
"Ya Tuhan..." seru Adeeva membuat Ezra yang sedang tergantung-ngantuk terloncat kaget.
"Ada apa ini?"
"Lihat ini... kekayaan Ika capai hampir lima ratus milyar. Mengapa aku tidak deteksi rekening orang ini dari awal. Kaya banget nih orang!"
Ezra merasa kepalanya pusing dengar laporan Adeeva. Seberapa banyak uang perusahaan mengalir ke keluarga pak Jul? Uang pak Jul sudah disita masih ada uang anaknya. Pantas mereka masih santai walau telah dimiskinkan.
"Ini tidak bisa diberi point! Kuras sampai kering. Lihat ini lagi. Anak pak Jul yang lain. Uangnya hampir capai satu T. Gimana sih bapak? Pokoknya jangan ikut campur urusan ini! Aku yang akan rebus mereka."
Adeeva langsung kerjakan tugas mulia kuras uang Ika dan Ilham anak pak Jul. Uang mereka tak habis-habis walau sudah dikuras. Adeeva sisakan uang seratus ribu sebagai tanda simpatik. Adeeva yakin Ika dan Ilham akan jantungan uangnya mendadak raib setelah punyaan Pak Jul.
Ezra bungkam seribu bahasa tak sangka keadaan separah ini. Dia pikir cuma pak Jul dan mamanya. Siapa sangka Ika dan Ilham ikutan sikat uang perusahaan. Mereka adalah aktor di balik kehancuran perusahaan Ezra. Ezra ini betulan seorang pengusaha atau badut mainan keluarga pak Jul.
"Masih ada lagi?" Ezra ikutan duduk di samping Adeeva lihat cara kerja isterinya yang cukup sadis.
"Aku curiga pak Jul ada rekening lain. Cuma belum ketahuan. Bapak beri data semua keluarga pak Jul yang lain. Aku sikat semua tanpa kecuali."
"Bukankah Ruben sudah berikan semua data serta nomor kontak?"
"Iya...aku tak bisa sadap semua karena tak bisa tanam software di ponsel mereka. Aku pantau dari akun mereka saja."
"Terima kasih sayang! Aku tak sangka mereka begitu parah. Kekayaan mereka adalah milik anak kita kelak. Kuijinkan kamu sapu bersih."
"Aku sudah selamatkan uang perusahaan satu T lebih. Apa bonus untukku?"
"Terserah kamu mau apa! Apa saja boleh asal tidak minta cerai."
"Ok tidak cerai tapi aku mau poliandri. Boleh?" olok Adeeva aduk jantung Ezra hendak remuk.
"Kau akan lihat pembunuhan besaran!" ketus Ezra gemas pada Adeeva yang olok dia.
"Penjara dong! Bapak pergi tidur saja! Aku akan pantau rencana Renata dan pak Jul. Kalau ada kabar aku akan beritahu bapak."
"Kau tak tidur aku juga tak tidur. Aku mau temani kamu."
"Terserah!"
"Aku bikinkan teh?"
"Apa bisa? Nanti kebakaran pula! Biar aku saja. Aku mau kopi biar bisa begadang sampai pagi."
Ezra terhenyak Adeeva mau minum kopi. Itu bukan minuman cocok untuk ibu hamil. Sebisanya hindari caffein agar bayinya aman.
"Malam hari tak baik minum kopi. Kita masih harus pulang besok jadi tak boleh tidur terlalu malam. Kurasa teh saja cukup."
Alasan Ezra cukup masuk akal Adeeva. Mereka masih harus berkendaraan besok. Tidur terlalu larut akan bawa pengaruh buruk di perjalanan. Adeeva tak tahu Ezra telah perintah Ruben jemput mereka pakai pesawat esok hari.
Ezra tak tahu apa yang dikerjakan oleh Adeeva di depan layar monitor. Wanita muda ini asyik sampai lupa daratan. Ezra lihat sekali-kali bibir Adeeva muncul senyum sinis. Wanita ini pasti menemukan sesuatu menarik barulah tersenyum. Ezra tak bisa berbuat apa-apa selain tunggu wanita ini lelah.
