
Adeeva hanya menyimak tanpa ada hasrat ikut tanding. Pekerjaannya makin bertambah sejak pindah ke bagian Ezra. Kerja sebagai asisten bukannya untung malah buntung. Punya bos songong sok berkuasa atas hidup karyawan. Main perintah seakan Adeeva tak punya harga. Anak gadis diajak tinggal bersama tanpa ikatan. Bagi Ezra mungkin biasa tapi bagi Adeeva luar binasa.
"Ssssttt...datang ke sini buat ngelamun ya?" bisik suara pelan bikin Adeeva menoleh.
"Nunik...kau di sini? Tumben?" seru Adeeva keras membuat seisi ruang menancapkan mata ke arah gadis ini. Adeeva tersipu malu dipandangi satu batalyon orang. Punggung Adeeva hangat saking malunya.
"Ssssttt...kita keluar yok!" Nunik mencolek Adeeva agar kabur secara diam-diam. Ikut diskusi juga tak bakalan ikut tanding. Bikin semak ruangan saja.
Adeeva manggut meringsut keluar menuju ke ruang kosong tempat para murid curi waktu istirahat. Nunik menyeret Adeeva tak ubah seret anak kecil ketahuan nyolong permen.
"Kau dipecat?" tanya Nunik melipat tangan ke dada.
"Syukur kalau dipecat. Gue kena perangkap mengerikan!" sahut Adeeva menghempas pantat ke matras terbentang di lantai. Gadis ini seenak perut baringkan tubuh di atas matras tak peduli tatapan ganjil Nunik.
"Apa maksud lhu?"
"Gue dipindahkan jadi Aspri bos. Dua puluh empat jam harus di samping bos. Kalau dia punya kutu artinya gue salah satu kutu di kepalanya. Apes banget!"
"What? Jadi Aspri? Kamu Aspri? Wah bos lhu matanya katarak! Aspri itu lemah lembut, manja, tubuh sintal, wangi dan pandai make up! Lhu? Ya Tuhan...bedak bayi, bau cologne...nggak cocok BESTie..." Nunik ikutan rebahan takjub ada orang menawarkan posisi yang notabene di dominasi wanita elegan pada Adeeva.
"Lhu aja nggak setuju. Apa lagi gue? Nama baik gue lagi dibanting-banting hingga remuk."
"Gimana kalau laki lhu tahu lhu selingkuh dengan bos! Bisa dipecat jadi bini ke enam!"
Cling kata-kata Nunik memunculkan ide bagus di benak Adeeva. Mengharap kata talak harus ada skandal. Kalau tersiar berita Adeeva selingkuh maka keluarga Dilangit pasti akan pecat dia sebagai salah satu selir Si jompo mesum. Bukankah itu harapan Citra.
"Wah pinter lhu sis! Akan Kuterima job ini dengan senang hati. Setelah dapat talak gue akan cari kerja lain. Trim's sahabatku!" Adeeva menciumi pipi Nunik berkali-kali telah beri ide cemerlang.
"Woi orang gila...lhu les ya?" seru Nunik mendorong Adeeva menjauh. Adeeva tertawa cekikikan senang punya kartu as untuk lepas dari pernikahan tak sehat. Adeeva senang bisa cepat bebas nikmati hari merdeka. Tak perlu tunggu tujuh belas Agustus untuk rayakan kemerdekaan. Sebentar lagi dia akan merdeka jadi jomblo ngenes lagi.
"Terima kasih sayang...lhu beri ide brilian! Ntar gue akan foto sebanyak mungkin kirim ke kakek bangkotan itu. Kujamin talak sejuta akan turun." Adeeva merentangkan tangan membayangkan menjadi manusia bebas tanpa ikatan.
"Talak tiga kali...lalu gimana maharnya? Sanggup lhu kembalikan?"
"Lhu pikir otak gue seupil? Mahar gue cuma seperangkat alat sholat. Sudah gue atur jauh hari tak mau terima mahar berharga. Ntar gue balikkan selusin biar dia kawin selusin bini lagi." kata Adeeva diakhiri tawa derai.
