Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Dukun Sakti


__ADS_3

Celine pagi ini pasang wajah ramah tidak seperti biasa ajak perang. Perasaan Adeeva sedikit membaik dapat hadiah senyum Celine. Wanita itu menggandeng Adeeva seolah mereka kawan akrab. Adeeva mau saja diajak damai. Toh tidak ruginya menambah satu teman di kantor ketimbang tambah musuh.


"Kok kusut?" tegur Celine sok akrab.


"Setrika rusak..."


"Baju kali di setrika. Eh..aku mau tanya kamu dapat dukun pelet mana?"


Adeeva berpikir sejenak putar otak coba analisa omongan Celine. Dukun pelet apa? Sejak kapan Adeeva main dukun. Emang ada dukun pelet sakti mandraguna?


"Dukun apa Bu? Nggak ada dukun...aku tak ngerti soal dukun! Itu musyrik..."


"Jangan dusta! Semua tahu kamu pakai dukun pelet biar bos suka padamu! Beri bocoran dong!"


Adeeva ingin sekali jitak kepala Celine agar sadar kalau dukun itu hanya bohongan. Mana ada dukun sakti di jaman ini.


"Bu Celine...aku benaran nggak ngerti soal itu! Siapa lagi mau pelet orang songong gitu! Kalau ibu suka pada Pak Ezra kasih perhatian. Bawa makan siang, bawa Snack dan kopi. Jamin pak Ezra jatuh cinta. Nggak pake dukun."


"Aku tak percaya. Seisi kantor sudah tahu kamu gunakan jasa dukun. Kasih tahu gimana caranya! Atau kau ajak aku ketemu dukun sakti itu!"


"Heh? Pakai jasa dukun? Nggak salah dengar? Aku berdoa pagi siang malam bos cepat angkat kaki dari kantor. Aku lebih ikhlas dikacangi oleh Bu Selin!"


Mata Celine berbinar akhirnya Adeeva bisa juga memanggilnya dengan benar. Bukan ce Li Ne yang mirip kata celana.


"Nah hari ini lidahmu pas! Nggak keseleo lagi kan?"


"Aku mau masuk kerja Bu.. nanti dihukum bos lagi!"


"Dihukum? Disuruh apa? Pijat dadanya yang bidang atau itu... itu..."


"Itu apa? Otak dibawa laundry Bu! Biar bersih!" Adeeva malas ladeni orang berantena pendek. Jaman gini percaya dukun. Adeeva maju meninggalkan Celine yang otaknya kena guncangan hingga kurang waras.


"Eva...berhenti! Kalau kau tak mau kasih tahu di mana dukun peletnya maka aku akan buat kamu makin sengsara." ancam Celine membuat langkah Adeeva berhenti.


Adeeva balik badan kembali ke tempat Celine angkat ancaman. Adeeva paling tak suka diancam. Siapa menjual Adeeva tak segan beli.


"Sengsara? Emang Bu Ce Li Ne mau gunakan pasukan berani mati ancam aku? Ibu tahu laut mati di Yordania? Itu aku yang bunuh! Coba bayangkan betapa hebat aku!" gurau Adeeva malas gunakan kekerasan antara sesama pegawai kantor.


"Dasar edan... ayoklah Eva! Jangan pelit bagi info!"


Adeeva hilang akal hadapi orang kurang waras macam Celine. Sudah dibilang tak main dukun masih juga tak percaya.


"Baiklah! Aku kasih tahu rahasianya! Kata Mbah Puyeng bin Pusing pelet itu akan sukses bila sesuatu berhembus ke target melalui diri kita. Contoh asap rokok, kedua buang angin." Adeeva mulai aksi konyol untuk meladeni kebodohan Celine.


"Asap rokok? Buang angin? Maksud lhu kentut?"


Adeeva mengangguk kencang agar Celine yakin.


"Asap rokok nggak mungkin. Pak Ezra pasti ilfil cewek yang isap rokok. Paling teknik kedua yaitu buang angin. Apa aku harus buang angin di depan pak Ezra?"

