Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Terciduk


__ADS_3

Adeeva dan Nunik diam tak bercanda lagi. Keduanya serius menyantap hidangan di atas meja. Nunik sudah hafal selera Adeeva jadi tak perlu minta ijin pesan makanan pilihan Adeeva.


"Eh...lhu kok kenal Abang gue? Tak kusangka lhu ada main sama Abang gue! Lhu selingkuh ya?" Nunik mulai menyidik Adeeva setelah makanan di piring berkurang setengah.


"Kami kenalkan di kota B. Aku tolong dia waktu diganggu preman. Setelah itu dia tolong gue sewaktu kehabisan bahan bakar. Sampai sekarang gue masih hutang pada Abang lhu! Ya kan mas?"


Satria manggut iyakan laporan Adeeva pada Nunik. Mata Nunik berputar-putar selidiki kebenaran cerita Adeeva. Nunik sulit percaya pada temannya ini. Kadang ngomongnya suka ngawur.


"Yakin cuma segitu? Tak ada rencana lanjut pacaran? Pacaran aja! Gue senang kok punya kakak ipar bisa disuruh ngapain gitu!"


"Apes jadi kakak ipar lhu! Umur gue lebih singkat." Adeeva menggasak makanan ke mulut dengan cepat. Dia harus gercep agar waktu makan siang tidak terlewatkan.


"Daddy..." seruan nyaring seorang bocah mengalihkan perhatian Adeeva dari muka jelek Nunik.


Adeeva terpana melihat Ezra masuk restoran dengan seorang wanita seumuran Ezra plus anak balita yang teriak Daddy. Adeeva akui mereka pasangan serasi karena sama-sama dari kalangan edisi high class.


Adeeva terpana bukan karena sedih atau sakit hati tapi heran mengapa Ezra main belakang tentang keluarganya. Bukankah seharusnya dia bahagia dengan keluarga kecilnya. Untuk apa repot jebak dia dalam pernikahan konyol.


Adeeva makin benci dibodohi Ezra. Jelas-jelas dia sudah punya anak dari selingkuhan masih ingin paksa dia melahirkan anaknya. Apa mau laki kurang ajar itu?


Ezra tak kalah kaget lihat Adeeva bersama dua orang lain. Gestur tubuh laki itu sedikit berubah langsung menurunkan bocah dari gendongan. Adeeva tertawa sinis lantas buang muka tak terlihat makin bodoh. Ezra pasti bangga dan puas sudah berhasil permainkan Adeeva dan kelima selir lain di rumah. Tak ada alasan bagi Adeeva untuk bertahan di tempat penuh hawa panas.


"Maaf aku harus balik ke kantor! Jam istirahat aku sudah lewat. Malam ini aku balik ke kota B. Kau ada titipan?" Adeeva bangkit secara tak sopan tak habiskan sisa makanan.


"Tapi kita belum selesai makan." protes Nunik tak tahu amarah sedang berkobar dalam dada gadis ini.


"Aku cuma ijin sebentar. Aku akan balik sini kok! Mungkin Minggu depan aku sudah balik sini."


"Janji ya! Biar kami antar kamu!"


"Tak usah! Kalian makan saja! Aku sudah pesan ojek kok! Kasihan drivernya bila aku cancel. Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam..." Nunik tak berdaya menahan Adeeva. Sebenarnya Nunik masih ingin banyak ngobrol dengan Adeeva tapi berhubung Adeeva kerja pada orang maka Nunik tak berani menahan langkah Adeeva.


Adeeva melangkah dengan gagah tak melirik sedikitpun ke arah Ezra. Gadis ini terlanjur kesal pada Ezra. Di rumah tersusun setengah lusin selir tapi masih jajan di luar sampai punya anak. Lelaki model apa itu?


Mata Ezra menyusuri gerakan langkah Adeeva sampai menghilang di balik pintu restoran. Ezra bukan tak tahu kalau Adeeva marah akibat dia menutupi sesuatu. Gadis itu sudah berulang kali minta pisah secara baik-baik namun tidak digubris Ezra. Dan kini gadis itu melihat hal tak seharusnya dia lihat.


