
Adeeva dan Ezra naik ke lantai atas tempat Ezra bertugas. Ruben tetap kawal dari belakang berjaga dari segala kemungkinan. Ruben takut ada konspirasi menjatuhkan Ezra yang sedang tertimpa musibah. Kini Ezra hanya bisa andalkan Adeeva yang seratus persen tak suka pada Ezra. Kalaupun dia setia karena tanggung jawab tugas.
Adeeva antar Ezra sampai duduk di meja kerja laki ini. Laki ini juga hanya bisa duduk menanti kelanjutan dari tindakan pak Jul yang katanya telah urus beberapa dokumen penting untuk ditanda tangani oleh Ezra.
Adeeva kembali ke mejanya tak jauh dari meja Ezra. Adeeva wajib lindungi bosnya dari kerugian lebih besar. Bukan sembarangan teken karena ini akan bahayakan perusahaan. Adeeva punya akal sehat tak jerumuskan Ezra.
Ruben tak beranjak dari ruang kerja Ezra mau lihat siapa akan cari kesempatan curangi Ezra. Ruben juga tak sepenuhnya percaya pada Adeeva. Gadis ini lugu tapi otaknya tajam seperti mata pisau silet.
Keheningan warnai seluruh ruang kerja Ezra. Mereka hanya bisa menunggu kiprah om Jul yang berjanji akan mengurus semua sistim baru.
Adeeva tak percaya ada orang bisa retas sistemnya. Kalaupun ada orang itu pasti seperguruan dengannya.
"Ben...sudah kau sediakan mobil untuk Poni?" Ezra memecahkan keheningan.
"Sudah...mobil bertubuh besar cocok untuk Poni!" gurau Ruben dibalas delikan mata Adeeva.
"Jangan bercanda! Ini mobil untuk antar jemput aku! Keamanan harus terjamin!"
"Iya cek up di bengkel. Sudah siap dibawa jalan. Poni ada permintaan?"
"Pak Bendi yang tidak terhormat! Kota begitu macet ngasih mobil bertubuh subur. Apa tidak menambah kemacetan? Maunya ngasih motor saja! Lebih gampang dibawa ke mana saja!" usul Adeeva bikin Ezra muntah darah. Seorang CEO disuruh naik motor sebagai sarana transportasi. Harga Ezra kontan terbanting berkeping-keping. Hancur total.
"Lebih kamu diam saja Poni! Lakukan saja tugasmu! Ingat sebentar lagi kita akan pergi ke villa."
"Judes amat! Lagi datang bulan ya pak!"
Ruben tertawa cekikan Adeeva usilin Ezra. Sejak kapan cowok datang bulan. Hanya otak Adeeva berpikir ke situ bikin otak Ezra panas. Pasangan aneh ini memang ditakdirkan jadi musuh. Bilang suami isteri tapi saling menjatuhkan. Ruben jadikan kedua orang ini sebagai penghibur di kala otak mumet.
"Kamu datang bulan nggak? Jangan-jangan sedang hamil anak aku!" balas Ezra ramaikan suasana yang barusan sepi.
Adeeva tersenyum tak open ocehan Ezra. Dia sudah datang bulan jadi tak takut hamil anak ikan paus. Sudah fix dia dan Ezra tak ada tinggalkan warisan anak bila berpisah kelak.
"Aku tiap hari datang bulan. Bulan ini datang bulan Oktober. Bulan depan November dan seterusnya." jawab Adeeva memaksa Ruben tutup mulut menahan tawa. Ezra pasti tersinggung bila dia ngakak besar suara. Laki ini mood sedang buruk, diejek terus makin menambah suasana seram.
"Dasar anak edan!" rutuk Ezra kalah lawan mulut dengan Adeeva yang rasa miring.
Pintu diketuk dari luar seperti ada orang ingin jumpa Ezra. Yang pasti bukan jumpa Adeeva. Di sini Adeeva belum ada kawan selain Ruben dan Ezra.
