
Adeeva lebih yakin antar Ezra ke rumah sakit. Tapi laki itu justru pilih pulang ke apartemen mereka. Laki ini hanya ingin tenang supaya bisa cepat pulih.
Adeeva dan Ezra bergandengan seperti orang kasmaran menuju ke mobil. Orang yang tak tahu pikir keduanya sedang pamer kemesraan. Padahal Ezra sedang kurang sehat. Celine gemas sekali pada pasangan ini. Seharusnya dia berada di posisi ini. Bukan Adeeva si anak bawang. Celine tak sangka nasib Adeeva sangat mujur bisa menjadi nyonya bos idaman semua wanita.
Adeeva memberi Ezra obat penurun panas yang biasa dia minum kalau kurang enak badan. Obat biasa yang bisa dibeli bebas di apotik manapun. Semoga obat ini manjur buat laki ini.
Ezra benar-benar tertidur setelah minum obat. Adeeva bisa bernafas lega setalah Ezra tidur.
Adeeva hubungi Ruben mengenai masalah perangkat minta Ruben cek stok keseluruhan.
Untung Ruben cepat tanggap angkat telepon Adeeva. Adeeva sudah telepon pasti ada masalah penting. Adeeva bukan orang kurang kerjaan suka ngajak ngobrol tanpa tujuan.
"Assalamualaikum." sapa Adeeva duluan ajar asisten Ezra yang kini jadi asistennya lebih beradab sedikit.
"Waalaikumsalam... ada apa Miss Adeeva? Penting banget ya?"
"Ezra demam tapi tak mau ke rumah sakit. Itu bukan topik! Kamu cek stok perangkat yang bermasalah di gudang. Cek siapa bertanggung jawab impor barang rongsokan begini. Langsung lapor ke aku! Oya... aku akan cari tahu virus dalam perangkat dan kita bersihkan secara serentak. Kerahkan semua ahli untuk bersihkan virus itu. Nanti aku akan cari link untuk bersihkan virus itu. Aku akan suntik virus ke otak orang yang bertanggung jawab."
"Itu kerja Ika anak pak Jul. Dia yang urus impor barang elektronik dari Jepang dan Korea. Dia sering ke sana sekalian operasi plastik."
"Oh gitu ya! Pantasnya otaknya juga terbuat dari plastik. Otak palsu. Kalau tak salah dia itu ahli kecantikan. Kok punya wewenang impor barang? Apa Ezra tak tahu menahu?"
"Sudah kubilang. Ezra tidak dapat kontrol segitu luas maka kecolongan. Nanti kukabari kamu berapa banyak stok di gudang dan yang sudah disuplai ke daerah."
"Jangan edarkan lagi sebelum kita lakukan pembersihan! Ini merusak nama perusahaan. Ika pegawai pertama yang akan kupecat. Yakin itu!"
"Setuju nyonya bos! Salut."
"Jangan banyak bacot! Laksanakan tugasmu! Aku masih harus urus bayi tua yang sakit." Adeeva berkata sambil melirik ke pintu kamar Ezra. Laki itu sudah istirahat setelah di kasih minum obat paracetamol.
"Siap nyonya bos! Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam..." Adeeva tersenyum lihat Ruben mulai bisa ikut pola dia punya sopan santun.
Adeeva bangkit dari kursi berjalan ke kamar Ezra lihat kondisi kekinian lelaki itu. Ezra tampak gelisah dalam tidurnya sampai keluar keringat di kening.
Hati Adeeva tercekat karena dia belum pernah lihat orang demam demikian parah. Ajak ke rumah sakit tapi tak mau. Sekarang kondisinya agak memprihatinkan. Adeeva agak bingung juga hadapi masalah ini. Mau minta bantuan siapa bawa orang ini ke rumah sakit.
"Ade...maafkan aku! Maafkan aku! Aku mencintaimu. Jangan tinggalkan aku!" ujar Ezra di bawah alam sadar.
Adeeva tertegun tak sangka Ezra betulan sangat sayang padanya. Kirain sayang hanya pemanis bibir. Kata orang tua bila ada orang ngingau sebut nama seseorang antara sadar tidak sadar artinya orang itu memang tertanam dalam lubuk hati.
