
Adeeva dipaksa ganti pakaian sesuai pilihan Ezra. Berpuluh pakaian dicoba hanya beberapa potong dipilih Ezra. Semua pakaian tertutup tak pamer bentuk tubuh. Pemilik butik sayang gadis bertubuh bagus harus disembunyikan dari umum. Seharusnya Ezra bangga punya Aspri berkelas. Tidak malu-maluin ditampilkan di mana saja.
Baju terakhir berupa blazer warna lumut di padu celana panjang senada. Adeeva tampak anggun bikin gadis ini tampak naik pangkat jadi gadis bernilai tinggi. Ezra tak bisa berbohong kalau isteri mudanya memang menarik. Kalau ada lelaki jatuh cinta padanya bukanlah salah laki itu. Adeeva memang mempesona.
"Tak usah ganti lagi. Pakai ini ke kantor. Oya madam...tolong jahit beberapa pasang pakaian untuk Poni. Jangan yang umbar aurat!" kata Ezra angkuh bikin Adeeva mau muntah. Apa semua orang kaya begitu?
"Nona Poni sangat menarik. Apa aku boleh pinjam jadi peragawati di pameran busana aku bulan depan?"
"Tidak... dia itu bukan sosok bisa jalan di catwalk. Dia gadis kasar." Potong Ezra kontan matikan niat madam pemilik butik mau gunakan jasa Adeeva sebagai peragawati.
"Betul Bu...aku pekerja kasar! Aku ini borong semua pekerjaan di kantor pak Ezra. Dari cleaning servis sampai ngecat gedung kantor. Satu lagi aku ini petugas parkiran kenderaan." kata Adeeva Santuy bikin pemilik butik terpana. Apa iya gadis secantik Adeeva melakukan tugas kuli kasar. Tega amat Ezra pekerjakan gadis cantik di bagian paling rendah. Selir-selir Ezra tak satupun bisa menandingi Adeeva tapi mengapa dilempar ke posisi tak menjanjikan masa depan cerah.
"Kau waras Ezra? Berikan nona Poni padaku biar kujadikan peragawati top! Kasihan kulit seputih ini korban keganasan matahari."
Mata Ezra menyipit mengecil buat Adeeva berdoa dalam hati semoga mata itu begitu seterusnya. Tak perlu kembali normal agar tidak mengeluarkan kerlingan maut membuat kuduk merinding.
"Aku susah payah dapat pegawai serabutan ini. Dia all in one. Cukup dia satu sudah wakili sepuluh pegawai. Siapapun tak boleh ambil dia dari tangan aku! Dia sudah teken kontrak kerja padaku hingga akhir hayat."
Madam pemilik butik dan Adeeva melongo. Emang ada pegawai bekerja hingga akhir hayat. Peraturan dari mana kerja harus seumur hidup.
"Kau nggak gila kan Ezra? Poni ini manusia lho! Bukan robot. Kau bisa dituntut memaksa pegawai kerja serabutan. Dasar kamu kurang waras!"
"Aku datang beli pakaian bukan dengar pendapatmu madam! Kirim tagihan ke kantor. Pakaian terbaik untuk kuda Poni aku!" Ezra bangkit tak peduli sang madam mengepal tinju. Madam iba pada nasib Adeeva jumpa bos songong. Seorang gadis cantik jadi korban kesekian dari laki punya banyak selir.
Adeeva meringis tak berdaya. Apa Adeeva punya pilihan lain selain ikuti permainan bos gila ini. Adeeva menduga Ezra punya kelainan jiwa suka menyiksa orang. Adeeva takkan biarkan Ezra berbuat semena-mena padanya. Ada waktu balas laki itu.
"Bu...aku pamit dulu ya! Terima kasih pembelaan ibu. Bos aku ini memang ada penyakit jiwa. Tengah malam suka kumat gila." bisik Adeeva sebelum pergi.
"Yang bener? Ezra ada penyakit jiwa?"
