Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Ketemu Calon


__ADS_3

Ruben ntah harus beri laporan apa pada Ezra. Alamat kena semprot lagi. Ezra mana terima semua kata gagal. Laki itu sudah terbiasa main perintah terima beres. Dia mana ngerti kesusahan orang lain cari tahu ke mana larinya isteri kecilnya. Dia yang buat ulah orang lain yang kena imbas.


Apapun terjadi Ruben tetap harus melapor kepada Ezra tentang kepergian Adeeva. Mau kena semprot mau dimarahin itu sudah menjadi resiko bawahan.


Ruben pergi jauhi rumah Nunik baru angkat telepon hubungi bos yang sedang uring-uringan itu.


"Halo pak..."


"Gimana? Dia mau pulang?"


Ruben belum mengatakan apa-apa Ezra duluan nyerocos tak sabar ingin tahu keberadaan Adeeva. Ezra pikir yang dia hadapi anak kecil mudah dibujuk pakai permen. Ezra anggap Adeeva sama saja dengan para selir di istana gila materi. Ezra harus belajar bikin pengecualian dalam hubungan dengan cewek. Tak semua gila harta.


"Maaf pak! Menurut satpam rumah majikan mereka sudah keluar kota." lapor Ruben menahan nafas takut kena sembur nafas dahsyat ikan paus. Sekali kena terpental sampai ribuan kilometer.


"Kau bisa apa? Tanya ke mana mereka pergi?" Ruben dengar kalimat bernada tinggi. Sudah Ruben duga Ezra pasti ngamuk tak temukan Adeeva. Mau gimana lagi Adeeva lebih licin dari mereka.


"Satpam mana berani tanya ke mana perginya majikan. Mereka hanya bertugas jaga rumah."


"Selidiki siapa pemilik rumah biar kuhubungi langsung pemilik rumah. Aku mau lihat sampai di mana dia mau kabur dari aku!" Ezra mau pamer kekuasaan dokter orang untuk bocorkan ke mana perginya Adeeva serta Nunik. Tidak susah cari orang tua Nunik yang juga punya nama besar. Masalahnya apa mereka bersedia bocorkan rahasia anaknya ke mana pergi nggak?


Ezra cukup tunggu saja makin terjungkal. Adeeva takkan berhenti sampai di situ permalukan lelaki bejat itu. Penjahat cinta seharga satu sen.


Di tempat lain Adeeva dan Nunik mendarat di bandara Ngloram di Cepu. Kehadiran mereka disambut dua cowok bertubuh kekar persis binaragawan. Kalau dilihat dari jauh tak ada sosok hello Kitty di situ. Sosok bertampang gemulai tak ada di penjemputan. Apa di hello Kitty malu datang jemput calon bini suruh orang lain jemput kedua gadis ini.


Nunik pertajam mata cari kalau-kalau di antara orang sekitar bandara ada cowok cantik. Sayang tak ada sosok dalam bayangan Nunik. Yang ada mereka dihampiri dua cowok kekar itu.


Adeeva menyeret koper mencolek Nunik agar persiapan mental jumpa hello Kitty. Tampang Rambo jiwa Cinderella. Sekarang kan banyak kasus begitu. Tampang macho tapi ngondek.


Adeeva berhenti tatkala salah satu cowok itu menyapa dengan suara bas bikin jantung Nunik mau copot. Suara idaman para cewek.


"Neng Chairunisa?" sapa salah satu cowok itu perlihatkan nilai lebihnya. Senyumnya maut dengan barisan gigi rapi jali berbaris bebas nikotin. Cling panah hati Nunik.


"Iya...anda?" Nunik balik nanya.


"Oh maaf! Aku ini Akbar...dan ini temanku Supono!" Laki bernama Akbar menyalami Nunik dan Adeeva. Temannya yang juga keren ikut Salami kedua gadis ini sambil tersenyum.


"Ini teman aku. Namanya Adeeva. Kita ke mana nih? Kami nginap di hotel terdekat?"


Akbar bertindak Galant ambil alih kedua koper milik kedua gadis ini. Ini perbuatan lelaki sejati. Tahu diri hormati wanita.


