan menunjuk ke arah jalan lain dan berteriak.


Lexie memandang ke arah jari-jarinya, tapi alisnya berkerut tanpa sadar.


"Nona, mari kita pergi untuk melihatnya." Ernie berkata dengan bersemangat.


Lexie meraih lengannya, "Tidak, sudah saatnya pulang." Jalan itu adalah jalan bunga, sudah pasti lenteranya akan lebih terang dari pada yang lain, tapi para wanita yang berdiri di depan pintu sudah menjelaskan tempat apa itu.


Ernie tidak mengerti, tapi dia sangat patuh, segera mengiyakan dan tidak ingin ke sana.

__ADS_1


Ketika ketiganya bersiap untuk pergi ke arah yang berlawanan, langkah mereka masih belum di langkahkan, mereka melihat beberapa kereta keluar dari jalan bunga, sepertinya mereka pergi ketika sudah menikmati kehidupan yang indah di malam hari, kereta kuda itu mengarah ke arah mereka, Lexie sangat familiar terhadap salah satunya, itu adalah milik Victor.


Lexie mengerutkan kening, menarik Lucas dan Ernie ke samping tanpa merubah raut wajahnya, berinisiatif membiarkan jalan, tampaknya tidak ingin menarik perhatian mereka.


Tapi Tuhan sedang bercanda dengannya, ketika kereta kuda melewati mereka tiba-tiba tirai kereta kuda itu terbuka.


Sebuah tangan putih terulur keluar dari jendela, diikuti tawa yang renyah mirip dering lonceng, "Wow, salju turun Yang Mulia."


Salju ...


Lexie terpaku, baru menyadari tidak tahu sejak kapan salju turun dari langit, kepingan salju seperti bintang yang terbang di malam hari.


Ketika tirai terangkat Lexie melihat situasi di dalam kereta kuda itu melalui celah tirai.


Seorang wanita dengan pakaian setengah terbuka sedang bersandar di dada Victor, Victor sepertinya minum cukup banyak alkohol, dia sedang memejamkan matanya, suara renyah wanita itu membuatnya merasa tidak sabar dan hanya menjawab sekilas, tapi wanita itu tampaknya tidak peduli, melihat Victor yang tidur, tangannya yang lembut membentang masuk melewati kerah leher Victor.


Adegan yang sangat menarik.


Tidak tahu mengapa, Lexie merasa sedikit konyol, dan dia tertawa, tapi tawa itu belum sepenuhnya selesai, pria di dalam kuda itu sepertinya merasakan sesuatu, tiba-tiba membuka matanya.


Victor melirik ke luar jendela sekilas, tirai segera di turunkan, Victor sudah menangkap sosok yang sudah dikenalnya itu.


Beberapa gerbong kereta kuda dengan cepat melintas di depan Lexie dan yang lainya, tidak lama sudah menghilang di ujung jalan.


Ernie tidak tahu apa yang di lihat Lexie, dengan rasa ingin tahu bertanya, "Nona, kenapa?"


Lexie kembali tersadar dan berkata: "Tidak ada apa-apa, sudah turun salju, ayo pulang."

__ADS_1


Ernie tidak mengerti, tapi tampaknya merasakan Lexie sedikit tidak bahagia, menggandeng Lucas, dan dengan patuh mengikuti Lexie pulang.


Lexie sudah mengetahuinya sejak awal, dia adalah raja Victor, raja Victor yang di gosipkan merupakan seoang pecinta wanita, wanita di sekitarnya, seharusnya tidak hanya dirinya seorang saja, itu batu masuk akal, pria menggunakan tubuh bagian bawahnya untuk memilih wanita, bukankah itu adalah hal yang normal?


__ADS_2