Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Ancaman


__ADS_3

Mama Ezra mendelik kurang senang pada wanita yang duduk di sampingnya. Saran dari wanita itu telah mematikan rezeki mereka. Ezra pasti akan makin ketat awasi pengeluaran uang para wanita di istananya. Wanita di sampingnya seperti racun siap membunuh hasrat Bu Humaira yang terlalu tinggi.


"Sekarang kita makan! Aku sudah sampaikan point pertemuan kali ini. Tak usah pikir main curang. Kartu kredit kalian sudah diblokir sejak siang tadi." Ezra mengatakan kalimat paling keji menurut para selir Ezra.


Kalau ada yang pandai nyanyi pasti akan menyanyikan lagu merana dipangkas jatah bulanan. Jamin dalam beberapa menit akan jadi hit paling dicari kamu hawa.


Yang lain sibuk memikirkan jatah uang, Adeeva sibuk pula dengan rasa benci pada Ezra. Laki itu sungguh ikan paus tak punya perasaan. Lama terendam dalam lautan bikin kepekaan Ezra memudar. Enak saja dia pilih kasih! Yang lain boleh tuntut cerai sedang dia tak ada sela. Jangankan meminta, bermimpi saja dilarang. Palang tanda stop telah diletakkan di depan hidung Adeeva. Gadis ini harus berhenti berpikir cerai.


Adeeva makan tanpa selera. Cara makan Adeeva juga kurang nyaman akibat tertutup niqab. Makan satu dua suap Adeeva pilih menyerah. Mending makan dengan kedua asistennya ketimbang makan enak tapi rasanya pahit.


"Maaf...saya merasa kurang enak badan! Saya mau permisi kembali ke rumah." Adeeva meletakkan sendok garpu akhiri makan malam paling pahit seumur hidup.


Ezra sukses jadi monster bagi Adeeva. Monster sadis menutupi semua jalan Adeeva untuk bergerak bebas. Selamat tinggal kemerdekaan.


"Perlu panggil dokter?" tanya si Dorce baik hati.


"Tidak perlu kak... istirahat sebentar juga pulih! Besok saya harus berangkat lagi karena Senin sudah masuk kerja. Sekalian pamitan!"


"Kau tak mengajukan talak?" tegur Farah ingin tahu ke mana Adeeva akan bawa pernikahan penuh rencana busuk ini.


"Maulah! Saya di sini juga tak bisa ngapain karena terikat kontrak kerja. Saya mohon agar bisa hidup normal di luar sana. Tempat aku bukan di sini."


"Kau mau rumah dan sejumlah uang? Pikirkan dek! Uang akan cepat habis sedang Dilangit abadi sepanjang masa." Dorce berusaha provokasi Adeeva agar bertahan. Pasti tak terlintas di benak para selir kalau Adeeva lah ratu sesungguhnya.


"Kalaupun cerai saya tak minta apapun. Saya datang tak bawa sesuatu maka saya keluar juga begitu. Cukup saling hormati di kemudian hari." kata Adeeva melirik ke arah Ezra seolah tidak terganggu oleh ocehan gadis ini. Ntah apa rencana laki yang ada penyakit jiwa itu. Kaya tapi tak punya akal sehat.


Seenak dengkul main sandiwara jebak Adeeva masuk perangkap. Kini Adeeva terikat kaki dan tangan. Kalau dulu cuma tangan diikat kini kaki tak berdosa juga kena jerat perangkap Ezra.


"Wow...tak sabar ingin hidup bebas! Dari suaramu kamu pasti masih muda. Berapa umurmu? Tujuh belas atau delapan belas?" tanya Renata yang dari tadi ingin jatuhkan Adeeva. Saling menjatuhkan sudah jadi kebiasaan group wanita piaraan satu raja.


"Aku? Aku sebaya kalian. Umurku tiga puluh dua. Aku selalu berpikiran positif tak punya niat terselubung maka hatiku lapang. Otomatis suaraku lepas." Adeeva mulai bersilat lidah bohongi orang-orang itu bahwa umurnya sudah lewat tiga puluh.