Betapa bahagia Adeeva menemukan jalan untuk ditalak keluarga Dilangit. Untuk sementara Adeeva harus baik-baik sama Ezra agar dapat kesempatan berfoto di rumah laki itu.
"Semoga rencana lhu berhasil Va! Gue juga pusing dengar nyanyian lhu tentang kakek bangkotan itu! Cepat tamat ya syukur! Ntar lhu gue nikahkan dengan Abang gue yang polisi! Ganteng lho!"
"Belum menjanda lhu udah mikirin calon gue! Waktunya panjang sis! Tunggu masa Iddah habis lagi. Bilangin Abang lhu nggak usah tunggu gue! Cari cewek yang lain. Gue baru akan pacaran kalau sudah S3."
"Abang gue keburu keriput! Sekarang sudah tiga puluh tunggu lima tahun lagi expired. Takutnya bibit anaknya tak subur lagi."
"Kalau Abang lhu tahu adiknya ngomongin dia begini, bocor kepala lhu ditembak ma Abang lhu!"
"Tenang sis! Dia takkan tembak gue! Gue kan adiknya. Tembak lhu dong! Jamin nggak berdarah! Mau ya jadi ipar aku! Aku ngelamar lhu buat Abang gue! Besok gue beli cincin tunangan buat kalian!"
"Emang lhu punya duit?" ejek Adeeva bikin muka Nunik berubah masam. Lebih masam dari belimbing wuluh. Asam kecut.
"Sialan nih bocah! Beraninya ejek calon ipar! Kusate kamu.." Nunik menendang tungkai kaki Adeeva dengan keras. Adeeva menjerit kesakitan.
Nunik segera pindah tempat agak jauh sebelum Adeeva balas tendang. Siapa tak kenal tendangan maut di gadis jangkung ini. Kuat sanggup mematahkan batang bambu. Nunik belum rela kakinya jadi korban seperti bambu latihan.
"Nunik sinting...awas kamu!" Adeeva berdiri pasang ancang-ancang siap bertarung lawan Nunik pemegang sabuk merah. Masih jauh di bawah Adeeva yang pegang sabuk hitam dan VIII. Satu tingkat lagi bisa jadi master.
__ADS_1
Nunik mana berani lawan Adeeva namun untuk tunjukkan gengsi Nunik ikut pasang kuda-kuda siap bertarung. Cukup satu tendangan untuk kirim Nunik istirahat di rumah sakit.
"Yakin mau bertarung melawan aku?" tanya Adeeva berhadapan dengan Nunik dalam jarak tiga meter. Nunik mana berani maju cari sakit.
"Siapa takut? Aku banyak kemajuan. Tak lama lagi aku akan naik sabuk hitam juga."
"Sabuk merah belum selesai mau sabuk hitam. Pinjam dasi satpam bank depan rumah jadikan sabuk! Kalau perlu pinjam dasi bos gue..warna warni kayak pelangi."
Nunik tertawa cekikikan. Pasang gaya mau lawan Adeeva padahal tak punya nyali. Bisa karung samsak latihan Adeeva bila pertarungan terjadi. Nunik belum gila sakiti tubuh oleh pukulan Adeeva.
"Gue sakit perut lagi kedatangan tamu bulanan. Gue maafin lhu kali ini!" ujar Nunik sok anggun berbesar hati tak ladeni Adeeva.
"What? Kok gue yang salah,? Lhu yang edan tendang gue! Mau gue pindah pantat lhu yang tipis ke depan?"
"Emang pantat seindah gini tipis?" Nunik menungging kan pantat kasih lihat pantatnya yang terbalut celana jeans lusuh. Tidak terlalu tipis sih masih kalah sama punyaan Adeeva yang yahud.
"Kayak landasan parkir motor. Rata tak menarik."
"Lhu bilang iri pada pantat indah- gue!"
"Edan nih bocah! Apa perlu kita ke bang Juan minta ukur pantat siapa lebih bundar?"
Nunik terpingkal-pingkal dengar ide Adeeva. Bukan dia keberatan tapi bang Juan bakal mati ngiler pelototi pantat full sensasi.
