
Kalau saja mereka tahu siapa Ezra rasa itu akan berlipat ganda. Sudah ganteng dan kaya lagi cuma sayang ada penyakit cabulnya.
"Aku maulah jadi nona itu!" keluh salah perawat sambil dekap dada. Jelas sekali dia memuja Ezra. Dalam keadaan kurang sehat saja laki itu masih mampu menarik perhatian lawan jenis. Gimana dalam keseharian Ezra.
"Woi...bininya itu muda dan cantik. Kita kalah jauh. Kita bikin data orang yang kena kanker itu. Kata dokter harus ditangani lebih intensif. Dokter akan kabari keluarganya. Heran sudah segawat ini baru terdeteksi." kawannya menyenggol temannya yang sedang berkhayal mendapatkan Ezra.
"Sakit kepala dianggap migrain beginilah jadinya! Aku akan rekap diagnosa dokter. Kau urus dulu prosedur perawatan."
Keduanya berbincang soal pasien yang terkena kanker. Yang dimaksud tentu bukan Ezra melainkan pasien lain. Namun Adeeva telah salah terima informasi pikir Ezra yang kena kanker. Salah paham kelas berat. Ntah bagaimana kelanjutan dugaan ini.
Ezra sudah selesaikan semua administrasi tinggal rebus obat di apotik. Ezra takkan ijinkan Adeeva tebus obat ini takut anak itu tak bisa terima mengandung janin Ezra.
Persoalan antara mereka belum kelar tuntas maka Ezra pilih diam dulu sampai Adeeva bisa maafkan dia secara tulus.
Bang Juan antar pasangan ini sampai ke apartemen di mana mereka jemput Ezra dan Adeeva. Ketiganya langsung pamitan dengan sejuta harapan. Adeeva sudah janjikan pekerjaan untuk para atlet taekwondo yang nganggur. Ini sangat melegakan Bang Juan. Klub tidak terbebani oleh para pengangguran.
"Aku akan hubungi kalian begitu sampai di kota. Pokoknya kalian siap saja begitu aku telepon." janji Adeeva sebelum berpisah.
Janji Adeeva adalah harapan bagi pemuda tersebut. Jalan terang sudah menanti mereka untuk mendapat penghasilan lebih baik. Ada seberkas cahaya harapan menyelinap di hati mereka.
Ezra dan Adeeva masuk ke dalam saling menyimpan rahasia. Ezra menyimpan kehamilan Adeeva sedangkan Adeeva menyimpan rahasia Ezra kena kanker otak. Padahal itu cuma ilusi Adeeva. Anak ini salah terima informasi. Informasi belum matang ditelan langsung. Apa tidak keracunan?
"Pak...apa tidak lebih baik istirahat di kamar?" tanya Adeeva kuatir kanker Ezra makin parah.
"Kamu yang istirahat. Mari kuantar ke kamar! Aku kuatir setengah mati kau pingsan. Kau tiduran saja. Aku pergi beli obat dulu." Ezra hendak meraih kunci mobil di atas meja bufet. Tujuannya tentu ingin beli obat penguat janin dan obat demam dia.
"Aku saja...bapak tiduran! Takut demamnya betah tak mau pergi." gurau Adeeva berniat rebut kunci mobil Ezra.
"Aku sudah sehat. Sudah kubilang aku hanya kelelahan. Jadilah anak manis kali ini saja!" Ezra menarik bibir senyum manis. Adeeva kok merasa tidak ada manisnya. Senyum Ezra seperti seringai monster paling jelek.
"Tidak...bapak masih kurang sehat! Aku saja! Oya...malam ini aku ada janji dengan kang Imron dan Desi untuk makan malam. Bapak ikut?"
Ezra menoleh kaget Adeeva sempatnya janjian dengan pegawainya makan malam. Jika perlu Adeeva tak boleh bergerak biar bayinya cepat gede tidak terusik oleh mami reseh.
"Makan di mana?"
"Bagusnya di mana ya? Aku belum tentukan tempat tapi mereka minta jangan warteg. Soalnya mereka tahu jelas aku!" Adeeva meringis buka borok sendiri pasaran warteg. Dari dulu Adeeva memang langganan warteg dekat kontrakan. Pagi siang malam makan di situ.
