
Adeeva boleh merasa bersalah dalam agama tapi siapa peduli perasaan Adeeva sebagai isteri lihat suami mesum ria dengan wanita murahan. Bikin geger sejagat raya lagi. Adeeva memang belum ada rasa pada Ezra tapi Adeeva merasa diremehkan oleh Ezra. Mereka baru dekat laki itu sudah obral cinta palsu ke seantero wanita.
"Tadi siapa yang sakit? Adik selingkuhan kamu yang mana lagi?"
"Selingkuhan aku yang keenam. Mengapa? Mau marah?" Adeeva sengaja ngaku selingkuh biar laki ini ilfil. Semoga laki ini marah dan terbitlah surat sakti idaman Adeeva.
"Hmmm cuma enam. Tanggung.. kenapa tidak cari selusin saja? Kalau bosan kamu bisa minta mereka main basketball. Pas dua tim."
"Kelebihan dua pemain bro! Setiap tim basketball pemainnya cuma lima. Asli orang tak kenal dunia. Katanya orang tajir tapi kayak katak dalam tempurung."
"Sekarang aku kan miskin. Sekarang cerita siapa yang sakit?"
"Adik dari anak buah Akbar. Katanya kena kanker darah. Sudah dirujuk ke Semarang. Butuh biaya besar untuk tranplantasi tulang sumsum."
Ezra manggut-manggut sok tahu padahal tahu adik Parmin saja tidak. Adeeva tak tahu apa tujuan Ezra tanya anak yang malang itu. Mau korek cerita Adeeva selama di sana atau mau bantu.
"Kenapa? Mau jadi donatur?"
"Kok aku? Bosnya kan kamu. Terserah kamu mau bantu atau tidak. Keluarkan sedikit dana bantu orang miskin takkan bikin perusahaanmu bangkrut toh!"
Adeeva ragu untuk kemukakan pendapat. Maunya Adeeva memang membantu adiknya Parmin. Tetapi Adeeva tidak boleh sembarangan menggunakan uang perusahaan tanpa izin Ezra. Adeeva masih tahu batasan di mana dia harus melangkah. Tak baik terlalu angkuh sok diri hebat menjadi seorang CEO.
"Tapi itu bukan uang aku melainkan uang perusahaan. Setiap sang yang dikeluarkan dari perusahaan harus ada izin dari kamu."
"Kau yang berhak. Aku ini hanya pendamping kamu. Silahkan kau kucurkan dana untuk bantu orang. Aku dukung." Ezra merendahkan diri di depan Adeeva supaya gadis ini tahu dia memang menyerahkan perusahaan sepenuhnya pada Adeeva.
Adeeva menekan ludah tak sangka Ezra di ikan paus benaran takluk padanya. Adeeva masih ada rasa segan gunakan uang perusahaan sesuka hati apalagi dengar ada penurunan keuntungan perusahaan. Adeeva semakin ragu ambil dana walau untuk kemanusiaan.
"Bapak yakin?"
"Yakin...tapi berjanjilah tak bahas perpisahan untuk sementara. Bantu aku lalui hari berat ini dulu. Semoga nanti kau akan buka pintu maaf kepadaku."
"Kalau aku tak bisa? Apa kita akan begini sampai keriput?" tanya Adeeva agak pesimis bisa maafkan Ezra.
"Aku bersedia asal tetap bersamamu! Kita tetap bersama walau cuma ngobrol dan bertengkar."
"Kedengaran kok aneh ya? Gimana kalau aku minta kau dikebiri macam Kasim dalam cerita kerajaan?" tanya Adeeva mulai muncul ide tak masuk akal.
"Boleh asal kau lahirkan dulu penerus Dilangit. Setelah itu kau boleh kebiri aku! Cuma aku takut kau akan tak tega setelah rasakan nikmat pelukan aku!"
Adeeva terbelalak oleh kalimat pede Ezra. Laki ini seperti yakin sekali dia mampu taklukkan Adeeva di atas tempat tidur. Orang berotak maksiat.
