
Adeeva manggut-manggut salut pada kejujuran kedua asistennya. Sudah jarang orang jujur di dunia ini. Yang ada main korup sampai kantong muntah.
"Begini. Uang itu kalian ambil masing lima belas juta. Sisa enam juta untuk uang makan selanjutnya. Tabung uang itu untuk hari depan. Tak mungkin selamanya kalian makan gaji di sini."
Tuti dan Kiano saling berpandangan takjub ada majikan sebaik ini. Bagi uang seperti bagi permen. Adeeva omong dengan santai seakan uang segitu tak ada harga.
Adeeva bukannya tidak suka bau duit. Justru gadis ini gila duit tapi itu duit dari orang paling tak disukai Adeeva maka Adeeva tak Sudi terima uang itu. Biarlah kedua asistennya nikmati uang itu.
"Nona serius?" tanya Kiano dengan nada bergetar. Uang segitu sangat besar nominalnya bagi orang kecil macam Kiano dan Tuti.
"Sejuta rius. Bagi yang adil. Jika perlu kirim sama orang tua."
"Iya nona.. aku sedang nabung mau nikah." jawab Kiano girang.
"Sudah ada calon?" tanya Adeeva menyipitkan mata indahnya.
Kiano meringis malu melirik Tuti yang buang muka. Adeeva segera paham Kiano sedang menyemai bibit cinta pada Tuti. Mungkin Tuti yang jual mahal belum terima cinta Wakno alias Kiano.
"Aku doakan semoga kamu dapat jodoh yang baik. Besok kalian cari sarapan untukku setelahnya aku balik ke kota B. Senin aku sudah balik kerja. Jadi tak perlu repot siapkan makanan siang."
"Cepat amat! Gimana kalau tuan marah?" tanya Tuti.
"Emang ada yang pernah tanya aku?"
"Ada...nyonya besar dan Nyonya Renata! Nyonya Renata itu isteri tuan yang pertama. Kami bilang saja nona belum dapat cuti." sahut Tuti prihatin.
"Terserah mereka saja! Jam berapa pertemuan di mulai?"
"Siap sholat Isya...nona masih ada waktu istirahat sebentar. Mungkin ingin tidur atau mandi?"
"Aku mau tidur bentar. Nanti bangunkan aku untuk sholat magrib."
"Baik...nona mau makan ikan bakar? Kami ada beli ikan untuk kami bakar nanti malam. Kita pesta kebun bertiga."
"Mau dong! Siap sidang aku akan gabung." ujar Adeeva seraya angkat kaki dari ruang tamu yang seupil. Dua tiga langkah dia sudah berada dalam kamar. Kamar agak lembab karena tak ada yang tempati. Jendela selalu tertutup membuat udara di dalam tak bisa bertukar.
Adeeva fungsikan AC agar kamar lebih segar dikit. Soal kebersihan tak usah diragukan. Tak ada debu maupun sarang laba-laba seperti rumah kosong lain.
Tanpa ragu Adeeva rebahkan tubuh di atas kasur untuk segarkan badan sebelum pergi perang lawan kakek bangkotan. Ntah cacian berapa goni bakal dilempar ke arahnya. Adeeva sudah persiapkan mental hadapi kemungkinan terburuk sekalipun. Memang itu harapan Adeeva bebas dari jajahan orang tak dikenal.
Rasanya baru sekejap Adeeva manjakan mata terdengar panggilan Tuti dari luar kamar. Suara itu pelan namun cukup membangunkan Adeeva dari tidurnya.
Tanpa buang waktu Adeeva segera bangkit membuka pintu untuk Tuti. Asisten itu hanya melaksanakan perintah sesuai keinginan Adeeva. Bangunkan Adeeva untuk sholat magrib.
Tuti berada di luar kamar mengumbar senyum pada Adeeva. Pelayan itu dengan senang hati melayani majikan maha pemurah macam Adeeva. Tidak sombong juga tidak pelit.
"Mau magrib non!"
"Iya..aku mau mandi dulu!"
"Sudah kusiapkan air hangat. Mandi air hangat bisa menyegarkan badan setelah capek lakukan jalan jauh. Mari!"