Adeeva segera balik ke kantor kebut tugas yang telah diamanahkan padanya. Adeeva segera kuras uang dari orang yang dia curigai tilep uang kantor. Walau tak semua bisa diselesaikan hati itu juga. Adeeva akan lanjutkan sampai tuntas. Adeeva bisa kerja di tempat lain selama data lengkap di tangannya. Adeeva lakukan tanpa tinggalkan jejak. Selanjutnya Adeeva ketik surat resign dari perusahaan Ezra dan letakkan di atas meja laki itu.


Adeeva bukan cemburu pada wanita itu tapi jengkel dibodohi Ezra. Segala janji pada Abah hanya pemanis bibir. Hanya ada satu wanita. Pret..


Persetan dengan segala janji busuk Ezra. Sudah cukup Ezra kekang hidupnya. Adeeva tak mau jadi boneka dipermainkan sesuka hati oleh Ezra.


Adeeva ambil barangnya di rumah Ezra lalu berangkat kembali ke kota B. Dia akan mulai cari kerja di perusahaan lain. Untuk sementara rencana cetak S3 dia simpan dulu. Sela dia masih kuat kesempatan itu pasti ada.


Ezra kembali ke kantor tak menemukan Adeeva di ruangan. Ezra mendesis marah gadis berdarah panas itu telah pergi. Ezra lebih marah lagi mendapatkan surat resign Adeeva. Sungguh gadis pemberani. Berani melawan bos tirani.


Ezra membanting surat resign Adeeva di atas meja. Urat di leher Ezra menegang tanda amarah mencapai titik suhu terpanas.

__ADS_1


"Dasar gadis tolol..." desah Ezra geram.


Ezra meneleponi Ruben suruh segera menghadap. Ezra puji mental Adeeva tidak gampang di provokasi oleh ancaman tak bantu usaha orang tuanya. Dari materi Ezra tak bisa jerat Adeeva karena gadis itu tidak tertarik pada kekayaan Dilangit.


Ruben masuk ruang kerja Ezra heran tak melihat kuda poni milik tuan Ezra. Ke mana ngumpet tuh bocah?


"Ada apa pak? Mana si Poni?"


Ezra melempar surat resign Adeeva ke muka Ruben dengan kesal. Ruben yang tak tahu apa-apa hanya membaca surat sakti dari Adeeva.


"What? Resign? Kok mendadak? Bukankah tadi pamitan masih waras?"


"Dia melihat Rani dan Miko!"


"Lalu? Dia cemburu lalu kabur?"


"Kau pikir dia akan cemburu? Dia marah karena merasa dipermainkan. Cari dia! Dia pasti balik ke rumah kontrakan lama dia. Suruh orang cari dia di sana! Harus dapat."


"Apa bapak pikir otaknya seupil? Dia berani pergi gitu saja pasti sudah ada rencana matang! Kirim ancaman ke ponselnya!"


"Ngancam apa? Mau bunuh dia? Kau pikir dia takut diancam begitu?"


"Biar kuteleponi dia!" Ruben sok tahu angkat telepon. Apa lagi kalau bukan teleponi Adeeva ancam akan buka rahasia gadis ini.


Sayang Ruben harus menelan rasa kecewa karena nomor yang dihubungi sedang tidak aktif. Adeeva mau dilawan. Dia bisa retas akun orang dengan mudah tentu dengan mudah dia menghilang. Sungguh gadis aneh bin ajaib.


"Ponselnya sudah tak aktif. Aku akan suruh orang ke rumah kontrakannya. Di sana dia tak punya tempat tinggal lain. Mau ke mana dia."


"Baik.."


Ezra mengusap wajah berkali-kali kecewa Adeeva pergi tanpa bertanya padanya. Seharusnya Adeeva tanya dulu siapa wanita itu baru ambil keputusan kabur. Tampaknya Ezra harus tambah nama Adeeva jadi Poni Liaran Buronan.