Adeeva mengangguk yakin. Kesempatan balas dendam pada bosnya mulai ada cela. Adeeva sudah gemas pada sikap diktator Ezra. Makin hari makin semena-mena pada Adeeva. Kini Ezra mulai berani atur cara berpakaian Adeeva. Selanjutnya ntah apalagi.
"Memangnya kalau kumat gimana?" tanya madam antusias kupas kekurangan Ezra yang selama ini tampak sempurna.
"Ya gimana ya? Nyanyi sendiri lalu banting barang termasuk orang yang dekat dengannya." bisik Adeeva pelan takut terdengar Ezra.
Madam mendekap dada kaget dengar Ezra ada sintingnya. Lelaki mirip bintang pujaan semua cewek ternyata ada kelainan jiwa. Sungguh di luar dugaan.
Adeeva meringis bayangkan coba kalau Ezra tahu dia sedang karang cerita buruk terhadap laki itu. Kepalanya bisa pindah ke tong sampah.
"Ibu jangan tanya pada Ezra ya! Nanti aku bisa kena penggal." Adeeva meraba lehernya yang bisa terpotong dua setiap saat.
"Iya...iya...aku harus hati-hati padanya!" Madam ikutan berbisik melempar pandangan keluar di mana Ezra sudah menunggu di mobil.
"Satu lagi! Kalau bukan purnama dia akan melolong kayak serigala." Adeeva tambah bumbu biar lebih sedap.
Mata madam makin membesar saking kaget dengar ocehan Adeeva. Madam percaya saja fitnah Adeeva. Maklumlah emak-emak haus berita. Kalau madam sedikit waras pasti akan tahu gadis ini sedang berbual.
"Permisi ya madam! Anda sangat cantik. Umurmu pasti dua puluhan." puji Adeeva dengan munafik. Hanya Adeeva bisa berbuat segitu konyol cari dukungan. Seluruh wanita di dunia akan bahagia dianggap awet muda. Jelas-jelas wajah madam ada keriput Adeeva masih keluarkan jurus merayu lawan bicara.
__ADS_1
"Poni...kau mau jadi tukang sapu di butik ini?" terdengar seruan Ezra dari luar. Lelaki hilang kesabaran menanti Adeeva bergosip ria dengan madam. Laki ini tak tahu sedang jadi korban keisengan Adeeva.
"Pergi dulu ya madam! Terima kasih pakaiannya!" Adeeva ambil langkah seribu mengejar Ezra di luar sana.
"Hei tunggu!" madam ikut berlari kejar Adeeva yang gesit.
Adeeva menunda langkah takut penyakit bengek madam kumat. Nanti malah jadi kisah tragis meninggal akibat melayani pembeli koplak.
"Ada yang tertinggal madam?"
"Ya ampun nona Poni...! Pakaian sudah seperti artis tapi lihat kakimu? Masa pakai sepatu skate?" Madam menunjuk ke bawah kaki Adeeva. Sepatu skate buluk warna putih agak keabuan melekat di kaki gadis ini. Semula mungkin warna putih, seiring waktu berubah ke warna abu. Ntah kena perubahan cuaca atau pemilik pemalas.
Adeeva tertawa renyah tak anggap itu satu keburukan yang harus diperbaiki. Adeeva tak punya waktu memikirkan sepatu model apa lengket di kaki. Penting tidak nyeker sudah syukur.
"Tak apa madam! Orang takkan melihat ke bawah. Pergi dulu!" Adeeva berniat baik ke mobil namun Ezra telah turun dengar suara ribut-ribut madam.
Ezra ikut saksikan sepatu butut Adeeva merusak keindahan pakaian butik Madam. Wajah sudah ok, baju juga ok dirusak oleh pemandangan buruk sepatu yang harusnya jadi penghuni tong sampah.
"Ganti sepatunya madam!" ujar Ezra dingin. Kedua tangan laki itu masuk ke dalam saku celana bikin auranya main kinclong. Berpendar memukau semua wanita. Adeeva akui bosnya itu keren.
"Aduh pak! Kita harus buru waktu. Besok saja gantinya! Ini sepatu masih bisa dipakai beberapa bulan ke depan." Adeeva menarik Ezra agar tinggalkan butik Madam. Makin lama di situ makin panjang waktu bersama Ezra. Dia masih harus jumpa Nunik sebelum balik ke kota B.