"Ngapain ke hotel neng? Di rumah kamar juga akeh. Ayok kita pergi! Ibu sudah tunggu di rumah." Akbar menyeret koper meninggalkan bandara menuju ke parkiran mobil. Gayanya Galant ada sedikit cuek pancing rasa penasaran Adeeva dan Nunik.


Supono berlari mengejar Akbar bikin Adeeva dan Nunik saling berpandangan. Sikap Supono agak lebay mirip batang bambu muda diterpa angin ****** beliung meliuk sana sini. Ini bukan kabar baik buat Nunik.


Akbar bisa punya teman model gini pasti tak jauh dari empunya teman. Perlahan ilfil mulai nyangkut di hati kedua gadis ini tapi mereka pilih bungkam lihat bagaimana ke depan.


Mobil ditumpangi Akbar mobil lapangan model dobel kabin warna silver. Mobil ini pasti untuk di bawa kerja ke lapangan karena bentuknya bukan untuk mobil keluarga.


Nunik dan Adeeva masa bodoh mau dijemput sama apa. Gunakan andong juga tak masalah. Asal sampai di tempat tujuan.


Dari bandara ke tempat Akbar masih butuh waktu satu jam perjalanan. Jalan menuju ke tempat Akbar lumayan menarik. Sepanjang jalan mereka disuguhi oleh pemandangan asri dari rumah penduduk. Walau terlihat sederhana tetapi setiap rumah terlihat sangat rapi dan bersih.

__ADS_1


Adeeva dan Nunik kagum pada kebijakan petinggi desa mengontrol kebersihan desa ini. Penduduknya pasti ramah karena rata-rata orang Jawa terkenal keramahan mereka. Sopan junjung tata krama.


Adeeva dan Nunik tak bersuara biarkan musik dangdut temani perjalanan mereka menuju ke rumah Akbar. Kalau dilihat dari profil Akbar memang lelaki yang bisa membius wanita tetapi kalau dilihat dari temannya kegagahan Akbar ambyar.


Supono goyang-goyang ikuti irama musik rakyat Indonesia yang mendunia ini. Adeeva dan Nunik makin merasakan adanya Cinderella bercasing Rambo. Supono betul-betul nyiur melambai.


"Nah itu rumah kita!" ujar Akbar karena dari jauh tampak bangunan lumayan besar dua lantai. Kiri kanan tak ada rumah, hanya ada hamparan rumput dan taman bunga.


Lagi-lagi kedua cewek ini disuguhi pemandangan indah. Suasana asri bebas polusi. Adeeva langsung jatuh cinta pada tempat ini. Tempatnya bisa mendatangkan kedamaian di dalam hati. Mungkin ini tempat yang cocok untuk menyembuhkan rasa kesedih di dalam hatinya gara-gara Ezra berbuat semaunya.


"Wah...rumah idaman!" seru Nunik tak dapat menyembunyikan rasa kagum pada perancang rumah ini. Bangunannya kelihatan belum terlalu tua untuk ukuran di desa ini.


"Aku yang bangun tiga tahun lalu. Di sini aku tinggal bersama ibu dan seorang adik perempuan." cerita Akbar bangga mampu memberi rumah nyaman pada keluarga. Ini impian semua orang punya tempat tinggal hangat.


Adeeva dan Nunik harus akui kehebatan Akbar bisa persembahkan rumah bagus untuk ibu dan Adiknya. Herannya cowok gagah ini tidak menyebut nama ayah. Apakah ayahnya sudah meninggal atau sudah bercerai. Nunik dan Adeeva tidak berani lancang bertanya masalah keluarga orang. mereka baru jumpa pertama kali hari ini mana mungkin mengorek masalah rumah tangga orang lain.


Akbar hentikan mobil persis di depan pintu rumah yang bergaya klasik. Mirip kastel orang Spanyol bernuansa jaman tempo dulu. Kalau ada orang kurang ngerti seni akan anggap ini bangunan produk jaman penjajahan.


Adeeva dan Nunik kagum pada selera Akbar bangun istana di daerah tersembunyi. Membangun rumah ini mungkin menelan biaya cukup besar. Kedua cewek ini tak henti lontarkan tatapan kagum pada hasil karya Akbar.