Ezra mau ketawa takut wibawa hilang tidak ditakuti para selir. Dia harus bersikap arogan agar para wanita pengerat ini ada rasa segan. Ezra hanya menundukkan wajah sembunyikan senyum.


"Omongan ngawur! Mau minta talak ya minta saja! Kami mendukung kamu kok! Dengan berkurangnya satu maka akan mengurangi polusi di rumah ini." ujar Renata santai anggap Adeeva gampang dibully. Kalau Renata sudah kenal Adeeva yang konyol pasti nyesal urusan dengan gadis ini.


"Terima kasih saran anda! Maaf ibu mertua! Aku permisi dulu! Maafkan aku bila bersikap berlebihan!" Adeeva bersikap sopan pada mama Ezra. Walau wanita itu menyebalkan Adeeva tetap harus tunjukkan sikap sebagai anak mantu.


"Tak apa...mama maklum kalau kamu kurang sehat! Cepat istirahat ya!" sahut Bu Humaira anggap Adeeva hanya setitik debu tak perlu ditakuti. Semua tak tahu debu itu lama kelamaan bisa berubah jadi sebongkah batu sekeras baja.


"Terima kasih...permisi... assalamualaikum..." Adeeva duluan tinggalkan rumah mewah yang masih dipenuhi perdebatan soal uang belanja.


Adeeva sedikitpun tidak tertarik ikut ribut soal uang. Dari awal niatnya pisah dari suami. Wanita berpendirian teguh takkan jilat ludah sendiri.


Ternyata suaminya tidak bangkotan malah ganteng dan muda. Kalau mereka menikah bukan dengan cara aneh bin ajaib Adeeva mungkin akan simpatik pada Ezra. Namun sayang terlanjur banyak trik.


Tuti yang menanti Adeeva di luar rumah inti cepat-cepat hampiri majikannya yang duluan tinggalkan ruang sidang. Bagaimana perubahan mimik Adeeva belum diketahui karena terbalut cadar.


Dari gaya Adeeva berjalan Tuti tahu majikannya sedang tak bad mood. Tuti mana berani buka mulut bertanya apa yang telah terjadi? Dia boleh akrab dengan majikan tapi dalam batas tertentu.

__ADS_1


Keduanya tiba di rumah bau cendana. Kiano berada di luar rumah sedang persiapkan acara bakar ikan sambut kepulangan majikan mereka.


Adeeva lewati Kiano tanpa menyapa. Hari Adeeva masih kesal pada Ezra yang berhasil memainkan peran ganda. Tipu Adeeva sampai terperosok dalam jebakan Ezra. Apa yang dicari Ezra dari dirinya sementara di keliling banyak selir lebih menarik. Tubuh sintal dengan wajah full glamor. Apa arti Adeeva yang tak tahu alat make up.


Tuti ikut Adeeva masih ke dalam rumah lantas berdiri mematung menanti sang majikan keluarkan bunyi.


Adeeva membuka niqab serta baju muslim dengan sekali tarik. Busana itu dibiarkan tergeletak di atas sofa tua. Sedangkan yang empunya pasang wajah suram hilang cahaya kemilau.


"Tolong ambil ponsel aku di kamar!" perintah Adeeva pada Tuti. Biasa Adeeva tak suka main perintah tapi malam ini moodnya memang hancur.


Angan merdeka pupus sudah. Ezra sengaja iring dia teken surat kawin apa ada jalan mundur lagi? Tadi jelas-jelas Ezra ijinkan semua selir minta talak kecuali dirinya. Bukankah ini diskriminasi?


Adeeva mengucek rambut sampai berantakan tak peduli bagaimana penampilan. Di sini apa perlu jaga image?


Tuti bawa ponsel kategori level sederhana. Bukan merek bernama yang kuras kantong. Bagi Adeeva cukup yang medium karena dia gunakan untuk keperluan komunikasi, bukan untuk pamer kekayaan.


Adeeva menerima ponselnya tanpa ucap terima kasih. Jujur itu bukan gaya Adeeva. Anak itu tahu hargai orang dalam kondisi apapun. Dapat dibayangkan betapa sedihnya Adeeva kena jebakan Batman Ezra.


