
Ezra tak sabar ingin segera jumpa Adeeva. Sedetik Adeeva hilang terasa bertahun tak jumpa padahal baru beberapa menit lalu baru bersama. Ezra tak tahu ini pengaruh sugesti karena anak dalam perut Adeeva atau dia memang sangat cinta pada Adeeva.
Ezra mendapatkan Adeeva sedang bekerja di depan laptop sewaktu tiba di rumah. Anak itu serius sekali pelototi perangkat di depan mata sampai tak sadar Ezra telah berada di sampingnya. Konsentrasi sepenuhnya tercurah pada benda mati namun punya nyawa itu.
Ezra lihat dari samping apa yang sedang dilihat isterinya itu. Ternyata perhatian Adeeva tercurah pada perusahaan. Anak ini benar-benar menganggap perusahaan telah menjadi miliknya. Setiap kegiatan perusahaan takkan luput dari pantauannya.
Ezra mendehem menyadarkan Adeeva kalau dia telah berada di dekat wanita ini. Pancingan Ezra membuahkan hasil. terbukti Adeeva mengangkat mata dari layar monitor menatap Ezra sekilas mata.
"Sudah balik pak? Apakah bapak sudah enakan?" Adeeva meninggalkan laptop berdiri memeriksa kondisi Ezra. Adeeva masih takut kalau Ezra tiba-tiba drop lagi. Dia harus jaga lakinya agar bisa hidup lebih lama. Paling tidak didik dia sampai mapan kelola perusahaan.
"Aku sudah sehat. Bukankah sudah kukatakan kalau aku ini hanya kelelahan. Kamu yang harus jaga kesehatan. Ayo sekarang istirahat biar ada semangat makan malam dengan kawan-kawan kamu!"
Adeeva tertawa mendengar nasehat Ezra agar dia istirahat. Adeeva menganggap ini adalah situasi yang terbalik. Ezra yang bermasalah maka dia yang lebih harus banyak istirahat.
"Bapak yang harus istirahat. Aku si tulang kawat berotot besi reinkarnasi dari Gatotkaca. Tak usah pikir aku! Tadi juga hanya kelelahan dan kaget. Ayo kuantar ke kamar!" Adeeva menggamit lengan Ezra menyeret laki itu masuk kamar. Ezra dengan senang hati ikuti permintaan Adeeva. Mereka sama-sama butuh waktu istirahat.
Kejadian hari ini mengajar Ezra untuk lebih mengenal arti kata berkeluarga. Membangun keluarga yang utuh tanpa memikirkan ulat-ulat gatal.
Adeeva menunjuk ranjang beri kode agar lelaki itu istirahat di atasnya. Ezra sama sekali tidak tertarik dengan usulan Adeeva rebahan di tempat tidur. Harusnya cewek ini yang berada di atas ranjang. Istirahat total besarkan janin di perut.
"Kau juga istirahat! Aku tidak tenang kalau kau masih bekerja keras pikir perusahaan."
"Pak Ezra yang cabul. Sekarang aku adalah pemilik perusahaan maka aku wajib mengawal perusahaan aku dengan baik. Bapak tahu bagaimana nasib ratusan bahkan ribuan karyawan bila perusahaan bermasalah. Itu yang harus aku perjuangkan."
"Baiklah! Aku ingin tahu apa rencana kamu selanjutnya. Biar aku yang jalankan semua keinginan Miss Adeeva yang cantik."
Adeeva mendengus tidak merasa tersanjung oleh rayuan Ezra. Adeeva menganggap rayuan laki ini hanyalah pemanis di bibir.
"Ok... Aku mau mutasi seluruh pegawai di dalam perusahaan sesuai dengan skill dan pendidikan masing-masing. Aku tak peduli siapa dia dan apa statusnya. Aku hanya ingin menggali sumber daya yang berpotensi sesuai dengan skill mereka masing-masing."
"Aku setuju...sekarang kamu duduk!" Ezra memegang kedua bahu Adeeva lalu dudukkan di atas ranjang.