"Ok...aku akan lahirkan anakmu tapi proses bayi tabung. Itu tetap anak Dilangit." Adeeva tak habis akal hadapi sifat nakal Ezra. Masih dalam masa hukuman sudah terpikir mau ajak Adeeva beranjak ria. Ezra pikir semua wanita rela dijamah oleh Ezra. Ezra tak tahu Adeeva masih jijik padanya.
"Itu bukan pemberian Tuhan tapi ciptaan manusia. Aku tak mau anak hasil mesin. Aku mau langsung buahi rahimmu dengan bobot aku!"
"Ngak usah mimpi! Najis disentuh tangan penuh kuman penyakit. Eh..bintang film kamu kok sudah anteng! Tidak koar-koar lagi."
"Aku mana tahu. Dia saja cari sensasi pingin tenar. Sekarang aku sudah jatuh rantai. Dia mana tertarik padaku lagi. Bisakah kau lupakan hal itu? Aku sudah hukum diri sendiri dari kesalahan terbesar dalam hidupku." Suara Ezra agak bergetar.
Kalau tidak ingat kecabulan Ezra mungkin Adeeva akan iba hati. Namun Adeeva harus keraskan hati tak boleh cepat menyerah pada laki ini. Laki ini belum rasakan pahitnya menjadi orang tertindas.
"Aku ngantuk mau tidur. Bangunkan aku bila sudah tiba!"
__ADS_1
"Kita nginap di mana? Hotel mana? Atau apartemen aku?"
Adeeva nyaris lupakan mereka akan tidur di mana. Saking asyik adu mulut sampai lupa harus habiskan malam ini di mana.
Adeeva sedang kaji akan nginap di mana? Tinggal di tempat kontrakan dulu mungkin susah dihuni orang lain. Dia sudah lama tinggalkan rumah kontrakan Bu Sulis. Apa mungkin masih ada tempat kosong?
Tinggal di hotel akan menarik perhatian orang. Sebisa mungkin Ezra hindari tempat umum karena kasus Sonya. Orang masih heboh soal pengakuan Sonya dan sekarang Ezra ketangkap kamera bersama gadis lain di hotel. Bukankah akan tambah reputasi buruk Ezra.
"Ke apartemen saja!"
"Siap Miss Adeeva!"
Adeeva kok merasa kaya siap Ezra seperti ejekan. Nadanya bukan nada pengabdi sejati melainkan nada orang sedang mengejek anak kecil.
Mau cari pasal nih orang pikir Adeeva. Nanti Adeeva akan beri hadiah pada Ezra sebagai sikap loyal Ezra kepadanya.
Perjalanan berlanjut sampai ke apartemen Ezra di kota B. Adeeva sudah pernah tinggal di sini bersama Ezra sewaktu masih jadi asisten. Keadaan telah berubah seratus delapan puluh derajat. Kini yang jadi asisten adalah Ezra. Laki itu yang harus patuh pada Adeeva.
Ezra tahu diri angkat tas Adeeva dan tas dia ke tingkat atas di mana apartemen Ezra berada.
Adeeva lama menatap tempat penuh suka duka bersama Ezra dulu. Betapa konyol tinggal bersama laki yang ternyata suaminya. Adeeva habisan dipermainkan Ezra. Ezra tahu Adeeva isterinya tapi Adeeva tak tahu Ezra itu Hakim suaminya.
Ezra membuka pintu biarkan Adeeva masih mengenang masa lalu. Cewek memang suka terbawa perasaan. Dikit-dikit ingat kenangan lama lalu baper.
Ezra sudah letakkan barang dalam rumah sedangkan Adeeva masih betah berkhayal masa lampau.
"Mau jadi satpam?" tegur Ezra menyadarkan Adeeva dari sisa kenangan.
"Aku ini nyonya bos! Suka-suka aku mau berdiri di mana!" ketus Adeeva nyelonong masuk perhatikan apa ada yang berubah dari apartemen ini. Masih sama seperti dulu. Tak ada yang berubah bahkan tetap bersih tanpa debu.
"Pak Ezra tolong beliin aku makanan! Aku lapar!" pinta Adeeva mulai lancarkan aksi nyusahin Ezra. Dari tadi Adeeva susun rencana bikin Ezra sengsara.