"Mau minum nona?" tawar Tuti menyadarkan Adeeva bahwa telah sangat arogan.


"Boleh... terima kasih! Maafkan aku agak kasar tadi!"


Tuti tersenyum damai ngerti perasaan majikan sedang buruk.


"Nggak kok! Tunggu ya!" Tuti melangkah ke arah dapur.


"Nona..." Tuti menyodorkan segelas air minum. Air bening tanpa rasa.


Adeeva menerima lantas basahi kerongkongan dengan minuman paling menyehatkan itu. Ada rasa lega membalut dada. Segar halau rasa kesal.


"Nona marah?" tanya Tuti hati-hati takut Adeeva tersinggung.


"Iya...aku mau ganti pakaian dulu! Kalau majikan laki kalian datang suruh tunggu di luar. Jangan kasih masuk rumah!" Adeeva bangkit tak peduli Tuti terperangah dapat perintah aneh.


Bos keluarga tak boleh masuk rumah. Apa jadinya mereka berani melarang pemilik aset masuk ke rumah sendiri. Minta dipancung atau minta dicambuk? Tuti mana berani laksanakan perintah Adeeva. Bayangan tendangan bebas bermain di kelopak mata. Sekali tendang langsung keluar pagar rumah istana ini.


Adeeva telah kembali ke ruang tamu dengan pakaian olahraga. Kaos lengan panjang dengan celana training. Ntah apa rencana Adeeva hadapi suami tulen seratus persen. Bukan suami abal-abal hanya mengambil sumpah di depan penghulu. Yang ini lengkap surat nikah.


Adeeva menunggu dalam rumah dengan hati tidak tenang. Tuti ikut bingung tak tahu harus bagaimana menghibur majikan sedang berduka. Disuruh nyanyi suara mirip suara katak berteriak di musim hujan. Adeeva bukan terhibur malah bising kena suara jelek bin hancur.


Sebentar-sebentar Adeeva melirik ke arah pintu menanti orang yang bertanggung jawab bikin hidupnya hancur berantakan. Tuti yang tak tahu asal musabab hanya mematung tunggu kelanjutan kisah cerita Adeeva. Tamat malam ini atau berlanjut ke kisah baru dengan sang suami.


Tuti mendengar ada orang bicara dengan Kiano di teras depan. Tuti menjulurkan kepala melihat dengan siapa Kiano berbincang di malam begini. Tempat mereka tempat jin buang anak. Tak ada yang mau datang kalau malam menjelang.


"Tuan besar..." Tuti mendekap mulut. Sesuai dengan insting Adeeva laki itu pasti datang karena dia kirim pesan ingin jumpa.


Adeeva segera meluruskan badan berjalan gagah keluar rumah. Adeeva berpangku tangan menantang Ezra yang datang sendirian. Asisten somplak tidak tampak batang hidung. Lelaki lemah itu pasti takut hadapi macan betina yang kena injak ekor.


Ezra berdiri sejajar dengan Kiano di luar teras. Kiano menangkap gelagat tidak bagus karena kedua majikan mereka saling berhadapan bak singa lapar.

__ADS_1


"Aku sudah datang! Tidak undang masuk?" tanya Ezra kalem.


"Ini memang tanah kamu tapi untuk sementara rumah ini dibawah kekuasaan aku! Jangan mimpi mau masuk dalam! Kita selesaikan di luar." kata Adeeva ketus.


"Apa bukan di tempat tidur?" olok Ezra membuat kedua pembantu tertawa cekikan. Baru kali ini mereka lihat bos mereka bercanda. Biasa tegang kayak beton paku bumi.


"Aku tak sabar ingin hajar bapak! Penipu, pendusta, diktator, pembohong, tirani." ujar Adeeva mulai ancang gunakan kekerasan selesaikan masalah.


"Kau lupa sebut cabul, mesum, nakal tapi ganteng."


Adeeva menepuk jidat lupa menambah kata yang disebut Ezra. Adeeva setuju dengan kata-kata Ezra yang satu ini. Ezra memang ganteng.