Adeeva memutar tubuh ke dalam ambil handuk dan pakaian. Adeeva ambil kaos oblong dan celana ketat agar nanti tidak ribet kenakan busana muslim. Tinggal masukkan busana ke atas pakaian yang sudah ada. Pakai hijab dan niqab jadilah Adeeva jadul isteri kakek jompo.
Tuti dan Kiano kagum pada bentuk tubuh majikan mereka yang mirip gitar spanyol. Indah menggoda iman. Siapapun akan kagum pada kecantikan Adeeva tanpa rekayasa bahan kimia.
"Ya ampun nona! Kenapa nona sembunyikan kecantikan nona. Para nyonya pasti iri kalau lihat wajah nona." puji Tuti tak luput dari rasa iri kepada Adeeva. Wanita manapun bakal iri maha karya Tuhan yang artistik.
"Cantik? Bos aku bilang aku gadis jelek. Tidak laku..."
"Mata bos nona rabun siang malam. Nggak usah didengar. Bagiku nona adalah wanita tercantik di alam ini."
Adeeva mencolek pipi Tuti karena pujiannya berlebihan. Mana ada wanita secantik itu. Miss universe saja ada cacatnya. Tak ada yang benaran sempurna.
"Kiano mana?" Adeeva mencari lajang lugu yang selalu pasang wajah canggung.
__ADS_1
"Lagi persiapkan pesta kita nanti malam. Semoga tidak hujan ya!"
"Tenang..Tuhan sayang pada kita takkan kecewakan orang yang berniat tulus. Aku di kamar bersiap ke sidang matikan."
Tuti mana ngerti ocehan Adeeva. Tuti dan Kiano tidak tahu sebentar lagi majikan mereka akan diadili atas kesalahan cukup fatal. Memang itu harapan Adeeva bebas dari tekanan kakek tua.
Sebelumnya Adeeva kabari Nunik kalau dia sudah balik ke kota J. Adeeva lupa kabari sahabat seperjuangan di kota B. Nunik pasti sibuk cari dia kabur tanpa pesan. Adeeva lupa saking semangat bebas dari pernikahan aneh. Punya suami seraya gadis merdeka. Saatnya meraih kemerdekaan seutuhnya.
Ponsel Adeeva memanggil nama Nunik. Tidak lama sudah tersambung.
"Halo assalamualaikum BESTie.."
"Waalaikumsalam...lhu di mana?" terdengar sahutan kuyu dari seberang.
"Kok mewek? Habis nangis ya?"
"Nggak cuma sedih..."
"Sedih Napa sayang?"
"Gue disuruh pulang. Kalau gue tak mau pulang mau dicoret dari KK. Lhu mau tampung gue? Nikahi aku kek biar ada keluarga!"
"Sekarang lhu di mana?"
"Masih di kontrakan. Besok dijemput abang gue! Lhu sedih nggak ditinggal sendirian?"
"Nangis darah .. gue sudah di kota J! Lagi tunggu talak sejuta. Setelah bebas merdeka gue nikahi lhu! Kita kawin lari ya!" usul Adeeva bikin Nunik tertawa pahit.
Mereka berdua sama-sama apes meratapi keadaan yang tak berpihak pada mereka. Orang tua otoriter tak ijinkan anak salurkan hobi dan satunya terjebak dalam dunia penuh ilusi menyesatkan.
"Besok kita ketemu ya! Abangku itu polisi...orangnya ganteng! Mungkin cocok untukmu!"
"Belum kelar satu lhu sodori yang lain. Bisa semaput aku ditimpa asmara. Kau kan tahu gue pingin lanjut kuliah. Harus usaha sendiri baru bisa kuliah lagi."
"Abangku itu ganteng. Dari dulu kenalin ke kamu tapi nggak mau. Kujamin lhu bakal jauh cinta!"
"Hehehe...belum ketemu sih! Coba kalau ketemu dewa cinta! Pasti lhu sogok minta porsi gede!"
"Itu elu...gue sih nggak bakal ngemis pada dewa cinta diberi sebakul cinta! Cinta aku masih dijemur, belum kering."
