
Seluruh otot Adeeva melemas kena pernyataan Ezra. Omongan orang kaya tak bisa dipegang. Semua jauh dari janji semula. Apa mau bosnya ini persulit hidupnya. Adeeva curiga Ezra punya maksud tertentu padanya. Mau jadikan tameng ceraikan istri atau ada konspirasi jahat dalam pernikahan ini.
"Pak...aku mau tanya! Apa aku ini berarti buat bapak?"
Ezra mengangguk. "Sangat berarti."
"Apanya yang menarik bapak? Aku akan ubah biar bapak tak usah suka. Aku ini tak suka dikekang apalagi diikat dua puluh empat jam."
Ezra menyipitkan mata anggap perkataan Adeeva kurang masuk akal. Kapan Ezra kekang dia. Ezra hanya mau Adeeva bekerja dengan baik. Terlepas dari itu Ezra juga ingin Adeeva seutuhnya menjadi isteri dalam arti sesungguhnya. Cuma Ezra masih rahasiakan siapa dia agar bisa kenal sifat Adeeva lebih jauh.
"Yang kekang kamu siapa? Kamu cuma perlu ingat tugas dan tanggung jawab."
"Ya Allah pak! Hanya gara sosis disentuh cewek dan aku ketiduran di tempat tidur bapak harus menanggung tanggung jawab sepanjang rel kereta api? Yang baik hati dikit pak!" Adeeva belum menurunkan rasa jengkel pada bos seenak dengkul nikahi bini orang.
Ezra tertawa dalam hati Adeeva buka boroknya di depan Ruben dan pengacara. Orang akan berpikir apa seorang gadis naik ke tempat tidur laki. Bayangan orang sedang naik ke bulan pasti langsung menyelinap di benak orang.
"Nona.. anda sudah salah naik ke tempat tidur lelaki. Anda bisa dituntut pelecehan sexual dengan tujuan peras pak Ezra. Masih untung pak Ezra mau kerja sama nikahi nona. Betapa malu nona bila dituntut di depan orang banyak. Pak Ezra sudah bantu tutup skandal nona." ujar pengacara ikut menambah dosa Adeeva.
Adeeva menggaruk kepala sampai rambut berantakan. Tak jaga image seorang gadis muda. Betapa apes nasib gadis ini. Sudah jatuh ketimpa tangga lagi. Ezra tak ubah diktator produk jaman now. Tidak paham kesusahan orang seenak dengkul ambil keputusan.
"Gimana nona? Pekerjaan aku masih banyak. Aku harus balik ke kantor aku secepatnya."
Adeeva masih dipenuhi keraguan untuk terima tawaran Ezra menjadi isterinya. Hati kecil Adeeva berontak karena dia masih berstatus isteri kakek bangkotan. Walau bangkotan manusia juga. Terdiri dari darah dan daging yang akan terasa sakit bila terluka.
"Pak...jujur aku omong ya! Aku ini isteri siri dari seorang tua Bangka. Mana boleh nikah lagi tanpa ijin kakek itu. Aku memang tak suka padanya tapi bukan berarti aku harus jadi pengkhianat."
"Itu masalahnya? Nona sudah bilang tak suka padanya maka kami akan bantu nona terbebas dari nikah siri. Nona menikah secara hukum lebih kuat dari nikah siri. Tinggal tanda tangan maka semua akan beres." pengacara itu menyodorkan beberapa lembar dokumen harus diteken Adeeva.
Adeeva meraih kertas tersebut dan baca sekilas. Memang pernyataan menikah secara hukum. Secara kasat mata memang tak ada perjanjian merugikan Adeeva. Malah Adeeva diuntungkan kalau bercerai kelak dapat harta gono gini.
"Lalu kapan kami bercerai?"
"Setelah yakin kau tidak hamil anakku. Paling tiga empat bulan paling lama enam bulan. Setelahnya kau bebas merdeka." Ezra yang jawab.
"Benar janjinya begitu? Nanti plin plan lagi."
"Ini ada pengacara dan asisten aku jadi saksi. Kita sama-sama bertanggung jawab atas kesalahan kamu. Ayo cepat! Pak pengacara masih ada tugas lain." Ezra mulai tak sabar Adeeva mengulur waktu.
