Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Adeeva Bersedih


__ADS_3

Ezra tersenyum simpul mendengar makian Adeeva kepada suaminya. Kenapa gadis ini tidak suka pada suaminya samasekali? Kalau tak suka mengapa mau menikah? Ezra harus cari jawaban untuk Adeeva.


"Begini nona...suami nona sudah lama cari nona tapi nona asyik menghilang! Pas dia ada kerja di sini maka ingin jumpa. Mungkin mau bahas perceraian?"


"Cerai? Alhamdulillah...Ok...aku akan datang! Bilangin bos lhu kalau aku tidak nuntut apapun. Cukup kata talak! Jika perlu talak sepuluh ya?" ujar Adeeva gembira.


"Mana ada talak sepuluh. Paling talak tiga. Emang nona pingin banget ditalak?"


"Banget bin bingit! Terima kasih ya pak! Semoga bos bapak itu diberi panjang umur untuk kawin ke tujuh. Kalau bisa kawin anak umur tujuh belas tahun. Biar viral. Kakek jompo kawini anak bayi!"


Ruben ingin tertawa terbahak dengar doa Adeeva untuk suaminya. Isteri Ezra yang satu ini sungguh luar biasa. Ezra yang mirip bintang film dilecehkan tidak berguna. Ezra kena batunya kali ini. Jumpa cewek konyol.


"Baiklah nona! Kita jumpa satu jam lagi. Oya...kau pakai baju warna apa? Soalnya bos aku belum pernah lihat wajahmu!"


"Ya seperti dulu! Busana muslim...bilangin bos lhu jangan ingkar janji lho! Latihan ucapkan talak dulu biar lancar. Aku akan datang. Byee assalamualaikum!" Adeeva menutup ponsel dengan wajah sumringah. Akhirnya apa yang dia tunggu datang juga. Tidak sia-sia dia berdoa pagi siang malam agar ditalak Hakim. Doa anak Sholeha didengar Allah.


Adeeva kembali ke meja Ezra dengan semangat baru. Ingin rasanya Adeeva menjabat tangan Ezra minta ucapan selamat atas kemurahan hati suaminya bersedia talak dia. Sebentar lagi dia akan kembali bebas hirup udara segar. Tidak perlu sembunyi-sembunyi pulang ke rumah orang tuanya lagi. Selamat datang merdeka.


"Senang amat! Dapat telepon dari pacar?" tegur Ezra pura-pura tak tahu siapa telepon Adeeva.


"Dari orang baik pak! Aku akan segera dapat voucher bebas hambatan."


"Voucher apa itu? Siapa yang ngasih?"


"Ada deh! Ayok kita lanjut! Sebentar lagi aku mau ijin keluar. Ada sedikit masalah benang kusut. Tapi syukurlah akan segera berakhir!"


"Oh...kita lanjut!"


Adeeva kembali tunjukkan sikap profesional seorang perancang IT. Ezra terkagum-kagum pada kepintaran gadis muda ini. Adeeva tak cocok disebut gadis kecil karena badannya yang tegap. Profil tubuh Adeeva menunjukkan gadis ini pecandu olahraga berat. Tubuhnya langsing tak ada lemak lebih.


Akhirnya Adeeva berhasil masukkan rumus ke otak bosnya. Semua rancangan Adeeva telah pindah ke otak Ezra. Tinggal Ezra aktifkan semua sistim sesuai keinginan bos itu. Semua kode pasword harus berdasarkan rumusan Ezra. Beliau yang berhak bikin kode pembukaan sistim.


"Kau boleh pergi! Kau harus siap bila kupanggil." Ezra mengijinkan Adeeva tinggalkan ruangnya.


"Siap pak!" Adeeva bersorak senang hari ini dia akan terbebas dari segalanya. Bebas dari tekanan manager dan segera bebas dari suami bangkotan.


Adeeva menyesal kenapa tidak mengenal wajah suaminya. Ini gara-gara kacamata Oma Uyut pembawa sengsara. Tapi syukurlah bencana jadi selir ke enam akan berakhir. Tak ada kisah tragis jadi selir dari kakek bangkotan.


