Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Incaran


__ADS_3

Sesuai janji Desi akan datang ke kota J. Gadis itu beri kabar bahwa dia berangkat dengan kereta api. Desi minta dijemput karena belum tahu seluk beluk kota J.


Adeeva tugaskan Ruben jemput kawan baiknya itu. Mereka bekerja sama dalam satu divisi utamakan rasa persaudaraan. Adeeva selalu anggap Desi itu kakak sendiri dan berusaha lindungi gadis itu dari bahaya apa saja.


Ruben tentu saja dengan senang hati jemput cewek dari kota Parahyangan. Menurut cerita orang cewek sana rata-rata cantik. Ruben sudah pernah lihat sewaktu main ke sana dan terbukti cuma Ruben tidak dekat karena hanya mata memandang. Sekedar cuci mata saja. Dan sekarang Ruben akan langsung berhadapan dengan cewek dari dataran tinggi itu.


Masing-masing melaksanakan tugas yang memang jadi jatah. Ezra sibuk urus masalah Rani sedangkan Ruben dapat tugas tingkatkan kinerja karyawan perusahaan.


Adeeva masih di rumah sakit menunggu kehadiran teman dekatnya. Adeeva tak sabaran ingin jumpa dengan gadis itu untuk obati rasa kangen. Satu lagi orang paling dikangeni Adeeva yakni Nunik.


Lewat tengah hari Ruben antar Desi ke rumah sakit untuk jumpa Adeeva. Desi tampak agak lesu tatkala masuk ke ruang rawat Adeeva. Ruben juga gunakan kesempatan ini jenguk Adeeva karena dia belum sempat datangi Adeeva selama sakit. Pekerjaan Ruben terlalu banyak.


"Assalamualaikum.." sapa Desi begitu masuk ruangan Adeeva. Adeeva masih tak diijinkan keliaran sekitar kamar karena takut terjadi pendarahan susulan.


"Waalaikumsalam. Teh Desi...ayo sini!" Desi agak gugup lewati Umi dan Abah yang menatapnya dengan tatapan curiga. Ruben hanya berdiri di sudut dengan gaya manis. Ruben tak ubah seperti anak SD kena setrap oleh guru berdiri di sudut ruangan.


"Aku Desi teman sekantor Adeeva sewaktu di kota B."


Tingkat waspada Umi menurun. Umi takut Desi termasuk salah satu piaraan Ezra. Beginilah nasib Adeeva punya suami digilai para wanita. Ntah karena Ezra kaya atau karena Ezra good looking.


"Oh...silahkan duduk! Di sini rumah sakit jadi Umi tak bisa suguhkan minuman."


"Aduh Umi...tak usah repot! Aku cuma ingin lihat anak nakal ini. Emang sakit apa?" Desi menatap Adeeva yang jadi anak manis duduk di atas brankar.


"Lagi ngeram kecebong Ezra." timpal Ruben menarik perhatian Desi. Desi belum ngerti maksud dari omongan Ruben karena pikiran Desi tidak seliar Ruben dan Adeeva. Hanya orang songong ngerti bahasa songong.


"Kecebong kayak?" Desi agak bingung.


Adeeva tertawa ngakak merasa Desi lucu tidak paham apa maksud Ruben.


"Kalian ini omong tidak pakai kamus. Nak Desi tak usah dengar gurauan mereka. Eva itu hamil anak Ezra. Kebetulan ada sedikit pendarahan maka dirawat." Umi berbaik hati menjelaskan apa maksud omongan Ruben.


"Alhamdulillah.. kau akan jadi ibu? Ya Allah...semoga anakmu tidak seperti kamu. Pinternya boleh ikut tapi tingkahnya jangan deh!" Desi tak henti ucap syukur akhirnya kenakalan Adeeva bisa berhenti.


"Teh Desi ini aneh? Kapan aku nakal? Aku ini anak paling baik sedunia. Patuh pada orang tua, setia pada bos sampai rela melahirkan anak untuk Bos."


