Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Ban bocor


__ADS_3

Cara ganti ban mobil saja tak becus. Maunya pulang minta susu sama emaknya baru balik ganti ban mobil. Adeeva hentikan motor berbalik dekati mobil itu.


"Perlu bantuan om?" tegur Adeeva tak sampai hati lihat orang itu kebingungan cari tempat duduk dongkrak.


Orang itu bangkit merasa beruntung ada yang tawarkan pertolongan. Adeeva besarkan mata di balik helm. Ternyata yang sedang kebingungan itu asisten bosnya si Ruben gila.


"Pak Ruben?" seru Adeeva tanpa sadar.


"Kau kenal aku?" si Ruben surprise di malam gini masih ada orang kenal dia. Dia orang baru di sini kenapa ada yang kenal. Jangan-jangan Demit menyamar manusia menggoda dia. Lantas di bawa ke alam lain.


"Asisten songong bos sombong...maunya lhu pulang minta susu sama emak lhu! Rugi lhu jadi laki! Ganti ban nggak becus...besok lhu ganti nama jadi Brenda aja ya!"


"Kau siapa? Seenak dengkul maki orang...punya etika ngak?"


"Nggak...lhu panggil gue emak dulu baru kubantu! Artinya lhu anak gue!" Adeeva senang bisa balas dendam pada bos dan asisten sombongnya. Di kantor boleh arogan tapi di luar tak ubah anak tikus ketemu kucing. Untung kucingnya jinak tak suka main cakar.


"Kau...tak mau..tak perlu kau bantu! Aku bisa.."


"Oh gitu ya! Ok aku pergi! Kuingatkan di sini banyak anak geng motor. Hati-hati bray!" Adeeva hidupkan motor keluarkan suara Gareng sedap di kuping. Adeeva puas permainkan Ruben. Sayang bosnya tak ada. Kalau ada sekalian Adeeva mop mental biar luntur songong nya.


"Woi ..jangan pergi!" seru Ruben panik ditakuti Adeeva.


Adeeva hentikan motornya menoleh ke belakang sambil tertawa ngakak. Dalam hati bersorak kegirangan bisa balas rasa kesal secara tunai.


"Aku bayar kamu!"


"Bayar berapa?" tanya Adeeva belum matikan mesin motor tanda siap kabur setiap saat.


"Berapa kau minta?"


"Wah tajir ya! Gimana kalau kuminta satu milyar? Mau?"


"Apa bedanya kamu sama perampok?"


"Beda dong! Perampok main embat, aku hanya tolong kamu. Gini saja berhubung sudah malam aku kasih diskon. Cukup dua ratus ribu."


"Ok..deal!"


"Duitnya dulu! Ntar siap bannya malah kabur."


"Lhu yang kabur bawa duit kami! Pasang dulu ban baru duit!" ujar Ruben tak mau mengalah.


"Nih kunci motor gue! Pegang...gantinya minta duit ya!" Adeeva serahkan kunci mobil minta uang yang dijanji Ruben.


Kali ini Ruben tak dapat ngelak karena Adeeva telah beri jaminan lebih berharga dari duit dua ratus ribu. Dengan mulut memanjang lima senti Ruben merogoh kantong celana mengeluarkan dompet. Dua lembar uang warna merah menyembul mulus dari dompet warna hitam itu. Ekor mata Adeeva menangkap harga itu bukan harga kaki lima melainkan bintang lima. Jadi asisten saja hidup Ruben makmur. Gimana pula nasibnya sebagai Aspri? Apa gajinya juga ikut melambung?


"Woi...nih duitnya! Ayo cepat kerja! Hidungku dingin nih!"


Adeeva menerima uang dari Ruben dengan senang hati. Dengar yang namanya uang kuping Adeeva jadi awas.


"Jadi laki jangan pecicilan! Ganti ban mobil nggak becus. Bagusnya anda jadi penari ballet. Balerina tau?" Adeeva merepeti Ruben yang hanya tampang doang keren. Kata orang nafsu besar tenaga kurang.


"Kok cerewet? Sudah terima uang mau kabur?"


