Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Terulang


__ADS_3

Ezra tidak membantah. Dia lelaki sehat tentu butuh pelampiasan namun Adeeva tak tahu wanita itu bukan selirnya ataupun Rani. Ezra punya batasan yang tak boleh dilanggar. Don paling tahu tingkah Ezra terhadap urusan arus nafsu.


"Kenapa diam? Tebakan aku betul kan? Bapak mau masuk kamar atau tetap duduk di sini?" Adeeva menawarkan pilihan pada Ezra mau habiskan waktu di mana? Adeeva ngerti kalau laki ini bosan dipingit terusan. Orang yang sudah biasa terbang sana sini tiba-tiba harus dikurung merupakan siksaan bagi laki itu. Adeeva juga tak berdaya membantu Ezra dalam hal ini.


"Aku di sini saja! Kau selesaikan tugas kamu saja!"


"Baiklah!" Adeeva tak ragu tinggalkan Ezra sendiri. Dia juga bisa pantau Ezra dari dapur.


Adeeva punya harapan Ezra cepat sembuh agar dia bisa kembali kerja seperti biasa. Adeeva tak mungkin habiskan waktu hanya urus Ezra. Masa depan Adeeva suram bila hanya berdiam di rumah Ezra jadi pengasuh paus buta.


Ezra terngantuk-ngantuk menunggu Adeeva kerjakan tugas diembankan Ezra. Dalam hati Ezra mengomel bosan duduk menanti jam berlalu detik demi detik. Waktu terasa sangat lamban bergerak mengejar malam. Kalau akting satu bulan jadi orang buta seluruh hidup Ezra jadi kelabu. Hanya duduk menanti kebaikan hati Adeeva. Itupun kalau Adeeva tidak kumat gilanya.


"Poni..." panggil Ezra mulai bosan tingkat dewa. Dia butuh penyegaran supaya otaknya tidak makin sumpek.


"Hhhmmm...ada apa pak?" tanya Adeeva hanya melirik sekilas lalu kembali fokus pada laptop. Seluruh konsentrasi Adeeva ditujukan pada layar benda canggih ini. Makin dikupas makin menantang pusaran korupsi di sekitar Ezra.


Mama Ezra, Pak Jul dan para selir saling berkaitan. Ini merupakan konspirasi terbesar yang pernah Adeeva lihat. Sudah berapa lama Ezra dibodohi oleh orang yang dia percaya. Kasihan banget paus ini.


"Aku mau ke kamar mandi. Perutku sakit!"


"Oh...mau masuk kamar saja?" Adeeva tinggalkan laptop hampiri Ezra bantu bosnya melakukan panggilan alam.


"Iya..."


"Baik..." Adeeva dengan telaten gandeng suaminya masuk ke kamar langsung menuju ke kamar mandi. Adeeva bantu Ezra mencapai kloset duduk yang indah agar bebas buang kotoran yang nangkring dalam usus.


"Tidak bantu buka celana?"


"Apa bapak mau tangan ikut buta? Mau patah berapa ruas?" cetus Adeeva mendelik walau Ezra tak melihat.


"Judes amat! Ini rencana pembunuhan suami sendiri. Hukumannya penjara seumur hidup!"


"Siapa mau bunuh bapak? Cuma patahkan tangan bukan pembunuhan. Sudah! Jangan cerewet! Ntar Kuningan bapak ngambek emoh meluncur baru nyaho!" Adeeva tinggalkan Ezra tanpa ada belas kasihan. Masa buka celana sudah tak pandai gara buta doang. Mata dan tangan mana ada hubungan.


Ezra tersenyum smirk merasa Adeeva masih grogi berada dalam posisi intim dengannya. Sampai kapan hubungan mereka hanya sebatas bos dan anak buah. Ezra sudah tak sabar ingin mengubah dunianya. Sudah waktunya menata hidup dengan serius. Punya isteri sesuai kriteria lalu punya anak jadi penerus.


Bel pintu kembali berdenting. Adeeva mendengus tak suka kegiatan diganggu orang. Siapa lagi datang bertamu di saat orang lagi kesusahan. Ezra menderita sedangkan Adeeva sengsara.


