Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Rahasia Adeeva


__ADS_3

Akhirnya Adeeva dan Supit tiba di ruang rapat dipenuhi para pejabat teras perusahaan. Supit memberi kode pada Adeeva untuk masuk ke dalam ruang berlapis kaca tebal. Adeeva belum pernah sekalipun diajak rapat di ruang ini. Jangan rapat, diskusi saja tak pernah diajak. Itulah hebatnya permainan petinggi kantor. Yang mau putus nafas orang lain sedang yang dipuji para petinggi sok pintar.


"Maaf pak! Inilah perancang asli sistim baru kita!" Supit memperkenalkan Adeeva pada petinggi perusahaan. Mata Adeeva yang indah berputar-putar cari siapa bos pusat mereka. Pandangan Adeeva jatuh pada satu sosok duduk si kursi utama.


Gayanya cool dengan wajah mirip aktor kesayangan Adeeva Christ Hemsworth pemeran Thor dalam film fantasi The Avengers. Cuma matanya hitam tidak mirip mata orang bule. Tatapan laki itu tajam menusuk dari depan tembus ke punggung orang. Adeeva beri nilai sembilan pada bosnya itu.


"Kau yang rangkai sistim baru kita?" tanya laki berkharisma itu dengan suara sexy bikin jantung Adeeva hampir terbanting ke tanah.


"Betul pak!" sahut Adeeva pede sambil melirik Celine yang baru kena kutu busuk. Wajah Celine seram hendak terkam Adeeva pakai ujung mata telah dipasang belati tajam.


"Bukan gitu pak! Aku yang rancang. Anak ini hanya meneruskan rancangan aku!" Celine berdiri sebelum Adeeva dapat pujian di depan bos besar yang gantengnya bikin para cewek kena hipnotis.


"Kalau kau yang rancang mengapa tak paham cara kerja turunan sistim. Yang kau bahas tadi hanya kulit. Di mana keamanan berganda yang kau maksud?" Bos pusat bertanya sambil memainkan pulpen di tangan.


Adeeva ingin tertawa ngakak lihat wajah Celine berubah pucat. Adeeva memang sengaja jebak Celine kali ini. Rangkaian rancangannya tidak keseluruhan dia tuangkan dalam dokumen. Ada beberapa part Adeeva sembunyikan untuk menjaga orang masuk sistim inti.


"Ini pak...Aku hanya ngasih saran pada anak buah untuk teruskan rancanganmu! Mungkin kelak aku akan perbaiki kesalahan sistim baru kita." kata Celine terbata-bata takut ketahuan dia hanya plagiat karya orang.


"Terlambat...ayok coba kau terangkan bagian selanjutnya sampai ke inti!" Bos mereka menunjuk Adeeva yang masih dilanda badai bahagia. Pembalasan si Adeeva telah datang.


"Siap pak! Aku boleh duduk untuk menerangkan biar tidak tegang. Kami ini tak pernah disuruh tampil walau rancangan dari divisi kami." Adeeva sengaja berkata demikian untuk bongkar borok para pejabat teras yang gunakan hasil karya orang lain cari nama.


Direktur kantor dan Celine makin pucat dengar Adeeva berkata tanpa peduli bagaimana Celine harus tampilkan wajah di kantor. Adeeva sudah bertekad bongkar kebusukan Celine yang dipuja kepintarannya selalu hasilkan karya spektakuler. Padahal itu bukan karyanya.


"Silahkan!" CEO kantor pusat beri Adeeva ruang untuk jelaskan semua cara kerja sistim dengan lugas. Adeeva yang punya rancangan tentu dapat terangkan sampai sedetailnya. Semua yang ikut rapat terkesima tak menyangka selama ini Celine yang dianggap anak emas hanya tukang tipu. Ambil karya orang untuk jadikan mahkota di kepala agar jadi ratu.


Pada part terakhir Adeeva berhenti karena merasa ada yang harus disembunyikan lagi. Ini bagian khusus bagi pemilik ataupun petinggi yang memiliki wewenang buat keputusan terhadap perusahaan.


CEO berkharisma itu dibuat kagum oleh rancangan Adeeva. Sedikitpun dia tak sangka di salah satu cabang perusahaan tersimpan karyawan berpotensi.


