Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Ketahuan


__ADS_3

"Ogah...eh lhu gimana kabar? Sudah akur sama suami?"


"Biasa aja! Ini gue mau kabari kalau gue mau ke kota B. Ingat pertandingan persahabatan antar klub. Katanya malam ini pembukaan. Ini gue mau berangkat. Pamit ya!"


"Kutu busuk cap kutu kupret! Lhu mau kabur sendiri tanpa gue? Tunggu gue! Kita kabur bareng. Kita kawin lari saja!" Nunik bergegas lempar selimut tak mau ditinggal Adeeva. Nonton pertandingan taekwondo merupakan tontonan paling menarik. Mana boleh ketinggalan.


"Kau serius mau ikut? Gue pergi dengan kereta."


"Dengan sepeda juga ok. Tunggu gue mandi dulu! Jemput gue di sini! Kita pergi bareng."


"Ok deh! Cepat mandi dan jangan lupa pamitan dengan bokap dan nyokap."


"Mereka bulan madu ke Rusia. Siapa tahu bisa masuk jadi relawan ikut perang."


"Yang bener?"


"Bener..mereka sudah keluar negeri. Gue cuma butuh ijin mas Satria. Dia pasti ijinkan kalau cuma nonton. Besok kita balik ya?"


"Ya nggak dong! Malam ini baru pembukaan. Besok baru ada sesi tanding. Mungkin lusa kita balik."


"Ok deh! Sekalian gue mau ambil motor yang masih di sana. Motor penuh sejarah. Temani gue di kala suka dan duka. Motor tercinta."


"Mandinya kapan sis? Kereta keburu berangkat."


"Oh sori...jemput! Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Adeeva memutuskan hubungan kini beralih ke Ruben. Sebenarnya tidak diantar Ruben juga tak apa. Adeeva hanya ingin gunakan Ruben sebagai perisai bila terjadi sesuatu di saat keliaran Sonya dan Ezra meledak di publik. Adeeva bisa cuci tangan sebersih mungkin.


Tampak sekali Ruben sedang menanti telepon Adeeva. Sekali bunyi langsung diangkat.


"Halo...gimana? Dapat surat ijin secara resmi dari bos?"


"Assalamualaikum Bendi...punya adat nggak sih?"


"Sori... waalaikumsalam.."


"Gitu dong! Ingat kita ini punya salam sopan. Aku sudah kantongi ijin. Tolong jemput aku dan antar ke stasiun kereta. Kami berdua."


"Dengan teman mana? Jangan bilang kamu mau kawin lari dengan cowok lain!"


"Emang boleh sama bos? Bos kamu kan psikopat. Orang stress." Adeeva tak segan hujat Ezra di depan Ruben. Syukur kalau Ruben melapor dan dia dipecat. Kan lumayan dapat pesangon. Nggak dapat harta Gono gini tak apa asal pesangon dibayar penuh.


"Kalau didengar bos bisa patah lehermu!"


"Apa bukan terbalik?" sindir Adeeva ingatkan dia bukan orang lemah mudah diinjak.


Ruben tertawa teringat kegagahan Adeeva lawan musuh. Ezra belum tentu mampu lawan Adeeva bila bertanding secara jantan eh betina.


"Iya dah! Kamu tunggu di situ. Aku jemput kamu!"


"Siip... Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam.." Ruben makin mahir praktek gaya salam Adeeva. Ruben harus banyak belajar dari Adeeva. Cewek ini konyol tapi tetap dalam batas tertentu.


Adeeva menutup ponsel dengan helaan nafas panjang. Adeeva edarkan mata sekeliling kamar rumah Ezra. Apa mungkin dia balik ke sini lagi setelah tragedi yang dia ciptakan. Rumah ini bawa sedikit kenangan bagi Adeeva. Dia jalani suka dan duka di rumah ini. Akankah berakhir?


Adeeva tak mau terlalu lama tenggelam dalam kebodohan dibuat sendiri. Menikah dengan Ezra adalah satu kesalahan terbesar dalam hidup Adeeva. Mereka datang bukan dari dunia yang sama. Cara pandang hidup mereka beda jauh.


Adeeva menyeret koper berisi pakaian dan seluruh benda penting Adeeva. Untuk sementara Adeeva tak mau tinggalkan barang berharga dia di tempat Ezra. Kelak akan jadi bumerang bagi Adeeva.