Di kota B Adeeva lebih banyak teman dan musuh. Teman baik Desi dan Imron juga atasannya yang selalu jadi korban keisengan Adeeva. Musuh paling memikat hati nona Celine yang sok cantik.
"Masuk!" kata Ezra bawa suasana ke kutub Utara. Dingin membeku.
Seorang gadis muda masuk dengan gaya elite seorang sekretaris kalangan atas. Bau parfumnya sanggup matikan puluhan ekor nyamuk terbangan. Adeeva kontan menggosok hidung tak tahan bau menyengat mirip minyak wangi terbuat dari kencing kuda.
Gadis itu melirik Adeeva sekilas tahu Adeeva sedang ejek dia. Dasar Adeeva songong. Mana dia open tatapan mata tak bersahabat. Adeeva anggap ini Celine jilid dua. Sudah ada penghibur hati di kala galau. Ini lebih enak dimakan atau Celine.
"Pak Ezra...ini ada dokumen harus diteken!" gadis berkata dengan suara lembut mendesah.
__ADS_1
Gadis itu meletakkan dokumen persis di depan Ezra. Tubuh gadis itu lengket dengan Ezra membuka lembaran dokumen untuk diteken. Dengan gerakan gemulai gadis itu memberi pulpen pada Ezra untuk segera teken.
Ruben bergerak mengambil dokumen itu sebelum diteken Ezra. Ruben harus tahu dokumen apa begitu urgen harus ditandatangani Ezra. Bahkan mereka tak diijinkan lihat isi kertas penuh huruf dan angka.
Gadis bertahan tak berikan dokumen pada Ruben.
"Pak Ruben ini amanah pak Jul harus segera diteken bos."
Adeeva tinggalkan kursi merebut dokumen dari tangan wanita itu dengan kasar. Adeeva tak percaya tak ada kecurangan bila memaksa Ezra teken tanpa disortir oleh asisten Ezra yakni Ruben. Apa yang disembunyikan sekretaris pak Jul ini.
"Kau...ini bukan tugasmu! Kau ini orang baru belum tahu cara kerja kantor ini! Aku ini orang kepercayaan pak Jul!"
"Baik nona pak Jul...aku ini memang orang baru saking baru masih ada segel plastik! Dengar ya nona sekretaris yang termanis...Aku ini saudara dari nenek moyang pak Ezra. Jadi termasuk kerabat dekat. Berhubung mata pak Ezra sedang korsleting maka aku ini pengganti matanya. Kalau mau suruh pak Ezra teken harus lalui aku! Gimana kalau kau suruh pak Ezra teken surat nikah? Nah Pak Ezra tambah lagi satu bini. Bini yang nyembul dari bumi. Untuk sementara dokumen ini aku pelajari dan akan kuantar dengan kedua tangan dibantu kaki ke tempatmu. Ok nona pak Jul?" celoteh Adeeva panjang lebar bikin pusing gadis itu.
Gadis itu mundur jauhi Ezra kena skak mental Adeeva. Gadis ini heran dari mana muncul gadis muda gaya kanibal tak takut pada Ruben dan Ezra.
Ezra juga diam saja biarkan Adeeva urus wanita itu. Gadis itu bertanya dalam hati siapa sesungguhnya Adeeva yang rada brutal.
"Ini dokumen penting! Harus segera diteken agar kontrak dengan orang Jepang terlaksana."
Adeeva membuka map berisi banyak huruf dan angka memang berisi perjanjian kontrak kerja. Cuma Adeeva belum dalami isi kontrak menguntungkan bosnya atau merugikan.
Mata Adeeva menangkap satu lembaran kosong berisi materai tanpa adanya huruf dan angka. Lembaran mencurigakan. Meneken kertas kosong dengan materai merupakan perbuatan konyol menjebak orang masuk jurang.
"Nona...printer kalian rusak ya? Ini ada satu lembaran kosong tapi ada materai harus diteken pak Ezra. Kau mau manipulasi tekenan pak Ezra?" Adeeva menarik lembaran itu lalu layangkan di depan mata gadis itu.