"Mengapa anda berhenti nona?" tanya CEO itu melihat rancangan Adeeva tidak diteruskan. Jangan-jangan ada orang lain lagi pemilik rancangan. Yang hadir hanyalah perancang imitasi alias palsu.


"Bukan gitu pak! Yang part terakhir ini khusus pemilik perusahaan. Hanya orang inti boleh tahu cara kerja part terakhir. Yang terakhir kubuat pertahanan berlapis agar tidak diserang hacker." sahut Adeeva mengerjap matanya yang bak bintang kejora.


"Oh gitu...baiklah! Kalau gitu kau terangkan secara pribadi di ruang aku! Kutunggu kau sepuluh menit lagi di ruang kerjaku!"


"Siap pak bos!" Adeeva makin mendapat angin untuk jadi perancang diandalkan. Adeeva bosan jadi tikus di belakang gudang. Selalu tersisih.


CEO itu meninggalkan ruang rapat di dampingi asisten berkacamata lumayan ganteng. Walau tidak seganteng bosnya. Lumayanlah buat cuci mata kalau mata lagi gersang.


Adeeva ikut meninggalkan ruang rapat sambil tenteng laptop kesayangan yang dibeli dari hasil keringat sendiri. Adeeva butuh barang canggih itu untuk memudahkan kerja. Laptop dari kantor model jadul tak bisa menjawab tantangan teknologi kekinian.


Adeeva ke toilet untuk bersihkan wajah sebelum masuk ke ruang kerja bos. Sebenarnya Adeeva grogi minta ampun harus presentasi di depan orang ramai. Tidak main-main di depan para manager dan bos-bos besar. Tapi demi bela divisinya Adeeva hilangkan rasa malu.


Di luar toilet sudah ada Celine menghadang Adeeva dengan wajah angkuh. Kalau bukan ingat dia masih butuh duit kejar cita-cita ingin rasanya Adeeva smackdown wanita ini. Biar tahu bagaimana rasanya dijatuhkan.


"Apa maksudmu jatuhkan aku?" Celine menghadang Adeeva yang jauh lebih tinggi.


"Aduh Bu Ce Li Ne! Kapan aku jatuhkan ibu? Aku toh sudah ikuti perintah serahkan berkas pada ibu! Lha aku dipanggil ya harus datang! Aku belum mau dipecat!" sahut Adeeva santai.


"Dengar ya bocah tengil! Namaku Celine panggil Selin bukan ce li ne. Apa kau tak ngerti bahasa Inggris?"


Adeeva sengaja mengeja nama Celine dengan awal huruf C biar terdengar aneh. Adeeva bukan tak tahu Celine biasanya dipanggil Selin biar terdengar keren.

__ADS_1


"Aku tak ngerti...aku ini pencinta bahasa Indonesia yang baik!"


"Awas kau bocah tengik! Kau bisa kupecat..."


"Pecat saja! Kan dapat pesangon tiga bulan. Aku bisa bertahan setahun dengan uang itu." Adeeva tidak mau kalah gertak padahal dalam hati kebat-kebit takut kena PHK. Adeeva yakin Celine tak berani pecat dia karena telah dapat dukungan bos utama.


"Kau memang kurang ajar! Berani sama senior...nanti kamu ngaku kalau rancangan ini hanya salah paham. Awas kalau kau jatuhkan aku!" ancam Celine menantang Adeeva. Dari segi fisik Celine bukan lawan Adeeva. Sekali Adeeva dorong wanita ini bisa terpental lima meter. Kuat dikit lagi terpental ke planet mars.


"Macam aja ibu ini! Memangnya gue ini pegulat? Main jatuhkan lawan!"


Keduanya tidak sadar ada sepasang mata melihat perdebatan ini. Cowok keren itu bersembunyi di balik tembok dekat lift untuk saksikan Celine ancam anak bawang kantor. Dari posisi Celine menang tapi dari segi postur tubuh Celine terpental jauh.


"Adeeva sinting....awas kau!"


