
Adeeva makin ingin cepat tinggalkan Ezra setelah dengar pendapat Don tentang selir Ezra. Wanita boleh bangga jadi simpanan Ezra tapi mereka tetap satu titik noda yang hiasi pakaian Ezra.
"Kau tak usah pikir selir-selir Ezra. Lakukan tugasmu kawal Ezra dengan baik. Setelah sembuh dia akan berterima kasih padamu."
Adeeva tertawa sinis mendengar kata terima kasih dari Ezra. Tidak menyusahkan dia saja Adeeva sudah bersyukur sujud pada Tuhan. Untuk apa kata terima kasih.
"Om tak usah kuatir. Aku janji akan rawat pak Ezra sebaiknya. Aku juga tak bisa lepas dari rasa bersalah telah menyebabkan ikan paus buta."
"Ok...aku pesan sarapan dulu! Kau mau makan apa?"
"Aku sih semua masuk asal jangan batu!" gurau Adeeva melucu untuk usir rasa canggung. Adeeva tak enak hati pada Don karena semalam sempat salah sangka pada Don. Adeeva mengira Don termasuk cowok pencinta dunia malam. Adeeva kurang respek pada orang yang keluyuran cari hiburan di saat waktu istirahat.
Don mengeluarkan ponsel memesan sarapan pagi untuk mereka. Adeeva gunakan kesempatan ini melihat kondisi Ezra. Semoga saja Ezra cepat sembuh. Dari sini Adeeva akan cari keuntungan dari kebutaan Ezra. Sudah terpikir oleh anak ini untuk kelabui Ezra tanda tangani surat cerai. Adeeva akan gunakan trik bodohi Ezra agar terbebas dari sangkar emas Ezra.
Adeeva membuka pintu kamar Ezra menyaksikan laki itu masih tertidur pulas. Tak banyak perubahan di raut wajah laki itu selain ada perban di pelipis. Satu hal yang tak dapat Adeeva pungkiri kalau Ezra memang ganteng. Dalam tidurpun dia tampak menarik.
Sayang ganteng hidung belang. Itu sudah mengurangi nilai akhlak Ezra.
Adeeva keluar dari kamar Ezra setelah yakin laki itu dalam kondisi fit. Adeeva tak tahu berapa banyak kisah akan seliweran dalam kebersamaan mereka mulai saat ini. Adeeva bertanggung jawab merawat Ezra sampai sembuh.
"Masih tidur?" tegur Don
"Iya masih tidur! Antara kami siapa yang apes? Sumpah aku makin sial sejak jumpa pak Ezra. Hidupku yang damai seakan meninggalkan aku! Tak ada lagi canda riang. Semua jadi kelabu." Adeeva mengomel sekalian mengadu nasib sialnya.
Adeeva menarik kursi meja makan lalu duduk bertopang dagu di atas meja. Wajah gadis ini muram durja tanda tak bahagia.
"Kenapa tak suka Ezra? Di luar sana antrian cewek mau jadi bagian Ezra. Kau malah menjauh."
"Bukan menjauh om tapi kami memang tidak cocok dalam segala hal. Maunya aku cari tukang ramal gimana masa depanku? Karam bersama ikan paus atau berlayar jauhi ikan berbahaya ini."
Don tertawa merasa Adeeva gadis lucu. Mungkin ini salah satu penyebab Ezra pertahankan Poni ini. Hidup Ezra yang selalu diwarnai ketegangan mungkin inilah penawar kesusahan di hati Ezra. Bersama Adeeva pelangi melengkung di atas kepala. Don saja bahagia bersama Adeeva.
"Semua akan indah pada waktunya. Kau laksanakan saja tugasmu sampai Ezra hidup tenteram. Otomatis dia akan bebaskan kamu."
"Yang bener om?"
"Nona...aku ini umurnya masih tiga puluhan kok dipanggil om. Panggil AA atau mas lebih akrab Abang. Ini aku protes! Sekali kau panggil om ubanku tumbuh satu. Seribu kali kau panggil putih semua rambut aku!"
Kali ini Adeeva yang tertawa. Adeeva merasa cocok dengan Don yang juga lucu. Tidak tegang kayak beton paku bumi.