"Betul...betul ..betul..." Adeeva meniru ciri khas film kartun anak-anak kecil yang menampilkan dua saudara kembar botak di Upin Ipin.


"Kita berdamai dulu malam ini! Besok kita bertarung sesuka hatimu! Hari ini aku lelah. Aku baru datang dari Papua."


"Emang gue pikirin? Pokoknya aku minta talak. Yang lain boleh kenapa aku tidak? Kau ini bapak tiri kejam. Ada anak kandung dan ada anak tiri."


Ezra terdiam sesaat kemudian mengangguk ikuti permintaan Adeeva. Berdasarkan sifat Adeeva yang cukup bebal tak mungkin dia akan menyerah sebelum keinginan tercapai. Ezra harus siap babak belur hadapi setiap jurus tendangan Adeeva yang terkenal keras. Ezra bukan tak tahu isteri mudanya jagoan di bidang seni bela diri.


"Di mana kita bertarung? Di sini atau dalam rumah?"


"Terserah...kita buat peraturan! Kalau bapak kalah harus ijinkan aku keluar dari rumah ini dengan status nona Adeeva. Bukan nyonya Ezra."


"Gimana kalau kamu kalah?" Ezra balik nantang.


"Aku tak mungkin kalah! Tak usah mimpi muluk bos! Tak kata kalah dalam kamus aku!"


"Jangan sombong nyonya kecil! Kita ke belakang rumah. Di sini akan jadi pusat perhatian yang lain! Kalian dua jadi saksi siapa yang menang. Kalau majikan kalian menang maka kalian ikut dipecat."


Adeeva bergerak maju hampiri Ezra. Kini keduanya saling berhadapan persis dua petarung profesional siap bertempur di ring.


Tuti dan Kiano terdiam tak bisa bersuara. Andai Adeeva menang mereka harus ikut keluar dari istana ini. Ke mana mereka harus cari kerja di masa serba sulit ini. Cara satu-satunya berdoa semoga Adeeva kalah bertarung dengan bos mereka. Mereka pasti aman. Bukan ingin berkhianat tapi demi misi menyelamatkan pekerjaan mereka.


Adeeva rasakan kalau kedua asistennya ketakutan dipecat dari pekerjaan. Adeeva tahu Ezra gunakan kedua asisten untuk pukul mentalnya. Jujur Adeeva sedikit gentar dengar ancaman Ezra. Hanya gara-gara dia dua pembantu hilang mata pencaharian. Adeeva agak ragu lanjutkan pertarungan.


Ezra sudah baca pikiran Adeeva pasti akan lindungi kedua pembantunya. Adeeva paling tak bisa lihat orang kecil kena masalah. Dia akan matian bela mereka yang lemah. Jika bertarung Ezra belum tentu bisa menang dari petarung sejati macam Adeeva. Dia sudah termasuk atlet bela diri.


"Well...kita mulai?" giliran Ezra di atas angin menekan Adeeva. Dewi Fortuna sedang berpihak padanya berkat dua pembantu setia Adeeva.


"Bapak curang gunakan kedua anggota keluarga aku jadi perisai. Kita bertarung secara jantan." Adeeva pasang jurus siap hajar Ezra.


Ezra tertawa geli lihat Adeeva terpancing ingin lindungi kedua pembantunya. Ezra belum sekejam itu pecat orang hanya karena isteri minta pisah.


"Gimana mau jantan? Kamu kan betina! Kita ke belakang! Bisa jadi kamu menang jadi kalian bisa tinggalkan rumah ini besok pagi! Dan kalau aku menang malam ini aku tidur di rumah kamu. Deal?"


Adeeva mengurungkan niat hajar Ezra. Kuda-kuda yang telah dia terapkan ditinggalkan. Adeeva berdiri tegak memandangi wajah kedua pembantunya. Kedua orang culun itu menatap Adeeva dengan raut wajah sedih. Sedih bakal dipecat.


Semangat Adeeva yang menggebu kontan melempen hingga ke titik nol. Anak gadis ini jadi serba salah. Mau lindungi diri sendiri atau lindungi orang kecil.

__ADS_1


__ADS_2