Adeeva heran juga perhatian berlebihan dari Ezra. Dua hari ini Ezra bersikap pasif patuh padanya, sekarang mendadak over protektif bikin Adeeva kurang nyaman. Rencana busuk apa lagi dirancang laki ini.
"Bapak mau apa?" Adeeva melirik tangan Ezra yang masih nangkring di bahunya.
"Mau apa? Ya menjaga kamu supaya tetap sehat. Kamu adalah CEO harus jaga kesehatan agar bisa pimpin dengan baik. Aku ini kan asisten kamu wajib jaga bos. Sekarang tidur sebentar sebelum pergi makan malam. Aku akan atur restoran mewah undang konco kamu. Ok?"
"Tapi aku harus beritahu mereka di restoran mana. Kan tak bisa mendadak pergi tanpa alamat jelas."
"Oh gitu ya! Baik.. katakan datang saja ke hotel di daerah Setia Budi."
Adeeva besarkan mata kaget Ezra pesan tempat di restoran terbaik di kota B. Restoran itu pasti akan kuras kantong Adeeva sampai jebol. Hanya untuk makan malam bersama teman harus keluarkan berikat-ikat uang warna merah. Sungguh Mubazir.
"Kenapa?" tanya Ezra melihat Adeeva termenung. Ezra ingat kata Ruben kalau Adeeva itu orangnya pelit. Seribu perak sangat bernilai bagi cewek ini. Harus bayar lebih untuk undang teman makan malam akan gigit dagingnya sampai tampak tulang.
"Apa tak bisa dicari tempat lebih sederhana sedikit?" Adeeva keluarkan juga sisi pelitnya.
__ADS_1
"Ya ampun nyonya Dilangit! Kamu pertama kali menjamu teman sendiri. Tak mungkin toh asalan. Kamu kaya raya kurasa uang segitu takkan bikin kamu jatuh miskin. Sekarang kabari teman kamu lalu tidur. Ok?"
Adeeva merasa alasan Ezra cukup masuk akal. Ini pertama kali dia jamu teman sekerja. Berdasar posisinya sekarang dia sudah bisa traktir mereka makan enak. Sekali-kali pamer kekayaan Ezra rasanya tidak kelewatan. Anggap ini bayar jasa dia telah bekerja sepenuh hati.
"Ok..." Adeeva mencari ponselnya di saku celana. Benda itu aman berada di kantong celana Adeeva.
Ezra teringat kalau di perut Adeeva ada sesuatu harus dilindungi. Meletakkan ponsel dekat perut sama saja racuni bayi mereka. Radiasi ponsel bisa merusak perkembangan janin. Ezra harus pikir cara terbaik singkirkan benda itu dari tubuh Adeeva. Jika perlu tak usah gunakan alat komunikasi itu lagi.
Adeeva kirim chatting kepada rekan kerjanya dulu barulah terasa lega. Dia telah berhasil bayar janji traktir temannya di tempat di luar dugaan temannya.
Adeeva ini bukan Adeeva kere kayak dulu. Sekarang dia bos imitasi sampai perusahaan berjalan lancar. Adeeva akan kembalikan semuanya pada Ezra. Langkah selanjutnya masih belum terpikir oleh Adeeva.
Adeeva tak bisa tinggalkan Ezra di saat laki ini terpuruk. Adeeva harus cari jalan bawa Ezra berobat ke luar negeri cari kesembuhan.
Adeeva sendiri juga merasa agak lelah maka ikuti saran Ezra tiduran sebentar. Adeeva lupa kalau dia berada di kamar Ezra. Akhir-akhir ini dia merasa cepat lelah tidak sekuat dulu.
Mungkin pengaruh tekanan pekerjaan segunung. Adeeva terbebani oleh tanggung jawab sebagai CEO.
Adeeva tertidur pulas di bawah pengawasan Ezra. Ezra lega bukan main lihat Adeeva mau patuh padanya. Ke depan Ezra tak tahu harus bagaimana kontrol Adeeva agar jangan reseh. Jiwa anak ini terlalu keras susah diatur.
Ezra keluar dari kamar menuju ke ruang tamu untuk tenangkan diri. Harapan terbesar dia telah terwujud sempurna. Punya keturunan dari Adeeva bayi yang dia nanti puluhan tahun.
