
Akbar mesti menutup semua pintu hati terhadap Adeeva. Mereka cuma bisa berteman tanpa embel-embel cinta. Akbar tak mungkin merebut Adeeva apalagi Adeeva sedang hamil.
Nunik yang membawa jalan mencari restoran yang diharapkan oleh gadis itu. Nunik dan kedua lelaki dari Jawa tengah itu satu mobil dengan gadis itu sedangkan Ezra dan istrinya satu mobil.
Kedua mobil berjalan beriringan menuju ke tempat yang dibawa oleh Nunik. Nunik yang terbiasa hidup dalam gelimang harta tentu saja akan memilih restoran yang sesuai dengan seleranya. Kali ini Adeeva pasti akan kena batunya merogoh kocek lebih dalam untuk membayar semua makanan yang di inginkan oleh Nunik.
Mereka berhenti di salah satu restoran yang khusus untuk pecinta vegetarian. Makan di sini harganya cukup lumayan.
Adeeva mencibir kesal pada Nunik yang mempermainkannya. Adeeva tahu kalau Nunik sengaja memilih restoran mahal untuk menguras kantongnya.
"Siapa tuh anak! Pilih tempat tidak ingat mesin ATM bisa meledak." omel Adeeva ntah pada siapa.
Ezra menepuk punggung tangan isterinya agar tenang. Menjamu teman tentu saja tidak perlu membuat perhitungan.
"Sudah... sekali-kali traktir teman kok ngomel! Kita masih sanggup bayar. Ayo turun!" Ezra membuka safety belt keluar dari mobil.
Dari arah berlawanan Adeeva juga lakukan hal sama. Keduanya bergegas gabung dengan kelompok Nunik yang duluan masuk.
Ezra menggandeng adeeva pamer kemesraan. Padahal biasanya mereka saling cuek tidak terlalu mementingkan penampilan di umum. Ezra hanya ingin pamer kepada Akbar agar tahu diri bahwa wanita yang sedang hamil ini adalah istrinya.
Nunik cs sudah dapat tempat strategis untuk mengisi perut mereka. Nunik melambai agar Adeeva segera bergabung. Wajah anak itu ceria anggap dunia ini adalah panggung komedi. Suka duka tetap harus pamer senyum. Tak ada guna pasang wajah duka, Yoh masalah takkan selesai walaupun wajah ditekuk kayak jerit purut.
"Duduk sayang! Mau makan apa? Bumil harus banyak makan." Nunik menyodorkan daftar menu pada Adeeva.
Adeeva tidak menerima daftar menu karena jarang makan makanan kesukaan Nunik itu. Nunik lebih ahli pilih menu lezat maka Adeeva tidak ikut pilih.
"Terserah deh!"
"Ok...kita pilih yang lezat plus maknyus." Nunik tetap dengan tingkah riangnya.
Yang lain hanya bisa bingkem biarkan Nunik berbuat sesuka hati. Yang penting makanan akan muncul di atas meja.
Pelayan datang mengantar air putih sebagai penghilang rasa haus. ini hanyalah sekedar pelayanan tunjukkan rasa simpati karena minuman lain akan segera menyusul.
Nunik tersenyum senang ingat tak lama lagi dia akan jadi Tante. Gimana lah rasanya menjadi seorang tante? Nunik tak sabar ingin segera melihat anak-anak Adeeva lahir ke dunia ini.
"Eh bestie....kamu rasa anakmu itu cewek atau cowok?"
"Mau kamu?" Adeeva balas tanya.
"Aku pesan cowok. Pakai saos ganteng ya! Harus keren mirip oppa Korea. Kalau ditanya anak siapa? Aku akan bilang anakku."
"Kenapa tidak produksi sendiri?"
"Pabriknya kan masih belum berfungsi. Lagi nunggu acara gunting pita baru bisa mulai produksi."
Keduanya ngobrol seakan cuma mereka berdua berada di restoran itu. Ketiga lelaki yang duduk di dekat mereka hanyalah patung manekin yang tidak punya perasaan. Kedua cewek ini tak tahu kalau ketiga cowok agak jengah dengar obrolan tanpa filter itu.
