Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Limpahan Kekayaan


__ADS_3

Ezra tercekat dengar ketegasan Adeeva tak mau balik ke rumah di mana dia dan Sonya main gila. Betapa kerasnya sifat Adeeva. Tak ada toleransi sedikitpun seperti wanitanya yang lain.


"Jadi kita ke mana?"


"Antar aku pulang ke rumah Abah dan bapak terserah mau ke mana. Ke neraka juga boleh." sahut Adeeva sungguh tak bersahabat sama sekali.


Ezra jangan anggap Adeeva patuh ingin kembali pada dia. Adeeva lakukan semua ini untuk Oma juga kasih pelajaran pada Ezra dak kumpulan wanitanya. Adeeva akan gunakan kekuasaan sikat habis para wanita kurang waras. Jual diri demi secuil materi. Setelah dia ambil alih kekuasaan di hak mereka mau ngapain dengan hartanya Ezra.


"Tega amat nih istri! Suami diminta masuk neraka. Dosa tau..."


Adeeva tertawa sinis tak sangka Ezra bisa bahas tentang dosa. Kenapa sekarang baru terpikir dengan kata dosa itu. Di mana dia selama ini menganggap uang bisa membeli segalanya. Kenal tidak dengan kata dosa.


"Dosa??? Hello...di mana anda selama ini? Sekarang antar aku ke rumah Abah. Aku mau pulang ke rumah dalam arti sebenarnya. Bukan rumah bordil menampung perempuan ******."


Ezra malas berdebat dengan Adeeva saat ini. Apapun yang diinginkan oleh wanita ini tetap akan dituruti oleh Ezra. Ezra harus pandai mengambil hati adeeva agar ke depan bisa menguasai wanita ini lagi. Ezra sudah kapok berurusan dengan adeva yang tidak mengenal kata damai.


Laki ini tak punya pilihan lain selain mengikuti keinginan Adeeva mengantarnya pulang ke rumah orang tuanya. Biarlah Adeeva berpikir tenang malam ini karena besok dia akan menghadapi perihal yang lebih mengejutkan. Ezra sudah bertekad ingin berubah dan menjadi lebih baik agar bisa menjadi contoh yang baik buat anak-anaknya kelak. sudah saatnya Ezra berhenti bermain-main. Usianya sudah tidak muda lagi untuk huru hara seperti dulu.


"Baik...kau istirahat di rumah. Besok pagi aku akan jemput kamu. Besok kita langsung ke kantor untuk selesaikan peralihan kekuasaan di perusahaan."


Adeeva tidak menjawab karena wanita ini juga ragu kemampuan dia mengelola perusahaan yang demikian besar. Adeeva sama sekali tidak tertarik dengan semua kekayaan Ezra tetapi Adeeva ingin membeli pelajaran kepada lelaki ini supaya tahu arti hidup di roda paling bawah. Laki Ini harus ikut merasakan penderitaan orang yang tidak punya.


Ezra tidak banyak bicara takut salah omong memancing amarah istrinya itu. Keadaan yang mulai kondusif bisa saja berubah bila Ezra salah mengeluarkan perkataan.


Sesampai di rumah orang tua Adeeva langsung masuk ke dalam rumah tanpa mengundang suaminya. Ezra juga tahu diri tidak berani memaksa ikut masuk. Sekarang apapun keinginan Adeeva tetap akan dia turuti untuk menebus semua kesalahan yang telah dia perbuat.


Ezra menjalankan mobil setelah menurunkan koper Adeeva. Biarlah semua saling cooling down dulu. Hari mereka masih panjang untuk saling mengisi dan menerima. Andai Ezra bisa berubah total kemungkinan besar Adeeva akan memaafkannya.


Ezra segera ke kantor memanggil pengacara serta notaris untuk urus pengalihan harta dan perusahaan pada Adeeva. Ezra tidak main-main melaksanakan niat hati memberi Adeeva segalanya.


Ruben dan pengacara keluarga Ezra sangat kaget dengar Ezra alihkan semuanya kepada Adeeva. Setelah ini Ezra jadi orang termiskin di dunia ini. Tak punya apa-apa lagi. Kalau Adeeva kejam depak laki ini maka tamatlah riwayat raja tambang yang terkenal sangar.