Adeeva pindah duduk di ruang tamu menanti kehadiran Ruben. Beberapa jam lagi dia akan hirup udara bebas tanpa adanya bos diktator.


Dari luar Ezra tampak Galant tanpa perlihatkan sisi buruk. Siapa sangka laki itu asli *** maniak. Adeeva tak boleh ingat lelaki ini lagi. Setelah hari ini dia akan punya alasan lepas dari Ezra.

__ADS_1


Adeeva tak mau tahu kisah Ezra selanjutnya dengan Sonya ataupun Rani. Itu fix urusan laki itu.


Tak lama Ruben datang sendirian. Adeeva bergegas tinggalkan apartemen Ezra ikut dengan Ruben menuju ke pelataran parkiran.


Ruben menemukan seorang gadis muda berparas cantik menyeret koper melenggang santai ke arah mobilnya. Baru hari ini Ruben melihat Adeeva dengan jelas. Gadis muda mengenakan kemeja dan celana jeans ketat menunjukkan tubuh gol. Paras cantik tanpa make up berlebihan dengan rambut diikat ekor kuda. Pantas Ezra beri nama Poni karena Adeeva emang imut mirip kuda poni cantik.


Adeeva menyeret kopernya sampai di hadapan Ruben memberi seulas senyum tulus sebagai penghargaan kebaikan Ruben mau antar dia.


"Siap berangkat?" tanya Ruben mengambil alih koper Adeeva untuk dimasukkan dalam bagasi mobil. Adeeva biarkan Ruben lakukan tugas sebagai lelaki sejati menolong wanita muda.


"Biar kubawa mobil biar cepat sampai ke rumah teman aku." pinta Adeeva agar Ruben tak perlu repot cari rumah Nunik lagi.


"Ok.." Ruben menyerahkan kunci mobil kepada Adeeva. Adeeva menerima dengan cepat tak sabar ingin segera tinggalkan tempat penuh kenangan buruk. Adeeva akan gunakan kesempatan ini kabur dari Ezra.


Seperti biasa Adeeva lakukan mobil dengan kecepatan cukup kencang. Tangannya sudah cukup ahli memegang stiur. Bolak balik Kota J dan kota B buat tangan Adeeva jadi luwes memutar stiur.


Ruben melirik wajah Adeeva yang sedikit kusam. Namun tidak mengurangi kecantikan cewek ini. Ruben menyayangkan Adeeva harus jatuh ke tangan Ezra yang mata keranjang. Lelaki yang anggap wanita hanyalah pelengkap hidup.


Adeeva bawa Ruben tiba di rumah Nunik yang cukup mewah. Rumah calon isteri juragan sapi tampak sepi seperti tak penghuni. Pintu pagar gerbang tinggi menjulang seolah mengejek orang yang ingin masuk ke dalam.


Adeeva membunyikan klakson mobil beri kode pada Nunik untuk segera keluar.


Mata Ruben liar melihat sekeliling pantau siapa menjadi teman Adeeva. Tampaknya orang berkuku runcing karena rumahnya telah menunjukkan kelas teman Adeeva. Tak mungkin gembel tinggal di tempat mewah ini.


Satu sosok berpakaian lucu seperti anak kecil meloncat girang melihat kehadiran Adeeva. Gadis itu segera melambai pada penghuni dalam mobil.


Ruben tidak kaget lihat gaya Nunik. Sebelas dua belas dengan Adeeva. Sama-sama konyol dan urakan. Ruben ingat gadis ini yang bawa pakaian untuk Adeeva sewaktu jumpa di cafe kota B. Ruben ingat jelas sosok lucu nan imut yang ketawa dengan Adeeva.


Nunik masuk ke dalam mobil lewat pintu belakang tanpa peduli siapa di samping Adeeva. Nunik terlalu bahagia bisa kembali ke kota B yang jadi kampung halaman baginya.


"Cabut sis! Bawa kawan?" tanya Nunik menggeser kopernya yang ikut masuk di jok belakang.


"Ini Bendi asisten utama bos aku!" Adeeva perkenalkan Ruben. Cara kenalan aneh karena Adeeva tak sebut nama Ruben malahan sebut Bendi kaburkan harga Ruben di mata Nunik.


