Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Bos Baru


__ADS_3

Ruben menunjuk kursi di depan meja kerja Ruben. Maksud Ruben minta Adeeva duduk di situ biar enak ngobrol. Ruben dan Adeeva hampir sama tinggi jadi ngobrolnya kurang seru harus berdiri saling berhadapan.


Adeeva turuti kemauan Ruben duduk manis di kursi yang tersedia. Adeeva harus tahu sedikit tentang kantor agar jangan tampak bodoh di depan orang ramai nanti.


Ruben duduk pula di kursi kerja menatap lurus ke wajah Adeeva. Kali ini Ruben serius bahas masalah Adeeva supaya cewek ini lebih kenal Ezra sesungguhnya.


"Sesungguhnya Ezra itu anak sangat kasihan. Ayahnya penjahat cinta punya banyak simpanan isteri. Yang resmi jadi isteri sah cuma mama Ezra. Bu Humaira isteri kedua sedangkan Bu Yuni itu isteri ketiga. Ketiganya adalah wanita yang jelas berstatus isteri. Belum lagi yang simpanan." Ruben berhenti sejenak ambil nafas karena omong kepanjangan. Nafas pendek tak mampu bicara sepanjang rel kereta api.


"Pantesan anaknya juga penjahat kelamin." rutuk Adeeva tak simpatik pada keluarga Ezra.


"Mama Ezra meninggal saat Ezra masih SMP. Posisi Bu Humaira naik jadi isteri utama namun tidak dinikahi secara hukum maka dia tak berhak dapat apa-apa dari harta peninggalan papa Ezra. Dari situ Bu Humaira sadar dia harus dekati Ezra agar posisinya aman. Dari situ Bu Humaira sengaja racuni hidup Ezra dengan wanita biar Ezra lupa daratan. Ada satu masa Ezra tenggelam dalam kehidupan bebas. Dia terlibat dalam narkoba juga lusinan wanita. Bu Humaira sengaja sodorkan puluhan wanita agar Ezra tidak ikut campur urusan kantor. Untunglah Bu Yuni sadar apa tujuan Bu Humaira langsung pulihkan mental Ezra."


Adeeva termenung bayangkan betapa jahatnya Bu Humaira. Ezra telah diracuni sejak kecil. Pantas orang itu anggap perempuan sebagai barang mainan. Dari kecil sudah didoktrin jadi laki penghamba pergaulan bebas.


"Bu Yuni main di belakang layar didik ulang Ezra agar jadi manusia lebih baik. Bu Yuni suruh Ezra kuliah di pertambangan sementara Bu Humaira minta Ezra kuliah di arsitek saja. Ezra kuliah di arsitek namun secara diam-diam kuliah di pertambangan. Lima tahun di luar negeri kuliah Ezra pulang ke tanah air ambil alih perusahaan. Selanjutnya seperti kau tahu Bu Humaira sodorkan banyak isteri agar Ezra disibukkan oleh wanita. Bu Yuni larang Ezra gauli para selir agar jangan terjebak dalam pusaran permainan Bu Humaira dan keluarganya. 70% orang di dalam perusahaan ada orang pak Jul. Sekarang aku tidak akan banyak komentar lagi. Kau pikir sendiri mau ambil jalan bagaimana. Bantai Ezra sampai sekarat atau angkat dia dari kesalahan masa lalu. Kalau kau baik hati bimbing dia jadi manusia lebih baik. Dia bukan orang jahat cuma telah duluan dihancurkan dari kecil."


Ruben akhiri kisah Ezra. Ruben beri waktu pada Adeeva untuk kaji ulang tindakan apa yang harus dia terapkan pada Ezra.


Adeeva mesti lakukan apa? Memulihkan mental Ezra yang terlanjur rusak atau biarkan laki itu tetap anggap dia adalah maha raja atas semua wanita.


"Ayok kita ke ruang kerja Ezra! Kau harus dukung aku ya! Kita mulai membersihkan sampah di kantor dan delete semua jabatan tak masuk akal."


"Poni...sebelum kamu jadi pimpinan aku cuma mau ingatkan jangan kelewatan sama Ezra. Gimanapun dia mantan CEO ditakuti. Aku tahu kamu sanggup kuliti dia!"