Adeeva tak punya pilihan lain selai ikuti arus permainan orang kaya. Hidupnya sungguh apes. Jadi isteri keenam sekarang jadi isteri terselubung dari bos kaya raya. Adeeva bukannya bahagia jadi isteri orang super kaya. Ini malah jadi beban moral.
Ruben kasihan pada keluguan Adeeva. Gampang saja percaya pada intimidasi Ezra. Mana mungkin Ezra tuntut tanggung jawab Adeeva. Di sini yang rugi Adeeva. Bukan Ezra. Berhubung Ezra mau mainkan peran ganda sebagai bos dan suami sah ya berjalan lah sandiwara menyesatkan ini.
Adeeva menanda tangani beberapa lembar dokumen dengan hati kosong. Babak baru sandiwara ditayang lagi. Adeeva belum jelas dapat peran apa. Jadi ratu atau jadi dayang simpanan raja.
Pengacara bagai kesetanan langsung mengumpulkan dokumen dan pergi tanpa diantar. Tinggal Adeeva, Ezra dan Ruben. Ezra menyilangkan kaki dengan santai lega tujuannya menikah resmi dengan Adeeva terwujud sudah. Kini tinggal selesaikan kekacauan di istananya.
"Ade..kini kau resmi jadi nyonya Ezra! Ada permintaan apa?"
"Permintaan dalam bentuk apa? Kalau soal sogokan barang mahal aku tidak tertarik. Aku cuma mau bapak beri keadilan buat aku."
__ADS_1
"Keadilan? Contohnya?"
"Bapak sudah to the point maka aku juga langsung ke inti. Pertama aku tak mau tidur dengan bapak, kedua aku tak mau serumah dengan bapak. Ketiga bapak tak boleh melarang aku berteman dengan siapa aku suka, keempat bapak tak boleh campuri urusan pribadi aku. Kelima kita urus urusan masing-masing. Kita bekerja sama atas dasar tugas."
"Baik...aku turuti kemauanmu! Di sini kita profesional dalam tugas. Sebagai Aspri kau harus berada dalam lingkaran hidup aku. Di mana aku di situ kamu. Aku tidak tuntut yang lain. Aku ijin kan kamu ambil S3 tapi bukan di sini. Kau akan kuliah di UI." kata Ezra menanti reaksi Adeeva. Ezra tahu itu cita-cita Adeeva ingin dalami Teknik Informatika lebih dalam. Makanya Ezra relakan Adeeva lanjut kuliah agar terpenuhi harapan gadis itu.
"Tapi pak...aku ingin kuliah di ITB. S1 aku di sini.."
"Kuliah di mana saja asal ada keinginan dan semangat. Selepas kuliah kau harus masuk kantor. Aku sudah beri solusi terbaik untukmu. Kau bebas dan berhasil dalam pendidikan. Keuntungan ganda jadi isteri aku. Aku tidak akan sentuh kamu kecuali kamu datang menyerah sendiri seperti tadi malam."
Wajah Adeeva memerah di ulang lagi kejadian memalukan. Di depan Ruben pula. Mau kasih tinju gratis takut kena pasal berlapis. Belum kelar satu tambah satu tuntutan baru. Rencana pembunuhan.
"Kaset rusak asyik diputar. Sekarang bos mau apa lagi? Aku harus balik kantor. Jam kantor belum usai."
"Kau pergi dulu. Aku akan nyusul. Ingat! Bereskan tugasmu secepatnya. Oya foto kopi Ijazah S2 kamu biar didaftarkan ke UI. Lengkapi data mu!"
"Aku bisa sendiri! Dan lagi sekarang belum buka pendaftaran. Tiga bulan lagi baru terima mahasiswi baru."
"Oh gitu...ya sudah! Kau pergi ke kantor. Satu jam lagi aku datang!"
"Iya pak...hari ini aku mau ke klub! Ada pertandingan persahabatan antar klub. Aku mau nonton."