Ruben memutar kepala ke belakang sekedar menyapa gadis yang baru datang. Nunik cukup manis untuk dijadikan penyejuk mata.


"Hai... namanya siapa?"


"Chairunisa alias Nunik. Calon isteri Adeeva." Nunik perkenalkan diri tak kalah songong dari Adeeva.


"Oh ..calon suamimu cantik ya! Dan kamu tampan." Ruben imbangi kekocakan dia cewek ini.


Nunik terkekeh suka Ruben tidak kayu kayak abangnya. Sudah ketemu teman sejiwa halalkan semua kekonyolan demi halau semua rasa penat hati.


"Mau jadi selingkuhan aku? Kau boleh antri untuk jadi isteri Adeeva. Ngantri dari Sabang hingga Merauke."


Adeeva lakukan kenderaan menembus keramaian kota. Adeeva harus berbuat sesuatu untuk lacak apa yang sedang dibincangkan dua ekor makhluk penzinah itu. Adeeva belum berhenti bila belum berhasil antar kedua makhluk itu ke comberan.


"Aku mau saja asal tak ada yang cemburu. Kalian berdua kapan pulang biar nanti kujemput di stasiun."


"Tak usah. Cukup antar saja. Jaga bos ya jangan sampai celaka!"


"Tenang...aku akan gendong jika dibutuhkan." gurau Ruben coba canda. Ruben merasa ada yang tak beres pada gadis ini. Biasanya mulut mungil Adeeva akan balas dengan kalimat lebih menggelikan. Sekarang kok pasif. Lagi kurang sehat apa?


Adeeva hentikan mobil di depan stasiun kereta api cepat. Waktu tempuh tidak akan sampai satu jam ke tujuan. Tiketnya lumayan mahal bagi Adeeva namun tidak demikian dengan Nunik yang punya pabrik duit. Tinggal ulurkan tangan semua akan beres.


Ruben ikut kedua cewek ini ngantri beli tiket. Penumpang lumayan padat karena transportasi ini hemat waktu walau jebolin kantong.


Ruben antar keduanya sampai kereta berangkat meninggalkan stasiun. Adeeva menarik nafas lega Ruben jadi saksi dia berangkat ke kota B. Alibi kuat tak tergoyahkan.


Nunik merasakan hal sama dengan Ruben jika keceriaan Adeeva telah sirna. Sinar mata itu mengandung kecemasan. Nunik tak berani tanya karena tak biasa menyimpan rahasia darinya. Kalau dia sudah diam artinya masalah yang dia hadapi sangat berat.


Sepanjang jalan Adeeva tidak banyak bicara. Hanya main ponsel dengan headset terpasang di telinga. Nunik tidak perhatikan apa yang dilihat Adeeva dari ponsel. Mungkin masalah pribadi sekali. Nunik anggap Adeeva sedang tak ingin berbagi.


Keduanya langsung ke klub untuk ikuti acara pembukaan pertandingan persahabatan antar klub. Ada tiga klub coba cari bibit baru untuk dilatih lebih detail jadi atlet berpotensi tinggi. Salah satunya punya Jimmy dari kota J. Anggota mereka datang dari kota untuk jajaki murid dari klub Bang Juan. Adeeva dan Nunik merupakan jebolan dari klub Bang Juan.

__ADS_1


Klub Bang Juan telah ramai dipenuhi anggota yang ikut tanding. Suasana masih tamah tamah karena tahap perkenalan sesama pencinta seni bela diri.


Adeeva dan Nunik tidak mau ketinggalan nimbrung setelah menyimpan koper mereka di tempat aman. Adeeva dan Nunik tidak ikutan pakai baju Dobok (baju khusus taekwondo. Keduanya datang hanya sebagai penonton maka tak wajib kenakan baju tersebut.


Adeeva dan Nunik bergabung dengan penonton lain beri semangat pada klub idola mereka masing-masing.


Adeeva melirik jam di ponsel lihat sudah jam berapa. Masih ada beberapa jam dia beraksi lempar bom media kupas kehebatan dua insan pencinta dosa. Adeeva tak sabar tunggu waktu itu tiba.


