Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Tugas Baru


__ADS_3

Adeeva membawa barang ya yang tak seberapa pindah ke kantor Ezra. Andai Adeeva punya ilmu sihir macam Harry Potter tak sungkan sihir Ezra balik ke kantor pusat.


Kini Adeeva menyesal menjebak Celine hingga dia jadi korban salah penilaian Ezra. Coba dari awal Adeeva berikan part terakhir pada Celine mungkin sampai sekarang dia aman bersama Desi dan Imron.


Benar kata orang tua. Jangan pupuk niat jahat karena akan berbalik pada diri sendiri. Adeeva telah buktikan nasehat orang tua. Adeeva kena karma dari kenakalan sendiri.


Dengan langkah ogahan Adeeva naik ke lantai paling tinggi. Sepatu Adeeva laksana berton-ton susah diangkat. Jalan satu langkah berhenti beberapa menit. Jika perlu malam tiba di sana.


"Woi...hebat kamu ya! Merayu bos sampai dijadikan Aspri!" ntah dari mana muncul nenek lampir masa kini.


Adeeva menatap sayu pada Celine putus asa. Andai Ezra jatuh cinta pada Celine merupakan kabar gembira. Sayang pesona Celine luntur tak mampu ketuk hati bos utama mereka.


"Bu Ce Li Ne...kenapa sih bos kita tidak pilih ibu jadi Aspri? Bos kita itu katarak pilih aku!" kata Adeeva lemas hilang gairah hidup.


"Selin...Selin...bukan ce li ne!"


"Iya Bu...ibu saja jadi Aspri! Aku bodoh tak bisa berbuat apa-apa! Ayo ibu ke tempat pak Ezra! Bilangin Adeeva itu tak pantas jadi Aspri. Orang jorok, bau dan pemalas. Mandi sebulan sekali."


Celine tertawa senang Adeeva menolak jadi asisten Ezra. Artinya kesempatan baginya telah terbuka.


"Kau tak mau jadi Aspri?"


"Bu Ce Li Ne..aku tak punya modal jadi Aspri. Ibu saja...ayok sono! Pak Ezra pasti senang dapat Aspri kompeten. Aku balik ke divisi aku ya!" Adeeva hendak putar badan balik ke divisinya di lantai enam. Adeeva kelihatannya berjodoh dengan angka enam. Bini ke enam kerja juga di lantai enam.


Celine tersenyum licik memikirkan sesuatu untuk permalukan Adeeva di depan Ezra. Membiarkan Adeeva lolos begitu saja akan merusak hari baik Celine. Adeeva telah bersalah membuatnya hilang muka maka harus dapat balasan setimpal.


"Sini kau...ikut ke ruang pak Ezra! Nanti pak Ezra pikir aku tekan kamu lagi. Akui kau bodoh." ujar Celine angkuh merasa telah dapat angin jatuhkan Adeeva.


"Terserah ibu mau bilang apa. Yang penting ibu yang cantik harus jadi Aspri bos kita. Ibu lebih pantas berdiri di samping bos. Katanya Aspri harus dua puluh empat jam berada di samping bos. Itu cocok buat ibu. Aku tunggu di sini saja!" Adeeva pilih bersandar pada tembok tak jauh dari ruang bos utama mereka. Langkah Adeeva terasa berat maju ke depan jadi budak bos dalam arti luas.


"Aku tak mau disalahkan kau tak mau jadi Aspri. Aku mau kau akui kelebihan aku di hadapan bos kita."


Kalau bukan ingin manfaatkan Celine terbebas dari pekerjaan berbahaya ini. Maulah rasanya Adeeva beri high five di pipi penuh bedak itu. Jika perlu beri tendangan maut di jidat biar ada stempel wanita ini gila. Gila nama.


