Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Kuasai Istana


__ADS_3

Ezra termenung. Hari ini dia mendapat dia berita duka sekaligus. Kematian Renata juga Ika menjadi stress.


Orang yang selalu bermain belakang pasti ada ganjarannya. Siapa yang menanam pasti dia akan mendapat buah sesuai dengan bibit yang dia tanam. Kini Ezra makin sadar bahwa menjadi orang baik jauh lebih baik daripada memupuk kebusukan. Hidup di jalan yang benar merupakan kenikmatan yang memang telah ditunjukkan oleh Allah SWT.


Ezra memanggil Ruben untuk bahas masalah Ika dan Kenzo. Ezra harus cari lelaki playboy itu untuk bertanggung jawab bawa lari uang Ika. Tak bisa biarkan Kenzo berbuat seenak dengkul tipu Ika. Uang Ika juga berasal dari brankas Dilangit. Dari mana Ika punya uang sampai segitu banyak kalau bukan hasil tipu perusahaan.


Ruben yang sudah naik pangkat tampak lebih necis dengan setelan jas warna abu rokok. Ruben tidak pakai dasi seperti pejabat tinggi lainnya. Ruben anggap dasi itu gaya lama. Ruben tak mau dianggap sebagai orang tua masih terpaku pada trend jaman.


"Ada apa pak?" Ruben tetap sopan walaupun pangkatnya telah tinggi. Di depan Ezra tetap merendah agar laki itu tidak merasa dilangkahi.


Kalau mau dibilang Ezra bukan siapa-siapa lagi di perusahaan karena Adeeva bos besarnya.


"Kau selidiki ke mana larinya Kenzo. Dia bawa lari uang Ika. Anak itu sudah stress. Untuk sementara kasusnya kita pending sampai dia sehat."


Ruben tidak kaget lagi mendengar laporan dari Ezra. dari dulu Ruben sudah tahu kalau Kenzo ingin memanfaatkan kekayaan Ika. Tampil borjuis hanyalah kedoknya untuk merebut perhatian Ika yang bodoh itu. Ika masuk perangkap yang dipasang oleh Kenzo.


"Baik. Akan ku laksanakan! Ku antar dia langsung ke kantor polisi saja biar tahu rasa."


"Bagus...Oya...Renata sudah meninggal! Kirim karangan bunga dan uang duka. Jangan sampai Poni tahu! Dia sedang bahagia menikmati peran sebagai ibu muda. Jadi tak usah kita usik kebahagiaannya."


Ruben tak bisa menyembunyikan rasa kaget mendengar Renata tiba-tiba meninggal dunia. Padahal beberapa waktu yang lalu Renata masih dalam keadaan sehat menerima sekian banyak uang dari Ezra.


"Renata sakit?"


Ezra mengangguk tak mau buka aib Renata. Biarlah Renata pergi dengan nama bersih. Tak baik menghujat orang yang telah meninggal dunia.


"Akan kulaksanakan! Besok Supono sudah akan mulai bertugas. Kuharap dia bisa bekerja dengan baik. Dia itu teman baik Poni pasti bisa bekerjasama."


Ezra mendelik tak suka Ruben hubungkan Supono dengan Adeeva. Adeeva memang bos tapi di lapangan tetap Ezra yang ambil peran penting.


"Memangnya dia ikut Poni?"


Ruben tertawa geli lihat abangnya cemburu pada Rambo palsu. Casing Rambo, jeroan Cinderella.


"Kok bau asam cuka ya? Asem banget lagi." sindir Ruben.


"Keluar sekarang juga!"


"Tidak pindah ke Papua kan?"


"Entah dari sini sebelum kepalamu kujadikan ganjal mobil."


Ruben terkekeh-kekeh tinggalkan Ezra. Ruben tak tahu kalau Ezra sedang pusing. Gimanapun Ezra punya hati iba pada nasib Renata. Renata korban ketamakan Bu Humaira dan pak Jul. Wanita silau akan harta itu harus terima nasib jadi korban keserakahan keluarga tamak.


Ezra menutup tragedi ini dari Adeeva. Adeeva orangnya tampak keras tapi hatinya lembut. Dia paling tak bisa lihat orang lain tertindas.