"Dasar songong...eh..hari ini gue piket malam! Lhu pinjami motor lhu ya! Motor gue masuk rumah sakit! Panas dalam kekurangan vitamin."
"Syukuri! Sudah kubilang jaga olinya lhu abaikan. Mesinnya lewat ngak?"
"Nggak lewat cuma kena ring piston!" keluh Nunik muram. Uang bulan ini akan berkurang gara-gara motor rusak.
"Lalu kayak lhu dikawinkan sama juragan sapi? Emoh.."
"Suami gue juragan tambang. Calon lhu juragan sapi...miris amat! Lhu lebih beruntung tidak dikawinkan! Lha gue? Laki laki bau tanah sudah tercatat bakal segera bersatu dengan tanah."
"Kita senasib punya ortu produk jaman baheula! Kebahagiaan anak dijadikan taruhan. Cap cip cup...syukur bahagia! Coba kalau sengsara! Paling bilang yang sabar ya nak! Takdirmu begini!"
Adeeva manggut ikut memandang jauh keluar jendela tanpa arah pasti. Di luar hanya ada pepohonan tanaman bang Juan di sela waktu senggang. Hasilnya cukup lumayan untuk isi perut anggota yang suka lapar sial latihan.
"Gue piket jam tujuh...gue pulang duluan ya! Mau mandi dan beres-beres."
"Lhu ke sini dengan siapa?"
"Erina...anak itu kabur setelah di teleponi nyokap! Nyokap Erina ngamuk tahu putri kesayangan curi waktu latihan di sini. Tahulah nyokap Erina! Cerewet kayak petasan bocor."
"Sis..kalau lhu pulang gue pulang sama siapa? Emang gue super girl bisa terbang pulang sendiri?"
Nunik cekikan lihat Adeeva sewot hendak ditinggalkan sendirian di klub taekwondo.
"Kita pulang..."
"Yok...pamitan dulu sama bang Juan! Nggak pergi tanpa pesan."
"Duh yang romantis! Lhu demen ma bang Juan ya? Dia itu bisa jadi bokap lhu! Tuaan.."
"Gue cuma kagum songong! Apa lhu pikir otak gue kerendam air parit?"
__ADS_1
Nunik haha hihihi tanggapi kebodohan Adeeva terpesona sama cowok seumuran Abah. Bang Juan memang macho penuh wibawa. Herannya tidak menikah di usia mulai senja. Wanita model apa ditunggu pelatih itu?
Kedua gadis beda ukuran tubuh itu berjalan balik ke dojang untuk pamitan. Adeeva hanya kasih kode pada bang Juan hendak pulang. Bang Juan bukannya ijinkan Adeeva pergi malah melambai agar gadis itu ikut bergabung.
Adeeva tak enak hati menolak permalukan Bang Juan. Pelatih itu sudah cukup banyak jasa membantu Adeeva naik sabuk. Melatih Adeeva sepenuh hati karena Adeeva memang bibit bagus.
"Lhu pulang dulu deh! Ntar gue cari tumpangan sama teman lain." Adeeva menyerahkan kunci motor pada Nunik. Nunik segera mengambil kunci motor Adeeva sebelum Adeeva berubah pikiran. Mood Adeeva gampang berubah sejak menjadi isteri kakek jompo. Bad mood melulu.
Nunik kabur bawa motor Adeeva. Soal keselamatan Adeeva tak ada yang perlu diragukan. Cewek jagoan ini bisa kalahkan perampok empat orang sekaligus.
Adeeva duduk di belakang teman lain sambil menunggu acara pertemuan selesai. Adeeva menduga bang Juan mau ngobrol dengannya setelah sekian lama Adeeva tidak nongol di klub.
Satu berlalu acara diskusi kelar. Adeeva terkantuk-kantuk di belakang menunggu selesai acara diskusi. Tidak ambil bagian untuk apa menyimak sampai ke hati. Tahu sekilas sudah syukur.
"Eva..." panggil bang Juan lembut memaksa mata yang nyaris tenggelam terbelalak gede.
"Abang...maaf! Ketiduran..." Adeeva cepat bangun ketahuan tidur di saat orang diskusi.