Adeeva berkacak pinggang tak suka dianggap penipu. Kalau bukan ingat Ruben asisten bos mungkin sekarang Ruben sudah patah rahang.


"Mana kunci roda? Ban serep di mana? Ayo ambil ban serep! Aku hany tukar ban bukan tukang ambil ban!

__ADS_1


Ruben menyerah kunci roda lalu menuju ke belakang bagasi mobil. Adeeva menundukkan badan ke aspal memasang dongkrak mobil di bawah seksi mobil. Sebelumya Adeeva buka dulu ban bocor sebelum dongkrak naik.


Dalam sekejap mata baut roda velg mobil copot dari tempatnya. Adeeva segera naikkan dongkrak agar bisa lepaskan ban dari velg. Tinggal tunggu di balerina keluarkan ban serep. Pekerjaan segampang ini dipersulit oleh cowok perlente model Ruben. Jual tampang isi kosong.


"Woi...bertapa atau ambil ban! Apa harus pake pasword baru bisa dibuka bannya?" seru Adeeva tak sabar menunggu Ruben ambil ban.


Adeeva ringankan langkah ke belakang lihat apa yang sedang dikerjakan lelaki itu? Jangan-jangan tertidur di bagasi karena kecapekan.


Adeeva tak dapat tahan tawa lihat Ruben mencari ban serep di sekeliling bagasi. Ingin sekali Adeeva kemplang tuh batok kepala biar tahu betapa bodohnya laki itu.


"Ngapain Om? Kasihan pada bagasi ya? Dielus-elus dari tadi. Jangan-jangan lhu ada kelainan jiwa! Nafsu pada benda mati." ejek Adeeva sambil peluk tangan. Senang banget bisa permainkan orang besar. Sekali-kali gembira ria atas penderitaan atasan kan jadi hiburan segar.


"Bannya mana? Lupa di masukkan ke dalam mobil kali." gerutu Ruben patah semangat tak temukan ban serep. Bagasi kosong tak ada apapun selain kemoceng untuk bersihkan debu mobil.


"Nggak ada ban serep artinya mobilnya harus nginap sini. Pak Ruben bobok sini jagain mobil ya! Besok baru cari tukang tambal ban."


"Apa jam gini tak ada tukang ban lagi?" tanya Ruben berharap Adeeva mengangguk. Di luar dugaan Adeeva menggeleng cepat.


"Tukang ban sudah tidur peluk guling! Sudah capek peluk ban seharian ya dia pilih peluk guling. Syukur kalau punya bini. Hangat dikit! Ok aku cabut ya! Tuh roda sudah kubuka dan dongkrak sudah terpasang. Mana kunci motor gue?"


"Lhu punya hati nggak? Orang sengsara lhu tinggalin! Kita ini satu kantor harus saling bantu."


"Mau bantu boleh tapi aku perlu poding. Pulang nanti aku mau beli bandrek untuk hangatkan badan. Dua ratus lagi cukup." Adeeva ulurkan tangan gerakkan jari ke dalam.


Ruben ingin sekali cekik gadis ini. Dasar tengkulak kelas kakap. Dikit-dikit hitung uang. Apa tak ada yang lebih menarik dari uang?


"Kamu ini matre sekali. Seberapa miskin kamu ini?"


"Miskin sekali...kadang makan seminggu sekali makan nasi biar hemat. Banyak minum air putih biar perut berisi air jadi tak lapar."


"Seminggu tak makan lhu sudah metong! Ngawur..!"


Ruben makin ingin robek mulut Adeeva agar diam. Makan nasi dan makan mie apa bedanya? Sama-sama makan. Kapan bisa mati?


Ruben malas berdebat dengan cewek kurang akal sehat. Malam makin tua dan udara makin menggigit tulang. Angin bertiup membuat Ruben menggigil kedinginan. Mana lagi bajunya tipis.


"Nih!" Ruben sodorkan dua lembar uang warna merah lagi. Adeeva menerimanya dengan tawa lepas. Uangnya dikipas-kipaskan ke wajah Ruben dengan riang.