Ruben mondar-mandir seperti seterika di atas sehelai pakaian. Pengacara juga ragu kerjakan semua perintah Ezra. Siapa tak kaget tiba-tiba Ezra gila berikan seluruh jerih payah seumur hidup pada seorang cewek muda.


"Laksanakan saja!" Ezra menghapus keraguan kedua orang yang berada di dalam ruang kerjanya.


"Tapi pak...Adeeva itu bukan orang ramah. Dia itu keras kepala dan kejam. Apa bapak tidak takut dia usir bapak?" tanya Ruben meninggikan suara. Ruben gelisah bukan main Ezra ambil keputusan besar ini.


"Terserah dia saja! Besok kau hadirkan semua dewan direksi untuk saksikan penyerahan ini. Untuk sementara kalian rahasiakan dulu masalah ini agar tidak timbul kegaduhan di dalam perusahaan. Aku yakin Adeeva akan memimpin perusahaan ini dengan baik dengan sifatnya yang keras dan teliti. Tak ada yang perlu kalian kuatirkan masalah ini."


Ruben dan pengacara Ezra tidak dapat mengatakan apapun lagi selain mengikuti keinginan laki ini. Ezra sudah siap menanggung risiko maka dikerjakan sesuai keinginan laki itu.


"Baik pak! Besok jam sembilan aku akan datang bahwa semua dokumen penting. Kalau bapak berubah pikiran teleponi aku setiap saat." pengacara Ezra akhirnya meluluskan keinginan laki ini. Dia hanya seorang pengacara tidak berhak ikut campur semua perintah dari bos. Namun pengacara berhak mengemukakan pendapat supaya Ezra tidak salah langkah.


"Iya...kutunggu besok!"


Sang pengacara mengumpulkan semua dokumen penting yang akan segera dialihkan ke atas nama Adeeva. Tinggal dalam hitungan jam Ezra akan menjadi seorang lelaki tanpa kuku.


Ruben agak putus asa melihat kepergian pengacara membawa semua dokumen yang telah diserahkan oleh Ezra. Otak Ezra kena virus apa sehingga tidak bisa berpikir dengan waras mengalihkan seluruh harta kepada Adeeva.


"Bang...kau gila? Ini bukan persoalan kecil." kata Ruben setelah pengacara pergi.

__ADS_1


Ezra menyandarkan badan ke belakang seraya menghela nafas.


"Aku tak punya pilihan lain untuk mengikat Adeeva. Aku memang telah salah kepadanya maka untuk mendapat kepercayaannya aku harus meyakinkan dia bahwa aku memang sangat menyayangi dia."


"Tapi tidak perlu korban segalanya."


"Apa kau pikir Adeeva orang begitu? Dia hanya mau hukum aku! Adeeva ambil alih perusahaan juga merupakan hal yang baik. Dia pasti akan sikat semua orang yang suka bermain di belakang layar. Aku sudah miskin jadi tak mampu biayai hidup para wanita di istana. Kita lihat mereka mundur atau tidak. Kau tak boleh tinggalkan Adeeva karena dia itu orangnya keras di luar tapi dasarnya paling lembut hati. Tetap dampingi dia. Aku sudah bayangkan posisi satpam atau ob buat aku! Aku yakin dia akan beri pekerjaan itu untukku." keluh Ezra bayangkan masa suramnya telah datang.


"Jadi Abang gunakan tangan Adeeva singkirkan semua benalu di sekeliling Abang? Gimana kalau Adeeva tak mau kembalikan perusahaan kepada Abang?"


"Pasti akan kembalikan! Paling lama dia tahan tiga bulan. Dia pasti menyerah bila sudah tak mampu handel semua masalah."


"Lalu Abang ambil kembali aset?"


"Biarlah tetap atas nama Adeeva karena aku tidak akan melepaskan dia sampai kapanpun. Dia akan makin terikat kepadaku karena pengalihan perusahaan. Adeeva bukan orang tamak yang ingin menguasai harta orang lain. Kau tenang saja lihat bagaimana hukuman yang dia berikan kepada aku."