Ezra tak bisa menahan Adeeva salurkan hobi di bidang yang dia sukai. Ezra sudah selidiki kalau Adeeva memang seorang atlet taekwondo. Kegiatannya positif tidak keluar dari rel lurus. Ezra tak punya hak menutup hobi seseorang walau sekarang Ezra punya kuasa atas Adeeva.
"Pergilah! Jangan telat pulang! Oya...ini ada hadiah untukmu!" Ezra merogoh saku celana mengeluarkan satu kotak kecil warna merah cabe. Tak usah ditebak Adeeva tahu isinya cincin perampas kebebasan. Pakai cincin itu artinya Adeeva seratus persen terikat pada kisah cinta arahan sutradara Ezra.
Cincin dari suami bangkotan tersimpan rapi di tempat aman. Tambah satu lagi benda harus Adeeva jaga. Asli bikin otak membara. Bentar lagi gosong jadi otak panggang.
"Di rumah aku ada juga satu model ini! Cuma aku tahu itu berlian palsu. Apa bapak juga ngasih barang rongsokan untuk tipu aku?"
"Apa maksudmu palsu? Cincin nikah kamu palsu?" Ezra kaget dengar cincin nikah dia dan Adeeva palsu. Ezra selalu beri berlian asli pada para isteri. Mengapa giliran orang yang dia sukai dapat barang imitasi.
"Mau asli atau palsu peduli amat! Aku juga tidak doyan. Pakaikan! Nanti aku simpan juga! Rusak pasaran aku pakai cincin kawin." Adeeva menyodorkan jari manis ke depan Ezra. Adeeva tidak begitu antusias mau tahu itu asli atau palsu. Toh itu bukan cincin dari lelaki impiannya.
"Simpan? Ini asli berlian.." sungut Ezra merasa jengkel dianggap remeh oleh Adeeva. Ezra meloloskan cincin ke jari manis Adeeva disaksikan Ruben. Ruben makin jauh dari Adeeva. Siapa bisa lawan Ezra bila menginginkan sesuatu. Laki itu sudah tetapkan Adeeva jadi ratu di antara para selir. Siapa bisa memutar fakta yang ada.
"Oh... terima kasih. Aku pamit balik ke kantor. Aku tunggu bapak di kantor. Assalamualaikum..." Adeeva meraih tas kecilnya berlalu dari apartemen Ezra.
Tak ada yang menyahut salam Adeeva. Kedua pebisnis itu mana peduli sekali pada tata krama sebagai umat muslim. Otak mereka lebih condong ke proyek yang bisa cairkan jutaan dolar.
Ruben dan Ezra duduk berhadapan setelah Adeeva pergi. Ezra merasa lebih santai setelah lalui masa tegang. Ezra kira akan sulit paksa Adeeva tanda tangan menikah secara resmi. Ternyata tidak sesulit bayangan. Kini Adeeva resmi jadi milik Ezra. Istri sah lahir batin.
"Bang...kita balik ke pusat?" tanya Ruben setelah berdiam sejenak.
"Iya...kita berangkat dari kantor! Aku mau pastikan si tengil itu tidak macam-macam. Dia harus kita iring ke rumah. Gimana rencana mama melamar anak orang lagi?"
"Beliau ngotot katakan bahwa kamu pasti setuju. Adeeva harus diceraikan karena tidak berguna samasekali."
"Keterlaluan... semena-mena terhadap anak orang. Kali ini dia comot anak siapa lagi?"
__ADS_1
"Anak tangan kanannya! Sarjana akuntansi. Orangnya kecil mungil, kulitnya sawo matang khas anak daerah, orangnya supel gampang bergaul." lapor Ruben sudah selidiki semua tentang wanita bakal di sodorkan pada Ezra.
Ezra menggeleng tak paham. Apa tujuan mamanya bikin Ezra jadi penjahat cinta. Sudah punya setengah lusin bini masih beri yang baru lagi. Emang Ezra itu tak punya perasaan pada anak perempuan?
"Katakan jangan coba-coba pancing amarah aku! Kali ini aku tidak akan tinggal diam. Sudah cukup kekonyolan selama ini. Aku sudah bosan."