Ezra takut Adeeva berpikiran maka pilih bungkam.


Sebelum pulang ke rumah Abah Ezra ajak Adeeva ke rumah Bu Humaira. Ezra mau tahu penyesalan mamanya tulus dari hati atau hanya di mulut. Ezra sengaja ajak Ruben untuk hindari segala hal buruk.


Ruben jadi supir untuk pasangan ini. Sebenarnya Adeeva segan kembali ke rumah besar itu. Adeeva pernah tinggal di sini walaupun hanya untuk sesaat. Tak ada kesan manis tertinggal di rumah itu.


Yang tersisa di pikiran hanyalah kelucuan dua pembantunya. Adeeva tak tahu bagaimana nasib kedua pembantu itu. Kangen juga pada kedua pembantu lucu itu.


Dada Adeeva berdegup kencang sewaktu mobil masuk ke pagar rumah maha luas itu. Tanpa sadar Adeeva meremas tangan Ezra suarakan ketakutan di dalam hati.


Ezra bisa merasakan kekalutan adeeva segera menggenggam tangan istrinya. Ezra ingin memberi kekuatan kepada adeeva bahwa semua akan baik-baik saja. Mereka tidak bisa lari dari kenyataan selamanya. Cepat atau lambat mereka akan bertemu dengan Bu Humaira untuk menjernihkan masalah antara mereka.


Mobil berhenti di rumah induk. Ruben berlaku sebagai supir pribadi Ezra melupakan status sebagai orang nomor dua Dilangit.

__ADS_1


Ezra menggandeng Adeeva masuk ke dalam rumah untuk jumpai Bu Humaira. Terakhir Adeeva tinggalkan rumah itu berpakaian tertutup. Selanjutnya mereka jumpa lagi di apartemen Ezra sebagai Aspri Ezra.


Adeeva gugup sewaktu masuk ke dalam rumah. Masih untung Ezra memegang tangannya biar lebih tenang. Ruben tetap siaga berada di belakang Ezra dan Adeeva.


Bu Humaira sudah menanti di ruang tamu. Wanita itu tampak lesu tak bersemangat. Wajahnya yang biasa kinclong kini tampak kusam. Kemegahan Bu Humaira telah sirna.


"Assalamualaikum..." sapa Adeeva dengan suara bergetar.


"Waalaikumsalam...ayo duduk!" Bu Humaira tidak berdiri menyambut anak dan menantu. Dia memang tak perlu bangkit karena dia seorang ibu. Anak-anak yang harus beri salam padanya.


Adeeva hampiri Bu Humaira salami wanita itu layak anak berbakti. Bu Humaira menarik bibir bentuk senyum tipis. Ntah senyum tulus atau basa basi takut pada Ezra.


"Makan malam di sini?" tanya Bu Humaira lembut.


"Lain kali ma! Kami ada janji sama klien mau jumpa jam delapan sekalian makan malam. Oya mana Bu Yuni?" Ezra mencari ibu tirinya yang satu lagi.


"Yuni sudah jarang di sini. Kudengar dia akan pindah juga. Rumah ini akan sepi. Mama juga akan pulang kampung. Apa tidak lebih baik kamu jual saja rumah ini?"


Adeeva menelan ludah basahi kerongkongan. Akhirnya muncul juga ekor rubah Bu Humaira mau jual harta peninggalan bapak Ezra.


"Ma... rumah ini adalah satu-satunya peninggalan papa. Kita tak mungkin menjual rumah ini walaupun dalam kondisi apapun. Ini rumah kita selamanya. Dan lagi kelak anak-anak aku akan tinggal di sini. Mereka akan lanjutkan kemegahan Dilangit." Ujar Ezra menutup kemungkinan jual rumah peninggalan almarhum papa Ezra.


Kau jarang pulang sini. Dan lagi tak ada orang bakal di sini. Mama akan pulang kampung juga. Lama-lama bisa jadi sarang demit."


"Astaghfirullahaladzim ma! Kenapa omong gitu? Kita orang beragama harus percaya pada Tuhan. Tak ada demit kalau hati kita tidak jahat. Bukankah sudah kukatakan pada mama kalau Adeeva sedang hamil anak aku? Kalau mereka lahir kelak pasti akan tinggal di sini. Harusnya mama bahagia bakal punya cucu."