"Bukankah bosnya kamu?" gurau Desi.


"Iya juga ya ..hampir lupa sudah naik pangkat jadi bos. Teh Desi mau tinggal di mana? Untuk sementara teknisi tinggal saja di rumah kami. Atau mau tinggal di rumah Ruben boleh juga. Tapi harus ke penghulu dulu."


Ruben masem-masem digoda Adeeva. Adeeva mulutnya susah direm. Mau omong apa sesuka hatinya saja.


Desi tentu saja agak jengah disuruh tinggal di tempat laki lajang. Kenal juga baru hari ini. Ngomong pun masih basa basi.


"Aku tinggal bersama kamu saja Eva." ujar Desi pelan tak berani menatap Ruben.


"Ok...nanti kau tidur bersama aku!"


"Gila kamu ini! Pak Ezra mau dibawa ke mana?"

__ADS_1


Lagi-lagi Adeeva tertawa. Selama ini dia dan Ezra juga jarang tidur bareng. Ezra pasti maklum bila Adeeva ingin tidur bersama teman akrabnya.


"Santai saja! Pak Ezra ngerti kok aku rindu padamu. Kita pulang sekarang ya Umi. Eva bosan banget di sini."


"Tunggu keputusan suamimu! Umi tak berani ambil keputusan." tutur Umi memang tak berani sembarangan bawa Adeeva tanpa seijin Ezra.


Bagaimanapun mereka harus menghormati Ezra sebagai suami Adeeva. Hitam putih tetap di tangan Ezra.


"Membosankan. Oya..kau pasti capek. Pulang dan istirahat dulu! Besok aku sudah bisa pulang. Kita ngobrol panjang lebar. Aku yang akan atur posisi kerjamu. Bendi antar Teh Desi ke rumah Umi ya! Teh Desi ini pakar IT hebat lho! Semoga kalian bisa kerja sama. Jika perlu sampai bangun rumah tangga berdua." ujar Adeeva diselingi gurauan. Adeeva berharap Desi bisa suka pada Ruben dan sebaliknya. Ruben itu cukup baik walau tanpa keluarga selain Ezra. Tidak salah jodohkan Desi pada Ruben.


"Amin..." Umi yang menyahut membuat Ruben dan Desi salah tingkah. Baru jumpa sudah ada acara Mak comblang. Gerakan cepat kilat Adeeva mau akhiri masa lajang Ruben.


Menurut Adeeva umur Ruben juga sudah tidak mudah. Mungkin tak jauh beda dengan Ezra. Mungkin Ezra tuaan sedikit.


Manusia hanya bisa usaha namun yang berhak tentukan tetap Yang Di Atas.


"Di rumah ada beberapa karyawan. Kau bisa langsung ke sana. Nanti Umi akan telepon ke rumah kabari kehadiranmu. Semoga kau tak keberatan tidur di kamar tamu." Umi memberi arahan pada Desi untuk pulang duluan ke rumah Adeeva.


Umi tidak sekonyol Adeeva biarkan harga Ezra sebagai suami tercampakkan. Di mana harga Ezra bila Adeeva pilih tidur dengan sahabat abaikan suami. Apa kata dunia?


Ruben dan Desi bergerak pergi. Sebelum pergi Desi menyalami Umi dan Adeeva. Sebenarnya Desi ingin ngobrol lama dengan Adeeva. tetapi berhubung di situ ada Ruben dan Umi Desi tidak enak berbicara masalahnya. Biarlah tunggu Adeeva pulang ke rumah barulah Desi akan curhat pada Adeeva.


Di tempat lain Ezra mulai bergerilya minta pihak aparat usut kematian Herman. Pihak aparat sudah mendapat bukti rekaman percakapan Rani dan para penjahat. Mereka akan mulai dari para penjahat minta keterangan tentang perintah Rani. Setelah dapat bukti lengkap baru bisa ciduk Rani.


Ezra mendapatkan kabar ada lima belas pegawai resign secara mandiri. Mereka kompak mengundurkan diri tanpa paksaan. Ezra menduga ini kerjaan Ika mau kacaukan pekerjaan di kantor.