Ezra mendehem agar keduanya sadar di situ masih ada orang lain. Gaya Ezra elegan namun menarik perhatian.
Nunik dan Adeeva tertawa geli lupa daratan kalau sudah bercanda.
"Dunia ini bukan milik kalian berdua." kata Ezra datar.
"Kalau milik kami berdua maka tidak ada pejantan tangguh lain. Kami akan kering kerontang karena gersang. Kalau sudah kering kapan ada muncul buah-buah baru yang lain." Adeeva gunakan kata kiasan sangat mendalam.
"Makanya sadar diri." ketus Ezra gerah lihat dua wanita muda seenak perut gosip di depan pria dewasa.
Belum sempat Adeeva menjawab tiba-tiba ponsel Ezra berbunyi. Laki ini mengeluarkan benda pipih itu dari saku melihat panggilan datang dari siapa.
"Assalamualaikum...ada apa?" Ezra sengaja ucapkan salam di depan Adeeva biar dianggap mulai religi.
"Waalaikumsalam...sudah jadi papi memang beda ya? Lebih alim..." terdengar ejekan dari seberang sana.
"To the point..."
__ADS_1
"Rani lolos dari jeratan. Dia tidak ditahan karena menurut cerita tak ada bukti pasti. Hanya berdasarkan rekaman tak bisa jadi bukti."
Wajah Ezra mengeras. Sudah Ezra duga Rani akan bayar berapapun agar bisa bebas. Ini sangat berbahaya bagi keselamatan Adeeva. Wanita itu pasti akan lebih anarkis kejar Adeeva.
Rani punya kuasa dan segunung uang. Dia mampu bermain di belakang layar jadi orang paling suci.
"Pengakuan para begundal tak ditanggapi pihak aparat?"
"Kayaknya tidak...mereka akan dihukum lebih berat lagi karena lakukan fitnah. Apa langkah kita?"
"Tunggu aku balik kantor. Aku sedang makan siang. Aku takkan biarkan Rani berbuat semena-mena."
"Iya pak! Kutunggu di kantor."
Ezra mematikan ponsel dengan wajah muram. Rani mang hebat mampu beli hukum. Semua bukti mengarah padanya namun dengan licin dia loloskan diri.
"Ada apa hubby? Rani kenapa?"
"Kami curiga dia dalang penculikan kamu. Ada bukti namun dia mampu lolos. Pihak hukum berpihak padanya." kata Ezra lemah.
"Kok bisa? Eh Nik...minta tolong pada abangmu dong! Dia kan polisi jujur."
"Jadi kamu masuk rumah sakit karena ada penculikan? Astaga Eva...kok kamu sembunyikan dari aku? Kita jumpai Abang aku. Dia polisi tegakkan keadilan. Berikan semua data padanya biar dia usut sampai tuntas." Nunik menyambut baik permintaan Adeeva agar Satria abangnya Nunik membantu mereka.
Ezra mendapat secercah harapan. Semoga saja promosi Nunik terhadap abangnya adalah fakta. Bukan jual kecap seperti kata Nunik.
Akbar dan Supono hanya bisa mendengar tak bisa ikut campur karena tak tahu apa yang telah terjadi.
Selanjutnya Nunik meneleponi Satria cerita masalah yang sedang dihadapi oleh Adeeva dan Ezra. Satria harus cek lokasi karena ada kala itu wilayah tugasnya. Mereka punya pos masing-masing namun Satria janji akan tegakkan keadilan buat Adeeva. Satria mengenal Adeeva wanita baik.
Satria ingin jumpa Ezra untuk tahu detail lebih lanjut. Itu urusan para lelaki. Adeeva dan Nunik tidak ikut campur lagi.
Adeeva dan Ezra balik ke kantor sementara kelompok Nunik balik ke tempat Nunik.
Begitu masuk ruang kantor Adeeva segera buka laptop cari tahu gerakan Rani. Apa yang sudah dilakukan Rani.