Adeeva yang kabur tapi Ruben yang repot. Hanya gara seorang gadis nakal, seorang CEO kaya kebingungan seperti induk ayam kehilangan anak ayam. Padahal gadis mana tak bisa diraih Ezra? Dari yang panuan sampai yang mulus bak kulit tahu sutera bisa digenggam laki itu. Mengapa justru gadis pemberontak tak patuh jadi incaran bos ini.


Ezra mondar-mandir menanti kabar dari Ruben. Hati Ezra tidak sabar ingin segera mendapat berita dari gadis berdarah panas itu. Tanpa tanya main kabur. Maunya dia tanya Ezra dulu siapa wanita dan anak kecil itu. Bukan main vonis sesuka hati.


Hati Ezra terasa kosong sejak kepergian Adeeva. Gadis ini yang sudah dia tunggu puluhan tahun. Sekali jumpa mereka seperti Tom and Jerry. Berantem terus saling menjatuhkan.


Di tengah rasa galau Ezra mendapat panggilan masuk dari Ruben. Dalam detik itu juga Ezra aktifkan ponsel.


"Halo...gimana?"


"Ada di terminal Kampung Rambutan. Busnya sudah kami tahan. Kalau kami yang suruh dia turun mungkin dia akan hajar kami. Jujur aku takut tinjunya."


"Tahan busnya! Aku segera datang! Jangan sampai dia kabur lagi! Perketat penjagaan."


"Yaelah...apa kami ini lawan dia? Bonyok tahu..." Ruben memilih tak cari pasal dengan Adeeva. Sekali kena hantaman gadis itu rumah sakit menunggu. Ruben tak rela wajahnya yang ganteng berubah bentuk. Dari oval ke gepeng.


Ezra tak buang waktu segera menuju ke terminal yang disebut Ruben. Sungguh gadis menyusahkan. Ezra masih butuh isi otak Adeeva untuk benahi perusahaan. Tanpa gadis itu Ezra tak bisa berbuat banyak menangkap tikus-tikus pengerat yang mencuri uang perusahaan.

__ADS_1


Adeeva belum menyadari kalau Ruben dan Ezra telah mengetahui di mana posisinya. gadis ini yakin dapat lolos daripada Ezra. Adeeva sudah cukup muak dengan perlakuan Ezra yang semena-mena dan sok hebat. Adeeva siap melepaskan mimpi lanjut S3 supaya hidupnya tidak dihantui arwah ikan paus hidup.


Ezra sengaja parkir mobil jauh dari bus agar Adeeva tidak segera kabur begitu melihat mobilnya. Kalau mereka berantem di terminal tentu akan jadi trending topik. Ezra si raja tambang bully anak gadis. Seluruh dunia akan panjangkan bibir cibir CEO kaya itu. Padahal faktanya belum tentu Ezra sanggup melawan kuda liar itu.


Kelihatannya Ezra harus cabut nama Poni. Nama Poni terlalu imut untuk gadis kanibal macam Adeeva.


Ruben cari aman tidak berani mendekati bis yang telah ditahan oleh Ruben CS. Kalau Adeeva tahu dia yang berhasil menemukan gadis itu maka kepalanya bisa berpindah ke bawah kaki.


Ezra langsung naik sendiri ke dalam bis mencari gadis yang dia inginkan. Sosok tinggi besar itu masuk dengan wajah dingin dan angkuh meneliti setiap wajah penumpang. Adeeva yang duduk di bagian tengah sangat kaget melihat kehadiran mantan bosnya yang sombong itu. Sudah terlambat bagi Adeeva untuk bersembunyi karena si Bos telah melihat dia berada di bagian tengah.


Dengan langkah besar Ezra mendekati Adeeva diiringi tatapan heran dari seluruh penumpang. Semua yang berada di dalam bis pasti bertanya-tanya apa yang telah terjadi pada gadis ini sehingga dicari oleh seorang lelaki yang tampaknya memang bukan dari kalangan bawah. Dari cara berpakaian dapat dipastikan Ezra bukanlah sembarangan orang.


"Kau turun sendiri atau aku gendong?" tanya Ezra dingin seolah ingin bekukan Adeeva.