"Ya sudah...ayo maju!" Adeeva menyeret Celine tak peduli wanita itu pakai sepatu high heels yang halangi dia bergerak cepat. Adeeva anggap seret karung beras. Wanita selemah Celine mana sanggup lawan gadis bertenaga kuda model Adeeva. Laki saja belum tentu mampu lawan Adeeva apalagi Celine yang mengandalkan mulut dan sekotak alat make up.


"Eva... stop...kau mau aku mati ya!" seru Celine terengah-engah diseret Adeeva tanpa belas kasihan.


"Jangan mati dong Bu! Siapa gantiin aku jadi Aspri pak bos? Di kantor ini tak ada calon lebih kompeten kayak ibu. Cantik, pintar dan mirip kol Buntet."


"Sialan lhu! Kau umpat aku buntet ya?" bentak Celine berkacak pinggang. Adeeva tersenyum mengelus bahu Celine sambil hadiahkan tepukan halus.


"Ibu tahu kol Buntet? Itu salah satu mustika orang pintar. Orang yang mempunyai kol Buntet akan bersinar. Maka itu aku anggap ibu kol Buntet. Bersinar silaukan mata." ujar Adeeva serius. Celine mangut bangga disamakan dengan pusaka langka.


Dalam hati Adeeva mau muntah lihat kepedean Celine. Adeeva tak punya pilihan selain pura-pura jinak pada manager yang kena amarah Ezra. Adeeva harus halalkan segala cara hindari jadi Aspri Ezra.

__ADS_1


Gini-gini Adeeva masih punya moral untuk tidak khianati suami jomponya. Bukan merasa bersalah pada suami tapi takut akan dosa.


"Ok...aku maafkan kamu! Ayok kita masuk! Jangan pecicilan ya!" Celine ingatkan Adeeva supaya tidak menarik perhatian Ezra.


Adeeva mengangguk. Dalam batin Adeeva merutuk. Siapa yang pecicilan? Bukankah yang omong itu yang kelewatan pecicilan?


Celine perbaiki penampilan sebelum ketok pintu ruang Ezra. Celine dehem dua kali untuk cek sound suara apa sudah bisa bersuara merdu. Adeeva letakkan kantong kresek di pinggir pintu ruang Ezra. Adeeva yakin Celine pasti berhasil bujuk Ezra.


"Masuk!" ketokan Celine dapat respon dari dalam.


Celine duluan masuk diikuti Adeeva dari belakang. Tubuh Celine yang pendek tidak dapat menutupi tubuh jangkung Adeeva. Adeeva tetap jadi pusat perhatian Ezra.


"Selamat sore pak!" sapa Celine semanis madu. Ntah madu asli atau madu campur air tebu. Ezra pasti diabetes kena senyuman maut Celine.


"Ada apa?" tanya Ezra meletakkan pulpen di meja mengarahkan mata kepada kedua wanita itu.


"Gini lho pak! Eva merasa tidak mampu menjawab tantangan jadi Aspri bapak maka biarlah kuambil alih tanggung jawab berat ini!" Celine maniskan suara agar Ezra kesengsem padanya.


Ezra menyipitkan mata tahu ini akalan Adeeva hindari dirinya. Dari awal gadis ini sudah menolak menyodorkan dakocan kantor jadi pendampingnya selama bertugas di kantor ini. Ezra bukan orang bodoh tak tahu trik Adeeva jadikan Celine kambing hitam. Celine yang bodoh masuk perangkap Adeeva.


"Baik..pertama di rumah aku tak boleh ada bau parfum, kedua harus pandai masak, ketiga harus bersihkan rumah karena aku tak suka pakai pembantu. Dan terpenting harus bisa bantu aku dalam pekerjaan kantor. Bukan plagiat. Kau bisa? Kalau kau bisa silahkan!" kata Ezra tegas tanpa basa-basi.


Mental Celine kontan menyusut tinggal secuil. Semua syarat Ezra tidak satupun lolos. Dia takkan bisa hidup tanpa alat make up dan parfum. Masak sudah jelas tak bisa apalagi cuci pakaian. Itu pekerjaan Art bukan Aspri.