Adeeva tersenyum punya rencana tersendiri. Adeeva akan berusaha ubah Ezra jadi manusia lebih berguna sebelum dosa menutupi seluruh badan.


"Aku tahu batasan cuma tetap harus diajar tahu yang mana dosa. Ayok!"


"Terserah kamu saja! Mari kita pergi!"


Adeeva sudah mantap ambil alih kekuasaan Ezra untuk bantu laki itu berantas semua parasit di kantor. Adeeva akan atur ulang semua jabatan dewan direksi.


Dengan mengucapkan basmalah Adeeva dan Ruben masuk ke kantor Ezra. Sebenarnya Adeeva masih diliputi rasa gugup namun dia harus tampak kuat agar jangan diinjak oleh kekuatan pak Jul.


Adeeva akan ubah diri jadi manusia lebih kejam. Jika perlu hilangkan semua rasa iba. Hapus kata iba dan kasihan dari kamus hidup Adeeva.


Ezra dan pengacara sudah menunggu dari tadi. Kedua duduk santai menanti calon pemimpin baru datang teken pengalihan.


"Sudah siap nyonya Dilangit?" tegur pengacara begitu lihat Adeeva dan Ruben masuk.


Adeeva melihat di atas meja kerja Ezra ada satu tumpuk dokumen beserta serangkaian kunci. Benda-benda ini akan segera jadi milik Adeeva.


"Nyonya tinggal tanda tangan maka seluruh aset Dilangit sudah jadi milik nyonya. Pak Ezra sudah teken semua."

__ADS_1


Adeeva masih mematung tatkala pengacara menunjuk tumpukan dokumen di meja. Dalam hati Adeeva terbit keraguan meraup sesuatu yang bukan haknya. Tapi ingat cerita Ruben dia harus keras hati sekalian beri pelajaran pada Ezra.


"Tinggalkan saja dokumen ini! Aku akan pelajari dulu. Setelah selesai aku akan hubungi bapak pengacara. Toh semua sudah jadi hak aku! Kapan saja bisa hubungi bapak." Adeeva tidak segera teken takut nanti muncul masalah baru. Dia harus hati-hati sebelum melangkah lebih jauh.


"Kalau begitu nyonya simpan dulu semua dokumen dan ini kunci brankas milik pak Ezra. Semua surat penting ada dalam brankas berada di lantai paling bawah gedung kantor ini. Silahkan nyonya periksa! Soal sandi brankas bisa tanya langsung pada pak Ezra. Ada pertanyaan?"


Adeeva memutar badan duduk di sofa. Sumpah mati Adeeva tegang bukan main tiba-tiba jadi orang kaya setanah air. Masalahnya apa Adeeva sanggup tanggung beban seberat ini. Ruben dan Ezra tampak tidak susah walau posisi mereka ikut terancam.


"Bapak tetap jadi pengacara aku bukan?"


"Oh tentu...aku ini pengacara resmi perusahaan Dilangit! Apapun masalah nyonya akan kutangani!"


"Termasuk ngancam anak gadis tanda tangani surat nikah?" Adeeva ingat bagaimana liciknya Ezra dan pengacara jebak dia menikah.


Pengacara itu tersenyum malu ingat dulu bagaimana akalin Adeeva teken surat nikah dengan Ezra.


"Aku hanya bertugas. Aku tunggu kapan saja nyonya butuh aku! Dan tolong terima dokumen pengalihan ini." pengacara bangkit dari tempat duduk mengambil dokumen di meja kerja Ezra berikan secara resmi pada Adeeva. Dokumen pindah tangan Adeeva fix jadi CEO Dilangit.


Tangan Adeeva bergetar disaksikan oleh Ezra dan Ruben terima tumpukan dokumen. Ruben lega Adeeva mau ambil alih perusahaan bantu Ezra singkirkan para benalu. Orang model Adeeva mana ngerti nepotisme. Dia pasti sikat orang dia anggap karyawan cacat.


