Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Rasa Iba


__ADS_3

Ezra tak mau bayangkan seberapa kesal Bu Humaira pada dirinya. Ezra tak merasa bersalah sedikit pun pada Humaira telah angkat Adeeva sebagai CEO baru. Itu hak Ezra sepenuhnya mau menyerahkan tahta kerajaan kepada siapa. Tak seorangpun berhak melarang Ezra melakukan apa yang dia inginkan.


Adeeva senang Ezra telah berani mengatakan tidak pada mamanya yang kelewatan itu. Adeeva akan buat mereka yang jahat rasakan penderitaan lipat ganda. Adeeva mulai paham Ezra sedikit demi sedikit. Laki itu telah dididik tidak lurus oleh mamanya maka itu akal Ezra agak menyimpang dari jalan semestinya. adeeva sebagai istri dalam kutip wajib membawa Ezra kembali ke jalan yang benar.


Umur selangit belum tentu bijak. Contohnya Ezra, umur sudah setinggi leher tapi akal masih seperti anak belum kecap pendidikan moral.


Adeeva memeluk tangan menatap Ezra yang sedikit linglung setelah ngobrol dengan Bu Humaira. Ada secuil rasa iba di hati Adeeva. Kasihan juga Ezra hidup tanpa kasih sayang tulus. Orang sayang padanya karena harta dia. Sekarang dia sudah kere apa masih ada yang sayang padanya?


"Well...ada perintah dari Miss Adeeva?" Ezra pindah duduk dekat Adeeva.


Adeeva mendelik tolak laki itu mendekat. Adeeva bikin tanda palang larang Ezra dekat dengannya. Mana ada bawahan tak sopan hendak merayu bos.


"Mau dipecat?" tegur Adeeva galak.


Ezra menggeser pantat agak jauh sebelum gadis ini berbuat lebih. Ezra kapok dapat hadiah dari Adeeva. Jaga jarak adalah hal paling tepat saat ini.


"Judes amat! Aku cuma tanya apa ada kerja buat aku?"


"Ada...nanti cari rumah kost untuk kita. Aku tak mau tinggal di tempat maksiat."


"Kost? Apa tak lebih baik Miss Adeeva beli apartemen baru kalau tak mau tinggal di apartemen lama."


"Kita harus berhemat untuk jaga kestabilan perusahaan. Atau kita tinggal di rumah Abah saja! Pak Ezra boleh numpang ataupun pulang ke kandang maksiat bapak."


"Kalau kau tak suka jual saja. Toh kamu berhak atas apartemen itu!" Ezra beri usul lebih baik supaya Adeeva tak ingat terus pada apartemen yang membuatnya susah.


"Usul yang baik. Bisa kita jadikan tambahan modal perusahaan. Tapi apa pak Ezra ikhlas apartemen penuh kenangan cabul dijual?"


Adeeva sudah mulai cekik leher Ezra dengan permainan kata. Mulut berkata dengan santai tapi ujungnya menusuk jantung Ezra. Sejak kapan ada kenangan cabul. Biasa kenangan buruk ataupun kenangan indah. Ini lain dari yang lain. Kenangan cabul. Terdengar sangat tidak manis di kuping.


"Jual saja! Sekarang aku kan tak punya hak apa-apa. Aku sudah jatuh miskin tak punya apa-apa selain seorang isteri yang tercinta. Itulah harta aku satu-satunya."


Adeeva tak bisa membantah karena itu memang fakta. Seluruh kekayaan Ezra telah diserahkan kepada Adeeva otomatis laki ini menjadi kere.


"Ini kantor bro! Jangan ngoceh yang bukan-bukan!"


"Ok...ok...kurasa sekarang lebih baik Miss Adeeva buka jadwal kerja. Besok kita ada pertemuan dengan pemegang saham alat berat di kota B. Kita harus berangkat pagi sekali agar terkejar waktu." Ezra ingatkan tugas pertama Adeeva jumpa rekan bisnis di bidang penjualan alat berat.


