
Ezra mengurut dada hadapi keluarga mamanya. Ezra tak tahu bagaimana Bu Jul selesaikan masalah kehamilan Renata. Di sini Bu Humaira berperan penting mendorong Renata dan Pak Jul saling berhubungan. Tanpa dukungan bu Humaira semua ini pasti tidak akan terjadi. Mereka pikir mereka sangat pintar menghitung langkah Ezra masuk perangkap mereka.
Sayang mereka tak tahu Ezra mempunyai seekor kuda poni yang otaknya selicin berlian. Tanpa bantuan Adeeva sampai kapanpun Ezra tak tahu sampai di mana kebusukan Bu Humaira. Satu persatu kejahatan Bu Humaira terungkap.
Masih ada satu tugas Ezra lagi yakni Rani. Untuk Rani mungkin Ezra tidak akan berbaik hati. Hadapi wanita ini Ezra tak boleh lembut karena wanita ini sudah melangkah terlalu jauh.
Ezra harus pandai korek keterangan dari Rani. Ezra harus membuat Rani terlena dulu baru jalankan aksi balas semua kejahatan wanita itu. Langsung antar dia ke penjara terlalu enak bagi wanita itu.
Ezra coba hubungi Rani lewat percakapan ponsel. Ezra malas lihat wajah wanita culas. Takutnya Ezra tak bisa tahan emosi bola sudah jumpa dengan Rani. Ezra merasa tertipu beberapa tahun ini jaga Rani dan anaknya dengan tulus hati. Ternyata di balik semua ini ada konspirasi maha besar.
"Halo..."
"Ezra...tumben? Kangen ya?" Ezra mendapat sambutan luar biasa ceria dari Rani.
Ezra puji mental Rani tidak takut akan hukum alam dan hukum karma. Wanita itu masih berbuat seolah tak ada masalah dia dengan Ezra.
"Apa kabar Rani?"
"Baik...kenapa sekarang jarang datang ke rumah. Anak kita asyik tanya kamu. Dia kangen lho!"
"Aku sibuk karena perusahaan agak seret. Ya keuangan tersendat sedikit! Kau gimana? Usahamu gimana?"
"Ya biasa saja! Aku bisa bantu kamu bila kurang dana. Aku punya stok cukup banyak. Katakan kapan kau perlu. Aku akan antar ke kantormu."
"Memangnya Herman tinggalkan banyak harta?"
"Lumayan..aku kuasai semua aset Herman dan papanya. Aset papa Herman luar biasa. Tanpa aset itu Herman tak mungkin bertahan sampai dia meninggal. Pendek kata aset itu peninggalan papa Herman. Aku kelola ya makin bertambah."
"Kau hebat...sudah kau perhitungkan aset keluarga Herman jatuh ke tanganmu."
"Maklumlah! Herman masih punya adik. Tanpa trik kita tak mungkin rangkum semua. Pinter-pinter kitalah! Tak usah cerita itu! Kapan kau datang? Kita bisa gabung dua perusahaan jadi satu."
"Kurasa tak perlu. Aku masih bisa bertahan. Sudah gabung nanti aku malah menyusul Herman pula." Ezra sengaja keluarkan gurauan.
"Apa maksudmu?" Rani terdengar panik Ezra omong begitu.
"Maksud apa? Hanya canda. Kau nikmati saja warisan Herman. Aku berjalan di jalanku."
"Ezra...kapan kau akan memasukkan aku dalam daftar wanitamu? Kau tahu aku sudah menunggumu cukup lama. Kadang aku tidak tahan lagi ingin menyatukan raga kita. Aku sangat mencintaimu. Kau tahu itu dari dulu. Waktu Herman kenalkan kamu aku sudah jatuh cinta."
"Rani...aku cuma anggap kamu itu saudara. Tak bisa lebih. Kau tahu wanita yang kucintai adalah bayi yang kutunggu sejak kecil. Tak ada wanita lain dalam hidupku."
"Lalu isteri di istana? Sonya? Mereka itu apa?" Rani mulai baik darah Ezra menolaknya.
"Aku tak pernah menyentuh wanita di rumahku selain Adeeva. Adeeva adalah wanita yang kuinginkan. Siapa yang berani menyentuhnya sehelai rambut akan kuhabisin. Aku bersumpah untuk itu." Ezra juga mulai mengaum marah Rani telah tunjukkan muka aslinya.
"Adeeva??? Dia lagi? Kenapa tidak mati saja?"
"Jaga mulutmu! Adeeva adalah wanita yang paling kusayangi. Kalau terjadi sesuatu padanya kau harus bertanggung jawab karena ancaman keluar dari mulutmu." bentak Ezra hilang kesabaran karena Rani anggap Adeeva mudah dicundangi.
"Ya ampun Ezra! Hanya seorang gadis kecil. Aku bisa jauh lebih baik dari dia. Kau lupa hubungan kita selama ini? Kita bergaul dengan baik seperti satu keluarga. Jangan karena seorang bocah kemarin kau lupakan aku!"