Adeeva tak mau pikir itu melainkan harus bantu Ezra agar cepat lewati demam ini.
Adeeva ambil kain basah kompres kepala laki ini agar tidak makin panas. Badan laki ini memang sangat panas walaupun telah dibantu obat pereda panas.
Lama berpikir akhirnya Adeeva teringat pada bang Juan pelatihnya dulu. Laki itu cukup kuat untuk bantu dia bawa Ezra ke rumah sakit.
Adeeva tak pikir panjang lagi segera hubungi pelatihnya dulu minta tolong. Keselamatan Ezra lebih penting dari segalanya. Adeeva sudah dengar pengakuan Ezra di bawah mulai tergerak sedikit hati kecil untuk beri peluang pada Ezra untuk berubah.
Kalau laki ini dalam kondisi waras pasti takkan berani akui perasaan sesungguhnya pada Adeeva. Orang sombong kayak gitu mana mau mengaku hal sensitif pada seorang gadis muda.
Bang Juan datang dengan mobil dobel kabin. Laki itu bawa dua anggota taekwondo supaya bisa gotong tubuh besar Ezra ke rumah sakit. Orang dalam keadaan kurang sadar susah di bawa.
__ADS_1
Sudah begini Adeeva timbul rasa iba Adeeva. Semua kesalahan Ezra terasa impas atas penderitaan yang dia rasakan. Tapi tak segampang itu Adeeva maafkan dia. Masih ada cobaan harus dilalui laki itu.
Ezra langsung ditangani oleh dokter setempat sesuai prosedur perawatan. Adeeva bernafas lega setelah Ezra ditangani oleh dokter.
Peralatan medis terpasang di tubuh Ezra seperti selang infus dan oksigen takut laki itu sesak nafas. Adeeva biarkan Ezra ditangani tanpa protes.
Adeeva mengajak bang Juan dan kedua rekannya dulu bicara di luar untuk beri ruang pada dokter urus Ezra.
Bang Juan dan kedua rekannya baru bisa melihat Adeeva dengan jelas. Gadis konyol ini telah tumbuh lebih dewasa dan matang. Matanya yang biasa bersinar jenaka kini mengeluarkan pancaran serius tanda matang.
"Kalau bukan kau telepon bang Juan pasti tak itu kamu! Hebat kamu...jadi orang sukses ya!" Bang Juan menepuk bahu Adeeva seperti dulu. Perlakuan bang Juan masih sama anggap Adeeva anak didik.
Adeeva tertawa pahit. Bang Juan tak tahu berapa banyak suka duka dilalui Adeeva sejak kenal Ezra. Lebih banyak duka daripada suka.
"Ya beginilah! Gimana perkembangan klub?" Adeeva melirik kedua rekannya yang lebih banyak diam.
"Banyak yang mengundurkan diri karena persaingan. Totok dan Ujang lebih banyak nganggur sekarang. Murid berkurang sih! Kau ada lowongan buat mereka?" bang Juan rekom kedua rekannya agar Adeeva buka peluang buat keduanya direkrut jadi karyawan.
Adeeva terdiam tak tahu posisi yang cocok. Soal pendidikan mereka berdua pasti kalah dari yang lain. Adeeva kenal mereka dari dulu. Paling tamatan SMA.
"Jadi apa saja boleh?"
Totok dan Ujang mengangguk cepat. Dengan pendidikan segitu mau duduk di posisi apa hanya Adeeva yang tahu. Tak mungkin berada di posisi berhubungan langsung dengan pembukuan ataupun yang vital.
"Berapa yang nganggur?" tanya Adeeva paham niat Bang Juan sodorkan anak buahnya kepada Adeeva. Tentu saja berharap mereka dapat kehidupan lebih baik.
"Lima...semua tak ada sarjana."
Adeeva mendesah oleh kejujuran bang Juan. Tanpa gelar sarjana hanya pekerjaan kasar menanti mereka. Jujur Adeeva tak tega atlet berbakat jadi sampah masyarakat.