__ADS_1


"Betul...kalau pak Ezra hirup bau angin dari perutmu dia langsung kesengsem. Bagusnya kalau yang ada sedikit wewangian seperti bau buah jengkol atau buah petai. Itu makin manjur!"


Celine menimbang saran Adeeva dengan hati bimbang. Apa iya untuk pelet orang harus gunakan cara tak sopan. Harus ada bau pula. Bisa pingsan pak Ezra tercium bau las karbit.


"Kau tak bohong?"


"Lha Bu Celine maksa aku jawab cara pelet pak Ezra ya aku terangkan ajaran dukun aku! Aku sih makan ubi rebus dan buah jengkol agar tembakan angin lebih kencang. Berhasil toh! Tapi ada jampi-jampi lho!" kata Adeeva serius membuat Celine mulai percaya.


"Baik...kasih jampi-jampi nya! Kalau aku berhasil pelet pak Ezra aku akan naikkan gajimu!" janji Celine termakan kekonyolan Adeeva. Salah sendiri memaksa sesuatu yang tak ada. Adeeva mau saja layani orang kurang iman sekalian kasih pelajaran.


"Baik Bu. Nanti kirim pakai wa biar jelas. Takutnya nanti ibu lupa kalau cuma dibilang lisan. Aku kerja dulu ya! Semoga berhasil." Adeeva mengepal jari ke atas lalu tarik ke bawah beri spirit pada Celine.


Satu lagi mangsa kena jeratan Adeeva. Celine sendiri cari susah. Adeeva sudah jujur dipaksa berbohong. Dengan senang hati Adeeva iring Celine ke bibir jurang. Mau terjun bebas atau pakai gaya tupai loncat dari dahan ke dahan terserah pilihan Celine.


Adeeva tertawa terpingkal-pingkal setelah masuk ruang Ezra. Bosnya itu belum nongol membuat Adeeva lebih rilex tak perlu takut kena sinar laser dari mata Ezra.


Adeeva aktifkan komputernya untuk melanjutkan kerja yang belum kelar. Adeeva sengaja masukkan keamanan berlapis di komputernya agar tak ada yang bisa menembus kata sandi di komputernya. Adeeva tak suka kalau ada orang intip ranah pribadinya.


Satu jam kemudian Ezra datang bawa gaya selangit. Kalau Ezra tidak diktator mungkin Adeeva akan suka padanya. Dari tampang saja Adeeva sudah suka. Sayang bosnya ada sintingnya. Suka main paksa. Satu sikap yang paling tak disukai gadis ini.


"Sudah sarapan?" tanya Ezra ingat dari rumah gadis ini tidak sarapan.


"Sudah pak! Emang bapak ada bawa sarapan lezat?" tanya Adeeva asalan tahu bosnya belum punya hati malaikat bersedia beliin anak buah sarapan pagi.


Ezra meletakkan satu kotak di atas meja kerja Adeeva. Dari gambar kotak itu jelas isinya berupa roti-roti mahal. Adeeva hafal roti produk toko mahal. Sebulan belum tentu sekali Adeeva beli cemilan mahal itu. Beli satu bisa dijadikan uang makan satu kali. Mending beli nasi Padang lebih menjamin perut kenyang.


"Makanlah biar ada semangat kerja!" ujar Ezra seraya kembali ke tempat dia bekerja. Gayanya cool tidak perlihatkan gaya tirani lagi.


Adeeva usaha lebih fokus kerja agar cepat kelar. Begitu kelar Ezra pasti akan balik ke kantor pusat. Dengan demikian derita Adeeva akan berakhir. Dia bisa hidup bebas lagi seperti biasa.


Adeeva berdoa setiap detik agar Ezra terbuka hatinya segera angkat kaki dari bumi Parahyangan. Hidup Adeeva berubah kacau balau sejak hadirnya bos diktator itu.


Adeeva mulai merasa matanya berat begitu jam dinding menunjukkan pukul sepuluh. Kalau berada di divisi dulu dia akan curi tidur sekejap. Di sini dia mana berani berbuat seenak dengkul. Salah-salah bisa kena hukuman lebih tak masuk akal.