"Nah nyonya Dilangit! Selamat sekarang anda adalah pemilik sah kerajaan Dilangit. Aku harap nyonya bijak handel masalah kantor."


"Terima kasih pak pengacara. Aku pasti bapak untuk selanjutnya. Aku cuma mau ingatkan semua kontrak kerja harus ada teken aku baru boleh dilaksanakan. Tak boleh hanya berdasarkan klaim para direksi. Kalau bapak langgar aku akan tuntut bapak." Adeeva sudah keluarkan ujung kuku menancap pada tukang sahkan kontrak kerjasama dengan perusahaan lain.


"Akan kuingat nyonya. Kalau gitu aku permisi. Masih ada yang harus kukerjakan."


"Silahkan! Semua kontrak kerja yang baru dirilis harap dibawa ke sini biar kulihat dulu. Aku mau lihat perusahaan fiktif mana ingin curi uang aku!"


Ruben dan Ezra saling berpandangan salut pada sikap tegas Adeeva tak takut lukai harga diri para dewan direksi. Ezra saja segan menegur pak Jul dan kelompoknya secara terangan karena ingat jasa Bu Humaira merawatnya. Ya walaupun cara didik yang salah.


"Kayaknya cuma ada satu karena berapa waktu ini pak Ezra menolak semua kontrak kerja sama."


"Ok...satu juga boleh kupelajari! Anggap sebagai tugas pertama aku sebagai CEO. Terima kasih kerja sama Pak Pengacara."


"Aku punya nama nyonya. Mahmud SH."


"Oh pak Marmut.." sifat iseng Adeeva mulai kumat pura-pura keseleo lidah.


Pak Mahmud melongo. Namanya yang bagus tiba-tiba menjadi binatang pengerat kecil. Ruben dan Ezra tidak dapat menahan tawa melihat pengacara mereka terbengong tak tahu harus berkata apa-apa terhadap CEO baru mereka. Pak Mahmud belum merasakan bagaimana kenakalan Adeeva terhadap orang-orang di sekeliling.


"Nyonya...kurasa ada kesalahan di dalam namaku." kata pengacara pelan minta namanya dikoreksi dengan benar.


"Mau ganti nama ya? Tumpengan saja! Dan satu lagi jangan panggil aku nyonya! Nanti rusak pasaran aku. Gini saja panggil Miss Adeeva. Boleh ditambahkan yang cantik jelita bak Herkules."

__ADS_1


Ruben dan Ezra tak dapat menahan tawa sifat usil Adeeva telah timbul lagi. Sifat lucu ini yang bikin Ezra selalu terhibur walau kadang menyakiti.


"Baiklah Miss Adeeva cuma Herkules nya kurasa tak perlu. Sejak kapan Herkules cantik jelita? Itu mah herkules ketelan satu ton alat kosmetik." Pak Mahmud meringis baru kali ini jumpa CEO songong.


"Itu herkules kekinian!" Adeeva teringat pada Akbar dan Supono. Supono berbadan tegap tapi nyiur melambai. Bukankah artinya jaman telah berubah ke jaman edan?


"Aku permisi dulu." pak Mahmud ogah ikutan gila dengan Adeeva. Hari-hari ke depan pasti dipersulit bila penyakit iseng Adeeva kumat.


Pak Mahmud melangkah pergi memegang tas kerja erat-erat. Adeeva tersenyum senang bisa permainkan pengacara yang pernah tipu dia.


"Pak Marmut.. assalamualaikum.." seru Adeeva sengaja ingatkan pengacara itu bagaimana seorang muslim harus mengucapkan salam.


Pak Mahmud kena sejak mental hanya bisa mengangguk tak bisa omong apa-apa. Seharusnya pak Mahmud yang ucapkan salam ketika hendak pergi. Ini malahan Adeeva yang ucapkan. Bukankah ini sindiran halus.


Sepergi pak Mahmud, Adeeva meletakkan dokumen di meja mengedarkan mata ke sekeliling ruangan. Sekarang ruangan ini miliknya mutlak. Apa dia sanggup duduk di kursi panas yang membawahi ribuan karyawan. mungkin butuh waktu yang sangat lama untuk memahami struktur perusahaan yang menggurita beberapa bidang. Adeeva masih membutuhkan Ezra dan Ruben untuk membantunya.