Adeeva buang muka tak mau memandang wajah ganteng itu. Rasa kesal masih bergantung di lubuk hati gadis ini. Adeeva paling benci pada orang yang suka berbohong. teganya Ezra berbuat curang diantara selir-selirnya yang setia menanti di rumah.


"Kenapa diam? Jangan gara kamu semua penumpang tak bisa berangkat!" bentak Ezra naikkan volume suara. Gaya ini yang bikin seluruh karyawan ketakutan berhadapan dengan Ezra.


"Aku sudah resign..."


"Memang aku sudah setuju? Kita pulang selesaikan masalah kita. Bukan kabur!"


"Emang ada masalah apa? Nggak ada tuh! Aku cuma capek mau istirahat kerja. Silahkan bapak pulang ke keluarga bapak! Kami memang miskin tapi takkan mengemis." ujar Adeeva tak kalah garang.


Ezra agak malu ditatap seluruh penumpang. Sungguh keras sifat Adeeva. Tidak mempan digertak.


"Baik...kita balik kantor dan bicara cara terbaik! Kalau kau ingin balik ke kota B ok tapi kita bicara dulu. Aku kembalikan mobilmu!" Ezra terpaksa gunakan jurus ampuh mundur selangkah.


Asal berhasil membawa Adeeva turun dari mobil maka Ezra akan memikirkan langkah selanjutnya untuk menahan Adeeva di sampingnya.


Ada secercah harapan berbinar di mata indah itu oleh janji Ezra. Adeeva yakin Ezra bukan orang ingkar janji. Dia seorang CEO perusahaan raksasa. Untuk apa bodohi seorang gadis muda.


"Bapak yang janji lho! Awas kalau bohong!" Adeeva mengambil tas berisi beberapa potong pakaian ikut Ezra turun dari bus.


Secara diam-diam Ezra bernafas lega. Satu lagi pengetahuan Ezra tentang Adeeva. Gadis ini tidak mempan digertak secara kasar. Dia akan melemah bila diumpan kelembutan.


"Maaf sudah mengganggu!" Ezra berkata pada seluruh penumpang sebelum membawa Adeeva pergi. Para penumpang hanya bisa angguk tak paham apa yang terjadi. Andai ada yang kenal Ezra pasti sudah heboh. Untunglah di situ tak ada pebisnis yang kenal orang top macam Ezra.


Ezra mengawal Adeeva masuk ke dalam mobilnya. Wajah gadis ini sungguh tak sedap dipandang mata. Kalau diibaratkan lebih judes dari wajah ibu tiri sedang dapat halangan. Asem, kecut, dan pasti buruk. Si cantik berubah jadi si buruk rupa.


Adeeva tak mau menatap Ezra walau seangin. Bisa bintilan mata bila lihat tampang manusia munafik. Lain di muka lain di belakang.


Ezra juga tidak ajak Adeeva ngobrol sebelum dapat tempat aman untuk bicara. Dilihat dari gaya Adeeva tak mungkin akan terima alasan Ezra tanpa bukti kuat. Orang berperangai jujur macam Adeeva paling pantang dibohongi. Sekali Ezra berbohong maka seumur hidup Adeeva tak percaya padanya.


Ezra tidak arahkan mobil ke kantor melainkan ke apartemen. Di kantor bukan tempat cocok bahas masalah keluarga. Mereka butuh tempat privasi untuk bahas hal ini dengan kepala dingin. Siapa wanita dan anak bersama Ezra.


Ezra menarik tangan Adeeva turun dari parkiran langsung naik lift ke lantai atas. Bukan Adeeva yang tak sabaran bahas hal ini tapi Ezra.


Tas Adeeva dibiarkan berada dalam mobil termasuk tas kecil Adeeva berisi ponsel dan kartu lain. Ezra tak ijinkan Adeeva sentuh benda itu agar tak punya akses kabur.

__ADS_1


Keduanya masuk ke dalam apartemen dalam keadaan tegang. Masing-masing pertahankan ego sendiri. Ezra mau Adeeva mendengar alasan dia bersama wanita itu sedang Adeeva merasa tak butuh penjelasan.


__ADS_2