"Itu...itu..mungkin aku salah ambil dokumen! Maaf aku balik ambil yang aslinya! Permisi." gadis itu berniat pergi meloloskan diri dari kekejaman Adeeva.
Adeeva tidak mudah lepaskan orang yang berniat curang. Baru hari pertama masuk kerja sudah ada yang dorong Ezra ke pinggir jurang. Maunya masuk jurang sekalian.
"Tunggu...cuma segini penjelasan kamu? Dari tadi aku sudah curiga kau mau main petak umpet. Mau gunakan kesempatan pak Ezra buta paksa beliau teken dokumen kosong? Mau kau isi apa? Ambil alih perusahaan atau mau jadi ratu bos?" Adeeva tak biarkan gadis itu pergi. Tubuh Adeeva jauh lebih tinggi dari si gadis bikin gadis itu seram pada Adeeva.
"Aku benar tak sengaja masukkan kertas itu. Aku akan ambil yang ada isinya biar bisa kau pelajari. Aku segera balik!" janji gadis itu pucat pasi. Kirain Ezra buta lebih gampang dimanipulasi. Siapa sangka muncul orang gila tak kenal kata takut.
"Baik...kuberi waktu lima menit! Lebih dari itu artinya kau sedang booking hotel termewah se Indonesia. Mewah dan gratis. Pergi sono!"
Gadis itu segera angkat kaki tanpa diminta dua kali. Malah berkesan ingin berlari maraton kejar waktu lima menit.
Adeeva meletakkan dokumen di meja Ezra menanti reaksi bosnya. Ruben terkesima tak sangka hari itu cepat sekali datang. Ezra baru masuk kantor sudah dipasang perangkap agar Ezra terkurung.
"Gila...apa tujuan mereka?" rutuk Ruben gemas.
"Kalau aku pikir pengalihan perusahaan ataupun ijin keluarkan dana besaran." analisa Adeeva.
"Kau baca semua dokumen dan lihat apa isinya!" ujar Ezra dengan nada rendah. Lelaki ini sangat kecewa sambutan hari pertama dia masuk kerja sejak dia buta sangat ekstrim.
"Baik pak!" Adeeva ambil seluruh dokumen bawa ke meja kerjanya untuk dipelajari.
__ADS_1
Ruben makin sangsi tinggalkan Ezra sendirian hadapi segerombolan manusia picik. Silap dikit perusahaan melayang.
"Hebat...kontrak tambang batu bara ke Jepang dengan nota khusus pengelolaan dialihkan ke Pak Jul. Seluruh pembayaran di alihkan ke rekening pak Jul atas persetujuan Pak Ezra. Kontrak eksklusif lima tahun." oceh Adeeva geleng kepala tak habis pikir mengapa Ezra ijinkan adanya kontrak merugikan perusahaan.
"Kau yakin?"
"Yaelah...Pak Bendi nggak buta huruf kok! Baca saja!" Adeeva mengangsurkan dokumen kepada Ruben.
Lelaki itu bolak balik semua kontrak baca apa yang dikatakan Adeeva adalah fakta. Perbuatan pak Jul sungguh luar biasa. Nyalinya patut di beri medali emas. Kalau jatuh ke tangan Adeeva habislah pak tua itu.
"Memang benar begitu isinya pak! Kontrak ini kita bahas lagi. Kita harus kaji ulang. Harganya juga lebih murah dari penawaran awal. Kontrak ini berkesan dibuat tergesa-gesa." Ruben perkuat kata Adeeva.
"Putuskan kontraknya. Tak ada kerja sama dengan orang itu. Biar pak Jul yang ladeni orang itu! Kita cuci tangan saja. Aku yakin orang itu sudah bayar DP." kata Ezra tak kalah licik. Pak Jul mau jebak dia. Ezra harus balas lebih kejam supaya pak tua itu sadar Ezra boleh buta mata tapi hati masih melek.
