Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Pelajaran


__ADS_3

Kurawa tampak kurang senang dikuliahi anak kecil. Dari raut wajah tampak jelas dia mau permalukan Adeeva sebagai pemimpin baru Dilangit. Kurawa lupa masih ada Ezra duduk di samping anak ini.


"Dari jaman dulu wanita tak pantas memimpin. Boleh ikut berbisnis tapi tak bisa berdiri di depan. Sejak dari nenek moyang kita lelaki harus di depan."


Peserta rapat lain diam karena Kurawa mendadak serang pemimpin baru Dilangit. Dari dulu Kurawa ingin jadi pemimpin atas pemegang saham. Dia punya moments tepat lengserkan Dilangit dari kursi pimpinan karena Adeeva hanya gadis kecil.


"Kok kayak iklan kenderaan bermotor ya? Sebenarnya bapak ini lahir di jaman apa sih? Wanita dan pria punya kedudukan seimbang saat ini. Pernah dengar perjuangan ibu Kartini? Beliau telah buka jalan bagi semua kaum hawa agar tidak kalah dari laki. Jadi jangan hina wanita tak punya kemampuan. Bapak ini termasuk anak durhaka hina ibu sendiri."


"Kau...bicara seenak perut! Siapa hina ibuku? Ibuku wanita paling mulia." Kurawa berang dibilang anak durhaka oleh Adeeva. Dari tadi dia belum ucapkan sepatah kata tentang ibunya. Kenapa otak Adeeva korslet bilang dia hina ibu sendiri.


Adeeva tertawa kecil senang Kurawa terjebak omongan sendiri. Kalimat itu yang diharap Adeeva muncul dari mulut laki bau bangkai.


"Dari tadi hina wanita apa bukan hina ibu sendiri. Ibumu kan wanita. Emang ibumu banci atau bapak terlahir alami dari pohon pisang. Dan satu lagi buat pelajaran bapak. Pernahkah dirayakan hari bapak? Yang ada hari ibu itu artinya seorang ibu lebih mulia dari bapak. Ini ada lagi...mengapa ada ibukota bukan bapak kota? Itu karena dunia hormati ibu tepatnya wanita. Jadi kuharap bapak jilat lagi ludah sendiri remehkan wanita." Adeeva mulai keras karena bapak Kurawa sudah keterlaluan. Baru jumpa pertama sudah cari masalah. Adeeva belum omong sesuatu sudah diserang duluan. Berdasarkan sifat Adeeva yang keras mana mau menyerah dengan mudah.


Gatot kini mengerti mengapa Ezra beri dia nasehat tak usah cari masalah dengan Adeeva. Ternyata gadis ini memang luar biasa tajam lidahnya.


Kedua wanita lain dalam ruangan rapat tepuk tangan setuju pada semua kata Adeeva. Adeeva tampil membela kaum hawa yang selalu dianggap lemah oleh kaum pria. Selalu merasa wanita tak layak memimpin.


"Kau ini kurang pendidikan ya? Sama orang lebih tua tak ada sopannya."


"Apa aku tak sopan? Aku hanya buka mata bapak kalau wanita jaman sekarang bukan bayangan lelaki. Kaum wanita juga kuat tak kalah sama cowok."


"Kuat apanya? Kalau ada angin kencang pasti ikut terbang."


"Itu khayalan bapak. Wanita sekarang rata-rata kakinya sudah kuat menancap ke bumi. Atau bapak merasa jagoan bisa basmi semua wanita di bumi." Adeeva berdiri menantang Kurawa dengan mata berapi.


Ezra menyesali rekan bisnis yang terlalu ambisi sampai lupa aturan main. Dia pikir Ezra sudah tak bertaring tak bisa berkotek lagi. Ezra belum bersuara beri kesempatan Adeeva selesaikan masalah harga diri wanita. Ezra percaya Adeeva pasti bantai Kurawa hingga karam.


"Kau merasa hebat nona?"


"Tidak...aku manusia berakal waras siap hidup berdampingan dengan semua jenis manusia kecuali dengan kaum berotak primitif. Selalu anggap diri orang paling hebat."