"Kubilang ganti atau kau mau buat pengumuman kalau isteri.."
Adeeva segera menarik Madam masuk ke dalam butik sebelum laki itu bongkar statusnya sebagai isteri Ezra. Hal paling tabu bagi Adeeva diakui di depan umum.
Adeeva diberi sepatu warna kopi susu dengan hak lima sentimeter. Adeeva sudah cukup tinggi untuk ukuran wanita jadi tak perlu pakai sepatu hak tinggi. Sepatu ini saja sudah menambah tinggi gadis ini.
Adeeva memang tak ambil uang dari Ezra karena tak mau berhutang. Gadis ini tak sabar ingin hidup bebas tanpa tekanan. Kalaupun kelak dia dan Ezra berjodoh haruslah karena saling jatuh cinta. Bukan pernikahan hasil rekayasa.
Tak butuh lama keduanya meluncur ke rumah Adeeva. Dalam perjalanan Ezra berhenti di toko buah untuk jadi buah tangan berkunjung ke rumah mertua. Tak mungkin datang dengan tangan kosong jumpai mertua toh! Ezra tak mau di stempel sebagai menantu kikir.
Adeeva puji kelihayan Ezra cari perhatian orang. Sungguh pemain sinetron kawakan. Patut dapat piala Citra sebagai aktor lihay.
Adeeva deg-degan pulang ke rumah yang hampir tiga bulan belum dia injak. Gimana reaksi abahnya lihat dia pulang bersama Ezra. Mereka akan senang atau bersedih lihat kondisi Adeeva makin kurus gara-gara hidup bersama suami sekaligus bosnya.
Mobil mahal Ezra bunyikan klakson memancing penghuni rumah keluar cari tahu siapa yang datang. Bik Nunik muncul karena di rumah Adeeva tak ada satpam seperti rumah orang kaya lain. Keluarga Adeeva bukan orang kaya seperti Ezra. Tidak kaya juga tidak miskin.
Adeeva duluan turun agar pembantu setia itu tahu siapa yang datang. Mata pembantu setia itu bersinar lihat siapa yang berdiri di depannya.
"Neng Eva..."
Adeeva bergerak memeluk pembantu tua itu tak peduli pada Ezra yang masih berada dalam mobil.
"Apa kabar Bik?"
"Baik...ayo masuk!"
"Buka pagar dulu dong! Tuh ada mobil tuan besar mau masuk!" Adeeva menunjuk mobil Ezra gunakan bibir.
__ADS_1
Bik Nunik tersenyum. Dengan sigap tubuh mulai renta itu mendorong pagar geser agar mobil super mahal bisa masuk ke dalam.
Akhirnya mobil Ezra meluncur masuk ke dalam. Adeeva sengaja menanti Ezra agar masuk bersama. Orang tuanya pasti tidak akan bernyanyi lantang sesali kuping Adeeva dengan ratusan omelan. Adeeva ngaku salah tak berani pulang akibat kabur dari pernikahan rancangan antara dua keluarga. Siapa sangka akhirnya dia harus kembali bersama orang yang paling ingin dia hindari.
"Ayok masuk neng! Abah dan Umi ada kok!" ajak Bik Nunik seraya buka pintu rumah lebar-lebar menerima tamu yang sudah ditunggu berbulan lalu.
Ezra masuk tanpa ragu sedang Adeeva mengendap takut jumpa Abah. Uminya masih bisa diajak diskusi tapi abahnya agak keras tak paham ke mana tujuan hidup anak sendiri.
"Duduk...Bik Nunik panggil Abah dan Umi ya! Mereka ada di ruang kerja Abah!"
Ezra mendaratkan bokong tanpa ajak Adeeva. Adeeva ikut tapi duduk agak jauh dari Ezra.
Ezra mendehem. Mata laki itu seakan bicara minta Adeeva pindah duduk dekat dia. Tentu saja berakting lagi sebagai pasangan bahagia. Ezra mau kedua orang tua Adeeva anggap mereka keluarga sempurna walau Adeeva berada di barisan terakhir.