Adeeva kaget tatkala bahunya ditepuk seseorang. Kalau di jalan Adeeva dapat serangan mendadak orang itu pasti sudah dapat hadiah. Untung otak Adeeva waras tidak lepaskan bogem.


"Nona Adeeva??"


"Bang Jimmy...apa kabar bang?" Adeeva senang jumpa Jimmy lagi pemimpin klub dari kota J.


Jimmy tersenyum menepuk bahu Adeeva penuh persahabatan. Jimmy selalu harga atlet berbakat. Jimmy sudah sering dengar nama Adeeva tapi belum pernah bertanding dengan cewek ini. Tangan Jimmy gatal ingin rasakan keras tinju Adeeva.


"Baik...kok lama tak datang di klub?"


"Kok tahu bang? Aku dimutasi kerja di kota J."


"Aku sering kemari diskusi dengan bang Juan. Katanya kau sudah jarang muncul."


"Iya sibuk kerja! Ayok duduk bang!"


"Nanti kita ngobrol lagi. Abang harus urus anak buah dulu. Kau tak boleh kabur gitu saja lho!" Jimmy menunjuk kearah Adeeva seperti beri peringatan sesuai kata Jimmy. Laki itu kumpul dengan anggotanya. Tinggal Nunik dan Adeeva lanjut jadi penonton.


Mata Nunik tak lepas dari sosok Jimmy yang menurutnya sangat macho. Seratus persen jauh beda dengan juragan sapi pilihan papinya. Mana ada cowok profil wa gambar hello Kitty. Merendahkan martabat pria sejati.


Adeeva ikuti pancaran bola mata sahabatnya tertancap pada Jimmy. Lagu cinta bermekaran mengalun di hati Nunik sejak bertemu dengan cowok pemegang panah cupido.


"Cie..cie...ada yang terpesona ni ye!!" olok Adeeva cubit pipi Nunik termenung saking kagum pada sosok Jimmy.


"Cerewet. Kok ada makhluk seganteng gitu ya? Andai dia juragan sapi langsung Kuterima lamarannya." gumam Nunik gelitik perut Adeeva. Ini asli jatuh cinta pada pandangan pertama.


"Gila gantengnya! Roh gue terbang kejar dia!"


"Roh keluar artinya lhu bakal mati."


"Huusss amit-amit!" Nunik mengetok lantai tempat mereka duduk menolak kalimat Adeeva. "Gue mau hidup seribu tahun lagi. Enak saja mati belum rasakan malam pengantin."


Kata pengantin menyadarkan Adeeva kalau dia ada tugas penting malam ini. Tugas yang tentukan masa depannya. Adeeva harus sukses jatuhkan Ezra ke jurang sengsara.


"Tinggal bentar ya say! Aku harus telepon tanya kabar bos aku." Adeeva berlari kecil cari tempat aman untuk teleponi Ezra buktikan dia berada jauh dari kota J. Ini taktik Adeeva cari aman.


"Halo pak... assalamualaikum. Ini Adeeva!"


"Waalaikumsalam.. sudah sampai?"


"Sudah dari tadi...Siapa kawan bapak di rumah?"


"Ruben...dia sudah keluar cari makan! Kau sudah makan?"


"Sudah...maaf agak ribut karena di klub! Sini ramai sekali."


"Iya aku dengar. Besok kalau susah selesai cepat pulang ya! Aku susah tanpa kamu."


"Siap pak..."


Samar-samar Adeeva dengar suara teriakan cewek panggil nama Ezra dari jarak cukup dekat. Suara itu manja seperti haus akan sesuatu.


"Suara cewek pak! Siapa itu?" tanya berlagak pilon. Tak usah ditebak Adeeva tahu itu suara Sonya panggil Ezra. Adeeva hanya pertegas dengar kebohongan Ezra.


"Itu suara tv. Suara sinetron. Aku bosan maka nonton tv."


"Ooo..nonton pakai kuping ya! Ingat pak! Kalau ketahuan bapak main gila aku bersumpah takkan balik kerja sama bapak." tegas Adeeva mengancam Ezra.

__ADS_1


Ezra menelan air ludah gentar dengan suara Adeeva demikian tegas tidak main-main.


"Dari mana cewek? Kau tahu aku hanya sayang padamu."


__ADS_2