"Sekarang apa yang harus kami lakukan Bu Adeeva?" tanya Ezra merendah seolah telah jatuh rantai tak punya hak di perusahaan.


"Ok...aku mulai dari kalian berdua. Ruben jadi tangan kanan aku sedangkan pak Ezra untuk sementara jadi asisten. Kumpulkan semua pegawai di lapangan parkir. Aku minta waktu setengah jam bikin peraturan baru." Adeeva berkata dengan pongah.


Ruben dan Ezra kaget mau apa Adeeva kumpulkan semua pegawai. Dalam sejarah Dilangit baru kali ini ada permintaan mendadak kumpulkan semua pegawai. Parahnya disuruh kumpul di lapangan parkir yang panas. Ini penyiksaan secara halus.


"Mau apa kamu?" tanya Ezra tak setuju Adeeva mulai berlaku konyol. Ini perusahaan besar bukan group TK lakukan upacara di siang bolong.


"Terserah aku dong! Aku mau umumkan bahwa aku pemegang kekuasaan tertinggi saat ini. Aku ratu tirani akan sapu bersih koruptor, nepotisme. Ayo kerjakan!" Adeeva berdiri tegak punya rencana nakal jemur para pegawai yang sok cantik. Dijemur satu jam apa masih tampak fresh? Keenakan berada di ruang AC maka harus tahu betapa panas dijemur di tempat terbuka. Ngerti pola hidup bawahan.


Ruben dan Ezra menghela nafas. Keduanya tak sangka Adeeva langsung turun tangan keji siksa mereka yang merugikan perusahaan. Tidak tanggung-tanggung semua disiksa agar berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.


"Oya... yang tidak hadir artinya minta resign sendiri. Aku tak peduli direktur ataupun manager. Bagiku sama semua. Ok?" Adeeva makin pongah dengan status barunya. Ezra kuatir dengan keangkuhan ini akan jatuhkan Adeeva sendiri. Di dalam perusahaan masih banyak pejabat senior bekerja sudah puluhan tahun.


"Poni...jangan berbuat semena-mena! Di sini ada orang tua. Mereka bekerja dari jaman papa."


"Pak Ezra orang keras tapi lembek terhadap karyawan maka banyak lubang kecil mengalirkan dana perusahaan. Pak Ezra tenang saja aku mempunyai batasan juga."


"Baik asal kamu jangan plonco orang tua!"


"Beres. Aku tunggu setengah jam semua sudah harus kumpul. Dan kuharap pak Ezra umumkan secara langsung siapa aku dan apa posisi aku agar Auman aku didengar seluruh karyawan. Dan aku bukan Poni lagi. Tapi macan cantik." Adeeva mengedipkan mata puas bikin satu kantor heboh.


Sesuai permintaan gila Adeeva seluruh karyawan disuruh berdiri di bawah terik matahari. Tak ada pengecualian, dari pejabat teras hingga ob disuruh kumpul untuk dengar pernyataan Ezra dan pidato bos baru. Adeeva akan gunakan kesempatan ini pecat pegawai yang sok penting. Adeeva dengar anak-anak pak Jul dan keluarganya berbuat sesuka hati di kantor. Mau datang pulang sesuka hati. Ini moments lakukan pembersihan memori usang di jajaran pegawai.


Walau bingung semua pegawai dengan berat hati berbaris di lapangan parkiran yang cukup luas. Belum ada yang tahu tampuk bos sudah diganti orang songong. Adeeva sedang bangun neraka bagi mereka yang merasa paling hebat di perusahaan.


Dari atas Adeeva tertawa sendiri melihat para karyawan cewek mulai gelisah. Panasnya matahari akan gosongkan kulit mereka. Salon atau spa auto banjir pengunjung dari kantor Dilangit. Rata-rata akan lakukan perawatan kulit untuk jaga kulit mereka.

__ADS_1


Ezra menggeleng lihat cara Adeeva hukum pegawai kantornya. Ada saja ulah Adeeva bikin orang sakit hati.


__ADS_2