Ezra rasa sudah waktunya atur kekacauan dalam hidupnya. Laki ini sudah waktunya singkirkan benalu yang gerogoti hidupnya.
Ezra harus minta pendapat pada Bu Yuni untuk cari solusi langkah selanjutnya. Isteri ketiga ayahnya itu jauh lebih baik dari Bu Humaira. Bu Yuni tak banyak omong tapi hatinya baik. Dia yang selalu ingatkan Ezra akan trik jahat Bu Humaira dan keluarganya.
Ezra angkat ponsel hubungi perempuan di istananya itu. Semoga saja Bu Yuni punya solusi baik atur keributan di istananya.
"Iya sayang...ada apa? Kok lama tak pernah pulang?"
"Pulang untuk masuk perangkap?"
Bu Yuni tertawa sumbang bikin Ezra ngerti wanita itu ikut prihatin nasibnya.
"Ibu sudah dengar masalahmu dengan Sonya. Gimana? Kau akan bawa dia masuk istana gantiin Adeeva? Mama kamu mau sepak Adeeva."
"Sonya bukan perempuan yang pantas diperjuangkan. Dia hanya limbah. Gimana perkembangan istana?"
"Ya gitulah! Akhir-akhir ini pak Jul sering ke sini. Dia jumpa mama kamu dan Renata. Ibu tak diijinkan ikut bicara. Kau tahu sesuatu?"
"Renata hamil anak om Jul. Rencananya mau minta tanggung jawab aku! Mereka mau jadikan anak Renata sebagai pewaris tunggal Dilangit. Ibu bantu aku keluarkan semua wanita di istana. Bujuk mereka tinggalkan istana. Aku akan beri sisa yang ada padaku. Sekarang semua aset di tangan Adeeva. Dia tak mudah kucurkan dana tak penting. Ibu tolong pantau gerakan mama ya!"
"Gitu toh! Pantesan mereka sangat sibuk berapa hari ini. Nyatanya ada udang di balik batu. Ibu dukung kamu tidak pulang sini. Kalaupun pulang bawa Adeeva. Mama kamu tak berkutik. Ibu akan pantau mereka."
"Terima kasih Bu! Kalau ibu perlu sesuatu jangan segan bilang! Aku akan berusaha penuhi permintaan ibu."
"Tidak usah.. perusahaan lagi kacau maka kita harus berhemat. Apa yang kau beri sudah cukup. Ibu akan kabari kamu bila ada jawaban dari isteri-isteri kamu."
__ADS_1
"Katakan kalau aku punya bukti mereka main gila dengan piaraan masing-masing. Aku minta mereka pergi secara baik-baik sebelum aku menggila. Aku sudah cukup sabar terhadap tingkah mereka."
"Kamu harus sabar nak! Mereka juga tak mudah di bawah tekanan mama kamu. Cuma salah mereka mau hidup mewah tanpa pikir masa depan. Ibu akan lakukan permintaan kamu."
"Terima kasih Bu! Kutunggu kabar baik darimu." Ezra menutup telepon memutuskan sambungan.
Ezra harus lebih hati-hati melangkah agar jangan masuk perangkap pak Jul. Mereka sudah rancang rencana dari awal jebak Ezra akui anak itu anak Ezra. Dengan demikian akan lebih mudah kuasai Ezra. Tapi Tuhan berkata lain beri Ezra keturunan dari orang dia cintai. Tuhan itu tidak tidur beri keadilan.
Adeeva terbangun merasa tubuh lebih segar setelah tidur manja. Adeeva harus berterima kasih pada niat baik Ezra paksa dia tidur.
Adeeva tak menemukan Ezra di sekitar kamar segera terloncat bangun. Ke mana laki itu? Jangan-jangan sudah tewas disantap virus kanker.
Adeeva tak tunda langkah mencari laki itu di luar kamar. Adeeva bernafas lega tatkala melihat satu sosok tinggi besar tidur bersandar pada sofa dengan posisi duduk. Matanya tertutup rapat tanda menikmati tidurnya.