Secara logika memang akan mempengaruhi kesibukan di kantor. para pegawai harus merangkap kerja karena pegawai yang menangani bagian masing-masing telah mengundurkan diri. Ezra harus segera bertindak merekrut pegawai baru sebelum keadaan menjadi kacau balau.


Ezra perintahkan bagian HRD untuk pasang iklan cari pegawai baru. Ezra tak percaya negara kita segitu luas tak mempunyai stok generasi handal. Bisa jadi pegawai baru kinerja mereka akan lebih baik lagi.


Untuk sesaat kantor Ezra akan sedikit repot karena beberapa pegawai resign. Ntah bagaimana reaksi Adeeva bila tahu Ika bawa sebagian pegawai. Anak itu pasti akan matian banting tulang mengisi kekosongan pegawai. Untuk sementara Ezra harus rahasiakan semua ini dari Adeeva. Dia harus bertindak cepat mengatur semua sebelum Adeeva kembali ke kantor.


Ruben kembali ke kantor setelah antar Desi aman ke rumah Adeeva. Ruben merasa Desi cukup menarik cuma tak ada cahaya di wajah anak itu. Ruben belum tahu apa masalah Desi karena tak mungkin juga anak itu bercerita pada orang baru dikenal. Apalagi Ruben lelaki.


Ruben melapor pada Ezra tentang kehadiran Desi atas permintaan Adeeva. Ini akan membantu penyelesaian masalah krisis karyawan walau cuma dapat satu. Asal Desi bisa diandalkan bisa wakili beberapa orang. Kalau Adeeva bisa wakili sepuluh orang dengan skill handalnya.


Ezra menunggu adiknya itu bicara. Gelagat Ruben agak lain seperti ada hal penting ingin disampaikan. Ezra mau tahu apa yang ada dipikiran laki itu.


"Pak...Ada pegawai pindahan dari kota B. Katanya satu tim dengan Poni. Poni yang tarik dia ke sini." cerita Ruben menanti reaksi Ezra.


"Aku tahu. Tim Poni adalah tim handal. Biar Poni yang atur tugasnya. Oya...kau akan duduk di posisi om Jul untuk sementara. Kau cari pengganti kamu. Laki ya! Aku tak mau dapat masalah dari cewek."


"Takut sama Poni? Aku jamin Poni akan bantai cewek dekat kamu. Orang hamil itu susah diajak diskusi."


"Cari yang pas."


"Beres...gimana perkembangan kasus Rani?"


Ezra gundah Ruben sebut Rani. Wanita itu pasti akan mendekam di penjara. Kasihan putra Herman. Siapa yang akan merawat anak itu? Mungkin ibu Rani bersedia mengurus cucunya itu. Soal perusahaan Rani bukan urusan Ezra.

__ADS_1


"Lagi diselidiki. Kau minta beberapa orang kawal Poni dalam jarak aman. Dia tak boleh tahu semua gerak geriknya dipantau oleh aku. Kau tahu sifat panasnya bukan? Aku takut Rani atau Ika berbuat ekstrim pada Poni."


"Baik...lebih baik begitu! Kau sudah pasang iklan rekrut pegawai baru?"


"Sudah...semua aku akan wawancara sendiri. Aku tak mau kecolongan lagi. Tak boleh ada hubungan dengan saudara om Jul. Takutnya mereka jadi mata-mata."


"Kurasa tidak pak! Kalau mau sisipkan mata-mata kenapa mereka mesti resign? Kan lebih baik bertahan."


Ezra anggap omongan Ruben ada benarnya. Kalau anggota Ika mau jadi mata-mata kan lebih baik mereka bertahan. Tapi faktanya mereka pilih resign. Ezra belum tahu apa tak tik Ika hendak mengguncang kantor.


"Kita lihat nanti. Kita ada jadwal pertemuan dengan klien?"


"Ada jam tiga nanti."