"Aku ikut..biar aku yang urus tempatnya! Sekarang kau istirahat. Aku keluar sebentar. Suamimu ini kuat, demam kecil tak bisa bunuh aku!" Ezra melangkah pergi tanpa minta pendapat Adeeva lagi. Berdebat terus takkan kelar. Yang penting Adeeva tak boleh banyak pikir. Istirahat total.
Sepeninggalan Ezra keheningan menyeruak. Adeeva tak kosongkan waktu dengan hanya melamun. Dia harus hubungi Ruben yang belum beri kabar soal perangkat di gudang.
Anak itu agak lemot mengurus tuntutan kerja. Tak bisa gesit jawab tantangan global.
"Assalamualaikum.. gimana? Sudah ada kabar?" Adeeva langsing ke topik begitu terhubung dengan Ruben.
"Waalaikumsalam..."
"Makan gaji buta?"
"Yaelah nih bos! Sabar kenapa? Sudah aku ceking ternyata dari Korea. Ika anak pak Jul yang impor. Barang ini sudah setahun di gudang karena banyak konsumen retur akibat tak berfungsi baik."
"Lalu? Semua bungkam?"
"Aku ada tanya Ika dia cuma bilang kesalahan produsen!"
"Ok...kita ajukan komplain dan tempuh jalur hukum! Coba kamu lihat perjanjian pembelian. Barang baru atau recycle. Oya...pak Ezra mendadak demam tinggi! Tapi sekarang sudah aman. Besok kami balik."
"Kok bisa? Ikan paus bisa juga sakit?"
"Ikan juga makhluk hidup. Ada uzur nya. Tuanmu itu sudah menua. Siap-siap bikin akuarium besar rendam dia dengan formalin biar awet selamanya."
"Bukan awet malah tewas. Eh Poni... kau harus bijak tangani masalah ini! Jangan anggap remeh kelompok pak Jul. Mereka sudah mengakar di perusahaan. Rata-rata orang mereka."
"Aku tahu...aku sedang evaluasi perpindahan pak Jul paling pertama."
__ADS_1
"Sadis...pokoknya diskusi dulu dengan ikan paus sebelum bergerak. Dia lebih pengalaman."
"Kau mau jadi wakil aku?"
"Sogokan atau tawaran tulus?"
"Aku bos ngapain sogok kamu? Kamu yang harus sogok aku biar cepat naik pangkat."
"Kau benar...sekarang kamu kan bos besar! Nanti saja candanya. Kita jumpa besok. Aku sedang kumpulkan semua data impor perangkat bermasalah ini. Besok akan kuserahkan padamu!"
"Ok... hati-hati terhadap lawan! Aku dan Ezra mengandalkan kamu."
"Tentu...kalian juga jaga diri!"
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam..."
Adeeva mengusap wajah dengan kedua belah tangan capek ingat betapa banyak masalah di perusahaan. Masalah korupsi belum selesai kini muncul pula kendala lain. Adeeva harus cari jalan selesaikan masalah virus di perangkat.
Di tempat lain Ezra mencari apotik beli obat Adeeva. Ezra harus pintar cari solusi agar Adeeva tidak curiga dia sedang konsumsi vitamin penguat janin juga vitamin lain agar bumil tetap sehat.
Ezra tak lupa hubungi Ruben hendak minta tolong agar besok jemput mereka. Adeeva tak mungkin bawa mobil dalam jarak cukup jauh. Ini akan bahayakan kondisi janin.
Ezra sudah menanti penerus cukup lama. Kini sudah hadir haruslah dijaga dengan sempurna.
"Halo...kau di mana?"
"Masih di kantor... istrimu baru saja telepon minta info soal perangkat. Katanya kau demam. Apa iya?"
"Iya...sekarang sudah sehat! Besok kau jemput kami dengan pesawat."
"Kurasa pakai mobil saja! Nyonya kamu itu pelitnya minta ampun. Buang duit katanya."
"Kau dengar dia atau aku?" bentak Ezra hilang kesabaran.