"Ini bang Jimmy mau pamit! Kau mau ikut acara tanding?"
"Maaf bang tak bisa! Pekerjaanku sangat banyak! Bosku tidak beri waktu longgar!" sahut Adeeva tak mau memberi harapan palsu. Lebih baik jujur ketimbang beri janji kosong.
"Oh...sangat disayangkan! Murid berbakat terhambat oleh pekerjaan." ujar bang Jimmy yakin Adeeva punya potensi bagus bila fokus jadi atlet taekwondo.
"Maaf ya! Aku terikat kontrak kerja. Tapi aku janji akan datang bila ada kesempatan." Janji Adeeva tak enak hati tolak orang baru jumpa pertama.
"Oh gitu...tak apa! Suatu saat kita bisa adu sedikit jurus."
"Mana berani sama master. Aku ini masih junior sini!" Adeeva merendahkan diri. Sesumbar sombong hanya permalukan diri sendiri. Merendah duluan kalau kalah tak malu lagi.
"Wah Juan...kamu menyimpan pisau tajam di klub! Asah dong biar makin tajam!" pesan Bang Jimmy pada bang Juan.
Bang Juan hanya tersenyum melirik Adeeva. Bang Juan juga berharap Adeeva mau ambil bagian dari pertandingan antar klub. Hanya sekedar penjajakan. Bukan tanding cari nama.
Adeeva dan bang Juan antar kelompok klub lain sampai ke mobil bus yang antar mereka ke klub bang Juan. Mobil sahabat bang Juan meninggalkan klub diiringi lambaian tangan.
"Kau serius tak mau ikut?"
"Sudah pasti bang! Aku baru di mutasi ke bagian lebih rumit. Mungkin aku akan susah kemari."
"Sabtu Minggu kau ke sini ya,! Latih para murid cilik! Abang harus latih mereka yang akan tanding. Ayok masuk kita bicara!"
"Ya bang!" Mereka semua masuk ke dalam susun strategi melawan klub lain. Adeeva tak bisa ikut tapi bisa sumbang ide.
Pukul sembilan malam Adeeva baru lepas dari klub. Adeeva terpaksa pinjam motor bang Juan berupa motor ninja 250R layak motor balap Valentino Rossi.
Adeeva tampak sangar dapat kuda besi bermesin. Postur tubuh Adeeva cocok tunggangi motor gede itu. Bini Ezra Hakim Dilangit makin garang di atas motor segede sapi limousin.
Adeeva telusuri jalan yang mulai sepi. Tak banyak kenderaan lalu lalang sepanjang jalan dilalui Adeeva. Hanya ada satu dua mobil berjalan pelan menyinari Adeeva dari belakang. Siapapun yang berada di belakang Adeeva pasti cepat sadar pengendara motor gede itu cewek. Pinggang ramping dengan dudukan padat berisi tak mungkin milik seorang cowok. Orang pasti penasaran gimana tampang di balik helm pemotor itu.
Adeeva cuek bebek dengan kenakalan mata pengguna jalan. Toh Adeeva tidak melanggar rambu lalu lintas. Adeeva warga sadar hukum maka patuhi semua peraturan jalan raya. Tidak ngebut walau tunggangan memancing orang pacu si kuda besi secepat mungkin. Adeeva malah jalan santai.
Tiba dekat tikungan Adeeva melihat ada mobil terhenti di jalan. Rumah Adeeva tak jauh dari kantor tempat dia bekerja. Ini untuk persingkat waktu berangkat kerja.
Adeeva hentikan motor lihat apa yang terjadi pada mobil itu. Malam sepi gini rawan perampokan. Rumah kontrakan Adeeva tinggal satu blok lagi dari tempat dia berhenti. Adeeva perhatikan apa yang sedang dilakukan pengendara mobil itu. Jangan-jangan penjahat jebak dirinya.
__ADS_1
Adeeva lewati mobil itu sambil perhatikan apa yang terjadi pada mobil itu. Ternyata mobil itu bocor ban. Seorang lelaki sibuk cari tempat Tarok dongkrak di bawah kolong mobil. Dari gayanya Adeeva tahu hanya orang kaya tak punya otak.