"Batalkan saja! Kau bawa ke rapat sekarang juga." ujar Ezra emosi. Untung saja laki ini tidak temperamental gebrak meja. Itu pantang banget bagi Adeeva. Meja itu tempat Ezra mencari rezeki mana boleh dianiaya.
"Jangan dibawa rapat pak! Ini akan bikin malu pak Jul. bagusnya Bendi langsung bilang ke pak Jul untuk sementara semua kontrak ditunda sampai mata bapak bisa intip cewek. Biar pak Jul buat alasan pada klien sampai mulut berbusa. Kita bukan batalkan kontrak tapi tunda karena bapak sakit mata. Kalau kita batalkan kontrak secara vulgar ini akan pengaruhi nama baik perusahaan." Adeeva beri solusi agar tak pengaruhi nama besar perusahaan. Batal kontrak seenak perut akan bikin nama perusahaan jadi cacat.
"Poni benar pak! Kita tunda dulu dengan alasan bapak masih butuh istirahat. Semua kontrak kerja kita pending. Jalani yang sudah ada saja!"
"Tumben otak pak Bendi lancar. Biasa mandek akibat sering kena air banjir."
"Sialan kau anak kecil! Aku ini senior kamu..."
Ezra puji cara Adeeva tangani masalah. Tenang tanpa bawa emosi walau dasarnya gadis itu panas. Ada waktunya dia cooling down cari jalan keluar tanpa bikin heboh.
Gadis sekretaris pak Jul kembali bawa kertas yang dimaksud untuk cuci dosa yang telah dicatat Adeeva. Kini kertas itu tak gunanya lagi karena Ezra tak berniat lanjutkan kontrak dalam waktu dekat.
"Maaf pak! Ini kertas aslinya. Aku tergesa-gesa salah ambil kertas." sekretaris pak Jul meletakkan selembar kertas telah berisi tulisan dan huruf.
"Nona Anisa...tolong bilang pada om untuk sementara semua kontrak baru kita pending. Aku akan pergi berobat mata dulu baru kita kaji ulang kontrak kerja."
Ezra buka suara menolak teken kontrak kerja yang sejuta persen merugikan Ezra.
"Tapi pak...ini semua sudah deal! Bapak cukup teken saja selanjutnya biar pak Jul yang urus."
"Kau atau aku yang tentukan ke mana roda perusahaan akan jalan? Aku bilang tunda ya tunda!" bentak Ezra naik darah lagi. Adeeva kuatir Ezra naik tensi darah sebabkan stroke walau dalam usia muda. Kini stroke tak pandang usia lagi. Dia menyerang siapa saja yang jalani pola hidup tak sehat.
Sekretaris pak Jul ketakutan Ezra mulai naikkan volume suara. Adeeva kasihan juga pada gadis ini. Dia hanya pelaksana perintah bos. Di sini kena bentakan bos dan di tempat Pak Jul pasti kena semprot dianggap tak becus kerja.
"Nona...bilang sama pak Jul! Pak Ezra masih kurang sehat. Belum sanggup memikirkan pekerjaan. Dia cuma sanggup pikir yang kinclong. Tunggu berapa hari lagi kita data ulang semua kontrak kerja. Ini baik untuk semua orang. Ok?" Adeeva melunak mulai iba lihat gadis dipanggil Anisa bingung mau dengar perintah siapa.
"Nanti pak Jul marah!" lirih Anisa ketakutan.
"Kau cukup bilang apa kubilang! Nanti pak Bendi eh maksudku pak Ruben akan jumpai atasan kamu! Pergilah!" Adeeva mendorong Anisa keluar sebelum di semprot Ezra lagi. Anisa hanya seorang pegawai yang tak punya kuasa tentukan roda perusahaan. Tahan dia juga tak ada guna.
"Gitu ya! Permisi..."
__ADS_1
Anisa melangkah pergi dengan sejuta perasaan galau. Tiba di tempat pak Jul pasti kena Omelan lagi. Beginilah nasib orang bawahan. Yang salah bos tapi yang kena imbas tetap yang dibawah.