Adeeva turun ke lantai enam di mana adanya ruang kerjanya. Judika dan Imron sudah susah hati Adeeva tidak balik-balik. Mereka takut tiba-tiba otak Adeeva mandek kena fobia publik. Adeeva kan kurang bergaul dengan karyawan lain selain dengan orang-orang di divisi mereka.


Adeeva masuk ke ruang kerja dengan wajah kinclong melegakan kedua petinggi divisi mereka. Desi sih yakin Adeeva mampu. Wanita ini tidak kuatir sedikitpun. Cuma Desi takut Adeeva sedang menanam bibit permusuhan dengan Celine.


Wanita kesayangan direktur mana mau dilempar ke bawah secara spontan. Adeeva telah coreng mukanya maka bala sedang menanti Adeeva.


"Baru dapat bonus dari bos?" olok Imron mencolek pipi Adeeva.


"Isshhh nih orang! Tangan buat korek upil pegang muka orang! Bisa infeksi tahu!" Adeeva lap wajahnya towelan Imron gunakan ujung baju.


Imron ngakak lihat kelucuan Adeeva. Dibilang anak kecil umur sudah cukup dewasa. Dibilang anak-anak tubuh segede gaban. Imron harus anggap Adeeva sebagai anak kecil atau wanita dewasa telat pertumbuhan otak.


"Itu bukan bekas korek upil tapi bekas dari kamar kecil." bisik Imron meramaikan suasana.


Adeeva kontan hajar Imron gunakan map yang terletak di meja. Imron sudah pernah rasakan tangan besi Adeeva memilih menghindar sebelum bonyok kena tendangan jurus kuda poni sabet maling.

__ADS_1


"Woi...kalian ini preman pasar atau karyawan sini?" tegur Judika risih lihat Adeeva dan Imron asyik bercanda.


"Kang Imron sih! Sibuk usil. Oya laporan pak! Bos telah terima rancangan kita."


"Bagus...sekarang kita fokus pada skema Imron. Aku rasa harus ada sedikit perbaikan. Rasanya ada yang kurang." Judika mengelus dagu yang mulai ditumbuhi jenggot sapu ijuk. Masih bagusan jenggot kambing.


"Kurang pedas atau kurang asin? Dan itu kita bahas nanti! Bapak cicipi sepuasnya dulu baru tahu kekurangan di mana. Aku ada sedikit urusan menyangkut hidup mati hidup aku! Aku harus ngacir bentar!" Adeeva memohon pada Judika ijin keluar jumpai kakek jompo suaminya.


"Sebentar berapa jam?"


"Ngak pake jam pak! Secepatnya balik..." Adeeva memohon belas kasihan Judika karena sangat berpengaruh pada masa depan Adeeva. Dia harus segera mengundurkan diri dari kerajaan Dilangit. Ngak usah berada di langit juga tak apa. Di bumi juga ok.


"Pergilah! Cepat kembali!"


"Thank you bos cantik..." Adeeva menyambar tasnya langsung ingin terbang jumpai suaminya. Adeeva ngeri-ngeri sedap pertama lihat wajah asli kakek jompo. Apa keriput kayak jeruk purut atau kayak pakaian belum kena strikaan.


"Dasar anak gila! Aku ganteng bukan cantik!"


"Intinya sama bos...besok kita praktek gimana bos bisa cantik. Bukan ganteng..ok?"


"Adeeva..." seru Judika dibalas tawa ngakak Adeeva.


Adeeva cepat-cepat turun ke lantai dasar untuk jumpa suaminya. Masih ada satu tugas Adeeva yakni cari baju muslim. Di rumah kontrakannya ada satu stel tapi siapa yang akan antar ke situ. Tetangganya si Nunik ratu tidur mana sempat antar ke kantornya. Waktu juga mepet.


Mau beli lagi sayang duit. Beli satu stel busana muslim akan rogoh koceknya sampai jebol.


Adeeva melirik jam di ponsel. Waktu tinggal setengah jam lagi. Apa sempat si Nunik ambil baju antar ke kantor.


Adeeva hendak bertaruh dengan waktu segera hubungi si Nunik anak Jawa Tengah yang kerja tidur di siang hari, malamnya jadi hansip ronda maling.