"Adeeva bukan bocah tapi wanita belahan jiwa aku. Di dunia ini tak seorangpun boleh sentuh dia. Aku akan habisin orang itu. Kau harus lihat seberapa kejam aku bila menyangkut Adeeva."
__ADS_1
Rani terdiam sejenak tak ngerti apa hebatnya Adeeva buat Ezra. Di mata Rani Adeeva itu hanya gadis tomboi mirip preman jalanan. Cepat atau lambat Ezra pasti akan bosan. Wanita semuda Adeeva mana ngerti layani lelaki dengan baik.
"Sudahlah! Untuk apa bahas orang tak penting? Kita harus naik ranjang bersama dulu baru kau tahu betapa pentingnya aku dalam hidupmu. Malam ini aku ke apartemen kamu ya?"
"Sudah aku jual apartemen itu. Itu bawa kenangan buruk bagi Adeeva. Sekarang aku tinggal di rumah mertua aku! Di sana nyaman ada cahaya kehidupan sesungguhnya. Bukan kehidupan penuh kemunafikan."
"Ezra...itu bukan dunia kita! Sadarlah bahwa kitalah pasangan sesungguhnya. Aku sudah korbankan banyak hal demi kamu. Masa kau tak tahu pengorbanan aku?"
"Aku tak butuh pengorbanan kamu bila harus sakiti orang lain. Setiap perbuatan kita ada balasan. Tergantung kita mau karma baik atau buruk. Jaga dirimu baik-baik! Aku mulai takut kepadamu!"
"Ezra...kau gila ya? Aku ini Rani yang selalu kau jaga karena amanah Herman."
"Sampai kapan kau akan bohongi aku? Herman meninggal di tempat bagaimana bisa tinggalkan amanah. Kau mau permainkan aku?"
"Kau...omong apa kau? Herman kecelakaan dalam perjalanan ke luar kota. Dia meninggal di rumah sakit setelah teleponi kamu. Kamu kok tega fitnah aku?" Rani menangis sedih Ezra menuduhnya yang bukan-bukan.
"Aku sudah dapat bukti Herman meninggal pukul sembilan malam. Bukan esok hari seperti karangan kamu. Kamu yang gila permainkan takdir orang. Polisi yang bongkar kematian Herman karena kasus penculikan Adeeva. Salah satu begundal kamu buka rahasia dia yang kerjain mobil Herman atas suruhan seseorang."
"Kenapa kau hubungkan dengan aku? Aku tak kenal para penjahat. Lalu apa untungnya aku bunuh suami sendiri? Kau jangan sembarangan bohong!"
"Aku bohong atau tidak nanti kamu akan tahu sendiri. Katanya pihak kepolisian sudah dapatkan barang bukti. Kuharap kau benar-benar tidak terlibat."
"Aku tidak terlibat kejahatan apapun. Siapa bisa tangkap aku tanpa bukti jelas. Aku kok jadi benci padamu Ezra? Kenapa kamu paksa aku lakukan sesuatu di luar batas."
"Semoga lah! Jaga diri saja!" Ezra langsung putuskan sambungan karena tak sanggup berdebat dengan wanita. Apalagi Ezra pernah menjaganya selama tiga tahun. Kini Ezra makin yakin laporan penjahat itu bukan omong kosong. Sekilas ngobrol Ezra menemukan sedikit cela Rani dalam hal racuni mertuanya demi harta. Sungguh Rani luar biasa.
Ezra meletakkan ponsel mengusap wajah tak percaya Rani yang tampak lemah sanggup lakukan kejahatan besar. Dia nyawa melayang karena ambisinya terlalu tinggi. Di tambah nyawa Adeeva lagi. Untunglah Adeeva bukan wanita lemah bisa dikalahkan dengan mudah.
Ezra menjadi ngeri pada wanita. Ternyata di balik kelembutan wanita tersimpan power tak terduga. Ezra harus makin hati-hati pada wanita. Syukurlah dia gampang terbebas dari para selir. Kini Ezra harus bidik Bu Humaira agar menyerah bawa Ezra ke lubang kehancuran.
Ruben masuk seperti biasa ikuti prosedur kantor. Ketuk pintu minta ijin baru berani masuk.
Ruben juga tampak lelah karena sangat banyak pekerjaan diserahkan padanya. Kalau ada Adeeva tugasnya akan lebih ringan. Adeeva lebih gesit kerjakan semua pekerjaan.
"Iya pak!"
"Kamu antar hasil rekaman ke kantor polisi. Sudah kau simpan copynya?"
"Sudah...aku segera ke sana! Mutasi pegawai sedang rampung delapan puluh persen. Banyak yang puas dengan susunan tugas pegawai karena menurut skill mereka. Aku acung jempol pada hasil kerja Poni. Dia memang pantas jadi pemimpin. Tegas tidak mempan rayuan."
Ezra lontarkan pandangan membunuh ke arah Ruben. Anak lajang itu seperti sedang ejek Ezra gampang dirayu sehingga lengah urus perusahaan. Tanpa Adeeva mungkin perusahaan makin terpuruk.