Bu Humaira mengalihkan pandangan ke arah Adeeva. Wanita ini belum percaya kalau Adeeva sedang mengandung anak Ezra. Bu Humaira takut Ezra menggunakan Adeeva sebagai tameng untuk melarangnya menjual rumah.


"Kamu hamil nak?" Bu Humaira melembutkan suaranya berbicara kepada Adeeva.


"Iya Bu! Sudah jalan tiga bulan." sahut Adeeva sopan tak mau timbulkan konflik baru. Yang kena imbas pasti Ezra. Adeeva tak mau menambah beban Ezra lagi. Laki itu sudah cukup pusing oleh masalah kantor juga persoalan pribadi.


Bu Humaira tampak sangat tidak bahagia. Jauh hari Ezra sudah duga mamanya pasti tak senang Adeeva hamil. Ucapan di telepon hanyalah basa basi untuk cari simpatik Ezra. Begitu jumpa Adeeva agak menjauh dari tujuan semula.


"Tak apa Bu...aku tinggal di rumah orang tuaku. Ada Umi merawat aku. Semua terpenuhi kok."


"Syukurlah! Tak mau nginap di sini?"


Adeeva tak berani menjawab serahkan semuanya kepada Ezra. Ezra yang berhak tentukan semua rencana mereka ke depan.


"Kami akan nginap besok malam. Malam ini kami harus jumpa klien."


"Mama bersihkan kamarmu yang di sini?"


"Tak usah... Adeeva lebih suka tinggal di rumah Cendana. Kami nginap di sana saja. Oya... pembantu-pembantu yang tidak dibutuhkan boleh diberhentikan. Kasih pesangon semestinya agar mereka punya bekal sebelum dapat kerja baru."


"Baiklah! Paling pembantu mantan isteri kamu. Mereka di sini juga gaji buta. Mama akan atur mereka pulang kampung masing-masing."


"Bagus...kita bisa lebih hemat lagi. Baiklah ma! Kami mau pamitan dulu. Besok kami datang lagi." Ezra bangun dari sofa bersamaan dengan Adeeva dan Ruben.


Ruben memang jadi pengawal jempolan. Gayanya sudah menyakinkan sebagai ajudan setia. Cool tak bersuara.


Bu Humaira agak sedih lihat ketiga orang itu pergi. Barusan tadi ada keramaian kini telah sepi lagi. Panggung sandiwara sudah ditutup. Tersisa hanya kesunyian. Kalau Bu Humaira tak mau bangkit maka dia akan terkurung dalam kesepian seumur hidup.


Sebelum pergi Adeeva minta ijin menjenguk kedua pembantu lucunya. Adeeva kangen pada Tuti dan Kiano. Bagaimana keadaan kedua badut rumahnya. Apa keduanya masih setia sehidup semati.


Ezra tentu saja luangkan waktu ikuti permintaan Adeeva. Ada bagusnya juga Adeeva jumpai kedua ajudannya karena Ezra berniat ajak Adeeva nginap di sana. Ezra mau ciptakan suasana baru agar hubungan mereka lebih mesra.


Rumah Adeeva masih sepi seperti dulu. Tak ada keramaian seperti di rumah utama. Rumah utama saja sudah sepi apalagi di sini.

__ADS_1


Adeeva meneleponi Tuti kabarkan dia sudah datang. Adeeva tak tahu di mana adanya Tuti saat ini. Berada dalam rumah atau kena pecat. Mereka sudah lama tidak saling beri kabar.


"Halo.. assalamualaikum."


"Waalaikumsalam...nona Adeeva? Masyaallah non! Di mana sekarang?" suara Tuti terdengar riang gembira dengar suara majikannya.


"Aku di rumah Cendana. Kau mau ke sini? Kamu sudah dekat."


"Iya non...segera datang! Tunggu ya!"


Ruben hentikan mobil di depan pintu pagar. Suasana tempat tinggal Adeeva agak seram karena kurang pencahayaan. Hanya beberapa lampu taman hiasi pagar. Di dalam juga tampak kelam tanda tak ada penghuni.