"Baiklah! Atur jadwalnya. Aku akan bersiap."


Ruben mengundurkan diri persiapkan dokumen untuk jumpa klien nanti. Ezra tak bisa serahkan pada orang lain lagi takut terjadi kesalahan. Perusahaan harus bangkit lagi tanpa campur tangan keluarga Om Jul. Itu tekad Ezra.


Baru setengah jam Ruben keluar datang Ika bersama pacar tersayang dia. Ika sopan sekali kali ini. Ketok pintu baru berani masuk. Cuma gayanya masih selangit bak putri kerajaan Dilangit. Dialah penguasa Dilangit. Ezra dan yang lain hanya dayang ataupun jongosnya.


"Ada apa?" tanya Ezra seraya menutup laptopnya. Ezra tinggalkan kerja mau tahu apa tujuan wanita itu datang padanya lagi.


Ika dan Kenzo duduk manis di sofa dengan gaya elegan. Kedua kaki Ika bersilang anggun pada tempatnya. Gaya wanita berkelas.


"Aku datang minta pesangon setahun. Aku dipecat maka berhak dapat pesangon. Aku baik hati tidak minta tiga tahun. Aku masih banyak pertimbangan. Cukup sepuluh milyar."


Ezra merasa kupingnya dimasuki kelabang menyengat sampai pedih. Pesangon sepuluh milyar. Mau merampok atau menuntut hak.


Ezra mengatur nafas agar tidak terpancing amarah. Dia harus pandai kendalikan diri demi Adeeva. Adeeva tak mau punya suami kanibal.


"Ika...apa kau tak salah omong begitu? Aku belum antar kamu ke penjara sudah harus syukur. Kamu meraup untung ratusan juta dari impor rongsokan. Semua barang itu sudah kami segel di gudang. Kau mau tanggung jawab?" Ezra berkata pelan namun menohok.


Ika terdiam sejenak lalu menatap pacarnya. Kenzo mengedipkan mata ntah apa maksudnya. Ezra sakit pada keberanian Ika mengusiknya lagi. Kalau soal keuangan Ezra yakin mereka sedang terpuruk.


Kejayaan Pak Jul telah runtuh. Aset mereka masih ada cukup untuk menyambung hidup beberapa tahun. Ezra takkan usik mereka lagi asal mereka tahu diri.


"Aku mana tahu barang kiriman rongsokan. Aku impor barang bagus. Itu tak ada urusan dengan aku."


"Baik...kalau kau merasa tak bertanggung jawab maka kita tempuh jalan hukum. Kita lihat fakta selanjutnya." ancam Ezra tak ingin beri hati pada orang tak punya rasa empati. Sudah salah masih ngotot sok bersih. Ini bukan salah Ezra berbuat kejam karena Ika sendiri memaksa Ezra berbuat gitu.


Ika sudah punya rencana keluarkan seluruh barang dari gudang. Bagian gudang adalah jajahan dia. Semua pegawai gudang adalah orang dia.


Sayang perhitungan Ika salah total. Adeeva duluan bergerak tempatkan orangnya di gudang. Orang suruhan Ika sudah dimutasi ke tempat jauh tanpa sepengetahuan wanita itu.


"Ok...kita tunggu siapa yang menang? Kalau aku memang kau harus bayar aku dua kali lipat. Dia puluh milyar. Ayo kita pergi sayang! Mobil sport incaran kamu makin di depan mata" Ika bangkit dengan angkuh. Wanita ini mengibas pantatnya dari debu sofa Ezra. Gerakan ini mau ejek Ezra kalau sofa Ezra tak lebih dari tempat kotor. Jorok tak pantat diduduki orang selevel dia.


Ika terlalu lama hidup nyaman dengan harta Ezra. Dia pikir masih ada harta pak Jul berupa batangan emas bisa dia gunakan untuk foya-foya dengan pacarnya.


Ika tak tahu bahaya sedang mengancamnya. Melawan Ezra dan Adeeva sama saja melawan maut.

__ADS_1


__ADS_2