"Bukankah enak dikelilingi segudang cewek? Aku mau kok kalau dikasih gratis." olok Ruben.
"Ambil saja semua tapi sisakan satu untukku yaitu Adeeva! Aku cuma Adeeva. Yang lain boleh kau ambil atau umpan ke biaya buntung."
Ruben terkekeh dengar nada tak senang Ezra. Cukup lama Ezra biarkan mamanya berbuat onar di rumah. Ezra sudah temukan orang yang dia nanti. keonaran ini harus stop. Penguras dompet Ezra harus segera disingkirkan.
"Kamu stop kartu kredit mereka semua. Blokir dulu sampai ada keputusan dariku. Uang belanja tetapkan sesuai keinginan aku! Aku akan hitung berapa uang belanja sebulan."
"Aku bisa disate Rubah-rubah cantik di rumahmu. Sehari tidak belanja hidup mereka tidak sempurna. Kau mau pula blokir kartu mereka. Aku belum mau mati." Ruben goyangkan tangan takut laksanakan perintah Ezra tutup akses para selir di istana hambur uang Ezra.
"Katakan perintah aku! Sekarang juga. Pengeluaran siapa paling tinggi?"
"Renata...lalu Farah baru Soledad! Dorce dan Michelle lumayan tapi tidak habis gas. Dan Adeeva nihil."
Ezra tak heran kalau Adeeva tidak gunakan fasilitas yang dia berikan. Gadis itu tak mau berhutang pada suaminya agar gampang lepas dari pernikahan tidak dia inginkan.
"Kita ke kantor. Kau bereskan pakaianku dan masukkan ke mobil. Kita langsung berangkat dari kantor. Adeeva kita biarkan di sini dulu sampai persoalan aku dengan mama beres."
"Aku rasa lebih baik Adeeva di sini. Di sana juga berbahaya untuknya. Kau kan tahu sifat bude. Tak senang disikat habis."
Ezra setuju kata Ruben. Politik dan konspirasi dalam keluarganya sudah lewat batas. Saling menjatuhkan demi hidup mewah. Ini semua kekacauan warisan dari papanya. Akibat kerakusan papanya terhadap wanita Ezra harus tanggung akibatnya.
"Kau harus lindungi Adeeva dari ancaman rencana terselubung. Satu helai rambutnya hilang akan kuminta mereka bayar pakai darah."
Ruben bergidik dengar ancaman Ezra. Tampaknya Ezra benar-benar ingin Adeeva masuk dalam hidupnya. Perempuan di istana hanya debu bikin mata pedas. Ezra sudah cukup muak jalani sandiwara dari mamanya.
"Aku segera berberes. Oya apa Adeeva akan terus tinggal di sini atau biarkan dia kembali indekost?"
"Terserah dia! Cuma kau harus suruh orang ikuti dia tiap hari. Jangan ada yang boleh lukai dia!"
"Oh itu...tenang saja! Tak ada yang bisa lukai dia. Kita ini bukan tandingan dia."
"Berhadapan langsung dia memang jago tapi ini yang menyergap dari belakang. Adeeva anak lugu cepat terpengaruh cerita orang. Aku saja gampang jebak dia. Dia percaya telah tidur denganku."
"Emang tidur kan? Sampai pagi lagi. Lalu apa kendalanya?"
"Otak lhu bawa laundry saja! Kotor melulu.."
"Apa Abang mau bilang antara kalian tidak terjadi kontak fisik dalam tanda kutip!"
"Menurutmu aku serendah itu cari keuntungan dari anak lugu?"
Ruben tertawa senang ternyata Adeeva dan Ezra tidak terjadi sesuatu melanggar norma. Norma apa dilanggar? Adeeva dan Ezra pasangan halal ditambah Ezra perkuat dengan sahkan pernikahan mereka makin kuat pernikahan mereka.
__ADS_1
"Salut deh! Artinya jalan ke Roma belum putus. Aku masih bisa berjalan ke sana adu nasib. Doakan aku sukses curi Adeeva darimu!" Ruben menggosok tangan secara maraton. Disuruh bereskan pakaian Ezra, Ruben malah asyik bayangkan Adeeva.