Jam berlari terus mengejar pagi. Ezra benaran bosan menunggu Adeeva lelah. Energi anak ini seperti tidak habis-habis. Baterei nya on terus.
"Ade...jam dua belas. Besok kita masih harus pulang ke kota. Di sana sudah ada tugas baru untukmu." tegur Ezra melirik jam di tangan telah bergulir ke tengah malam.
"Hahaha...nangis darah tuh keluarga pak Jul! Aku harap mereka mau lapor polisi. Besok makan bubur deh!" kata Adeeva kegirangan seperti dapat mainan baru.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Ezra tertarik ikut pantau gerakan di layar monitor laptop.
"Mereka jatuh miskin! Aku kuras semua harta mereka. Termasuk isteri pak Jul. Gitu-gitu hartanya ratusan milyar. Aku sudah selamatkan uang bapak hampir tiga T. Sekarang tinggal lacak rekening Pak Jul yang lain."
"Hebat kamu..." Ezra puas cara kerja Adeeva yang sigap. Ezra sudah tak pikir akibat bila harus berurusan dengan pihak berwajib. Mereka semua memang pencuri. Dibawa ke jalur hukum akan terbuka semua korupsi besaran di kantor.
Adeeva merentangkan tangan merenggangkan otot kaku. Otot kaku tak seberapa bila dibanding rasa puas kerjain para maling.
"Aku ngantuk! Bapak sudah boleh tidur. Sudah minum obat kan?"
"Sudah...kau tidur di kamar aku ya! Takut tengah malam aku kumat demam."
"Ini sudah tengah malam! Kalau mau kumat sudah dari tadi. Banyak alasan. Kita masih musuhan lho!"
"Ya ampun nyonya! Masih mau lanjut perang? Apa tidak bosan?"
"Bosan??? Nggak ach.. aku harus tegakkan harga diri sebagai isteri. Masa kalah sama bintang sejuta umat." Adeeva bangkit tak open Ezra nelangsa tak berhasil bawa Adeeva ke pelukan.
Ezra ingin sekali peluk Adeeva untuk rasakan pelukan ibu hamil. Ezra rindu banget pada bau badan Adeeva tapi cewek ini seperti mega putih di langit. Cuma bisa dilihat tak bisa disentuh. Ezra harus bersiap menelan pil pahit akibat kesalahan sendiri. Ini akan jadi pelajaran sangat berharga buat Ezra.
Adeeva melenggang santai tinggalkan Ezra sendirian di ruang tamu. Wanita muda ini masuk ke kamar dia dulu untuk nikmati mimpi indah sukses kacangi kroni pak Jul. Besok mereka pasti heboh dapat notifikasi transfer uang secara besaran. Masa bodoh mau lihat ke mana aliran dana.
Udara pagi dingin membangunkan Adeeva dari mimpi indah. Wanita ini berguling kumpulkan ingatan berada di mana. Dia berada di kota B bersama suami cabul. Ezra banyak berubah tak berarti akan segera dapat ampunan.
Adeeva laksanakan sholat subuh lalu bikin sarapan sederhana berdasarkan isi kulkas. Apa yang ada itu yang di masak Adeeva.
Perut Adeeva agak kurang bersahabat pagi ini. Seperti ada centong besar sedang mengaduk isi perut ciptakan rasa mual.
Adeeva anggap ini masuk angin akibat telat tidur. Adeeva cari minyak angin untuk redakan rasa tak nyaman di ulu hati. Ada sesuatu mendesak ingin keluar dari kerongkongan tapi tidak keluar.
Adeeva skip rasa mual dengan memasak biar lupakan rasa tak nyaman itu. Sebentar enak sebentar tak enak. Ada apa dengan lambung Adeeva? Gejala asam lambung pikir Adeeva.
Suara muntah Adeeva sampai juga ke kuping Ezra. Lelaki ini bagai kesengat listrik dengar isteri kecilnya mengeluarkan isi perut. Kata-kata isteri Imron terngiang di kuping Ezra. Ibu hamil akan muntah di pagi hari. Mengapa sekarang Adeeva baru morning sick. Ke mana gejala ibu hamil selama ini?