Laki ini mana ngerti cari makan di warung kecil. Mainnya kan restoran mahal. Adeeva mau lihat laki ini bisa apa tanpa kekuasaan.
"Belinya di mana?" tanya Ezra seperti orang bodoh. Laki ini benaran grogi disuruh cari makan di pinggir jalan. Sejak kapan raja tambang beli makanan di pinggir jalan. Ini penyiksaan namanya.
"Di warteg dekat sini. Adanya dua blok dari sini. Nasi gorengnya enak banget!" Adeeva peragakan nikmatnya nasi goreng yang sering dia makan bila berada di kota B. Hampir setiap hari jelajahi warung pinggir jalan cari makanan murah dan enak.
Ezra tampak gusar disuruh cari makan di pinggir jalan. Maunya pesan makanan online saja ataupun cari di restoran besar.
"Yang benar Miss Adeeva. Masa bos Dilangit makan makanan pinggir jalan. Apa kata dunia?"
"Dunia sudah bisu tak bisa berkata lagi. Yang ceo itu orangnya tapi perutnya tetap perut rakyat jelata." Adeeva tak peduli status bila urusan perut. Makan harus cocok di lidah baru ada rasa. Kalau gara status harus hilangkan kesukaan lebih baik tak usah jadi orang kaya.
"Aku tak tahu harus beli ke mana. Besok saja. Ini sudah malam. Ku juga sudah lelah nyetir." Ezra membangkang karena badannya memang sudah sakitan akibat jadi supir pribadi dari isteri judes.
"Baru segini sudah menyerah! Gimana mau lanjut jadi suami CEO cantik jelita sepanjang masa." omel Adeeva menghempas diri ke sofa yang bersih. Perut Adeeva memang lapar. Gadis ini yakin di rumah ini tak ada makanan bisa dijadikan pengganjal perut. Sudah cukup lama rumah kosong tanpa penghuni. Belanjaan dia dulu. Kalau ada pun sudah kurang bagus.
"Aku sudah tua. Mana bisa dibanding kalian yang masih muda. Jadi majikan punya hati dikit." omel Ezra merasa dizholimi majikan barunya yang super judes.
Adeeva tertawa senang mendengar pengakuan Ezra. akhirnya lelaki ini mengakui kalau dia sudah berumur. Sudah berumur akalnya kok kayak ABG. Pacar sana picir sini.
Ezra agak tersinggung diketawain oleh anak kecil. Raja tambang yang sangat terkenal akhirnya kena batu menjadi seorang kacung yang tidak ada nilainya.
__ADS_1
"Coba masak telur dadar saja! Kali saja ada telor di kulkas." Adeeva belum puas mengerjakan Ezra. Laki ini pasti tidak mengetahui bagaimana berkiprah di dalam dapur. Laki ini sudah terlalu lama hidup senang sehingga tidak tahu bagaimana kehidupan orang di bawah.
Ezra meringis yakin sejuta persen tidak akan mengerjakan perintah Adeeva dengan baik. Ini bukan perintah melainkan penyiksaan secara tak langsung. Wanita ini bukannya tidak tahu kalau Ezra tidak pandai mengerjakan pekerjaan dapur.
"Mengapa tidak bunuh saja aku?" tanya Ezra dengan putus asa.
Adeeva tertawa makin ngakak melihat betapa putus asanya lelaki sombong itu. Adeeva makin senang melihat penderitaan Ezra.
"Jangan mati sebelum tuntaskan hutangmu! Ayo ke dapur!" kata Adeeva memaksa laki ini kerjakan hal diluar keahliannya.
Ezra tidak jawab melainkan bawa tas mereka ke dalam kamar. Ladeni bos tirani yang sarat dengan unsur kesengajaan bikin otak Ezra panas. Mending jadi pembantu pembelot. Abaikan permintaan majikan.
Adeeva biarkan Ezra lolos kali ini. Laki itu pasti lelah setelah nyetir hampir tiga jam nonstop.
Rasa kemanusiaan Adeeva berbunyi dalam relung hati. Lepaskan Ezra hari ini karena waktu mereka masih panjang.