Adeeva agak lega mendapat lebih banyak bukti kalau Rani memang dalang penculikan dirinya. Di situ lengkap semua chatting Rani. Mungkin sekarang sudah dihapus Rani namun hasilnya telah duluan masuk akun yang digunakan Adeeva sadap ponsel Rani.
Adeeva kasihan pada Ezra yang tampak kesal pada Rani. Lelaki itu merasa dibodohi sekian tahun jaga penjahat.
"Hubby...aku punya bukti Rani perintah para penjahat culik aku dan uang transferan ke penjahat." kata Adeeva berikan laptop pada Ezra.
Ezra memantau semua hasil sadapan dengan mata memerah. Memerah bukan sedih melainkan marah Rani telah berjalan terlalu jauh di jalan hitam.
"Coba kau cari bukti dia chatting dengan pihak aparat ataupun percakapan! Kita jadikan ini kiamat buatnya."
"Ok..." Adeeva telusuri lebih jauh hasil sadapan di ponsel Rani.
Hasilnya luar biasa. Ada percakapan minta seseorang manipulasi kasus ini dengan imbalan milyaran. Nomor tak tercantum nama berkali-kali hubungan dengan Rani. Termasuk nego masalah pembayaran kasus ini.
Adeeva serahkan hasilnya kepada Ezra biar laki itu yang nilai bagaimana sosok Rani sesungguhnya. Ezra minta semua isi ponsel Rani dipindahkan ke flashdisk agar bisa diserahkan pada Abang Nunik.
Permainan akan segera dimulai. Rani pasti nyungsep dengan semua bukti yang ada di tangan Ezra.
"Hubby...kita tak boleh kasih tahu Abang Nunik kalau kita sadap Rani. Kita bisa kena sanksi UU ITE. Apa yang kita lakukan itu melanggar hukum."
Ezra mengangguk, "Aku tahu.. kita tak perlu jelaskan dari mana asal rekaman ini. Biar Rani pikir ada orang dalam khianati dia. Kau copy semuanya. Simpan di folder tersembunyi."
"Tak perlu...semua akan tersimpan selama aku ingat akun yang kugunakan sadap ponsel mereka. Ada gerakan juga dari mama kamu. Dia mau jual rumah besar kamu. Itu dia diskusi dengan Ilham."
Ezra kaget beraninya Bu Humaira jual aset peninggalan papanya. Apa hak Humaira jual aset itu? Bu Humaira tak punya status secara hukum karena dia hanya isteri siri papanya.
"Dasar apa dia jual? Surat tanah ada padaku." geram Ezra marah. Keadaan kok makin kacau.
Adeeva mengedik bahu tak punya pendapat. Adeeva samasekali tidak tertarik rebut harta keluarga Dilangit. Itu bukan wilayahnya. Biarlah Ezra yang tangani hal ini.
__ADS_1
"Aku akan tanya dia."
"Jangan! Ini berarti kita buka diri bisa sadap dia. Nanti semua kegiatan kita terbuka."
"Kau benar...lalu apa yang harus kita lakukan pancing mama buat gerakan duluan." Ezra memegang kepala ntah sakit atau pusing. Banyak sekali masalah hinggap di kepala Ezra. Kapan semua akan aman sentosa.
Adeeva ikut berpikir untuk ringankan beban Ezra. Adeeva harus ikut tanggung beban Ezra karena secara tak langsung dia ikut dalam permainan keluarga Dilangit.
"Aku ada akal." seru Adeeva tiba-tiba.
Ezra agak terkejut dengar suara Adeeva demikian besar. Akal apa muncul di benak anak itu?
"Akal apa?"
"Hubby bilang mau renovasi istana dengan alasan bersihkan sisa selir hubby. Mama hubby pasti akan buat gerakan bila Hubby mulai kuasai istana."
Ezra menimbang usulan Adeeva. Kalau dia terlalu unjuk muka takut Bu Humaira curiga mereka memang tahu semua gerakan mereka. Ezra juga harus main cantik.
"Baiklah! Kita jalani saja saranmu. Sebentar lagi aku akan jumpa Satria. Kau tolong copy semua percakapan Rani."
"Hubby tak boleh bocorkan rahasia kita sadap orang ya! Bilang saja Hubby dapat ini dari orang kepercayaan Rani. Hubby tak mau anak hubby lahir di penjara bukan?"