"Pingin punya bini orang berkulit hitam? Besok kau akan kupindahkan ke Papua."
"Basi... Adeeva tawarkan posisi wakil padaku! Artinya aku lebih tinggi pangkat darimu. Ada masalah?" tantang Ruben merasa berada di atas angin.
"Bagus ya kamu! Berani berkhianat berpihak pada nyonya bos. kupastikan kau akan ke Papua."
"Yee... cepat naik darah! Iya besok kujemput! Kok pingin naik pesawat? Masih kurang sehat?"
"Bukan...dia itu hamil! Aku tak mau dia capek."
"What? Bukankah kamu bilang kalian tak ada apa-apa?"
"Apa aku harus lapor padamu? Cuma aku heran mengapa dia tak sadar sudah hamil dua bulan lebih. Dia itu laki atau perempuan?" Ezra katakan kebingungan pada Ruben. Mana ada wanita tak sadar sedang hamil muda. Apa dia tak tahu tak datang bulan atau ada perubahan pada tubuh.
"Dia tak tahu sedang hamil? Ini bahaya pak! Dia itu agresif bisa bahayakan kandungan. Kusarankan bapak kasih tahu dia barulah bisa jaga bersama."
"Aku takut dia marah hamil anakku! Kau tahu dia sedang kesal padaku. Oya..kau atur wanita di istana agar menyerah dan tinggalkan istana. Aku tak mau Adeeva terbebani oleh mereka. Sudah waktunya akhiri semua kekonyolan ini. Penuhi semua permintaan mereka asal mau pergi. Gunakan perselingkuhan mereka sebagai senjata. Aku tak mau ada yang tinggal."
"Ok...kalau boleh gunakan senjata pamungkas akan cepat tuntas. Oya pak.. maksudku bang! Kuharap tak ada rasa sakit di hati Adeeva lagi. Rani, Sonya tutup buku. Jujur aku suka pada Adeeva. Kurasa bukan cuma aku tapi masih banyak laki lain lagi. Jadi sayangi dia setulus hati apalagi sudah ada anak di antara kalian."
"Akan kuingat. Terima kasih...besok jemput pagi sedikit! Satu lagi! Jangan ungkit soal hamil dengan Adeeva! Cukup jaga dia saja. Biar aku yang akan terangkan secara perlahan."
"Iya bang! Abang juga harus jaga sikap! Ingat sudah jadi bapak! Kucing liar, ulat bulu semua harus disingkirkan. Ini aku bicara sebagai saudara. Aku siap gantiin posisi Abang bila Adeeva tersakiti." Ruben tidak tanggung ancam Ezra.
Wanita di sekeliling Ezra harus segera raib supaya Adeeva bisa mengandung tanpa beban. Ruben senang juga akhirnya Dilangit ada penerus sah. Kalau Ezra sudah ngaku itu anaknya maka pasti itu sah bayinya.
"Kau tak percaya aku bisa menjaga Adeeva?"
"Diragukan sebelum semua ulat bulu disingkirkan. Aku akan kejam pada semua wanitamu demi lindungi Adeeva. Jangan salahkan aku bila ektrim."
__ADS_1
"Terserah kamu! Ini aku beli obat dulu. Besok hubungi aku bila sudah di sini. Oya..siapkan apartemen baru lengkap isinya. Cukup yang satu kamar."
"Dasar otak mesum! Iya deh!"
"Pindahkan barang Adeeva dan pakaian aku ke sana! Jual saja apartemen lama."
"Jangan jual tapi berikan pada salah satu selir Abang! Farah tampaknya mulai menyerah karena dia sudah berapa kali hubung aku tanya kompensasi."
"Penuhi saja! Kasih rumah dan sejumlah uang agar mereka bisa lanjutkan hidup."
"Akan ku atur! Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam..."
Hubungan terputus. Ezra agak tertegun dengar Ruben mulai ikutan Adeeva ngasih salam. Pengaruh Adeeva cukup besar pada Ruben. Sejauh masih dalam tahap pelajaran baik Ezra biarkan saja. Adeeva mendidik Ruben ke jalan lebih baik merupakan hal baik.