"Ada cuma satu."
"Baiklah. Yang lajang ke kota J dan yang berkeluarga tetap di sini. Tapi kerjanya paling jaga gudang dan jadi satpam. Kalian tak keberatan bukan?" Adeeva menatap kedua rekannya minta kepastian.
"Boleh..." sahut Totok antusias.
"Baiklah! Nanti setelah pak Ezra sehat kami akan balik ke kota J baru aku kirim kabar. Kalian bersiap saja. Aku memang rencana mau ganti semua penjaga gudang karena tampaknya ada konspirasi besar dalam perusahaan pak Ezra. Kalian bisa tinggal di perusahaan agar irit biaya hidup. Aku tak minta apa-apa selain kejujuran kalian. Kita besar bersama di klub jadi kuharap kalian berlaku jujur." Adeeva suarakan hal paling urgen agar calon pegawainya itu tahu permintaan utama Adeeva.
Saatnya Adeeva ganti sebagian karyawan dengan orang yang bisa dia percaya. Bagusnya juga dia bawa rekan sesama atlet yang punya keahlian bela diri. Otomatis penjagaan akan lebih maksimal.
"Dek Adeeva...kita boleh miskin tapi tak perlu sampai miskin iman. Kau besar bersama kami kan sudah tahu sifat kami. Apa selama ini kami pernah menipu orang? Adek tak usah ragu kejujuran kami. Kita punya sumpah setia sebagai atlet." kata Ujang berapi-api menyakinkan Adeeva kejujuran mereka.
Adeeva angguk percaya. Dia cukup lama bersama para sesama atlet taekwondo, sejauh ini belum pernah dengar adanya kecurangan dari sesama rekan. Malah mereka sangat setia kawan.
"Ok percaya kang! Kalian bersiap saja! Kalau ada yang sarjana juga boleh melamar kerja. Asal jangan lamar aku!" gurau Adeeva dibalas tawa oleh lelaki berbadan tegap itu.
Bang Juan lega anak buahnya tidak terlunta-lunta di klub. Pertemuan dengan Adeeva bawa berkah. Cuma sayang Adeeva pelit buka cerita mengapa dia tiba-tiba berubah. Bang Juan sama sekali tidak tahu lika liku Adeeva berubah jadi seorang pemimpin perusahaan. Apapun dia bang Juan senang Adeeva telah sukses. Kini rekrut sesama teman pula. Ini menjadi berkah.
"Terima kasih Adeeva! Bang Juan tunggu kabar dari kamu. Kalau kau perlu orang lebih kuat ada anggota bang Jimmy. Kau tak lupa pada bang Jimmy kan? Kurasa anggotanya juga alami kesulitan kayak kita."
"Kita urus orang dalam kita. Kulihat nanti bagian mana masih butuh lowongan. Kalau di tempatkan di luar pulau Jawa apa ada yang mau? Seperti Papua atau daerah Kalimantan?"
"Kalau sudah lapar ke mana saja boleh. Kau hubungi bang Juan setiap perlu anggota tapi jangan minta sarjana. Kita tak punya stok sarjana."
__ADS_1
"Iya bang! Oya...terima kasih bantuan kalian! Kalian tunggu di sini sebentar! Aku akan segera kembali."
Adeeva pergi tanpa menanti jawaban bang Juan. Adeeva tersentuh perjuangan bang Juan didik anak asuhnya. Laki itu tidak egois mementingkan diri sendiri tak hiraukan masa depan anak asuh. Mungkin dia lebih mementingkan anak buah ketimbang diri sendiri.
Bang Juan tak tahu Adeeva ke mana. Anak itu sukar ditebak. Sifatnya urakan dari dulu, susah diatur bila tak sesuai cara pikirnya. Tapi kini tampak lebih kalem menjurus dewasa. Bang Juan bersyukur salah satu anak asuhnya telah sukses jadi orang tajir.
Ketiga lelaki ini berdiri di sudut rumah sakit menanti kehadiran Adeeva. Ntah apa yang sedang dilakukan anak itu. Mungkin sedang urusan soal bosnya yang demam.