Adeeva lampiaskan rasa ngantuk dengan mengunyah roti dari Ezra. Gadis ini tidak malu-malu santap roti dari Ezra. Tak mungkin kan Ezra meracuni gadis tak punya apa-apa macam dia.


Ezra hanya tersenyum tipis melihat Adeeva mengunyah tak henti. Ntah berapa potong roti berpindah ke perut tanpa lemak lebih. Orang kuat olah raga macam Adeeva lemak segan numpang di situ.


Hati Ezra makin terpaut setelah tahu Adeeva adalah bayi yang dijodohkan dengannya begitu nongol di dunia ini. Ezra mencari gadis puluhan tahun namun tak jumpa. Mamanya menutup rapat akses jumpa gadis itu. Kenapa dia buka kartu ijinkan gadis ini masuk dalam daftar isterinya? Ezra harus cari tahu mengapa Mamanya menyodorkan Adeeva padahal mamanya tahu dia mencari anak bayi itu. Selalu gunakan alasan tak tahu ke mana keluarga Adeeva pindah.


Ezra akan gunakan kesempatan bagus ini untuk mengikat Adeeva lebih dalam. Jangan bermimpi bebas dari Ezra. Adeeva mungkin belum tahu bagaimana kisah mereka di masa lampau. Mereka terikat satu sama lain berdasarkan sumpah darah dia keluarga. Suatu saat Ezra akan buka semua cerita pada Adeeva. Ezra mau bermain dulu dengan gadis ini. Mau tahu perasaan asli gadis ini.


"Ade..." Ezra memecah keheningan ruangan.


Adeeva yang dipanggil segera menoleh menanggapi panggilan Ezra.


"Ya pak?"


"Sudah jam makan... tidak pergi makan siang?"

__ADS_1


"Mungkin tidak pak! Ini masih banyak stok roti dari bapak. Dimakan sampai besok juga tak habis. Oya lupa... makasih ya rotinya! Bapak silahkan kalau mau makan!"


Ezra menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi berpangku tangan menaksir apa yang harus dia lakukan pada anak ini. Tidak peka sebagai seorang asisten pribadi. Seorang Aspri wajib mengurus makan siang bos sampai sedetailnya. Yang satu ini malah enaknya makan roti tak peduli bos lapar atau tidak.


Salah Ezra sendiri. Gadis yang hidup mengandalkan tinju diajak jadi pengurus hidup majikan. Hidupnya sendiri berantakan gimana mau urus orang lain.


"Aku lapar...dan kau cari makan siang untukku!" kata Ezra menahan perasaan. Enaknya diapain gadis berkulit badak ini.


"Makan siang? Tak jauh dari sini ada cafe. Bapak bisa ajak Celine atau salah satu cewek di kantor. Bapak nggak ajak aku! Rusak pasaran bapak punya Aspri model aku." kata Adeeva menyakinkan Ezra dia memalukan di tampilkan di umum.


Kesabaran Ezra sedang diuji oleh Tuhan. Punya isteri somplak plus Aspri nggak tahu di untung sungguh menyiksa raja tambang terkenal sejagat tanah air. Ratusan wanita memuja Ezra, sampai di tangan Adeeva Ezra sama sekali tak berharga.


"Belikan aku makan siang sekarang juga! Kuberi kau waktu lima menit. Laksanakan segera." bentak Ezra membuyarkan rasa ngantuk Adeeva.


Mata gadis ini kontan terbelalak besar kena suara gelagar Ezra. Ezra tidak main-main kesal pada Adeeva yang tak punya naluri kewanitaan.


"Lima menit?" Adeeva bingung bagaimana lima menit bisa hidangkan makan siang bos. Pesan makanan online saja butuh waktu satu jam. Dari atas turun ke lantai bawah butuh waktu lima menit. Makin menggila kekejaman bos diktator ini.


"Sudah jalan satu menit. Kalau kau masih di situ waktumu akan habis." suara Ezra menyadarkan Adeeva bertindak cepat sebelum habis masa ditentukan oleh Ezra.