Ezra paling duluan turun pantau sekeliling untuk cek keamanan. Rumah ini sudah cukup lama tak ada majikan maka jadi suram.


Ruben dan Adeeva turun bareng berdiri tak jauh mobil. Hati Adeeva agak sedih melihat kondisi rumahnya tidak berseri. Padahal Adeeva sangat menyukai rumah sederhana itu.


"Nona...nona..." dari jauh terdengar suara Tuti melawan angin.


Adeeva menoleh melihat Kiano dan Tuti berlari kecil hampiri mereka. Adeeva bersyukur Tuti dan Kiano masih dipertahankan di rumah istana ini.


Tuti terengah-engah sampai di depan Adeeva. Kalau tidak ada Ezra ingin sekali Tuti memeluk majikannya lepaskan rasa kangen.


"Tuti...kok berlari?" tegur Adeeva iba lihat nafas Tuti berpacu cepat.


"Kangen non! Mau masuk rumah? Aku bersihkan rumah setiap hari dengan harapan nona mau kembali ke sini. Pagi siang malam Tuti berdoa semoga nona mau balik. Dan sukses."


"Terima kasih Tuti. Aku datang sebentar saja."


Adeeva melihat kekecewaan terpancar di wajah lugu Tuti. Gadis itu sangat kecewa Adeeva tidak mau bermalam di tempat mereka. Datang cuma untuk singgah sebentar. Padahal Tuti sudah sangat kangen pada konyolan Adeeva.


"Kok sebentar non?"


"Besok aku nginap sini. Kita bakar ikan seperti biasa. kamu persiapkan semua bahannya dan kita berpesta. Nanti kuajak teman biar lebih ramai. Ok?"


Tuti mengangguk cepat. Tuti dan Kiano senang bukan main Adeeva mau berpesta dengan mereka lagi. Kenangan indah dulu akan terulang lagi.


"Kalian tunggu saja aku ya! Kami hanya singgah sebentar. Besok kami akan datang lagi."


"Iya nona...jangan ingkar janji ya!"


"Pasti tidak...kalian baik-baik saja bukan?"


"Baik saja. Kami senang nona tidak ikut pergi seperti nyonya lain. Kami takut sekali nona ikutan pergi dari sini." Tuti ungkap rasa takut kehilangan majikan mereka.


Ezra ngerti perasaan Tuti dan Kiano. Para selirnya satu persatu tinggalkan istana mewah ini. Tak ada yang tinggal. Wajar kalau mereka ketakutan Adeeva akan ikuti jejak yang lain pindah dari istana.


"Nona kalian akan jadi satu-satunya nyonya di sini. Kalian juga akan segera punya majikan kecil." ujar Ezra membanggakan kehamilan Adeeva. Kabar baik ini biarlah tersiar di seluruh istana ini. Semua harus tahu kalau nyonya rumah cuma ada satu yakni Adeeva.


"Nona mau punya adik bayi?" Tuti tak kuasa menahan haru bakal punya majikan kecil. Istana ini pasti akan lebih semarak dengan kehadiran bocah-bocah lucu.


"Iya Tuti...kalian akan direpotkan oleh anak-anak kami. Tunggu saja mereka terlahir ke dunia ini." Adeeva menepuk bahu Tuti. Tuti manggut suka cita.


"Kami pergi dulu! Bersihkan rumah sambut kamu besok. Jangan lupa sediakan permintaan nyonya kalian." pinta Ezra


"Siap pak!" Tuti siaga yakin bisa laksanakan tugas dengan baik.


"Satu lagi...jangan ada orang lain sentuh bahan makanan kalian karena istana ini menyimpan bahaya. Kalian urus sendiri semua bahan makanan. Kalau bisa jangan sebar kehadiran nona kalian!" timpal Ruben menjaga dari segala kemungkinan.


"Beres...kami akan belanja sendiri." sahut Kiano buka suara. Lajang ini senang Adeeva jadi pemenang taklukkan bos mereka. Di mata Kiano Adeeva pantas jadi juara.

__ADS_1


"Ok...kami pergi dulu ya! Kalian dua hati-hati."


"Iya nona ..kami menunggu nona datang."


__ADS_2