"Nggak sombong sis! Cinta itu misterius. Datang dan pergi tak ada yang bisa cegah."
"Sok pinter...besok lhu hubungi gue ya kalau sudah di sini! Kita meratapi nasib bersama. Sekalian lhu cek juragan sapi calon elu itu. Produk jaman perang dunia ke berapa? Semoga bukan dari perang dunia pertama. Tinggal kerangka."
"Buset...arwah dong! Punya lhu produk kapan? Sudah jumpa?"
"Belom...kayaknya produk tahun 45! Semangatnya patut dapat acung jempol. Uzur tapi tetap semangat koleksi selir. Gue bayangin pakai tongkat dengan langkah bertatih-tatih kelilingi para selir. Punya bini hanya jadi pajangan bukan dielus."
"Nafsu besar tenaga loyo."
Adeeva terpingkal-pingkal diolok Nunik. Senang banget ngobrol dengan Nunik. Ada hiburan di saat tegang. Ketegangan Adeeva sedikit berkurang setelah tahu teman seperjuangan juga ketimpa masalah. Dijemput abang berarti harus siap terima nasib dilamar seperti dirinya.
"Eh..kalau lhu dilamar juragan sapi apa yang akan lhu lakukan?"
"Gue ancam bunuh diri."
"Caranya? Gantung diri di batang toge atau batang bunga kaktus?"
"Isshhh...kapan matinya? Gue akan makan es krim satu ember. Kali aja es krim strawberry. Pasti lezat.."
"Mati kagak pilek lhu!"
"Biarin...bokap gue itu temannya Datuk Maringi! Anak kok dipaksa nikah sama orang asing. Alasan jaga tali silaturahmi. Beli tambang saja biar nggak putus. Pokoknya gue takkan menyerah seperti lhu! Gue akan berjuang melawan kezoliman orang tua masa kini. Kita tak boleh dijajah adat lama."
"Lhu benar! Tapi ntar mereka pake sandiwara jantungan, pingsan. Habis lhu! Pasti menyerah kayak gue."
__ADS_1
"Ala trik lama tak bisa digunakan pada gue. Bokap gue itu keturunan badak! Tubuhnya kuat seperti nenek moyangnya."
"Pantas anaknya juga mirip badak. Bebal .."
"Sialan lhu! Gue doain suamimu nggak bakal ceraikan lhu! Malam ini dia tuntut malam pengantin!"
"Woi...doa yang manis dikit! Doa kok jelek amat! Amit-amit."
"Doa teman baik pasti dikabulkan!"
"Sinting...lhu di bayar berapa sama suami gue?"
"Dibayar satu mobil Ferrari produk kekinian. Rodanya tiga bisa dipakai angkut sayuran ke pekan."
"Hmmm pengkhianat... juragan sapi sudah menanti! Bulan madu di kandang sapi ya!"
"Bau dong! Kali aja ketiaknya juga bau sapi. Gue auto semaput."
Adeeva kembali tertawa. Bercanda dengan Nunik bisa usir kegalauan di hati. Jujur Adeeva makin tegang hadapi detik-detik jumpa suami dengan lima selirnya. Kali ini Adeeva harus tegar tidak goyah walau dicerca.
"Ok deh! Gue off dulu! Besok lhu hubungi gue ya! Kita jumpa sebelum gue balik ke kota B."
"Siippp... hati-hati lhu! Semoga lhu dapat kebebasan yang lhu idamkan!"
"Amin... Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam.."
Adeeva meletakkan ponsel di atas tempat tidur merenungi nasib Nunik. Posisi Nunik nyaris mirip dengannya. Cuma untungnya Nunik belum dinikahi juragan sapi seperti cerita Nunik. Masih ada jalan mundur.
Adzan Isya berkumandang dari jauh. Suaranya hanya terdengar samar-samar seperti mesjid jauh dari istana Dilangit ini. Adeeva ringankan langkah ambil air wudhu menunaikan sholat terakhir hari ini. Adeeva memohon diberi jalan terang selesaikan masalahnya yang bak benang kusut. Bergulung tak tahu mana ujung pangkal lagi.