"Sudah dari tadi..lima menit lalu!"


"Itu namanya barusan. Bukan dari tadi. Dasar kalong.."


"Berisik...lhu telepon gue cuma tanya gue jam berapa bangun?"


"Begini sis! Lhu antar busana muslim gue ke kantor ya! Tuh suami gue sudah datang! Mau jumpa...lhu tolong antar baju ya! Yang warna hijau tosca. Sekalian cadarnya. Kacamata hitam lagi. Kunci rumah di tempat biasa."


"Gue masih ngantuk sis! Gue kirim ngojek ya!"


"Ok...cepat ya! Waktu gue cuma setengah jam lagi!"


"Gile..mana sempat? Pesan ojek setengah jam!"


"Lhu aja! Nggak pake acara mandi lagi deh! Ayok cepat! Please..."


"Siapa suruh aku jadi tetangga lhu? Dasar apes! Kirim alamat lhu!" Nunik mengalah demi tetangga cantik.


"Love you sayang! Makasih ya! Kutunggu lhu!"


"Bayar uang minyak!"


"Rebes sayang..." canda Adeeva sengaja balikkan huruf biar terdengar lucu.

__ADS_1


Adeeva bisa menarik nafas dengan lega karena telah ada yang membantunya. Kini dia tinggal menunggu di cafe yang telah di maksud. Adeeva berlarian menuju cafe yang dimaksud tanpa menggunakan kendaraan. Membawa motor lebih ribet lagi karena harus memutar jalan.


Gadis muda ini berlarian menyeberangi jalan lalu memutar ke kiri di mana cafe yang dimaksud berada. Itu cafe mahal yang jarang dikunjungi oleh orang berkantong pas pas model Adeeva. Segelas kopi saja bisa berharga berpuluh puluh ribu padahal di warteg hanya seharga goceng. Bukan kopinya yang mahal tetapi tempat duduknya yang mahal. Adeeva belum gila memilih tempat mahal sebagai tempat nongkrong.


Adeeva masuk ke dalam cafe disambut oleh alunan musik merdu memanjakan kuping. Adeeva mengedarkan mata ke sekeliling cafe untuk mencari orang yang dimaksud. Kelihatannya orang yang ngajak Adeeva bertemu belum datang karena di situ hanya ada tiga pasangan orang bule sedang minum teh atau kopi. Jelas bukan orang yang dimaksud Adeeva.


Adeeva tak punya pilihan lain selain menunggu sambil mencari tempat yang nyaman. Adeeva memilih tempat yang agak di sudut agar leluasa bicara dengan suaminya nanti. Dalam hati adik tak berdoa semoga suaminya orangnya enak diajak berdiskusi. Adeeva tidak akan menuntut apapun selain kata talak agar terbebas dari pernikahan yang sangat konyol ini.


Adeeva tak tahu dari tempat tersembunyi seseorang sedang merekam kehadiran Adeeva. Lelaki berkacamata itu merekam semua kegiatan Adeeva dari masuk hingga cari tempat di pojok cafe. Sungguh gadis misterius sulit ditebak.


Tak lama datang seorang gadis muda lain tenteng paper bag langsung mengarah ke Adeeva. Mereka bicara sebentar lalu gadis yang baru datang cari tempat tak jauh dari Adeeva. Tampak gadis itu memesan sesuatu pada pelayan sementara Adeeva mengambil paper bag menghilang ke belakang.


Apa yang akan dilakukan Adeeva untuk menyambut kehadiran lelaki yang disebut suaminya. Permainan akan dimulai menyusul drama yang telah ditulis oleh Adeeva dari awal. Adeeva yang susun skenario dan kini dia terjebak sendiri oleh cerita yang melenceng jauh dari dugaannya.


Si perekam terbelalak lihat Adeeva kembali telah berubah menjadi seorang wanita berbusana muslim tertutup aurat meninggalkan sepasang mata untuk melihat. Lainnya tertutup rapat. Siapa bisa mengenali Adeeva lagi bila sudah begini. Dua sosok berbeda dalam satu jiwa.


Adeeva duduk kembali ke tempat semula sambil menatap ke arah pintu. Tidak ada tanda-tanda orang yang dimaksud akan muncul. Adeeva mulai gelisah karena waktu yang diberi Judika akan segera berakhir.