Ezra segera tebus obat sekalian minta pihak apotik ganti kemasan obat Adeeva dengan wadah lain berkesan vitamin. Sejauh tidak melanggar hukum permintaan Ezra tentu saja mendapat respon positif. Satu masalah kelar. Adeeva harus mendapat perawatan terbaik selama kehamilan. Ezra akan ambil alih semua masalah kantor agar anak itu tidak tertekan.
Dalam perjalanan pulang Ezra coba hubungi kedua orang tua Adeeva untuk beri kabar bahagia ini. Pertama tentu saja berharap mereka cabut gugatan cerai yang telah terlanjur masuk ke pengadilan agama.
Abah dan Umi tak mungkin biarkan cucu mereka terlahir tanpa orang tua lengkap. Dan lagi tak bisa bercerai dalam kondisi hamil. Perceraian ini takkan sah.
Lama Ezra kirim panggilan barulah diangkat Abah. Tak urung Ezra grogi untuk berterus terang kondisi Adeeva terkini. Masih tersimpan rasa ragu dalam dada. Apa ada kata maaf dari keluarga Adeeva.
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam... mau cari Eva? Bukankah dia bersama kamu?"
"Iya Abah...Adeeva bersamaku! Kami di kota B. Ada masalah kantor. Aku cuma kasih kabar baik pada Abah dan Umi."
"Kabar baik apalagi? Abah dan Umi tidak berharap Adeeva sakit hati lagi."
"Ya ngaklah Abah! Aku baru saja bawa Adeeva periksa di rumah sakit. Dia pingsan secara mendadak."
"Ya Allah...apa lagi nak? Adeeva sakit apa?"
"Bukan sakit Abah tapi hamil!"
"Astaghfirullahaladzim. Eh maksud Abah Alhamdulillah! Eva hamil? Kok bisa?" tanya Abah seperti orang linglung. Anak sendiri hamil diragukan. Ragu Ezra tak bisa punya keturunan atau belum percaya si nakal bisa jadi ibu.
"Abah...Adeeva punya suami wajar dong hamil! Janinnya sudah dua bulan lebih. Selamat ya Abah mau jadi kakek!"
"Iya...iya...apa dia sehat?"
"Sehat tapi ada sedikit problem."
"Apa lagi? Kalian masih berantem?"
"Adeeva belum tahu dia hamil. Dia masih marah padamu maka aku masih tutup laporan dokter. Aku mau minta bantuan Umi beri pengertian padanya kemuliaan menjadi seorang ibu."
"Abah ngerti. Abah tak sangka akhirnya dia menjadi ibu. Abah pikir seumur hidup dia akan jadi tukang pukul. Kau harus larang dia berantem lagi ya! Kawal dia sebaik mungkin. Jaga cucu Abah!"
"Pasti Abah. Dan kumohon lupakan soal permintaan Adeeva soal pisah dari aku. Aku betulan menyesal dan bersumpah akan mengubah diri. Adeeva dan anak kami akan jadi harta paling berharga."
"Abah tahu...kau tenang saja! Abah akan urus semuanya. Cepat balik sini ya! Abah tak sabar mau jumpa anak Abah itu."
"Besok kami balik. Mungkin akan langsung ke rumah Abah. Tapi jangan langsung buka dia hamil! Takut dia syok. Orang sekeras dia tidak gampang terima akan terikat oleh anak kecil."
"Biar Umi kamu yang urus. Kamu hati-hati di jalan!"
"Terima kasih Abah! Salam untuk Umi dan Oma. Terima kasih sudah beri aku isteri yang baik. Aku sangat malu pada kelakuan aku. Semoga pintu maaf terbuka untukku."
"Syukurlah kamu sadar! Eva pasti akan maafkan kamu asal kau mau tobat. Abah tutup dulu ya! Abah mau kabari Umi. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam.."
__ADS_1
Ada kelegaan merata di dada Ezra. Ezra telah dapat dukungan dari mertua akan memudahkan laki ini mendapat maaf tulus dari Adeeva. Bukan sekedar maaf di bibir saja.
Kenderaan melaju lancar capai apartemen Ezra. Ezra tak sabar mau segera jumpa Adeeva. Wanita itu luar biasa di mata Ezra.