Adeeva jadi ragu untuk menerima tugas ini karena dia belum pernah tampil sebagai seorang CEO di rekan bisnis lain.


"Gimana kalau pak Ezra wakili aku ke sana. Aku tak ngerti soal alat berat." Adeeva berubah ramah merasa butuh tenaga bantu untuk saat ini. Ternyata bukan gampang menjadi seorang CEO. Tugasnya bukan hanya duduk di belakang meja tinggal tanda tangan berkas.


"Mana bisa? Semua tahu aku bukan CEO lagi. Mana mungkin suaraku di dengar rekan bisnis Miss Adeeva."


Adeeva makin bimbang tak tahu harus jawab apa. Jari tangan Adeeva mengetuk paha sendiri berulang kali. Ezra diam saja beri waktu buat Adeeva berpikir ulang apa yang harus dia lakukan. Senang juga sukses buat cewek ini galau. Ezra yakin tak sampai dua bulan dia akan menyerah menjadi CEO. Semoga saja urusan internal perusahaan telah tuntas.


"Sebenarnya perusahaan ini bergerak di bidang apa saja? Kok kayak kedai sampah semua ada."

__ADS_1


"Perusahaan Dilangit yang paling utama adalah pertambangan, yang lain kita hanya tanam saham. Ada di bidang perfilman, alat berat, otomotif serta beri modal pada kontraktor dengan sistim bagi hasil. Modal kita punya sedang mereka yang kerjakan. Seperti jalan tol, pembangunan jembatan layang dan lainnya. Satu lagi tak kalah penting kita punya jasa angkutan laut." Ezra menerangkan Dilangit bergerak di bidang apa saja.


Adeeva pingin pingsan saja dengar segitu banyak bidang harus dia handel. Satu saja sudah buat kepala pusing tujuh keliling. Apalagi dengar segitu banyak tangan gurita Dilangit. Sanggup tidak Adeeva tangani satu persatu.


"Ini perusahaan atau kedai rujak sih? Kok semua diaduk jadi satu? Kalau aku harus tangani semua apa rambut di kepala tidak rontok?" tanpa sadar Adeeva mengelus mahkota di atas ubun. Perasaan Adeeva rambutnya mendadak menipis.


Ezra ingin ketawa lihat isterinya bingung harus handel segitu banyak cabang. Menjadi CEO bukan segampang makan nasi. Buka mulut tinggal kunyah.


"Susah juga ya! Oya...ini dokumen pak Ezra tolong bantu simpan di brankas dulu. Tunggu aku waras baru pelajari semua kekayaan aku. Aku mau tidur sebentar. Kepala aku nyut-nyutan." Adeeva mengambil setumpuk dokumen pengalihan kekuasaan dan harta dari pengacara lalu serahkan pada Ezra. Adeeva kurang peduli pada limpahan harta dari Ezra. Tak ada niat sedikitpun kuasai semuanya. Adeeva hanya mau beri pelajaran pada Ezra.


Belum beri pelajaran Adeeva duluan K O oleh segudang tanggung jawab. Kondisi jadi terbalik. Malahan Ezra yang beri pelajaran pada Adeeva biar tahu betapa susahnya dia kelola perusahaan besar.


Adeeva bersandar pada sandaran sofa menutup mata tak mau pikir roda perusahaan berada di tangannya. Jujur Adeeva tak sanggup berpikir segitu banyak tugas.


"Tidur dalam kamar saja Miss Adeeva! Di sini tentu tak nyaman."


"Ogah... tempat tidur kamu itu pasti sudah ada jejak ikan buntal genit."


"Nah itu kamu salah! Ini kantor bukan tempat buang nafsu. Aku masih punya sedikit otak. Kau bisa istirahat dengan tenang. Mari kuantar Miss Adeeva!" Ezra bergerak hendak raih tangan Adeeva namun Adeeva lebih duluan berkelit.


Adeeva belum ikhlas tangannya disentuh orang yang pernah menjamah wanita lain. Ezra tertegun tak sangka Adeeva masih belum bisa move on dari kesalahan yang dia perbuat. Ternyata untuk pahami wanita tidak segampang balik telapak tangan. Ezra sudah berikan segalanya belum mampu lunakkan hati Adeeva. Berapa keras hati cewek ini.