Adeeva bergerak pindah duduk di samping Ezra untuk hindari konflik di depan orang tuanya. Adeeva bisa disate bila ketahuan berseteru dengan suami sendiri. Jauh dari bau surga bila menentang suami. Pasti itu yang akan didengungkan Abah.
Adeeva anggap kata-kata itu hanya untuk menakuti wanita bermental tahu. Adeeva mana termakan kata-kata itu.
Abah datang bersama umi. Lelaki paro baya itu surprise anaknya si pemberontakan datang bersama menantu mereka. Mereka sudah pasrah bila Ezra akan ceraikan Adeeva karena anaknya kabur. Tak disangka hari ini pasangan songong ini datang berdua.
Adeeva cepat-cepat hampiri Abah dan Umi beri salam takzim cium tangan lalu Adeeva peluk uminya penuh rasa rindu. Sekonyol apapun Adeeva tetaplah anak gadis butuh seorang ibu.
Ezra juga beri salam pada kedua orang tua Adeeva walau tanpa salam takzim. Ezra berperan sebagai menantu baik dengan sukses.
"Kapan datang?" tegur Abah menatap Adeeva.
"Kemarin Abah! Eva masih bertugas di kota B. Abah dan Umi sehat kan?"
"Harus sehat untuk lihat kamu berubah baik! Kau nginap di sini?"
"Adeeva tinggal bersama aku! Untuk sementara dia akan bertugas di sini bantu kantor pusat." Ezra yang menyahut agar Adeeva tak kasih info menyesatkan. Gimanapun Ezra tak tega bohongi kedua mertuanya.
"Oh gitu ya! Syukurlah Eva sudah dekat kita! Abah tidak kuatir lagi kau seorang diri di luar sana!" Abah tersenyum tipis.
Umi juga senang Adeeva sudah ada yang jaga. Adeeva bekerja di kota lain selalu ciptakan rasa kuatir di hati kedua orang tua ini. Adeeva anak satu-satunya dari mereka. Kesejahteraan Adeeva jadi perhatian mereka.
"Cuma saya mau minta tolong pada Abah dan Umi agar kalau orang tanya Adeeva katakan dia bekerja di kota B. Jangan bilang dia berada di kota ini! Ini untuk hindari aneka reaksi negatif!" pinta Ezra memohon kerjasama orang tua Adeeva agar Adeeva terbebas dari incaran orang di istananya.
"Abah tak ngerti maksudmu!"
"Seperti Abah ketahui aku ini punya banyak isteri. Tapi ini bukan seperti yang kalian bayangkan. Aku sama sekali tak mengenal para isteri aku. Pilihan aku jatuh pada Adeeva jadi untuk hindari kesirikan aku harus lindungi Adeeva. Anggap saja Adeeva masih di kota B. Orang hanya kenal Adeeva sebagai asisten aku bukan isteri. Percayalah aku tak berniat jahat pada Adeeva! Aku hanya ingin melindungi dia!"
"Maksudmu para isteri kamu iri pada Eva ingin berbuat sesuatu"
"Lebih kurang begitu tapi sejauh ini hanya dugaan. Kita berjaga lebih baik ketimbang menyesal nanti. Oleh karena itu Adeeva akan jarang pulang sini untuk hindari incaran orang. Aku berjanji akan jaga Adeeva sekuat tenaga. Maafkan aku telah bawa Adeeva dalam suasana tak tentu."
"Baiklah! Tapi seringlah beri kabar! Kami akan jaga rahasia anak kami! Tak ada Adeeva di sini bukan?"
"Terima kasih...kami tak bisa lama di sini! Aku minta maaf telah buat kekacauan dalam hidup Adeeva. Aku pasti akan rawat dia sampai segala aman."
__ADS_1
"Kami percaya! Seringlah kasih kabar ya!"
"Pasti...kami pamit dulu! Kami langsung ke kantor. Kalaupun jumpa di kantor anggap tak kenal Adeeva."