"Masih ingin pacaran dengan orang Papua?"
"Ancaman basi. Aku pergi sekarang. Jaga perusahaan dengan baik!" Ruben nyengir kuda tak mempan diancam lagi. Ruben sudah punya backing handal tundukkan Ezra.
Ezra mendesah jengkel Ruben sudah punya nyali melawannya. Ini pasti pengaruh Adeeva. Keduanya kompak lawan Ezra. Ezra takkan biarkan Ruben sombong andalkan Adeeva. Dia harus cari jalan agar Ruben patuh seperti dulu.
Kita tinggalkan Ezra sibuk dengan kasus Rani. Kita beralih ke rumah sakit di mana Adeeva dirawat. Wanita muda ini tak sabar ingin tinggalkan rumah sakit pulang ke rumahnya. Kali ini Adeeva ingin pulang ke rumah Abah hindari kejadian sama. Untuk sementara di luar tidak aman bagi Adeeva.
Adeeva hanya ditemani Umi karena Abah pergi keluar jalan-jalan. Siapapun akan bosan hanya disuruh duduk kayak orang bengong dalam ruang perawatan. Adeeva masih mending bisa nonton youtube sedangkan Abah dan Umi paling zikir doakan keselamatan Adeeva dan calon cucu mereka.
Adeeva benaran bosan sampai tak tahu harus kerja apa. Makan tidur adalah tugas utama dia sekarang. Itu bukan sifat Adeeva sesungguhnya.
__ADS_1
Rasa bosan Adeeva terkikis tatkala ponselnya berbunyi nyaring minta perhatian. Adeeva segera menyambar benda pipih itu lihat siapa yang telepon. Siapapun yang telepon tetap akan diladeni Adeeva usir sepi.
Adeeva tersenyum lihat layar tertera nama orang yang sangat dia kenal. Tanpa ragu Adeeva sambungkan ke ponselnya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam... apa kabar nyonya bos?"
"Alhamdulillah sudah mulai sehat!"
"Ya ampun..kau sakit?"
"Seupil sakitnya! Sudah sehat kok! Tumben teh Desi telepon?"
"Bukan tumben tapi ada keperluan. Aku mau tanya apa tawaran dulu masih berlaku?"
"Tawaran apa? Mau jadi bintang film?"
"Yee nih bocah! Dulu nawarin pindah ke kantor pusat sekarang lupa. Nawarnya pakai hati ngak?"
Adeeva tertawa ngakak dengar Desi ngambek. Adeeva tentu saja ingat pernah ajak Desi coba cari pengalaman di kantor pusat. Adeeva butuh tangan kanan bisa dipercaya.
"Wah...kapan udara kota B jadi panas? Warganya kok ketelan bara api?"
"Kamu sih ngeselin! Aku sudah minta ijin pada ayah dan ibu. Mereka ijinkan kok asal ada kamu!"
"Kalau gitu aku harus lamar teh Desi dulu!"
"Makin kurang waras. Kapan aku ditarik ke sana? Besok aku ke sana ya?"
Adeeva tertegun merasakan ada sesuatu yang tak beres pada Desi. Dari nada suara Desi saja terdengar mengandung hawa bawang merah. Pedas bikin mata memerah.
"Teh...ada apa? Jangan lupa aku ini pelindung teh Desi! Berangkat saja atau kusuruh orang jemput teteh!"
"Tak usah! Teteh berangkat dengan kereta api saja. Kalau sudah sampai baru kau suruh orang jemput. Nanti kita cerita di sana."
"Baik teh! Gimana pak Judika dan kang Imron?"
"Mereka baik saja! Besok kita jumpa ya! Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Adeeva tak habis pikir mengapa Desi mendadak minta dipindahkan ke kantor pusat. Wanita itu menemukan kesulitan apa lagi. Adeeva takkan biarkan teman akrabnya kena musibah.
Adeeva harus bersabar menunggu Desi tiba di kota J. Lain bisa apa lagi. Desi juga ogah cerita. Adeeva tak bisa paksa Desi keluh kesah di telepon.
Umi melihat perubahan rona wajah Adeeva setelah terima telepon dari seseorang. Umi tentu saja takut itu telepon teror.
"Eva...siapa nak?" tanya Umi kuatir.
"Desi...teman sekantor Eva dulu. Dia minta dipindahkan ke kantor pusat. Kayaknya dia ada masalah. Eva senang kalau dia mau berkarir di sini. Orangnya pintar dan teliti. Kita tunggu dia datang saja."
Umi agak lega ternyata bukan teror ancam Adeeva. Umi trauma Adeeva jadi target orang tak bertanggung jawab.
__ADS_1
"Syukurlah kalau gitu! Umi takut sekali kalau terjadi sesuatu padamu. Apalagi sekarang ada cucu Umi. Umi bisa kena serangan jantung setiap saat."
Adeeva tersenyum penuh rasa haru. Hati seorang ibu tetap tulus pada anak sendiri. Mungkin dia akan pilih dia jadi korban ketimbang korbankan anak sendiri.