Tak lama Adeeva balik dengan wajah cerah. Gayanya tetap gagah walau ada perubahan dalam diri Adeeva yakni tambah gemuk. Wajar anak itu tambah subur karena telah makmur. Ini perubahan wajar dalam kehidupan manusia.
"Maaf lama tunggu! Bang...ambil ini!" Adeeva angsurkan segepok duit warna merah kepada Bang Juan.
Mata bang Juan jatuh pada uang yang jumlahnya tidak sedikit. Bang Juan tidak segera terima uang itu karena tak tahu apa tujuan Adeeva beri uang segitu banyak.
"Apa ini dek?"
"Uang belanja untuk anak-anak. Aku tahu keuangan klub pasti sedang karatan. Pakailah uang ini untuk biaya hidup sesama teman! Aku punya banyak uang kok! Suami aku itu bos Dilangit. Uang segini tak ada artinya. Aku tulus bang!"
Tangan Adeeva masih bergantung dengan segepok kertas warna merah. Adeeva mengangguk berkali-kali biar Bang Juan tidak ragu pada ceritanya.
"Bos itu suami kamu?"
"Iya...kami sudah lama menikah tapi Abang tahu sifat aku tak bisa dikekang. Aku kabur tapi tetap tak bisa ingkari janji di depan penghulu. Kalian tak usah kuatir. Dia baik padaku kok! Ayok ambil! Tak enak dilihat orang."
Adeeva memaksakan uang itu ke tangan Bang Juan. Lucu sekali berdebat di tempat umum dengan segepok uang di tangan. Orang yang lihat pasti akan berpikir aneh.
Bang Juan lihat kiri kanan pantau apa ada orang lihat ke arah mereka. Malu juga dipelototi orang yang berada di sekitar rumah sakit. Mau tak mau Bang Juan simpan uang itu di balik baju jaket.
"Terima kasih dek! Ini sangat membantu klub. Abang wakili anak-anak berterima kasih padamu!"
Adeeva terkekeh, "Ini tak seberapa bila dibanding kenakalanku dulu. Kalau ada kesulitan hubungi aku ya! Uangku halal kok!"
Bang Juan tahu Adeeva sedang bergurau. Dari dulu sifat Adeeva jenaka dan periang. Kapan pernah bicara serius. Sesama rekan klub sudah tak heran pada sifat iseng anak ini. Syukur sedikit berubah sejak punya suami.
"Maaf...keluarga pak Ezra?" seorang perawat datang mendekat cari siapa keluarga Ezra.
Adeeva bagai kena sambar kilat langsung bereaksi. Cewek ini takut terjadi sesuatu pada Ezra. Bisa gawat bisa laki itu terjadi sesuatu. Dia bakal mati kutu tanpa didampingi laki cabul itu.
"Saya isterinya." Adeeva acung tangan secara spontan.
"Oh...pak Ezra sudah sadar! Silahkan jumpa dia!"
"Terima kasih sus! Aku lihat dia dulu ya! Permisi."
Adeeva bergegas ikut suster ke ruang IGD yang tempat pertolongan pertama. Di situ cuma ada Ezra seorang tak ada pasien lain. Laki itu masih terbaring tanpa daya di atas brankar. Wajahnya agak pucat tanda dia tidak sedang bersandiwara cari perhatian Adeeva. Dosa kalau Adeeva suudzon pada laki itu.
"Hai...ada enakan?" sapa Adeeva kalem tidak galak lagi.
"Aku kenapa?" tanya Ezra masih belum sadar sepenuhnya dia di mana.
"Bapak demam sampai tidak sadar diri maka aku bawa ke sini. Rawat di sini ya! Aku takut naik panas lagi."
Adeeva berusaha selembut mungkin berlawanan dengan karakternya yang ceplas-ceplos.
__ADS_1
"Tak usah...kita pulang saja! Aku cuma kelelahan. Minta obat dan kita pulang." tegas Ezra merasa sudah cukup kuat untuk pulang ke rumah.
"Pak Ezra yang ganteng. Dokter saja belum beri hasil penyakit bapak. Ini minta pulang. Sabar ya!"