"Awas...biar kuurus ban lhu! Katanya cowok jaman now tapi otak produk jaman pithecantropus erectus (manusia purba di daerah Jawa)." Adeeva mendorong Ruben jauhi bagasi mobil. Satu dorongan Ruben terpental jatuh. Tenaga Adeeva lebihi kapasitas seorang cewek normal.


"Omong apa kamu? Siapa si pithecantropus?"


"Nenek moyang lhu! Belajar sejarah bro!" sahut Adeeva sambil angkat karpet penutup jok bagasi. Di bawah karpet ada sejenis tutup fibre berbentuk bulat. Adeeva angkat fibre itu lalu tampaklah ban serep yang diinginkan Ruben. Dengan santai Adeeva angkat ban serep bawa ke ban depan yang bocor.


Ruben melongo tak bisa berkata-kata. Dia yang bodoh atau tolol gampang dibodohi Adeeva. Sia-sia dia buang waktu sampai empat ratus ribu hanya untuk ganti satu ban bocor. Sungguh ban mahal. Montir ahli juga tak semahal itu. Dasar pemeras berbalut casing cewek.


Adeeva tertawa santai pasang ban hingga tuntas. Tak tanggung Adeeva kembalikan ban bocor di bagasi sekalian bereskan dongkrak dan kunci roda. Semua kembali rapi. Mobil siap diluncurkan. Adeeva mengulurkan minta kunci motornya.


Ruben berniat kembalikan kunci Adeeva agar segera pulang ke tempat penginapan. Ruben sudah menggigil kedinginan tak sanggup adaptasi dengan udara dingin Bandung.


"Diam di tempat!" suara berat terdengar dari dalam mobil.


Adeeva kontan membeku. Bukan karena udara dingin tapi suara yang dia anggap pembawa bencana. Bos sengklek ternyata ada di dalam mobil. Kenapa Adeeva tak menyadari kalau ada Ruben pasti ada Ezra. Kedua pasangan itu sehidup semati.


"Masuk ke dalam mobil!" perintah Ezra pada Adeeva. Ezra menurunkan kaca mobil menatap tajam pada Adeeva. Sinar mata itu seperti sinar mata pembunuh bayaran. Membunuh orang lewat tatapan.


"Selamat malam pak! Kirain siapa...Aku pamit dulu! Sudah dingin. Bapak pulang dan istirahat." kata Adeeva berubah sikap menjadi karyawan sopan santun.

__ADS_1


"Aku bilang masuk!" bentak Ezra makin keras. Ruben dan Adeeva saling berpandangan mengapa bos mereka sangat ngamuk. Ezra jarang kasar pada bawahan apa lagi terhadap cewek. Apa Ezra menemukan sesuatu pada Adeeva. Jangan-jangan Adeeva cowok nyamar jadi cewek.


"Pak...motor ini pinjaman kawan! Tak baik ditinggalkan di sini. Itu motor mahal. Kalau hilang bisa bayar seumur hidup. Besok aku akan tepat waktu masuk kantor." Adeeva mengiba agar Ezra melepaskan dirinya untuk pulang. Hari makin larut malam. Adeeva juga sudah ngantuk karena semalam lembut kerjakan skema Imron.


"Kau bawa mobil biar Ruben bawa motormu!" kata Ezra dingin. Mau saingi dinginnya udara malam. Masih dingin suara Ezra.


"Aku tak pandai bawa mobil!" Adeeva beri alasan yang masuk akal. Gampang manjur dipakai.


"Tak apa...paling tabrakan! Kalau kau kecelakaan dapat santunan asuransi. Paling patah tulang tangan." sahut Ezra seenak dengkul kaki.


Adeeva meraba tangannya terpancing ocehan Ezra. Patah tangan bukan impian Adeeva. Kariernya di taekwondo akan tamat kalau anggota tubuhnya cacat. Tinju mautnya akan berubah tinju gemulai.


Adeeva melototi Ruben yang kesenangan Adeeva terkena ancaman bos. Ruben mau tertawa ngakak untuk balas sakit hati dikerjain anak bawang yang licik.


"Ok...begitu antar bapak aku pulang ya!" Adeeva mengalah biar cepat terbebas dari penyakit jenis baru.