"Om berasal dari mana?"
"Sumatera Barat tepatnya Bukittinggi."
"Ooo...Uda toh!" Adeeva cepat tanggap panggilan tempat asal Don.
Don puji kepintaran Adeeva. Dibilang kota asal dia bisa langsung adaptasi panggilan yang nyaris menghilang dari kuping Don.
"Kau pintar..."
"Pintar dong! Kan diumpan nasi sama Abah. Ok...mulai saat ini secara resmi kucabut panggilan om!"
"Terima kasih nona Poni. Oya.. apa benar namamu Poni Liaran? Kok nama aneh berkesan kamu ini kuda kecil liar."
__ADS_1
"Uda percaya ini namaku? Di dunia hanya ada satu orang kurang kerjaan selalu sok tua wakili orang tua aku ganti nama anaknya. Terserah deh dia ngasih nama apa! Orang stress kita ladeni. Eh kok lama amat pesanan makannya? Perutku nelangsa nih!"
"Sabar non!"
"Aku sih orangnya sabar tapi perutku itu terlahir jadi pemberontak!"
"Ada gitu juga ya!"
Baru saja Don selesai bicara dari kamar terdengar seruan kasar dari seorang lelaki. Don dan Adeeva saling berpandangan menduga Ezra sudah bangun. Kisah penuh tragedi akan segera dimulai. Adeeva sudah bayangkan derita panjang layani ikan paus tak punya mata. Kalau bukan terdorong oleh nilai kemanusiaan Adeeva ogah layani bos sombong macam Ezra.
"Bos lhu sudah bangun!" bisik Don mengulum senyum.
"Menggigit tidak ya? Takutnya ada rabies pula."
Don ngakak dalam hati. Seorang Ezra tak ubah seperti badut di tangan Adeeva. Di mana harga orang tajir ini? Mungkin hanya Adeeva perlakukan Ezra seperti barang tak berguna. Malang benar nasib orang kaya itu.
"Pergilah urus dia! Jangan main bentak ya! Orang gitu agak sensi."
"Ok... bismillah..."
Adeeva tinggalkan Don duduk sendirian di ruang makan. dia sendiri melangkah ke arah kamar Ezra untuk melihat kondisi lelaki itu. Ada rasa iba terbit di hati Adeeva. Buta secara tiba-tiba bukanlah hal biasa. Apalagi yang mengalami adalah seorang CEO kaya raya. bagaimana lah nasib Ezra bila kebutaannya berlanjut hingga selamanya.
"Selamat pagi pak!" sapa Adeeva berusaha menekan perasaan. Sejujurnya Adeeva sedih juga melihat Ezra terduduk di atas tempat tidur tanpa daya.
"Kau...kau Poni?" Ezra memulai akting perdana kelabui Adeeva. Ezra harus berperan dengan baik karena tahu Adeeva itu sangat jeli. Setiap huruf di layar monitor yang jauh lebih kecil tak luput dari pantauan.
"Iya...bapak mau sarapan?"
"Aku mau ke kamar mandi dulu! Badanku terasa lengket-lengket." Ezra berusaha turun dari tempat tidur mencari sandal rumah gunakan kaki.
Ezra mengulurkan tangan mencari jalan menuju ke kamar mandi dalam kamar. Dia tidak buka mulut minta bantuan Adeeva menuju ke tempat bersihkan diri. Ezra sengaja buat gitu agar jangan dipikir doa sengaja jebak gadis ini masuk perangkap. Ceritanya Ezra mau mandiri gitu.
Adeeva meraih tangan Ezra tanpa minta persetujuan laki itu. Dengan telaten dia bimbing Ezra masuk ke kamar mandi.
Sumpah mati Adeeva malu bukan main berduaan dengan Ezra dalam ruang kecil. Ruang identik dengan bahasa tubuh polos pula. Kalau mandi otomatis Ezra akan lepaskan semua pakaian. Apa tidak malu lihat tubuh lelaki dewasa tanpa busana. Adeeva pernah lihat tapi tetap malu.