Akbar dan Supono berdiam diri biarkan kedua cewek ini nikmati hasil karya di tangan dingin Akbar. Andai ada jodoh ini merupakan tempat tinggal Nunik kelak. Jauh dari keramaian kota berkesan terpencil.


"Ini asli karyamu?" Nunik belum bisa percaya Akbar punya kemampuan sangat bagus.


"Aku perancang sedang yang kerjakan ya tukang! Kepala tukang ya Supono!" Akbar menepuk bahu temannya dengan bangga.


Nunik melirik Supono sang pemilik gaya nyiur melambai. Sangat diragukan kemampuan laki itu. Mungkin saja Akbar mau dongkrak kepopuleran Supono maka naikkan nilai jual laki itu.


"Iya...pernah kuliah di Unnes (Universitas Negeri Semarang)!" sahut Supono pelan menjurus lembut.


Adeeva merasa kerongkongan tercekik sedangkan bulu kuduk Nunik merinding dengar suara desah mendayu. Badan kekar berotot tapi gaya kemayu. Apa pantas disebut cowok?


"Ayok kita masuk! Ibu sudah menunggu di dalam." ajak Akbar usir kecanggungan akibat gaya kemayu Supono. Lelaki itu mengambil kedua koper milik Nunik dan Adeeva masuk ke dalam rumah. Pintu rumah tidak terkunci telah siap terima tamu dari jauh.


"Assalamualaikum.." sapa Akbar begitu buka pintu rumah.


"Waalaikumsalam.." terdengar sahutan halus dari dalam.


Akbar membuka daun pintu lebih lebar agar bisa dilalui oleh Adeeva dan Nunik. Kedua gadis ini masuk dengan ragu-ragu meliarkan mata melirik ke kiri kanan. Dekorasi rumah meninggalkan kesan kuno dari masa penjajahan. Semua furniture dibuat berkesan seolah-olah barang itu berasal dari zaman yang sudah lampau.


Di tengah ruang duduk seorang ibu bersanggul di atas kursi roda. Wajahnya welas anggun tunjukkan sosok wanita Jawa sejati. Pakaian kebaya dengan jarik serasi dengan warna baju. Sosok ibu itu wakili profil wanita Jawa tulen.


"Selamat datang!" ibu-ibu itu melebarkan bibir bentuk senyum tipis tanda senang kedatangan tamu yang sudah ditunggu berbulan-bulan.


"Assalamualaikum Bu.." Adeeva menyapa segera sadar Ibu bersanggul itu bukan wanita biasa. Aura ningrat jelas terpancar dari wajah wanita itu.


"Oh... waalaikumsalam! Tentu capek ya datang demikian jauh!"


"Ach tidak Bu.." giliran Nunik perlihatkan sopan santun anak muda bisa dipercayai.


Ibu itu tertawa senang jumpa dia gadis sopan sesuai harapan. Ibu ini belum tahu yang mana calon menantu. Yang mana saja tak jadi masalah karena duanya penuhi syarat menjadi menantu dari keluarganya.

__ADS_1


"Ayo duduk anak-anak! Maaf ibu tak bisa sambut kalian! Kaki ibu lumpuh." Ibu itu menunjuk ke lutut terbalut kain jarik.


Adeeva dan Nunik prihatin pada kondisi ibu Akbar. Masih tidak terlalu tua sudah bergantung pada kursi roda. Sampai kapan jalani kehidupan duduk di atas benda mati beroda itu.


Adeeva dan Nunik tempatkan pantat di atas kursi ukiran Jepara di alasi bisa tipis. Ibu Akbar majukan kursi roda otomatis dekat ke tempat duduk kedua cewek agar ngobrol lebih nyaman. Bicara berjauhan beri kesan mereka berseteru.


"Oya maaf Bu...lupa perkenalkan diri. Aku Chairunisa biasa dipanggil Nunik. Dan ini teman akrab aku namanya Adeeva." Nunik berlaku sopan memperkenalkan diri sebagai calon yang diributkan papa dan mamanya.


Mata ibu Akbar berbinar menatap calon menantunya cukup manis walau tidak secantik wanita di sampingnya. Adeeva jauh lebih cantik dari Nunik namun Adeeva tak memiliki wajah imut Nunik.