"Tapi pak...kita bisa pekerjakan Art. Aku akan kontrol langsung. Soal parfum mungkin aku bisa perkecil volume pemakaian."


"Pak...Adeeva bukan tak mau tapi tak sanggup. Dia itu orangnya jorok dan pemalas. Mandi saja seminggu sekali, bapak boleh dekati dia. Bau prengus kambing."


Kalau hari biasa Celine omong gitu, Adeeva tak segan hadiahkan jeweran di kuping Celine. Masa dia di samakan kambing. Yang manis dikit kenapa. Kelinci kek, kucing imut kek. Berhubung Adeeva sedang susun rencana kabur dari posisi Aspri maka lapangkan dada masuk keluarga kambing.


"Sini kamu!" Ezra melambai ke arah Adeeva untuk buktikan kata-kata Celine. Seingat dia bau Adeeva seperti bau bayinya di masa lalu. Bayi yang jadi calon isterinya.


"Pak...aku sudah seminggu belum kena sentuh air! Aliran air di rumahku putus gara tak sanggup bayar rekening air." Adeeva beri alasan ala kadar biar sukses kabur.


"Sini kau...aku mau tahu seberapa bau karyawan termalas di kantor ini." Ezra bentak hilang kesabaran pada kenakalan Adeeva. Mimpi apa Ezra dapat isteri gila model gini. Sudah konyol songong lagi.


"Iya pak!" Adeeva menggeserkan kaki dengan pelan seakan takut menginjak ubin. Ubinnya bakal kesakitan kena gesekan sepatu Adeeva yang sudah berumur lanjut.


Ezra menjadi tak sabaran menarik Adeeva lebih mendekat. Bau cologne bayi yang segar mencolek hidung Ezra. Bau yang sama, bau yang mengantar Ezra pada kenangan masa kecil.


Bukan bau prengus kambing di hidung mancung Ezra melainkan bau yang tak pernah terhapus dari ingatan. Ezra makin tak rela bebaskan Adeeva dari pernikahan ini. Adeeva harus bertahan di sisinya sampai semua terbongkar secara alami.


"Baiklah! Aku terima bau prengus kambing pemalas ini! Mulai hari ini kau kerja di ruang ini. Sore ikut aku pulang. Gitu saja!" Ezra menutup lowongan Aspri dari Celine.


Adeeva kaget mundur mencubit pantat Celine agar berjuang. Masa segitu sudah kalah oleh bos besar mereka. Celine tak bisa bergenit ria di depan bos bila Adeeva menjabat Aspri.

__ADS_1


"Eh..copot! Sakit tau.." bisik Celine gemas pada kesadisan Adeeva. Pantat bahenol jadi korban pelecehan Adeeva.


"Ayo omong lagi! Apa aja deh!" bisik Adeeva pelan di kuping Celine.


"Omong apa lagi? Tuh mata jengkol bos bisa telan kita!" balas Celine lirik Ezra yang tak terima penolakan Adeeva.


"Jengkol ditakuti! Cuma bau doang! Tidak berbahaya. Apa ibu tak mau duduk bermesraan dengan bos nonton film horor? Kalau takut ada lengan bos jadi penawar rasa takut." Adeeva provokasi Celine agar semangat berjuang jadi Aspri.


"Ok..kamu juga ikut omong!"


"Hei kalian berdua ngapain di situ? Mau makan gaji buta?" bentak Ezra kepada dua gadis yang masih kasak kusuk cari jalan keluar masuk dari hidup Ezra. Satu ingin masuk dan satunya ingin keluar.


"Bukan pak...eh bukan...!" Celine kaget kena damprat Ezra. Latahnya muncul tidak terkontrol. Adeeva tertawa geli tak sangka wanita elite macam Celine ternyata latah. Ada bahan baru kerjain Celine kalau masih berulah.