"Bapak silahkan bersihkan diri! Aku tunggu di luar." Adeeva tinggalkan Ezra sendirian dalam kamar mandi. Gadis ini ambil inisiatif pilih pakaian untuk bosnya. Adeeva tak tahu bagaimana selera bosnya kalau di rumah. Tetap berpakaian ala CEO atau pakaian casual santai.
Adeeva tak punya waktu untuk berpikir lebih lama. Bosnya sudah buta, pakai apa saja dia tak tahu. Asal tak perlihatkan aurat sudah selesai. Di tambah pulau tengah di tubuh sedang keroncongan mendendangkan irama lagu keroncong menyayat hati. Judulnya Lapar.
Adeeva tersentak kaget karena ada suara gedebuk di dalam kamar mandi. Tanpa pikir dua kali gadis ini segera berlari melihat keadaan.
Mata Adeeva betul-betul dibuat pedih oleh pemandangan mengerikan. Bosnya terjatuh di lantai dengan posisi terduduk. Lebih mengerikan bosnya dalam kondisi mirip bayi baru lahir dari rahim seorang ibu. Telanjang bulat.
Antara kasihan dan malu gadis ini mengambil handuk lalu tutupi daerah panas untuk tontonan 21+. Setelahnya Adeeva memapah bosnya untuk berdiri.
"Ada yang sakit?" tanya Adeeva lembut tanpa amarah. Gadis ini berusaha maklumi keadaan bos yang buta. Jatuh untuk pertama kali setelah buta itu wajar. Masih banyak rintangan menghadang bosnya di depan mata.
"Tak apa...aku harus biasa dengan kondisi begini! Aku mau mandi! Tolong hidupkan air hangat?" pinta Ezra meraba-raba cari di mana tempat shower mandi.
Adeeva menarik nafas kesal. Matanya makin berdosa asyik nonton pemandangan tak pantas. Untunglah Ezra sudah ada status resmi dengannya. Kalau tidak satu karung dosa langsung dijatuhkan ke kepala Adeeva.
Adeeva setel shower agar bisa dinikmati kulit Ezra. Kalau Adeeva nakal setel suhu paling panas biar kulit Ezra melepuh. Rasakan akibat mesum. Cuma Adeeva belum terpikir berbuat jahat pada orang buta.
__ADS_1
Adeeva menuntun Ezra dekat ke pancuran shower. Ezra tersenyum licik menikmati derita Adeeva. Laki ini tahu gadis pasti tersiksa disuruh urus laki besar. Kalau bukan pura-pura buta sejuta persen Adeeva takkan open padanya. Kecelakaan ini bawa berkah bagi Ezra. Bisa menangkap bayinya kembali.
"Bapak mandi ya! Aku di luar. Kalau sudah siap panggil aku! Jangan lupa tutupi daerah terlarang!"
"Gimana aku mandi?"
"Mandi gunakan sabun lalu gosok pakai tangan baru siram air."
"Tapi aku buta..."
"Yang buta mata bukan tangan dan kaki. Sudah buta masih cabul. Awas..kukirim ke laut lepas biar kumpul sama paus betina yang histeris. Ada lima ekor lagi!" ancam Adeeva terpancing sedikit naik darah.
Ezra mau ketawa takut ketahuan sedang berakting. Ezra tak mau keterlaluan paksa Adeeva cepat masuk dalam perangkap. Ezra harus main cantik agar tidak ketahuan. Nyawanya bisa melayang bila Adeeva tahu dia sedang dipermainkan.
Adeeva keluar dari kamar Ezra sambil bersungut-sungut sendiri. Wajah cantik itu kuyu membayangkan hari penuh derita bersama Ezra. Tiap hari hari melototi tubuh telanjang Ezra. Lama-lama Adeeva akan hafal berapa ruas lekuk di tubuh laki itu.
Don sedang menyiapkan sarapan di meja untuk mereka bertiga. Don sudah sering datang ke tempat Ezra tentu hafal di mana peralatan makan. Mungkin Adeeva yang harus pelajari keadaan rumah Ezra. Gadis ini belum lama datang ke tempat Ezra. Belum kenal di mana peralatan dapur disusun.