"Apa kabar papa dan mama kamu nak?"


"Alhamdulillah sehat. Mereka sedang keluar negeri. Katanya pergi liburan buang rasa capek setahun bekerja keras."


Ibu Akbar tertawa kecil ingat mama Nunik teman masa kecilnya. Mereka berdua bersama dari kecil hingga tamat sekolah. Mama Nunik lanjutkan kuliah sedang ibu Akbar hanya belajar segala kerajinan tangan khas perempuan. Menjahit, memasak dan bordir. Begitulah kehidupan perempuan Jawa tulen. Terlalu teguh pegang adat wanita harus belajar pekerjaan wanita semestinya.


"Mamamu hebat. Sukses menjadi orang hebat."


"Ibu juga hebat punya anak sukses. Semua orang punya lebih kurang Bu! Tak ada yang sempurna." sahut Nunik menyenangkan ibu Akbar agar jangan minder tidak kuliah. Dia sukses dengan caranya. Buktinya anaknya mampu persembahkan rumah gedongan buat ibu tercinta.


"Kau benar...mau minum apa nak?"


"Tak usah repot Bu! Kami bisa ambil sendiri kalau haus. Kami bukan tamu khusus kok!"


"Ibu senang kau mau anggap rumah ini milik kamu! Akbar ini kurang bergaul jadi kalau ada kekurangan mohon dimaafkan!"


Nunik melirik Akbar yang tidak duduk melainkan berdiri dekat bufet dengan pengawalan Supono. Nunik harus selidiki hubungan dua makhluk ampibi ini. Hidup di dua alam, darat ok di air juga bisa. Nunik akan kurangi nilai buat Akbar bila ketahuan punya orientasi ganda.


"Ach tidak...aku panggil apa? Mas? Abang?"


"Mas Akbar dong!" sahut ibu Akbar yakin anaknya mas tulen.


"Oya mas Akbar...kirain panggil mbak!" gurau Nunik mulai tembak Akbar dan Supono.


"Huusss...mbak itu itu wedok (cewek) sedangkan mas Akbar kamu kan Lanang (laki)."


Adeeva dan Nunik tertawa pura-pura salah omong. Padahal kedua cewek ini sedang analisa kelakian Akbar. Dari diri Akbar belum muncul gelagat kemayu tapi Supono sudah dijamin seratus persen hello Kitty kesasar. Rugi punya tubuh bagus tapi jiwa hancur.


"Aku kurang ngerti bahasa Jawa karena di rumah jarang gunakan bahasa itu. Kami lebih sering berbahasa Indonesia. Mama juga tidak ajar." Nunik bela diri padahal dia fasih banget bahasa ibunya. Mama Nunik paksa Nunik harus ngerti bahasa ibunya agar kelak tidak lupa dari mana asal.


"Tak apa. Nanti bisa belajar sama mas Akbar. Sekarang kalian pergi istirahat. Ibu sudah sediakan kamar untuk kalian di atas sana. Bar...antar tamu kita ke atas! Sebentar lagi kita makan malam bersama!"


Akbar bergerak mengambil dua koper milik tamunya. Tanpa disuruh Akbar bawa kedua peti baju Adeeva dan Nunik ke lantai atas. Adeeva dan Nunik bangkit ikut Akbar meniti anak tangga sampai ke atas. Anak tangga dibuat melingkar sehingga nyaman di naikin. Perancang bangunan ini memang pantas dapat pujian.


Akbar berhenti di salah pintu kamar terbuat dari kayu jati. Koper diletakkan persis di depan pintu menanti sang majikan bawa mereka ke dalam.


"Ini kamar dek Nunik dan di sampingnya kamar dek Adeeva." Akbar menunjuk pintu di samping kamar Nunik.


"Kami sekamar saja mas! Tak usah repot pisahkan kami." tukas Nunik cepat sebelum Akbar bikin alasan hendak pisahkan mereka.


"Oh silahkan! Yang nyaman saja. Kami pikir biasa anak gadis suka punya privasi sendiri maka kami sediakan dua kamar."

__ADS_1


__ADS_2