Usai sholat Adeeva segera berdandan ala gadis Arab. Tertutup semua tanpa kecuali. Kali ini Adeeva sudah siapkan kacamata model jadul tapi bisa lihat dengan jelas. Tragedi kacamata Oma Uyut tak perlu terjadi lagi. Kali ini Adeeva harus lihat jelas tampang laki yang punya setengah lusin isteri.
Tuti dan Kiano tak habis pikir mengapa Adeeva demikian koplak sembunyikan tampang yang sangat menarik. Apa tujuan Adeeva hindari perhatian orang satu istana.
Adeeva bersiap menuju ke rumah induk tempat tinggal ibu suri kerajaan Dilangit. Mental Adeeva harus dipertebal agar tak roboh kena sapuan badai amarah suaminya. Adeeva harus siap hadapi apapun.
Adeeva ajak Tuti untuk ke rumah besar untuk berperang merebut masa depan gemilang. Tuti wajib dampingi majikan selama dibutuhkan. Adeeva butuh dukungan Tuti karena tak mengenal satupun orang di situ. Tuti bisa jadi guide Adeeva selama berada di tempat asing tersebut.
Mereka berdua menyelusuri jalan setapak menuju ke rumah induk. Adeeva bergerak lamban akibat dari pakaian yang batasi gerak geriknya. Adeeva biasa bebas dengan pakaian santai kini harus terbalut dalam busana muslim.
Keduanya tiba di rumah dicat warna gold. Rumah paling besar di antar delapan rumah. Selain besar juga tampakkan kemewahan luar biasa. Bisa dibilang yang empunya rumah tajirnya minta ampun. Berapa karung duit ditumpahkan untuk bangun rumah itu hanya pemilik ngerti.
"Kita masuk nona!" Tuti menghalau keraguan Adeeva.
Adeeva manggut seret langkah masuk yang pintunya memang terbuka lebar untuk terima tamu-tamu orang dekat. Nuansa gold masih dominasi seluruh ruangan rumah itu. Adeeva tak habis kagum pada selera pemilik rumah. Setiap sudut rumah diisi dengan barang yang harganya tak dapat Adeeva bayangkan.
Betapa kaya suaminya. Pantas para selir rela antri jadi isteri Dilangit. Siapa tak mau hidup berbantal duit. Sayang Adeeva tidak tertarik. Ini hidup menyesatkan. Terkurung dalam dunia ilusi, bukan kehidupan yang sesungguhnya.
Tuti membawa Adeeva lewati lorong panjang baru tiba di satu ruang besar sudah ada beberapa orang. Meja makan sepanjang empat meter berada di tengah ruang. Di atasnya sudah penuh menu-menu kalangan atas.
Kehadiran Adeeva menarik perhatian orang dalam ruang. Semua mata tertuju pada Adeeva yang baru datang. Ada yang beri reaksi sinis, ada yang cuek, ada yang dingin. Adeeva merasa punggungnya dingin jadi bahan incaran mata.
"Akhirnya kau datang Eva.. Ayok duduk!" kata seorang perempuan paro baya anggun.
"Terima kasih.." jawab Adeeva lembut.
"Selama ini kau di mana? Kenapa tak pernah pulang sini? Lupa sudah menikah ya? Hambur uang di luar tanpa ingat tanggung jawab sebagai isteri orang." salah satu isteri Dilangit berkata sinis pada Adeeva.
Adeeva mengepal tinju menahan diri tidak terpancing ocehan orang tak paham situasi.
"Maaf ya! Aku pergi bekerja untuk hidupi diri sendiri. Aku tak mengandalkan uang dari Dilangit satu senpun. Jadi tak ada hak nyonya kritik aku!" ucap Adeeva tetap pelan walau terdengar menohok.
"Yakin tak gunakan kartu kredit dari Mas Hakim?"
__ADS_1
"Alhamdulillah aku masih mampu biayai hidup sendiri. Aku tak pernah sentuh kartu dari pak Hakim. Kartu itu kutinggalkan di sini. Silahkan tanya pada suami anda apa aku pernah ambil uang dari kartunya."