"Kau masih dendam padaku?" tanya Ezra lirih.


"Aku tak pernah dendam padamu cuma merasa jijik disentuh tangan pernah jamah tubuh wanita sejuta umat. Kita mulai kerja saja. Aku akan pelajari semua CV pegawai sini. Nanti aku tentukan posisi mereka sesuai bidangnya." Adeeva urungkan niat tidur. Lebih baik mulai kerja dari dalam perusahaan dulu. Perbaiki struktur dasar agar perusahaan makin kuat.


Adeeva pelajari satu persatu ratusan karyawan dalam kantor ini. Terlalu banyak penyimpangan dalam susunan kerja. Ada sarjana teknik mesin dibuang jadi ob. Sungguh penyimpangan keterlaluan. Adeeva kumpulkan beberapa nama untuk dimutasi. Sarjana seni rupa menjadi manager pemasaran otomotif. Tukang salon jadi manager juga. Sudah kebangetan penyimpangan ini.


Ada sekitar tiga puluh orang akan dimutasi oleh Adeeva termasuk pak Jul sebagai direktur karena dasar pendidikan cuma guru musik. Adeeva bukannya tak hargai guru tapi pak Jul tidak berhak jabat jabatan sepenting itu. Adeeva akan mutasi pak Jul menjadi kepala bagian perfilman karena masih ada hubungan dengan seni.


Tak terasa senja telah jatuh. Adeeva terlalu asyik kerja sampai lupa waktu. Makan siang juga lolos dari jadwal. Adeeva sudah lupa mereka belum makan akibat Adeeva fokus pada restorasi kedudukan pegawai.


Ezra tertidur di sofa memeluk kedua tangan di dada. Dalam tidur Ezra tampak lebih manusiawi. Sifat cabulnya seolah tak tersisa dalam diri laki ini.


Timbul juga rasa iba di hati Adeeva. Adeeva tak sangka Ezra kerja cukup keras untuk majukan perusahaan. Dia sanggup tangani segitu banyak bidang sampai sesukses ini. Wajar dia angkuh pada kemampuan sendiri anggap semua orang mau tunduk padanya.


Soal ganteng Ezra memiliki semua itu. Tinggi besar dan punya kharisma. Wanita mana tidak ingin berlabuh pada pelukan laki ini.


Lama Adeeva menatap wajah tenang Ezra di dalam tidurnya. Adeeva tak menemukan apapun di wajah itu selain ada sedikit rasa penyesalan dan iba kepada Ezra.


Adeeva cepat-cepat menepis perasaan iba itu karena dia tak mau dikalahkan oleh sifat cabul Ezra. Laki ini harus merasakan kepahitan menjadi orang tak punya apa-apa dan dipandang rendah oleh wanita-wanita penghamba dollar.


Adeeva melihat keluar dinding kaca tembus pandang keluar. Langit mulai perlihatkan cahaya remang-remang tanda senja akan segera berlalu berganti dengan si raja malam. Sudah saatnya Adeeva pulang dari kantor menuju ke rumah.


Adeeva bergerak ke arah Ezra berniat bangunkan lelaki ini. Namun sebelum langkah Adeeva sampai ke tempat Ezra tiba-tiba pintu diketok orang dari luar.


"Masuk..." kata Adeeva menanti siapa yang datang.

__ADS_1


Ruben muncul bawa map berisi makalah kerja untuk esok hari. Ruben bertugas menyiapkan segala jadwal kerja Adeeva untuk besok dan hari-hari selanjutnya.


"Belum mau pulang?" tanya Ruben.


"Rencana mau pulang. Oya...besok ada jadwal jumpa rekanan di kota B?"


"Iya...itu sudah dijadwalkan dari Minggu lalu. Kau akan berangkat ke sana dengan pesawat atau dengan mobil pribadi?"