Adeeva berjalan ke arah kulkas cari sesuatu buat isi perut. Adeeva paling ngak tahan lapar kalau lagi waras. Kalau lagi tak waras baru lupa makan.
Di kulkas ada telor dan keju. Dan beberapa macam minuman kaleng. Tampak ada orang datang bersihkan rumah ini. Terbukti semua bersih dan rapi. Makanan yang dibeli Adeeva dulu sudah tersingkir mungkin karena sudah lama tersimpan jadi kadaluarsa.
Adeeva ambil satu botol cairan warna orange perhatikan tanggal kadaluarsa. Masih baru baru diletakkan di situ. Apa Ezra sudah perintah orang persiapkan minuman untuk mereka? Laki itu kan kukunya runcing sanggup menancap kekuasaan di mana-mana.
Adeeva tak punya pilihan lain selain masak untuk diri sendiri. Asistennya tak bisa diandalkan sama sekali. Bukannya melayani bos melainkan menyusahkan.
Adeeva masak telor dadar lalu parut keju sebagai pelengkap dadar dadakan ini. Wanginya jangan ditanya. Mengganggu hidung orang dalam ruangan.
Adeeva bikin dua sebab tak tega lihat Ezra kelaparan. Nanti meninggalkan pula di sini. Pasti muncul berita eks CEO Dilangit jatuh bangkrut meninggal karena kelaparan. Bisa geger sejagat raya.
Adeeva hidangkan telor dadar sederhana di atas meja. Kedua piring diletakkan berseberangan saling berhadapan. Bila Ezra ikutan makan semeja dengan Adeeva pasti akan saling tatapan.
Adeeva tak bisa hindari Ezra di saat ini. Cepat lambat mereka tetap akan bertemu satu meja selama mereka masih bekerja sama.
Adeeva mengetuk pintu kamar Ezra setelah siap menata meja makan. Berkali mengetuk Adeeva tak mendapat jawaban.
"Apa iya sudah tewas? Kok segampang ini tewas?" gumam Adeeva heran Ezra tak jawab panggilan dia.
Cewek ini membuka gerendel pintu perlahan lihat apa yang dikerjakan laki itu dalam kamar. Seharusnya kamar ini jadi milik Adeeva karena posisi Adeeva adalah bos. Masak anak buah tidur di kamar utama sedangkan dia harus tidur di kamar dia dulu. Fenomena apa itu?
Adeeva memutar gerendel lalu melongok ke dalam cari sosok tinggi besar itu. Sosok itu terkapar di atas tempat tidur dengan posisi berpakaian lengkap bahkan kaos kaki masih lengket di telapak kaki.
Adeeva mendesah kesal. Enak banget langsung tidur sementara bos masih di luar belum ngapain.
Adeeva masih mencolek laki yang tak tahu diri dahului bos istirahat. Dulu dia tak pernah berbuat seperti itu pada Ezra. Tanpa ijin bos dia tak lakukan sesuatu di luar perintah.
"Woi paus bangun!" bentak Adeeva keren kan suara biar wibawa.
Ezra membuka mata menatap Adeeva sekilas lalu tutup mata lagi tak peduli kekesalan Adeeva.
Adeeva besarkan mata jumpa asisten pembangkang. Tak ada takutnya pada bos. Sungguh berbeda dengan dirinya yang patuh.
Adeeva menarik tangan Ezra tinggalkan tempat tidur. Tenaga Adeeva cukup kuat memaksa Ezra bangkit duduk.
Ezra menghela nafas duduk di tepi kasur menanti apa yang akan dikatakan Adeeva. Ezra tak punya tenaga berantem dengan cewek ini karena kepalanya sakit bukan main. Seluruh badan sakit seperti baru digilas truk tronton.
__ADS_1
Adeeva melihat keanehan Ezra kontan menurunkan rasa egois. Kondisi Ezra tampak kurang bagus. Adeeva auto sentuh kening laki itu cari tahu lakinya itu kenapa.
"Ya Allah...badanmu panas! Sakit ya?" seru Adeeva kaget kening Ezra bak bara api.