Ezra tak menunda segera hampiri Adeeva untuk lihat kondisi isterinya itu. Adeeva terbungkuk-bungkuk di depan bak cuci piring kosongkan isi perut.
"Kenapa kamu sayang?" Ezra mengurut tengkuk leher Adeeva supaya lega.
Perut Adeeva makin mual dengar panggilan sayang dari Ezra. Ada rasa geli menyelinap di dada dipanggil mesra oleh laki ini.
"Aku masuk angin!" sahut Adeeva dengan nafas terputus-putus.
"Ayok duduk dulu! Biar kuambil minyak kayu putih!" Ezra dengan lembut bimbing Adeeva tinggalkan dapur. Laki ini bawa Adeeva istirahat di sofa agar lebih tenang.
"Terima kasih."
Ezra masuk kamar cari minyak kayu putih untuk gosok perut mual Adeeva. Mungkin bau minyak kayu putih akan bantu wanita ini redakan rasa mual. berlebihan. Ezra jadi kasihan pada Adeeva harus menderita karena mengandung.
Ezra ingat pembelaan Adeeva terhadap kaum hawa. Pembelaan itu tepat karena seorang ibu memang mulia. Kaum wanita tak bisa dipandang rendah. Mereka memiliki kekuatan tak dimiliki lelaki. Mengandung anak selama sembilan bulan. Lelaki tak pernah rasakan rasa sakit melahirkan. Dasar apa menghina wanita.
Ezra berusaha meredakan rasa mual Adeeva termasuk gosok minyak di leher dan tengkuk Adeeva. Kalau bisa Ezra ingin ganti posisi Adeeva alami morning sick biar anak ini tidak menderita.
"Enakan sayang?"
"Ambil air minum!"
__ADS_1
"Oh tentu..." Ezra terbang ambil air permintaan Adeeva. Sekarang apa saja permintaan Adeeva adalah sabda seorang ratu.
"Minumlah!" Ezra mendekatkan gelas ke bibir Adeeva tanpa serahkan gelas pada Adeeva. Ezra pegang langsung gelas itu.
"Terima kasih pak! Aku kok jadi lemah ya?" gumam Adeeva kurang yakin pada kekuatan sendiri. Biasa dia paling tegar bila dapat tugas lembur walau dibayar tidur siang di kantor.
"Sudah kubilang jangan capek! Kau baru saja sembuh dari sakit. Kita pulang ke rumah Umi ya! Di sana Umi akan rawat kamu dengan baik."
"Iya pak. Tapi kita langsung ke kantor. Tugas kita masih banyak."
"Serahkan padaku! Kau tampak sangat pucat. Tak usah pikir pekerjaan dulu. Yang penting jaga kesehatan. Soal om Jul biar kutangani. Ok?"
"Tidak...bapak pasti tak tega eksekusi mereka. Aku akan tetap mutasi semua pegawai. Aku sudah enakan. Kita sarapan lalu balik."
Ezra benar habis akal bujuk Adeeva. Cewek ini sungguh keras kepala. Sekali bilang hitam pasti berjalan di atas garis hitam. Takkan belok ke garis putih.
"Ruben akan jemput kita pakai pesawat. Aku baru sembuh sakit dan kau juga sakit maka kuminta Ruben jemput kita. Aku tak mau kita berdua terkapar."
"Ya ampun pak Ezra ikan paus...kau tahu berapa biaya beli bahan bakar pesawat? Buang uang! Besok tanpa ijin aku tak boleh gunakan transportasi udara."
"Iya nyonya Dilangit! Sekarang sarapan dan kita bersiap ke bandara. Aku mau mandi sebentar."
"Aku juga...bajuku agak bau asem kena muntah tadi."
"Mau kumandikan?" olok Ezra harap rezeki nomplok. Adeeva mengepal tinju paling ditakuti Ezra. Tinjunya tampak kecil tapi pedih cabe rawit.