Ruben senang bisa bergaya di atas motor gede idola para remaja masa kini. Soal usia Adeeva memang menonjolkan keremajaan sepenuhnya. Masih berdarah panas. Jarang anak cewek bawa motor gede jenis ini.


"Woi...pinjam jaket lhu!" seru Ruben tak kuasa melawan angin.


"Ogah...lhu kan panuan! Ntar menular pula!" Adeeva sengaja jual mahal untuk siksa Ruben biar mati kedinginan. Nggak mati juga babak belur tahan udara dingin.


"Gila kamu ya! Kamu mau aku mati beku?"


"Pernah lihat ikan beku hidup sewaktu dihangatkan? Ntar aku cairkan lhu pakai air hangat! Tenang bro!" Adeeva melempar senyum ngejek pada Ruben.


"Jangan bercanda! Kasihkan jaketmu anak kecil! Dia bisa pneumonia kena udara dingin. Badannya tak sekuat kamu!"


"Kalau gitu biar aku bawa motor kawal kalian sampai ke rumah. Janji takkan kabur! Aku di depan. Ok?" Adeeva angkat dua jari janji takkan ingkar janji.


Ezra angguk tak punya pilihan lain. Ruben tak sekuat Adeeva melawan udara dingin. Adeeva sudah biasa tinggal di Bandung. Bisa adaptasi dengan udara dingin sedang Ruben terbiasa dengan udara panas. Dua kutub berlawanan.


Ruben menyerahkan kunci motor pada Adeeva dengan kesal. Rencana pamer skill bawa motor gede sirna sudah. Dari pada beku mending ikuti saran Adeeva.


Adeeva pakai helm lalu nangkring di atas motor dengan gagah. Segagah apapun Adeeva dari belakang tampak sosok ramping jelaskan pengendara itu seorang cewek.


Ruben menggeleng kagum melihat Adeeva melaju pelan memimpin di depan. Adeeva penuhi janji tidak kabur antar bos dan asistennya pulang ke rumah tempat mereka nginap.


"Pak...apa anak ini cocok jadi isteri bapak? Buat aku saja! Kami akan cocok!" kata Ruben masih terselip rasa kagum pada Adeeva.


"Cerewet...cocok atau tidak bukan urusanmu! Anak ini mata duitan tapi mengapa dia tak mau pakai uangku?" gumam Ezra keheranan sifat aneh Adeeva. Rela bersusah payah untuk uang ratus ribu sementara di ATM yang diberi Ezra berjumlah ratusan juta. Sepeserpun tidak diambil Adeeva. Apa maksud anak itu?


"Kurasa dia takut terhutang pada suami jomponya. Dia gila uang tapi tak gila harta. Aku kok makin suka padanya. Bang Ezra...ngalah kenapa? Bukankah di rumah masih ada lima ekor rubah siap layani Abang." rayu Ruben ubah cara panggilan agar dapat simpatik.


"Kamu sudah bilang mereka rubah. Apa masih perlu didekati?" sinis Ezra tidak tertarik pada ocehan Ruben.


"Sofia kan cantik. Umurnya juga belum terlalu tua. Baru dua delapan. Masih cocok untuk Abang!"


"Cantik kan rubah juga. Kau selidiki anak itu apa saja kegiatan nya. Malam gini masih keliaran di jalanan. Jangan-jangan anak berandalan."


"Ok sip... siapapun dia aku tetap sayang! Lihat tuh! Dia berikan kode minta kita ke depan."


Adeeva melambai minta mobil Ezra duluan lewat. Bagaimana Adeeva bisa antar kedua orang ini bila alamat saja tak jelas. Bisa putar semalam tanpa tujuan jelas.


Ruben turunkan kaca mobil cari tahu apa maksud Adeeva minta mereka jalan duluan. Mungkin gadis ini mau kabur karena udara makin dingin.


"Napa?"

__ADS_1


"Aku tak tahu rumah kalian! Maju saja...aku di belakang!" seru Adeeva melawan angin.


Ruben angkat jempol tanda setuju. Mobil melaju cepat tinggalkan Adeeva di belakang. Adeeva ikut dari belakang sisakan suara raungan knalpot racing. Suara Gareng sedap didengar.


__ADS_2