"Ada apa Poni?"
"Ikan paus jatuh...Untung tidak innalillahi.."
Don tertawa pahit bayangkan betapa konyol Ezra berakting. Demi mencuri perhatian Adeeva, rasa gengsi setinggi Mahameru diabaikan. Don jadi penasaran ingin kenal Adeeva lebih jauh.
"Aku lapar banget! Kurasa cacing di perutku sudah pingsan semua akibat kelaparan." Adeeva coba buang bayangan Ezra dalam kondisi tanpa busana. Ingatan Adeeva asyik berputar klise laki itu. Bukan hanya ada rasa malu tapi juga rasa jengkel dihadapkan laki dewasa.
"Kau makan dulu! Aku akan makan bersama Ezra. Hari ini dia pasti akan istirahat di rumah jadi kusarankan kau bersiap cari menu makan siang. Mau order di mana?"
"Ngapain order? Aku bisa masak!" kata Adeeva segera menyantap mie pangsit orderan Don. Lumayan enak untuk ganjal perut yang sedang merana.
"Kau bisa masak?" Don tak percaya Adeeva ngerti bumbu dapur. Dari profil gadis ini jauh dari sosok calon ibu rumah tangga yang baik. Rebus air saja mungkin bisa kering.
"Bisa tapi bukan ahli. Aku pernah masak untuk paus. Dia suka kok! Nanti aku pergi belanja di supermarket terdekat. Tapi aku tak mau korbankan uang aku! Aku bukan orang kaya berjiwa sosial. Uang belanja harus di bayar ikan paus."
"Kau bisa minta lebih dari Ezra. Aku rasa dia tak keberatan beri kamu uang. Dia itu royal pada cewek."
"Dia tidak keberatan ngasih duit tapi aku keberatan terima duit yang bukan hak aku! Aku bekerja bukan jual diri." ketus Adeeva tak suka disamakan dengan ulat bulu piaraan Ezra. Mereka jual kebebasan demi hidup mewah. Sedikit pun Adeeva tidak tertarik jual kebebasan hanya karena materi.
"Salut... pertahankan tekad gigih ini! Makan yang banyak biar punya energi rawat paus tua."
"Tenang... tenang.. kalau sudah tak sanggup aku akan lempar ke istananya. Di sana banyak perawat gratis kok! Mereka akan layani tuan kaya kita dengan senang hati." ujar Adeeva seraya pindahkan mie dari mangkok ke mulut cantiknya. Satu persatu tepung terigu berbentuk panjang amblas menghangatkan Adeeva.
"Ade..." panggil Ezra dari balik pintu kamar. Adeeva hentikan gerakan sumpit melirik ke pintu kamar Ezra. Mau apa lagi ikan besar itu. Apa belum puas menyusahkan Adeeva.
Don sedikit terhenyak mendengar panggilan Ezra pada Adeeva. Sudah dia duga nama Poni hanyalah karangan Ezra. Lucunya Adeeva tidak open dipanggil dengan nama sejelek itu.
Adeeva segera bangkit masuk ke kamar Ezra. Sebelum masuk Adeeva menarik nafas dalam-dalam agar tidak kesal disuruh-suruh Ezra. Kalau Ezra dalam kondisi fit sudah jamin Ezra akan duel hidup mati dengan ikan itu.
Ezra sudah berpakaian rapi dengan baju pilihan Adeeva. Satu keajaiban laki itu bisa selesaikan tugas melayani diri sendiri. Ezra duduk dipinggir ranjang menanti Adeeva membawanya keluar dari kamar. Kalau dia keluar sendiri pasti akan cepat terbongkar sandiwaranya.
"Bapak mau keluar?" tanya Adeeva halus tak mencerminkan Adeeva yang biasa kasar.
"Aku lapar."
__ADS_1
"Oh...mari!" Adeeva maju dekat Ezra membantu laki itu berjalan keluar. Tingkah Adeeva jauh beda dari biasanya. Tak ada bentakan kasar dan judes dari bibir itu. Tapi ntah kenapa Ezra tak suka Adeeva berubah. Lebih lucu Adeeva yang temperamental.