Adeeva bangkit juga membuka pintu untuk tamu yang pasti untuk Ezra. Di sini mana ada tamu untuk dia. Siapa kenal Adeeva di lingkungan elite ini.


Pintu terkuak memunculkan satu sosok yang ingin Adeeva gampar hingga bonyok. Rani cengar-cengir di depan Adeeva perlihatkan dia sangat menarik.


"Setan merah..." desis Adeeva masih ingat wajah yang bikin hidupnya sengsara.


"Apa kau bilang? Setan? Kamu yang setan. Mana Ezra?"


Adeeva memalang pintu dengan kedua tangan tak ijinkan Rani masuk. Susah celakai orang masih ada muka datang temui Ezra. Muka tak tampak tebal herannya tak tahu malu.

__ADS_1


"Mau apa ke sini? Apa belum cukup bikin pak Ezra sengsara?" tanya Adeeva dingin.


"Apa maksudmu?"


"Gara kamu kejar kami maka terjadi kecelakaan. Pak Ezra buta akibat benturan kepala. Kau puas kan?"


Rani tampak kaget dengar Ezra buta. Satu kabar yang sangat tidak dia harapkan. Mimpi apa dapat kabar paling buruk hari ini. Rencana dia datang mau bermanja lapor kelakuan brutal Adeeva. Siapa sangka justru Adeeva berada di rumah Ezra.


"Kau serius? Aku hanya nakuti kamu agar berhenti. Tak ada niat bikin kalian celaka."


"Lalu mobil dari arah depan kamu juga yang atur? Dasar setan! Pergi dari sini sebelum Kupatahkan leher kamu!" bentak Adeeva makin kesal pada perbuatan Rani yang bahayakan dia dan Ezra.


"Aku mau jumpa Ezra. Aku mau lihat bagaimana kondisi dia." Rani mau menerobos masuk tapi tubuh Adeeva bertahan tak ijinkan Rani jenguk Ezra. Rencana apalagi dirancang wanita ini hendak merusak hidup bosnya.


Apa gunanya kaya bila hidup berantakan gini. Hidup Ezra sungguh kacau balau. Selain bisnis terselip kisah cinta palsu.


"Bude...aku tak ijinkan anda ganggu hidup pak Ezra lagi. Dia sudah punya keluarga. Anda tak berhak muncul diantara keluarga pak Ezra. Biarkan dia bahagia bersama istrinya!"


"Kau siapa berani ngomong begitu padaku? Aku ini takdir Ezra. Kau pikir dia cinta pada isterinya? Tidak... cintanya cuma buat aku dan anakku!"


"Stress...pulang sono! Jangan ganggu waktu istirahat pak Ezra!" usir Adeeva tanpa belas kasihan. Kalau mau main kekerasan Rani bukan lawan Adeeva. Cuma Adeeva tidak akan mulai bila tidak disentuh.


"Ezra....Ezra...sayang...ini Rani!" teriak Rani mau cari perhatian Ezra. Adeeva mendesis ingin sumpal mulut wanita merah ini.


"Bude...jangan bikin ribut di sini! Atau kupanggilkan satpam usir anda." Adeeva berkata dengan marah Rani bikin onar di apartemen Ezra. Dari mana Ezra pungut sampah lebih busuk dari selir di rumah. Yang di rumah cukup main uang, yang ini malah permainkan nyawa orang.


"Atau apa?" Adeeva busungkan dada menantang Rani. Wanita model begini tak pantas diberi peluang dekati Ezra. Ini jauh lebih berbahaya dari selir di istana Ezra.


"Kau cewek gila...kau ini apanya Ezra berani ngatur hidup Ezra?"


"Aku? Aku sudah bilang aku ini nenek moyang Ezra. Punya hak dong atur hidup Ezra. Pulang sono! Ezra tak butuh wanita sinting macam kamu. Janda ulat bulu!" Adeeva menutup pintu dengan kasar tak peduli Rani terbengong ada orang berani abaikan dia.


Sungguh besar nyali anak ini usir Rani Kesohor. Belum kenal siapa Rani si pantang mundur. Rani menggedor pintu rumah Ezra sambil teriak histeris undang tetangga Ezra bermunculan lihat apa yang terjadi. Seorang wanita berteriak di depan pintu rumah Ezra yang terkenal cool. Peristiwa apa menimpa wanita ini sampai berbuat seperti orang stress di rumah orang.