Adeeva besarkan mata anggap Ruben terlalu berlebihan tawarkan pesawat padanya. Jarak sedekat ini mau naik pesawat. Bukankah ini hamburkan biaya kantor.


"Tak perlu...aku akan berangkat nanti malam. Aku akan nyetir sendiri. Itu daerah jajahan aku!"


"Kau mau pergi sendiri? Tidak ajak aku atau ikan paus kamu?" olok Ruben menunjuk Ezra pakai ujung bibir.


"Kalau saja dia mau wakili aku kan bagus. Mengapa harus aku yang jumpa rekan bisnis." keluh Adeeva putus semangat.


"Ini salah satu tugas CEO. Kau pikir CEO itu hanya duduk santai terima duit? Omong pakai mulut tak ada guna. Kau lalui dulu hari-hari ini. Kita berangkat bersama nanti. Aku tak mungkin biarkan kamu nyetir sendirian. Ikan paus kamu bisa kuliti aku bila terjadi sesuatu pada Poninya."


"Sekarang bos siapa dulu? Aku atau dia?" tanya Adeeva naikkan kepala dengan angkuh.


"Iya kamu bos tapi di kantor. Di rumah kamu tetap nyonya Ezra Dilangit yang harus patuh pada suami. Dosa lho lawan suami."


"Suami gimana baru dipatuhi? Model kucing liar ini? Asal ada umpan langsung disambar?" sinis Adeeva buang muka tak mau lihat tampang Ezra dalam tidur.


Ruben tak ngerti seberapa keras Adeeva. Ezra sudah mengalah berikan segalanya namun belum melumerkan amarah. Adeeva. Masa tak ada kesempatan kedua?


"Kuakui Ezra memang salah selama ini. Tapi dia lelaki punya hasrat. Tentu butuh tempat menyalurkan gairah."


Adeeva angkat tangan ingin menghajar kepala Ruben. Apa yang dikatakan Ruben hanyalah alasan klasik untuk membela diri Ezra.


"Di rumah ada beberapa ekor ikan buntal mengapa tidak dipakai sebagai pelampiasan. Itu ikan halal. Doyannya malah ikan asin dijajakan di pinggir jalan. Sungguh rendah selera seorang CEO kaya."


"Karena selera buruk maka dia jadi pengemis sekarang ini. Sekarang kita pulang bersiap berangkat. Kujemput kamu di rumah ya!"


"Rumah Abah..Oya..aku mau cari kost untuk tinggal sementara! Tak enak merepotkan Umi terusan. Oma aku lagi sakit butuh perawatan. Aku di sana hanya jadi beban saja."


"Kenapa dengan apartemen Ezra?"


"Apartemen beraura negatif tak baik dihuni. Bawa sial."


Ruben paham maksud Adeeva tak mau kembali ke tempat Ezra dan Sonya lakukan adegan mesum. Kejadian ini membekas di dalam otak Adeeva maka itu Adeeva bersikeras tak mau kembali ke rumah yang katanya penuh maksiat.


"Baiklah! Aku akan atur tempat tinggal kamu! Tak jauh dari sini ada apartemen yang disewakan perbulan. Memang disewakan untuk pasangan muda baru menikah. Kau Dan Ezra cocok tinggal di sana."


"Eit...siapa mau tinggal bersama ikan paus? Aku cari tempat kost untuk diriku sendiri. Dia bisa tetap tinggal di tempat penuh kenangan cabul itu. Kalau bisa yang lengkap furniture. Aku tak mau repot cari perabotan lagi. Yang kecil saja. Cukup satu kamar."


Lagi-lagi Adeeva sedang pertontonkan sifat keras kepala. Dia butuh Ezra untuk bantu dia kelola perusahaan tapi tak ijinkan laki itu mendekat. Apa sih maunya Adeeva.

__ADS_1


"Adeeva...jangan kelewat menekan Ezra! Mentalnya sedang sakit. Takutnya nanti dia minta diantar ke RSJ. Dia sudah berusaha menembus kesalahan ikuti semua keinginan kamu jadi bantu dia cari hati diri. Dia akan makin hancur bila kau abaikan."


__ADS_2