Di tengah kegalauan ponsel Adeeva berbunyi. Tanpa ragu Adeeva aktifkan ponsel menerima panggilan masuk penentu masa depannya.


"Halo assalamualaikum... bapak di mana?" tanya Adeeva hilang kesabaran.


"Waalaikumsalam... maaf ya nona! Bos kami mendadak harus berangkat sekarang karena pesawat dipercepat."


"Dari Bandung ke Jakarta naik pesawat? Sakit jiwa...Jalan kaki juga sampai kok! Ya ampun pak! Kok nggak bilang dari tadi nggak jadi ngasih talak! Bikin orang melambung ke surga lalu ditendang ke neraka. Dasar kakek peyot..ajal sudah di depan hidung masih suka ngasih PHP...! Bilangin ya semoga dia sakit gigi selama tujuh hari tujuh malam! Eh.. emang masih punya gigi? Kan ompong semua!" Adeeva nyerocos saking geram dipermainkan kakek jompo.


"Maaf nona! Kami balik pakai pesawat pribadi! Suamimu kaya lho!"


"Bodo...emang gue pikirin! Bilangin gue takkan balik ke istananya. Suruh kakek itu cari calon bini ke tujuh. Gue mengundurkan diri! Assalamualaikum..." Adeeva menutup ponsel dengan geram. Capek-capek kejar waktu ternyata dapat harapan kosong.


Adeeva melambai pada Nunik agar bergabung ke tempatnya. Nunik teman seperjuangan segera melesat ke tempat Adeeva cari tahu kegagalan sobat sekaligus tetangganya.


"Gimana? Ditalak lewat hp?"


Adeeva ingin sekali menangis namun butiran bening yang berputar di kelopak mata tak kunjung jatuh. Hanya sisakan kilauan cairan bening.


"Kakek gila... gue dipermainkan!" desis Adeeva sakit hati. Perih nembus ke jantung.


"Sekarang gimana? Lhu balik kantor atau pulang bareng gue!"


"Masih jam kantor. Gue ijin satu jam doang! Gue cabut ya! Nih duit buat bayarin pesanan lhu!" Adeeva mengeluarkan lembaran warna merah dari tasnya.


"Lhu yakin mau balik ke kantor dengan pakaian ini? Mau daftar jadi karyawan baru?" Nunik ingatkan Adeeva pakaiannya belum diganti.


"Oh...lhu tunggu gue ya! Lhu bawa balik pakaian gue!" Adeeva meraih paper bag di bawah meja menuju ke toilet cafe.


Tak butuh waktu lama Adeeva telah kembali dengan tampilan biasanya. Paper bag diserahkan pada Nunik untuk dibawa pulang karena jam kerja Adeeva masih panjang. Adeeva tak punya waktu ngobrol panjang lebar dengan Nunik. Dia harus segera balik ke kantor.


Adeeva pamitan pada Nunik lalu berlari kecil seberang ke jalan di mana kantornya masih setia menanti Adeeva. Gadis muda ini bergegas naik ke lantai enam untuk melanjutkan kerjanya yang belum rampung. Ada saja kerja mereka menjadi penampung residu dari semua bagian. Tapi yang tampil selalu manager setiap divisi seolah itu hasil kreasi mereka.


Kadang Adeeva muak lihat cara para manager berbuat seperti sangat hebat padahal presentasi atas hasil karya orang lain. Salah satunya Celine yang jadi primadona perusahaan. Wanita itu dianggap paling mumpuni dalam segala bidang maka Adeeva ambil sikap telanjangi kebusukan Celine.


Adeeva keluar dengan wajah semangat pulang-pulang bawa muka muram durja. Desi yang paling duluan lihat awan mendung bergelayut di wajah Adeeva yang cantik.

__ADS_1


Adeeva duduk di mejanya telungkupkan kepala di atas meja meratapi nasib batal sandang status janda. Orang lain hindari status janda tapi Adeeva berusaha mengejar status itu demi kemerdekaan. Emang enak jadi selir dari laki berbini enam. Amit-amit.


__ADS_2