"Nona...jangan bikin ribut di sini! Sini bukan pasar malam!" tetangga depan Ezra berupa seorang laki blasteran menatap Rani kurang senang waktu istirahatnya diganggu.


"Apa peduli kamu? Bukan urusan kamu bule kampungan. Pulang ke negaramu kalau tak mau diganggu." sungut Rani gunakan power emak-emak.


"Hati-hati kalau bicara nona! Aku bisa tuntut kamu bikin onar di tempat orang. Aku ini warga asli Indonesia. Jangan sembarangan menduga! Aku ingatkan kamu sekali lagi kami teriak aku akan minta sekuriti usir kamu." ancam bule itu tak mau digertak.


"Emang aku takut? Aku ini calon isteri Ezra. Apa yang perlu kutakuti?"


"Sial nasib Ezra dapat cewek tak malu macam kamu! Kalau kau calon isteri mengapa Ezra tak ijinkan kamu masuk? Jangan-jangan kamu ini wanita minta sumbangan! Isshhh.... menjijikkan!" laki itu mencibiri Rani lalu tutup pintu rumahnya.


Tinggal Rani di bungkus segunung rasa kesal. Bukan dapat pujian malah direndahkan oleh lelaki lain. Apa laki itu juga buta tak lihat betapa elite wanita di depannya. Masak dianggap peminta sumbangan.


Rani hentakkan kaki ke lantai dengan marah. Lengkap sudah derita Rani setelah dihina lelaki tetangga Ezra. Ternyata tidak semua lelaki itu tertarik pada wanita glamor dengan sejuta kemewahan. Apa kurang Rani? Outfit berkelas, tas ditangan seharga ratusan juta. Sepatu yang notabene berpeluang injak tai kucing juga dari merek ternama. Apalagi pakaian! Jangan ditanya! Itu rancangan perancang kondang. Tapi mengapa dianggap peminta sumbangan.

__ADS_1


Rani meninggalkan apartemen Ezra dengan langkah gontai. Sejak kapan di samping Ezra muncul gadis bar-bar macam Adeeva. Tak mempan digertak.


Rani harus pulang mengatur rencana lebih matang agar Ezra tidak tinggalkan dia. Rani tak percaya Ezra telah buta. Ini pasti karangan gadis songong untuk kelabui Rani.


Sebelum pergi Rani coba teleponi Ezra namun ponsel Ezra tidak aktif. Apa yang telah terjadi? Apa benar Ezra telah buta?


Adeeva tak beritahu Ezra tentang kehadiran Rani. Biarlah laki itu istirahatkan otak dari kemelut para wanita. Cobaan laki ini sudah segudang. Tak perlu ditambah lagi.


Sore hari Ezra melarang Adeeva masak. Ezra minta Adeeva pesan makanan online. Ezra takut disuguhi bubur wortel lagi. Pasien bukan cepat sehat malah menderita akibat santap menu tak sesuai selera.


Adeeva malah senang terbebas dari asap dapur. Kurang satu pekerjaan bertambah waktu santai. Ezra tidak rewel sampai waktu mandi. Laki itu minta dilayani di kamar mandi seperti pagi hari.


Adeeva tak punya pilihan lain selain menyediakan semua perlengkapan mandi agar laki itu tak perlu bergerak sana sini cari peralatan mandi. Bukan apa-apa, Adeeva hanya takut Ezra terpeleset akan menambah kisah panjang.


Adeeva sediakan pakaian Ezra yang paling santai. Toh laki ini tidak ada rencana keluar rumah untuk apa pakai pakaian bagus. Asal tertutup kain sudah boleh. Siapa mau lihat? Ezra sendiri tak bisa lihat tampang diri sendiri.


Lama Adeeva tunggu laki ini keluar dari kamar mandi. Hampir satu jam belum ada tanda laki itu selesai mandi. Terbersit pikiran buruk di benak Adeeva. Gimana kalau laki itu pingsan di dalam? Lebih buruk lagi bunuh diri akibat frustasi buta. Bunuh diri dengan cara apa? Isi perut dengan air biar mati sesak? Cara mati tidak bonafide.