"Waras apa? Kalian wanita hanya pandai berceloteh kosong. Wanita itu terlahir ditakdirkan jadi bayangan lelaki. Di bawah lelaki." sindir Kurawa makin tersudut.


Ajang rapat berubah jadi ajang debat mulut soal status pria dan wanita. Kurawa menyerang sedangkan Adeeva melawan.


"Logika dari mana pakde? Kalian lelaki selalu merasa lebih kuat dari wanita tapi kalian sadar tidak bahwa kalian yang lemah. Coba bayangkan! Lawan wanita harus minum obat kuat. Obat kuat diminum untuk apa? Lawan wanita kan? Itu tanda kalian lemah." Adeeva keluarkan jurus songong lawan kezoliman Kurawa.


Seluruh peserta rapat tak dapat tahan tawa karena ocehan Adeeva. Apa yang dikatakan Adeeva sangat masuk di akal. Para cowok minum obat kuat untuk lawan cewek di tempat tidur. Ini buktikan cewek lebih kuat sampai sang cowok harus minum obat kuat.


Kurawa makin gusar ditelanjangi Adeeva sampai polos. Salah sendiri cari lawan orang songong.

__ADS_1


"Kau kurang waras. Ayok buktikan kalian wanita kuat!"


"Ok...dengan cara apa? Berantem atau adu panco?" tantang Adeeva santai yakin bisa menang. Kurawa bukanlah lelaki pencinta olahraga. Dari olah tubuh Adeeva bisa nilai Kurawa termasuk lelaki omdo alias omong doang.


"Ade... sudah cukup! Duduk kau!" ujar Ezra hentikan Adeeva bikin onar lebih lanjut. Ezra kuatir Adeeva bikin malu Kurawa sampai timbulkan dendam di hati laki itu.


"Dia mulai duluan kok!" rengut Adeeva tak senang ditegur Ezra. Adeeva belum puas belum sate tuh orang hingga jadi serpihan.


"Kenapa? Takut wanitamu kalah pak Ezra?" tegur Kurawa merasa dapat angin.


"Kalah? Belum coba belum tahu siapa kalah. Bapak mau coba adu kekuatan?" mulut nyinyir Adeeva nyerocos lagi.


"Ayo! Kalau kau kalah harus serahkan kepemimpinan kepada aku! Siap?"


"Siap pak! Kalau bapak kalah kuminta bapak minta maaf pada wanita di seluruh dunia. Ok...mau coba di bidang apa? Adu panco atau tinju?" tantang Adeeva berdiri tegak tunjukkan kekuatan seorang wanita muda tak mau dijajah kaum lelaki.


Peserta lain diam saja mau lihat siapa yang akan malu di antara Kurawa dan Dilangit. Wanita Dilangit ini garangnya tak kalah dari seorang cowok. Sebenarnya memang salah Kurawa tiada badai tiada angin langsung serang Adeeva yang sekarang jadi pemimpin Dilangit. Semua menyesali tingkah Kurawa tapi semua sudah terlanjur terjadi. Kini tinggal lihat apa mau Kurawa.


"Aku kasihan pada nona! Gini saja nona.. nona ngaku kalah dan kita damai. Kita bisa gunakan voting pilih pemimpin baru." Kurawa anggap Adeeva hanya orang suka omong doang. Besar mulut tanpa karya.


"Ngaku kalah? Emang kita sudah tanding apa? Kenapa aku harus kalah? Bapak ini mabuk apa sih? Pasti waktu salah minum. Mau minum kopi terminum oli kotor. Otaknya jadi tersumbat." Adeeva sengaja pancing emosi Kurawa agar perlihatkan kebodohannya. Adeeva makin sangat jatuhkan lawan bila ada lawan brutal.


"Kalian semua lihat? Apa kita pantas dipimpin oleh seorang wanita tak punya etika? Bicara tak sopan seperti preman kali lima. Kalian semua bisa nilai sendiri apa yang harus dilakukan?"