Adeeva melesat keluar kantor tanpa tujuan pasti. Lima menit bisa sampai di mana dia berlari. Cafe paling dekat butuh waktu lima menit. Belum lagi menanti orderan. Berapa lama waktu akan bergulir.


Adeeva berlari keluar hendak pinjam motor satpam atau siapa saja. Sampai di pos jaga Adeeva melihat ada satu bungkus nasi tergeletak di meja pos jaga. Dasar nasib mujur pikir Adeeva. Tanpa pikir panjang Adeeva culik nasi itu dan letakkan uang warna biru sebagai ganti nasinya.


Seusai dapat apa yang diinginkan Adeeva melesat kembali ke atas untuk menuntaskan tugas selingan bos. Peduli amat Ezra mau makan atau tidak. Yang penting ada makan siang. Bosnya kan tidak bilang mau makan apa.


Sudah di belikan harusnya bersyukur. Apesnya Adeeva harus kehilangan satu lembar uang warna biru lagi. Semalam baru hilang satu lembar kini hilang lagi. Lama-lama Adeeva jatuh pailit duit melayang lembar demi lembar.


Adeeva tepat waktu bawa makan siang Ezra. Ezra melongo tak tahu bagaimana cara gadis ini dapatkan nasi secepat ini. Punya ilmu terbang anak ini?


"Ini pak! Silahkan nikmati!" Adeeva meletakkan bungkusan nasi di hadapan Ezra. Hanya sebungkus nasi tanpa sendok maupun air minum.


Ezra menatap nasi di hadapannya dengan gundah. Dari cara bungkus saja nasi itu sudah hilang daya tarik. Dibungkus serampangan diikat dengan karet warna merah. Bos kaya sekelas Ezra apa mungkin makan makanan seperti itu?


"Apa ini?" Ezra menunjuk makanan di meja dengan gusar.


"Nasi...bapak buka saja! Masih hangat!" Adeeva berdiri di samping Ezra bangga pada diri sendiri sukses jalankan misi dari Ezra. Adeeva tak tahu Ezra sedang berencana pancung otak Adeeva lalu dijemur kering jadi Snack.


"Apa ini bisa dimakan?"


"Bisa dong! Mari kubuka!" Adeeva bungkukkan badan melepaskan ikatan karet dari kertas minyak pembungkus nasi.


Bungkusan terbuka tercium bau jengkol menyengat hidung. Isinya nasi putih dengan kawan nasi sayur bening serta lado jengkol. Adeeva tidak sangka kawan nasinya ekstrem jauh dari selera bos. Mau ketawa takut terjerat hukuman lebih parah. Paling ketawa dalam batin.


"Kau gila ya beli makanan ini? Seumur hidup belum pernah sekalipun aku makan makanan aneh ini. Bawa sejauh mungkin dari sini!" Ezra menahan amarah lihat tingkah Adeeva sudah jauh dari perintah.


"Bapak tidak bilang mau makan apa. Bukan salahku toh!" Adeeva bela diri tak mau terima disalahkan. Siapa suruh ngasih perintah di luar jangkauan akal sehat. Beli nasi cuma dikasih waktu lima menit. Buang air kecil saja butuh waktu lebih dari itu. Itupun masih berada dalam lingkungan kantor.


Ezra menepuk dada agar jangan terkena serangan jantung. Ezra akan pendek umur bila lebih lama bersama gadis songong ini. Herannya bagaimana Adeeva bisa hidup sampai sekarang. Tingkahnya sungguh menyebalkan. Pelawan, keras susah diatur.

__ADS_1


"Kita makan di luar! Kau nyetir." Ezra bangkit tinggalkan Adeeva.


Adeeva bersorak gembira sukses kasih pelajaran pada bos tirani. Adeeva mau dilawan. Adeeva belum kalah versus bos diktator. Ezra melempar lembing tajam Adeeva sudah siapkan perisai untuk menahan serangan. Kita tunggu siapa jadi pemenang.


__ADS_2