Adeeva segera bersiap pulang ke kota. Dalam hati cewek ini cuma ada satu yakni bereskan kekacauan di perusahaan. Untuk masalah keuangan telah teratasi sedikit karena telah rebut kembali sebagian uang cash dari para pengerat.
Ruben datang pukul sembilan pagi. Lelaki muda ini menatap Adeeva lekat-lekat tak percaya wanita yang paling dia kagumi sedang mengandung putra abangnya. Ruben hanya berharap Adeeva dan Ezra hidup rukun buka lembaran baru.
Ezra beri kode pada Ruben jangan reseh bertanya di luar konteks. Ezra mau Umi Adeeva beri arahan pada cewek ini terima kodrat menjadi seorang ibu.
Di dalam pesawat Adeeva tidur walau perjalanan sangat singkat. Tidak sampai setengah jam sudah mendarat di kota J.
Ezra tidak antar Adeeva ke kantor melainkan pulang ke rumah mertuanya. Adeeva akan istirahat tenang di bawah pengawasan Uminya. Umi Adeeva orangnya lemah lembut pasti akan beri didikan pada wanita ini tentang kehamilan. Semoga semua berjalan lancar. Adeeva tidak berontak mau terima bayinya.
Ezra turunkan Adeeva langsung ke kantor bersama Ruben. Ezra harus turun tangan bantu sebagian tugas Adeeva. Ezra tak mau istri mudanya kecapekan kejar target. Ezra harus tuntaskan semua kekacauan di kantor.
Suasana kantor akan mencekam sehubungan adanya desa desis mutasi pegawai besar-besaran. Semua kebat kebit menanti kebijakan baru pemimpin baru mereka. Adeeva jauh lebih tegas dari Ezra. Adeeva bukan cuma tegas juga kejam. Bagi yang bermasalah tak ada kata toleransi.
Ezra datang bersama Ruben menuju ke ruang kerja Ezra seperti biasa. Kali ini tanpa kehadiran Adeeva bikin tanda tanya besar di kepala para pegawai. Mengapa bos baru mereka tidak nongol. Apa terjadi pergantian pimpinan lagi?
Ezra perintahkan Ruben panggil Ika sebagai penanggung jawab impor perangkat bermasalah. Ezra harus bicara dengan Ika sebelum Ika dipermalukan oleh Adeeva. Seratus persen Adeeva takkan jaga muka Ika.
Untunglah Ika masuk kerja. Kalau tidak surat pemecatan pasti langsung turun. Wanita berkarir ini tampak kurang gairah jumpai Ezra. Namun dandanan ibu sosialita tidak hilang dari tubuh wanita ini.
Ezra mempersilahkan Ika duduk di kursi depan meja kerja Adeeva. Untuk sementara Ezra boleh duduk di situ sebelum Adeeva datang.
Ezra tidak segera bersuara melainkan menyiksa Ika dengan kebisuan. Sikap ini bikin Ika makin salah tingkah. Maunya langsung ke topik biar tahu masalah apa sedang dia hadapi.
"Ada apa Ezra? Aku dipanggil hanya untuk duduk santai? Pekerjaan aku masih banyak." Ika hilang kesabaran duluan berkata.
"Ika... hari ini Adeeva tidak masuk kerja karena kurang sehat. Kau tahu jiwa pimpinan baru kita? Junjung kejujuran dan kebenaran. Dia tak segan permalukan orang bila bikin masalah."
"Perempuan gila itu? Aku heran dari mana kau pungut wanita tak tahu malu seperti itu. Sok berkuasa. Dia telah tutup semua akses komputer. Kami bisa kerja apa bila tak tahu pergerakan di perusahaan." protes Ika kesal bukan main pada Adeeva.
__ADS_1
"Bukan dia tapi aku. Aku yang undang pakar dari luar negeri atur ulang sistim kita. Dan lagi setiap bagian dapat akses jatah masing-masing. Jadi kau tak perlu campur urusan divisi lain. Aku minta kamu ke sini bukan bahas Adeeva melainkan perangkat dari Korea."
"Memang kenapa? Kita untung besar dapat barang murah."