Terdengar para peserta berbisik berusaha cari solusi atas pertengkaran Adeeva dan Kurawa. Kurawa memang salah telah tekan Adeeva dari awal. Tapi mulut Adeeva juga tak ada rem nyerocos tanpa jaga etika. Keduanya ada salahnya.


"Begini pak Kurawa dan Nona Adeeva! Lebih baik kita duduk tenang bicarakan hal ini. sebenarnya pak Kurawa salah telah duluan picu perang. Memang tak sepantasnya hina posisi wanita. Wanita jaman sekarang tidak kalah dari lelaki. Wanita juga kuat dan pintar. Kurasa kita duduk bersama cari yang terbaik." ibu yang agak berumur coba tengahi arena panas ini.


Adeeva duduk beri muka pada ibu itu karena wanita itu berkata benar. Adeeva tak masalah bicara tenang asal jangan serang gender seseorang.


"Bu Amanda... kita lebih banyak lelaki mengapa harus dipimpin wanita. Parahnya anak bau kencur pula." Kurawa meledek Adeeva belum terima dipermalukan Adeeva dengan kalimat kurang pas di kuping.


"Begini pak Kura-kura. Aku terima di voting tapi jangan anggap remeh kaum wanita. Kalau bapak merasa kuat dari aku kita buktikan. Ok? Untuk hormati orang tua jompo maka aku beri bapak kesempatan tiga kali serang aku. Aku cukup sekali. Gimana?" Adeeva mengeluarkan tawaran sangat mengucilkan Kurawa. Mana ada wanita memberi point pada lelaki. Mau taruh di mana wajah keturunan nabi Adam itu?


Kurawa menahan amarah dihina Adeeva sedemikian rupa. Wajah Kurawa berubah merah dihina Adeeva. Adeeva cengar cengir senang memancing amarah Kurawa. Tampaknya Kurasa salah pilih lawan. Dikira Adeeva boneka pajangan Ezra yang bisa diatur sesuka hati.


Gatot mencolek Ezra lihat apa reaksi laki itu. Ezra tampak tak bergeming biarkan Adeeva bikin kekacauan. Ezra dukung Adeeva beri pelajaran pada orang sombong itu. Sekarang Ezra hanya bisa pura-pura tidak tahu tingkah Adeeva agak lewat batas.


"Nona...aku ini lelaki sejati pantang lukai makhluk lemah macam kalian. Berhubung kamu yang minta diberi pelajaran maka kupenuhi keinginan kamu. Semua jadi saksi ini semua atas keinginan nona muda ini. Kalau terjadi sesuatu jangan salahkan aku!" Kurawa bangkit dari kursi menghadap semua peserta rapat.


Ini adalah rapat paling menyeramkan sepanjang sejarah. Dua peserta berseteru seperti anjing dan kucing hendak hancurkan ruang rapat.

__ADS_1


"Deal...kalau ada di antara kami yang terkapar bukan salah siapa-siapa. Ini janji manusia sejati. Aku yang muda serahkan cara pada orang tua. Nanti dibilang aku aniaya orang jompo! Silahkan!" Adeeva tinggalkan kursi berjalan ke tempat agak luas untuk lihat kemauan Kurawa.


Adeeva rasa waktunya lemaskan otot kaku akibat lama tidak olahraga. Anggap ini pemanasan awal sebelum beri pelajaran pada Ezra.


Peserta rapat menanti reaksi Kurawa dengan jantung berdebar. Apa keinginan lelaki itu beri pelajaran pada Adeeva yang angkuh.


"Baiklah! Aku salut pada nyali nona lawan aku! Aku beri kamu kesempatan tiga kali serang aku dan aku akan sekali saja. Semua jadi saksi ya! Ini bukan ajang perkelahian tapi beri edukasi pada nona kecil ini agar tahu cara hormat pada orang lebih tua." ujar Kurawa yakin bisa taklukkan Adeeva yang gayanya sangat santai.