"Lalu apa? Tidak usah bernyanyi di sini lagi! Keputusanku bulat Adeeva jadi Aspri. Menolak artinya minta pindah tugas ataupun resign."


Adeeva dan Celine melongo. Dari tadi mereka berkata minta Adeeva tak usah jadi Aspri Ezra. Kapan mereka bernyanyi? Apa kuping Ezra dipenuhi kotoran tak jelas dengar suara mereka.


"Pak...mohon pertimbangkan ajak Adeeva jadi Aspri! Dia tidak pantas. Kerja juga belum setahun. Bapak juga belum mengenal pribadi dia! Kali aja tangannya panjang suka comot sana sini!" Celine mulai keluarkan kalimat sadis jelekkan Adeeva ke bagian paling rawan. Adeeva ingin tendang bokong Celine cap dia maling.


"Paling kupotong tangannya! Sudah... jangan bercanda sewaktu tugas! Mana barangmu kuda poni?" tegur Ezra tak melihat barang Adeeva.


"Kok kuda poni pak? Kuda Australia kek! Ada wibawa dikit!" protes Adeeva tak suka disamakan kuda mungil. Apa badannya tak cukup beri image wanita gagah perkasa.


"Belum waktunya tumbuh jadi kuda tulen. Jangan cerewet! Tugasmu masih banyak! Kerja tadi saja belum kelar. Ayok lanjut!"


Adeeva menarik nafas sedih. Andai Celine itu bukan musuh dalam selimut Adeeva ingin nangis di pundak Celine. Meratapi harinya yang bakal kelabu tinggal serumah dengan bos. Nama baiknya tercoreng. Gimana kalau terdengar Abah dan Umi? Kepala pasti akan sukses pindah ke gapura jadi pajangan.


Celine tak dapat berbuat banyak karena bos besar sudah turunkan titah yang harus dipatuhi. Adeeva betul-betul hidup di jaman kerajaan. Jadi selir keenam lalu bekerja pada maha raja bos besar. Segala titah bos adalah sabda harus dipatuhi.


"Pak...aku punya usul bagus!" seru Adeeva tak habis akal.


"Katakan! Awas kalau usul gila!"


"Gimana kalau Bu Celine ikut jadi Aspri. Bukankah pekerjaan jadi ringan kalau dikerjakan berdua?"


"Boleh..aku cuma gaji satu Aspri. Jadi gajinya dibagi dua. Kalau setuju silahkan!" Ezra sengaja beri syarat demikian karena tahu Adeeva itu gila uang.


"Mana boleh gitu pak? Habis bulan habis gaji dong! Pengeluaran aku besar. Bayar listrik, bayar air, bayar kontrakan, makan dan keperluan lain. Habis deh gaji! Kapan nabungnya?"


"Itu urusanmu! Bukankah itu usul kamu! Terserah kalian."


Adeeva menggaruk kepalanya yang belum tentu ada kutunya tapi kok terasa gatal. Celine mencibir merasa usul Adeeva takkan gol. Celine juga tak rela gajinya ditebas setengah. Biaya hidup Celine lebih tinggi lagi. Semua pakaian dan pernak pernik hiasan di tubuh produk kelas atas.


"Aku permisi pak! Kalau ada perlu silahkan panggil aku! Siap dua puluh empat jam." Celine pilih undur diri dengar keuangan bakal dipangkas. Celine belum siap hidup ala gembel macam Adeeva.

__ADS_1


Adeeva ikut keluar ambil barangnya yang masih tergeletak di luar kantor Ezra. Kalau orang nasibnya lagi apes semua kacau. Masa nyaman Adeeva telah berakhir. Bekerja di tempat mengerikan beri efek jera pada Adeeva.


Adeeva takkan kerjain orang lagi di kemudian hari. Imbasnya pada diri sendiri. Coba kalau dia tidak tampil di depan bos maka dia masih adem ayem di belakang layar. Tiap bulan ambil gaji menabung kuliah S3.


__ADS_2