Orang itu tertegun dengar nama yang sangat familiar baginya. Satu nama yang nyaris hilang dari ingatan. Nama sama apa orangnya sama? Dari segi penampilan bak langit dan bumi. Satu alim tutup aurat, satu ini tak ubah remaja masa kini sedikit urakan. Cowok itu belum yakin orangnya sama.


Adeeva tersenyum tidak takut diteriakin manager beda divisi. Celine sudah lama hidup nyaman atas jasa orang lain. Sudah waktunya kesandung batu kerikil.


"Aduh Bu! Aku tak tahan lagi ingin buang air kencing. Ibu mau tanggung jawab kalau aku buang air di celana?" Adeeva mulai bosan debat kusir dengan Celine. Waktu sepuluh menit akan segera berlalu. Ini akan memberi kesan buruk pada bos besarnya.


"Kencing saja! Aku mau kamu kena hukuman terlambat jumpa bos. Kasihkan data terakhir biar aku jumpa bos."


"Ok...tapi aku mau kencing dulu!" Adeeva berakting tak tahan kencing agar cepat bebas dari Celine tukang tipu.


"Good...kutunggu kau di depan kantor bos!" Celine tersenyum puas telah jinakkan kuda liar yang barusan mendepaknya kuat.


"Siippp.." Adeeva asal menyahut ngacir ke toilet untuk buang hajat kecil.


Ezra Hakim Dilangit CEO keren yang dianggap Adeeva mirip bintang pujaannya duduk di kursi CEO pusat menanti kiriman data Adeeva. Ezra penasaran dengan gadis muda yang baru presentasi. Namanya persis nama isterinya yang keenam. Apa mungkin orangnya sama? Kalau sama mengapa tidak mengenal Ezra. Mereka pernah bertemu waktu ijab kabul.


"Pak...ini CV nona kecil tadi!" Ruben meletakkan map berisi data keseluruhan tentang Adeeva.


Ezra membuka data Adeeva seraya tersenyum misterius. Di situ tertera jelas nama Adeeva Larasati. Semua data cocok dengan data Adeeva isterinya yang hilang selama dua bulan. Tidak pernah pulang. Batang hidung juga tak pernah tampak. Ternyata sembunyi di sini.


"Bapak kenal anak ini?"


"Apa kau lupa aku pernah ijab kabul dengan seorang wanita bercadar? Adeeva Larasati binti Usman."


Ruben mengingat orang yang dimaksud bosnya. Kayaknya beda orang. Satu alim dan yang ini mirip petinju wanita.


"Kalau dia nona keenam mengapa tidak kenal bapak. Atau dia sedang sandiwara lagi."


"Kau punya nomor kontak Adeeva istriku?"


"Punya...coba bapak lihat apa kontaknya sama nggak?"


"Kau bodoh atau tolol? Gadis sejuta akal macam dia mana mungkin kasih kontak sama pada kita. Nanti kau hubung kontak Adeeva istriku setelah Adeeva ini berada di dalam ruangan. Katakan suaminya ingin jumpa satu jam lagi di cafe seberang jalan. Kita lihat orangnya sama atau tidak!"


"Ok bos..kalau betul dia sungguh hebat dia bisa permainkan bos!" Ruben acung jempol puji Adeeva.


"Kau bosan jadi asistenku?"


"Sori bos...Adeeva Ini cantiknya selangit! Sayang dilewatkan!"

__ADS_1


"Gimana pemakaian kartu kreditnya? Apa dia juga salah satu tikus pengerat harta?"


"Tunggu cek dulu!" Ruben buka aplikasi berisi keterangan bank masing-masing isteri Ezra. Tak ada pengeluaran sepeserpun dari kartu yang diberi kepada Adeeva. "Nihil bos!"


Kening Ezra berlipat-lipat tak percaya ada salah satu isterinya tidak gunakan dana yang dia berikan. Lalu apa tujuan Adeeva bersedia jadi isterinya berada di urutan enam. Apa lagi kalau bukan materi. Mana ada gadis muda mau menikah dengan lelaki punya lima isteri kalau bukan ingin hidup mewah.


Pintu ruang Ezra di ketok. Dari dalam Ezra melihat sosok Adeeva berdiri di luar menanti ijin masuk Ezra.