Adeeva berjalan perlahan dekati Ezra sentuh kening laki itu cari tahu apa demamnya sudah kabur seratus persen. Masih ada hangat sedikit walau tidak panas.
Adeeva menarik nafas lega. Laki ini sudah stabil. Adeeva perlu waktu bujuk laki ini pergi berobat sebelum terlambat. Kata orang kanker stadium empat sudah tak ada harapan. Itu kata orang. Adeeva takkan menyerah selama Ezra masih bernafas dia harus berusaha. Hidup mati di tangan Tuhan paling tidak Adeeva sudah berusaha.
Adeeva tidak bangunkan Ezra melainkan masuk ke kamar mandi cantik. Dia harus bersiap ke restoran traktir konconya makan malam.
Adeeva merasa tubuhnya makin gemuk dan melar. Lemak mulai muncul di perut sehingga tampak agak buncit. Bokong juga makin bahenol goda mata para pria.
Adeeva janji akan aktif lagi latihan taekwondo dan muaythai olahraga kesukaannya. Dia harus bakar semua lemak jahat di tubuh agar kembali langsing.
Adeeva berpakaian santai seperti dulu. Dia harus buang image bos besar bila berkumpul dengan konconya. Sok tinggi akan bikin gap di antara mereka. Adeeva tak mau punya batasan bila di luar jam kantor. Dia tetap Adeeva yang dulu.
Adeeva sholat magrib tanpa ganggu Ezra. Biarlah si penderita penyakit mematikan itu tidur lebih lama untuk memulihkan stamina yang mulai anjlok.
Adeeva bersiap berangkat ke restoran yang dipesan Ezra. Tak ada niat ajak Ezra takut membuat suasana jadi canggung. Temannya pasti segan pada Ezra sang mantan bos besar. Kharisma Ezra tidak pernah luntur walau tidak menjabat bos lagi.
Adeeva bangunkan Ezra setelah dia sudah rapi. Adeeva harus yakin Ezra dalam kondisi fit dan urus makan laki ini. Dia pergi bersenang-senang tentu saja harus ingat tanggung jawab sebagai isteri.
"Pak...pak Ezra..." Adeeva mengguncang bahu Ezra dengan lembut. Tak ada kekerasan dalam diri Adeeva. Kalau ikut emosi memang ingin rujak laki ini sampai tak berbentuk utuh. Tapi ingat kesungguhan dia mau hijrah lebih baik Adeeva tutup mata beri kesempatan pada laki ini.
Ezra buka mata menatap wanita muda di depannya. Bau harum khas Adeeva membuat otak Ezra langsung teringat pada bayinya dulu. Kini bayinya telah mengandung bayinya yang lain. Ezra akan miliki dua bayi sekaligus.
"Ade...kau cantik!"
"Ngak ada uang receh pak! Aku mau pergi.."
"Pergi? Kabur lagi?" Ezra bagai kesengat ribuan tawon Adeeva katakan mau pergi. Pikiran Ezra tertuju pada kenekatan Adeeva tinggalkan dia lagi.
"Isshhh...ngapain kabur sudah jadi bos? Aku mau pergi ke restoran. Bapak mau makan apa biar kupesan online food."
"Ya Tuhan...kau mau tinggalkan suamimu sendirian di rumah? Tega amat!"
"Bapak masih kurang sehat. Tak baik keluyuran di luar. Udara sini dingin."
__ADS_1
"Ngak...aku ikut! Tunggu aku sebentar! Aku ganti baju saja!" Ezra ngacir masuk kamar ganti pakaian bersih. Ezra mana mungkin ijin Adeeva bawa mobil dalam keadaan hamil muda. Sangat beresiko tinggi ganggu kesehatan janin.
Adeeva tak pikir negatif hanya anggap Ezra lagi manja tak mau ditinggal sendirian. Anak ini tak tahu dia sedang emban tugas berat mengandung penerus kerajaan Dilangit. Anak yang bakal terlahir langsung jadi anak tajir. Lebih keren lagi kalau anak Adeeva terlahir cowok. Lengkap sudah kebanggan Ezra sebagai seorang lelaki. Kaya dan punya keturunan.