"Kalau benar dia sampai sekejam itu menurunkan pangkat Abang menjadi OB ataupun satpam aku angkat salut kepada Adeeva. Sekali dia keluar tendangan abang terlempar ribuan mil."


"Aku juga tak tahu dia akan lempar aku ke mana?" gumam Ezra agak ngeri bayangkan rencana Adeeva yang tak bisa ditebak.


Ruben agak lega setelah mendapat keterangan dari Ezra. Ternyata Ezra punya tujuan lain alihkan perusahaan pada Adeeva. Ezra sudah bisa baca sifat Adeeva tidak tamak serta harap Adeeva bisa tertibkan keluarganya yang bak benalu di musim hujan.


Ruben terpaksa dukung Ezra berbuat ekstrim beri semua kekuasaan pada Adeeva. Semoga saja dugaan Ezra tentang Adeeva betul seratus persen.


Sesuai janji Ezra jemput Adeeva di pagi hari untuk laksanakan niat besar terima limpahan kekuasaan. Pagi ini Adeeva kenakan blazer warna coklat muda serta celana senada. Rambut dicepol jadi sanggul mini di atas kepala. Sepatu berkilap warna coklat tua. Bibir dipoles lispstik tipis senada warna bibir. Sekilas Adeeva tampak sangat cantik.


Ezra turun dari mobil menyambut istrinya sebagai seorang supir pribadi Adeeva. Jangan harap ada kecupan selamat pagi dari Adeeva. Bibir bergincu Adeeva terlalu mahal di berikan pada laki cabul model Ezra.


"Selamat pagi sayang!" Ezra duluan menyapa secerah mungkin biar Adeeva tahu dia sangat ikhlas beri hartanya pada Adeeva.


"Jujur tidak nyenyak karena pikir kamu!"


"Apa bukan takut jadi gelandangan?"


Ezra membuka pintu mobil buat Adeeva persis seorang jongos layani majikan hendak bepergian.


Adeeva masih kasih muka pada Ezra tidak duduk di jok belakang. Kalau Adeeva pilih duduk di jok belakang habislah reputasi Ezra. Belum apa-apa sudah dilempar jadi supir pribadi.


Ezra tak mau jawab pertanyaan Adeeva. Pagi cerah tak perlu diwarnai perdebatan tak penting. Sebentar lagi moments penting akan terjadi di perusahaan Dilangit. Ceo Dilangit akan berubah beberapa jam ke depan. Ezra sedikitpun tidak kuatir harta akan dibenamkan Adeeva. Ezra lebih ngerti bayangkan hukuman dari Adeeva. Pasti akan buat Ezra sengsara.


Keduanya tiba di kantor telah menanti Ruben dan pengacara di teras kantor. Ezra sudah minta kedua orang kepercayaannya bersiap di kantor tanpa buat heboh. Pengalihan secara diam-diam agar mamanya tidak bikin onar tak terima seluruh harta Dilangit pindah kepemilikan.


"Selamat pagi pak Ezra.." pengacara menyalami Ezra lalu menatap wanita di samping bosnya.


Adeeva terlalu muda untuk menjadi seorang CEO perusahaan raksasa. Pengacara meragukan kemampuan Adeeva menjadi pemimpin mumpuni. Tapi kharisma Adeeva sangat kuat ditambah postur tubuh cukup menunjang wanita berdiri kokoh. Tetap saja harus ada orang dampingi Adeeva merambah rimba yang belum dia ketahui medannya.


"Perkenalan ini Adeeva Larasati Dilangit." Ezra sengaja perkenalkan Adeeva dengan sebutan Dilangit agar pengacara tahu inilah nyonya Dilangit sesungguhnya.


"Oh...selamat pagi nyonya Dilangit. Ayok kita selesaikan semuanya!"


Adeeva hanya mengangguk tipis. Hati Adeeva berdetak sangat kencang tak disangka Ezra benaran alihkan seluruh aset perusahaan padanya. Semula Adeeva hanya ingin gertak Ezra namun laki ini tanggapi serius.