Ezra bangkit dari kursinya hampiri Adeeva. Jangan berharap, mimpi juga tidak ingin Adeeva menemukan masalah dengan hukum.
Ezra menepuk pipi Adeeva dengan pelan. Adeeva adalah dunianya saat ini. Ezra tak ingin apapun selain hidup bersama Adeeva hingga akhir hayat.
"Bagaimana aku tega buat kamu sengsara. Kau sudah banyak bantu aku! Bersiaplah untuk pulang! Aku tak mau kamu berada pada di sini lebih lama. Pulang dan istirahat."
"Tapi teh Desi masih tugas. Aku pulang bersama dia nanti. Kami akan pulang dengan taksi online."
"Tidak...aku akan jemput kamu tapi berjanjilah tidak akan ke mana-mana tanpa ijin aku!"
"Janji..." sahut Adeeva mengerling manja. Ezra kok merasa Adeeva tak cocok bertingkah seperti gadis manja umumnya. Ezra sudah terbiasa lihat Adeeva tampil gagah rasanya janggal wanita ini sok imut.
"Sudah siap copy data Rani?"
"Oh iya...aku hampir lupa!" Adeeva bergerak cepat copy semua data gerakan ponsel Rani. Ini akan jebloskan Rani ke penjara untuk waktu cukup lama. Kini harapan Ezra bertumpu pada polisi jujur macam Satria.
Ezra segera bergerak ke lokasi di mana janjian dengan Satria. Ezra bawa semua bukti kejahatan wanita itu. Jika perlu bongkar kematian Herman temannya. Hati Ezra sudah keras untuk antar Rani ke penjara. Wanita itu sudah kelewatan.
Di istana Dilangit tampak Bu Humaira mondar mandir di rumah utama. Beberapa mantan selir Ezra sudah pindah. Tinggal Renata dan Dorce masih menetap cari tempat tinggal baru.
Mereka berdua tak ada hubungan lagi dengan Ezra. Mereka masih di situ karena kemurahan hati Ezra. Ezra bukan manusia tak punya hati nurani. Sedikit banyak Ezra masih pertimbangkan hari-hari mantan selirnya terbuang di istananya demi kepuasan materi.
Bu Humaira galau karena keuangan mereka tengah seret. Adiknya mau berobat tak ada uang segar. Mereka harus jual aset yang sudah ada untuk bertahan hidup.
Bu Humaira juga pusing dengan anak dalam perut Renata. Siapa yang akan tanggung jawab pada anak itu. Mau jebak Ezra sudah tak mungkin karena Ezra telah duluan putuskan hubungan pernikahan.
Bu Humaira tak tahu harus bagaimana selamatkan anak adiknya di perut Renata. Pak Jul sudah tak bisa diharapkan karena telah lumpuh akibat serangan stroke. Harapan kuasai kerajaan Dilangit pupus sudah.
"Bu...ada nona Renata di luar mau jumpa!" seorang pelayan bertubuh sehat datang tergopoh-gopoh melapor pada Bu Humaira.
Bu Humaira angguk ijinkan mantan menantunya masuk jumpai dia. Bu Humaira tahu Renata tak kalah galau dengan dirinya.
Renata datang masih pakai celana ketat untuk hindari kecurigaan para pembantu rumah besar ini.
Bu Humaira menunjuk sofa mewah agar Renata duduk. Renata menghempaskan pantat ke sofa dengan kesal. Gara-gara ketamakan mereka berdua terjebak dalam suasana kacau.
"Bu...sekarang kita gimana?" tanya Renata langsung utarakan kebingungan.
Bu Humaira menghembus nafas panjang hendak keluarkan kekalutan dalam otak.
"Ibu juga tak tahu ..Ezra samasekali tak mau pulang sini! Dia sudah tahu kamu hamil. Di sini pasti ada mata-mata dia."
"Ibu pikir Ezra begitu gampang lepaskan kita berbuat sesuka hati? Dari awal dia sudah tahu tapi dia pura-pura bodoh."
__ADS_1