Pikir punya pikir Adeeva beranikan diri masuk ke kamar mandi. Rasa kuatir Adeeva sia-sia karena orang bersangkutan sedang bersantai dalam bathtub berisi air hangat. Kedua mata laki itu terpejam mungkin tertidur bermimpi dikerubuti puluhan ulat bulu bikin gatel.


Adeeva memalingkan wajah malu lihat sesuatu di antara paha Ezra tampak jelas karena air bening tanpa bisa sabun. Sudah berapa kali Adeeva lihat benda ajaib milik Ezra tapi tetap saja ada rasa malu.


"Pak...bangun!" Adeeva menepuk bahu Ezra agar bangun. Wajah Adeeva menghadap ke arah lain walau tujuan ke Ezra.


Ezra menggeliat merasa nyaman berendam dalam air hangat. Ezra tersenyum tipis melihat Adeeva memalingkan wajah dari tubuhnya yang telanjang. Waktunya kerjain gadis ini lagi. Syukur-syukur bisa belah duren.


Ezra ulurkan tangan minta bantuan Adeeva untuk bangun dari bathtub. Tanpa curiga Adeeva meraih tangan bosnya untuk keluar dari bak mandi dari porselen itu.


Ezra bukannya keluar malah menarik Adeeva masuk ke dalam bak dengan gaya terpeleset. Tubuh Adeeva ikut terjerembab ke dalam bak menimpa tubuh Ezra yang duluan jatuh ke bak.


Adeeva berada di atas tubuh Ezra yang telanjang bulat. Laki ini memeluk Adeeva erat-erat tanpa merasa bersalah. Kedua pasang Adeeva terbelalak ketakutan telah menyiksa bosnya. Adeeva tak tahu Ezra sengaja lakukan hal ini untuk merasakan indahnya tubuh gitar Spanyol itu. Dia dapat melihat dengan jelas namun harus pura-pura tak lihat. Ini penyiksaan bagi laki ini.


Ezra menekan wajah Adeeva agar bibir gadis itu menyatu dengan bibirnya. Adeeva tertegun tapi tak nolak. Bibirnya kembali jadi santapan lezat bagi Ezra. Sebagai lelaki dewasa berpengalaman kuasai anak bawang macam Adeeva tentu saja gampang banget.


Perabotan Ezra sudah membatu di bawah sana. Andai ada lubang bisa dimasuki maulah perabot ajaib itu cari sesuatu untuk diledakkan di sana. Ezra memaksa mulut Adeeva terbuka untuk disusupi lidahnya.


Lidah Ezra bagai ular meliuk dalam rongga mulut Adeeva. Nikmat rasanya ngajar anak kecil cara bercinta yang baik. Gadis dalam pelukan murni gadis suci tak tersentuh tangan kasar lelaki. Ezra yang kotor beruntung mendapat barang original belum kena polusi.


Lama sekali Ezra berciuman dengan Adeeva tak lupa tangan laki ini menyentuh setiap inchi tubuh wanitanya. Semuanya adalah milik pribadi Ezra. Tak boleh ada orang lain sentuh miliknya. Ezra harus memiliki Adeeva secepatnya.


"Kau sangat indah! Kita pindah ya!" bisik Ezra lembut di kuping Adeeva.


Adeeva tersadar telah terbawa arus permainan Ezra. Lagi-lagi dia kecolongan menyerah tanpa syarat pada Ezra. Betapa memalukan terlena oleh permainan laki ini. Di mana tekad kokoh takkan menyerah pada lelaki cabul ini.


Adeeva segera keluar dari bak mengambil handuk lempar pada Ezra. Adeeva melihat dengan jelas sesuatu barang ajaib Ezra berdiri tegak seperti torpedo siap diluncurkan menuju ke luar angkasa.


Pipi Adeeva berona merah malu pada situasi yang canggung ini. Sungguh memalukan lupa daratan dibuai rayuan Ezra. Di mana Adeeva yang kuat tak terpengaruh terpaan badai.

__ADS_1


Sungguh mati Adeeva malu bukan main. Ingin amblas ke bumi saja.


__ADS_2