Ezra beri kode pada Ruben ijinkan gadis itu masuk. Ruben angguk paham isyarat bosnya. Ruben buka pintu beri jalan pada Adeeva untuk pindahkan langkah ke dalam.


Begitu Adeeva masuk Ruben keluar untuk laksanakan perintah bosnya cari tahu apa Adeeva ini sama dengan Adeeva bini keenam bosnya.


Kalau benar Adeeva ini dan Adeeva milik bos sungguh disayangkan gadis secantik ini jadi selir keenam. Masa depan Adeeva cerah dengan bakat dan kepintaran cukup lumayan.


"Kau sudah datang! Silahkan mulai jelaskan secara singkat!" Ezra kembali pasang gaya bossy biar disegani anak buah.


"Iya pak! Sebenarnya sistem nya hampir sama tapi kita bikin pengamanan berlapis agar tak gampang diretas." Adeeva membuka laptopnya lalu letakkan persis di depan Ezra.


Kini Ezra langsung berhadapan dengan laptop Adeeva sementara Adeeva berdiri di samping Ezra beri penerangan secara detail. Ezra bukan orang bodoh tak paham kemajuan teknologi. Cuma pemahaman Adeeva lebih luas karena dia memang produk jaman now. Masa Ezra sudah ketinggalan jaman.


Ezra suka cium bau harum tubuh Adeeva seperti bau bayi. Bukan dari minyak wangi tapi dari bau cologne bayi yang segar. Ezra teringat bau bayi yang pernah dia cium puluhan tahun lalu. Baunya hampir sama persis cuma ini lebih fresh. Bau kemajuan jaman.


Di tengah Adeeva menerangkan rancangannya tiba-tiba ponsel Adeeva berbunyi. Gadis ini mengeluarkan ponsel melihat layar dengan gelisah. Raut wajahnya berubah warna. Dari optimis tiba-tiba kisut.


Adeeva memilih tidak angkat agar tidak ganggu kinerja kerjanya. Dia sedang giatnya cari sela naikkan derajat divisinya muncul pula tukang kacau. Ponsel bisa menunggu tapi tugas tak bisa ditunda.


"Kenapa tidak angkat? Siapa tahu telepon penting?" tegur Ezra melihat Adeeva menyimpan ponselnya.


"Tidak penting pak! Telepon nyasar kali!"


"Oh.. sudahlah! Ayok lanjutkan!" Ezra sok bijak ajak Adeeva kembali fokus pada tugas.


Belum Adeeva mulai ponselnya kembali berbunyi. Kalau tidak ingat susah cari uang ingin rasanya banting ponselnya agar anteng. Bunyi tidak tepat waktu.


"Angkat dulu ponselnya! Berisik!" kata Ezra terganggu oleh deringan ponsel Adeeva.


Adeeva mengutuk dalam hati. Tukang telepon tak tahu diri. Mengapa telepon orang di saat tidak tepat. Orang sedang coba naik pangkat malah diusik terusan.


"Iya pak!" Adeeva membawa ponselnya jauhi Ezra agar tidak numpang dengar pembicaraannya. Ini nomor tak pernah dia gunakan selain untuk terima telepon dari Tuti dan Kiano. Siapa pula iseng gangguin dia.


"Halo assalamualaikum.." kata Adeeva lebih mirip berbisik.


"Waalaikumsalam...nona Adeeva?"


"Benar ..siapa nih?"


"Aku ini asisten suami nona! Beliau ingin ketemu di cafe dekat jalan R."


"What? Pak Hakim mau ketemu? Aku sedang kerja. Bilangin besok...bukan...sore selepas kantoran."


"Ngak bisa nona! Bos kami akan segera balik ke kota dua jam lagi. Mau jumpa satu jam ke depan. Bisa?"


"Ya ampun pak! Aku ini hanya pegawai rendahan. Mana bisa keluar kantor seenak dengkul. Bilang sama pak Hakim. Sudah tua tak usah cari penyakit! Ntar kumat rematik dan encoknya. Lebih cepat innalilahi!" suara Adeeva meninggi memancing lirikan Ezra.

__ADS_1


__ADS_2