"Ok...berhubung bapak orang tua aku sebagai orang muda maka biarlah bapaknya bergerak duluan. Silahkan!" Adeeva melepaskan blazernya tinggal baju kaos warna putih bersih berlengan. Tubuh Adeeva yang kuat tanpa lemak buat semua terkesima. Kelihatannya Kurawa telah salah pilih lawan. Jelas sekali tubuh Adeeva gambarkan tubuh atlet yang kokoh.


Kurawa menelan air ludah sadar telah masuk perangkap yang dia buat sendiri. Gadis di depannya bukan gadis lemah gemulai dalam balutan busana rapi. Di balik busana ternyata tersembunyi kekuatan.


Gatot tertawa kini sadar mengapa Ezra tidak kuatir gadisnya di aniaya orang. Adeeva bukan putri lembut bisa dibully seenak dengkul.


"Kau pernah kena tamparannya?" tanya Gatot berbisik biar tidak terdengar rekan lain.


"Remuk tak bisa bangun." kata Ezra mengenang tendangan dan bogem Adeeva. Sekali kena sakitnya berminggu. Ntah bagaimana nasib Kurawa akan dapat jatah tiga kali serangan Adeeva. Remuk babak belur itu sudah pasti. Ntah patah tidak?


"Silahkan pak!" Adeeva berdiri tegak dengan sebelah tangan berada di belakang punggung. Adeeva sengaja sembunyikan satu tangan agar tidak reflek balas Kurawa. Dia hanya wajib mengelak tak boleh membalas. Masa untuk Adeeva ada.


Kurawa menarik nafas lalu kepal kedua tangan memukul Adeeva dengan kedua tangan membentuk tinju. Adeeva menggeser tubuh ke samping lalu menunduk hindari serangan Kurawa. Serangan Kurawa meleset ntah ke mana-mana. Jangan sentuh Adeeva, bayangan gadis ini saja tidak dapat dia sentuh. Kurawa agak malu serangannya hanya angin lalu. Laki itu lancarkan serangan kedua padahal janji dia hanya boleh serang sekali.


Adeeva tidak keberatan di serang bertubi-tubi karena semua terelakkan. Serangan Kurawa jadi tontonan seluruh peserta jadikan bahan ejekan.


Ntah berapa puluh kali Kurawa serangan Adeeva sampai Adeeva malas bermain. Gadis ini menendang kedua tungkai kaki Kurawa berturut-turut kiri kanan membuat lelaki itu terjatuh berlutut.


Ezra tersenyum puas istrinya tidak anarkis hanya beri pelajaran pada orang sombong. Betapa malu jatuh berlutut di depan gadis yang dia anggap anak bawang.


Adeeva pintar segera berdiri persis di hadapan Kurawa berbuat seakan Kurawa takluk berlutut padanya. Tak usah di ragukan Adeeva jadi pemenang.


Wajah Kurawa memerah menahan malu. Mana mungkin seorang lelaki sehat ditaklukkan oleh wanita yang konon katanya makhluk lemah.


"Maafkan aku pak!" Adeeva membungkukkan badan pada Kurawa untuk tunjukkan betapa beradab dia. Telah jatuhkan orang lebih tua langsung minta maaf. Adeeva ulurkan tangan ingin membantu Kurawa bangkit dari lantai.


Kurawa menatap lurus ke mata Adeeva yang bening tanpa pancaran sinis. Kurawa tersadar dia sedang berhadapan dengan orang bernyali dan pintar.


Kurawa ulurkan tangan terima uluran tangan Adeeva. Adeeva menarik Kurawa sekuat tenaga sampai laki itu berdiri tegak. Adeeva dengan gentle antar Kurawa ke tempat duduknya langsung mendapat tepuk tangan seluruh peserta rapat.


Tindakan Adeeva mendapat pujian dari seluruh peserta. Gadis ini pantas sombong karena memang mempunyai kelebihan.


"Cewekmu menarik! Bisa dirayu?" tanya Gatot tertarik banget pada Adeeva.

__ADS_1


"Rayu saja kalau mau pasang gigi palsu." sahut Ezra bangga pada istrinya. Adeeva pantas menjadi nyonya Dilangit. Namanya pasti akan langsung ngetop di antara pebisnis.


__ADS_2