__ADS_1


Bukan Ezra yang takut kehilangan harta melainkan Adeeva yang takut menerima limpahan aset bernilai sangat besar. Kini Adeeva bertanya-tanya di dalam hati apa dia sanggup menghandle seluruh kegiatan di dalam perusahaan. Adeeva jadi ketakutan sendiri.


Kaki Adeeva terasa agak kram berjalan menuju ke kantor Ezra. Entah datang dari mana rasa kram itu padahal dari rumah semua berjalan dengan normal.


Ezra dan pengacara sudah jalan duluan tinggalkan Adeeva yang masih belum percaya akan segera menjadi salah satu orang kaya di Indonesia.


Ruben menangkap rasa grogi Adeeva. kelihatannya Adeeva sangat takut menerima semua limpahan aset Ezra.


"Kau siap Poni?" tanya Ruben jajarkan langkah dengan Adeeva.


"Kurang siap..." sahut Adeeva jujur.


"Ezra percaya padamu maka kamu harus yakin. Dia bangun perusahaan ini dengan susah payah jadi kuharap kau harus lebih giat lanjutkan perjuangan pak Ezra."


Adeeva berhenti sejenak di tengah jalan. Kaki Adeeva makin berat melangkah lebih jauh. Serasa berton-ton batu ikat kakinya sampai tak mampu melaju ke depan.


"Aku jadi ngeri!"


"Jangan takut! Aku tetap ada untukmu. Cuma kusarankan kau harus buat pak Ezra tetap berada di samping kamu agar kamu dapat masukan dari dia. Dunia bisnis itu penuh penipuan dan kelicikan. Aku dan pak Ezra sudah kenyang hadapi orang-orang nakal."


Adeeva makin bimbang menerima harta Ezra. Apa rencana bikin sengsara Ezra harus korbankan sekian banyak nasib karyawan? Gimana kalau Adeeva tak secakap Ezra kelola perusahaan? Nasib ratusan karyawan tergantung di tangan Adeeva.


"Aku pulang ya! Aku kok jadi ngeri bayangin akibat keegoisan aku?"


"Kau tak bisa mundur lagi! Semua telah diatur pengacara."


Adeeva meremas kedua telapak tangan semakin gelisah. Keringat dingin merembes keluar dari pori-pori kulit bikin Adeeva kedinginan kena angin AC.


"Yok...kita sudah ditunggu! Kau pasti bisa. Ingat! Jangan sepak pak Ezra jauh kalau tak mau perusahaan ini kena musibah."


"Iya ..cerewet amat! Omong kok kaset usang. Diulang-ulang berkali."


Ruben tersenyum telah dapatkan kembali Adeeva yang songong. Ruben mempersilahkan Adeeva jalan duluan menuju ke lift. Ezra dan pengacara sudah tidak tampak batang hidung artinya mereka sudah duluan naik ke atas.


Adeeva ragu naik ke atas untuk ikuti kelanjutan permainan dia. Adeeva yang pingin jadi bos sekarang malah ketakutan sendiri.


"Kita naik?" tanya Ruben menekan lift pribadi Ezra yang belum turun karena sedang bawa bos naik ke atas.


"Apa pendapat kamu tentang aku? Tamak? Rakus atau sama saja dengan selir Pak Ezra?" Adeeva menunjuk dada sendiri.


"Kau butuh pendapat orang lain? Kusarankan jalani dulu semua ini. Kau bisa perbaiki banyak hal yang tak bisa pak Ezra lakukan. Kau wanita kuat pasti sanggup menata perusahaan lebih baik lagi."


"Maksudmu?" Adeeva belum paham apa tujuan pembicaraan Ruben.


"Gimana kalau kita bicara sebentar biar kamu yakin mau lanjut atau mundur."


"Ok..."


"Kita bicara di ruang aku saja. Aku telepon pak Ezra dulu katakan kau lagi tenangkan diri."


Adeeva anggap saran Ruben cukup membantu dirinya pastikan diri maju terima limpahan aset atau mundur total.

__ADS_1


Ruben angkat ponsel kirim pesan pada Ezra agar bersabar menanti Adeeva persiapkan mental.


Ruben mengajak Adeeva masuk ke ruang kerjanya lalu tutup pintu agar tak ada yang dengar percakapan mereka.


__ADS_2