
Ezra gugup sekali tatkala harus kumpul dengan keluarga Abah laksanakan sholat pertama di pagi ini. Ezra sendiri lupa kapan terakhir dia menghadap pada Allah. Rasanya bertahun-tahun lalu. Ezra tak pernah berpikir memeluk tiang agama sebagai pedoman hidup. Mata hatinya tertutup untuk menjadi manusia lebih berguna.
Adeeva tersenyum melihat Ezra sholat juga di rumah Abah. Mungkin dia harus tinggal lebih lama di rumah Abah agar Ezra bisa terdidik soal agama.
Adeeva menyalami Ezra dengan takzim setelah salat berjamaah. Ini adalah hal lumrah bagi seorang istri menyalami suami setelah usai salat. Ezra merasa ini adalah hal baru di dalam hidupnya. Sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebagai seorang umat muslim. Mungkin hari inilah dimulai kebangkitan Ezra beralih menjadi seorang muslim sejati.
Desi yang ikut sholat di barisan belakang agak cemburu pada Adeeva punya pelindung kuat. Kapan giliran dia mereguk kenikmatan sebagai seorang isteri. Semoga pindah ke kota akan buka pintu jodoh Desi.
Seusai sarapan Adeeva merengek minta ikut ke kantor dan berjanji tidak akan melakukan apapun selain duduk manis di kantornya. Ezra tentu sangat keberatan Adeeva langsung masuk kantor sementara wanita muda itu baru saja pulih.
Bukan Adeeva kalau tak mampu memaksa Ezra mengangguk. Wanita muda ini punya sejuta akal bikin Ezra setuju bawa dia ke kantor.
Setelah berdebat panjang akhirnya Ezra mengalah dengan janji Adeeva tak boleh keliaran di kantor. Hanya boleh duduk manis dalam ruangan. Adeeva tentu saja iyakan asal bisa ke kantor.
Ezra nyetir sendiri bawa Adeeva dan Desi ke kantor. Adeeva begitu ceria bisa kembali aktifitas seperti biasa. Ternyata jadi ibu hamil bukan gampang. Banyak sekali aturan. Banyak pantangan. Adeeva tak ingin hamil untuk kedua kali karena telah mengacaukan jadwal hidupnya.
Desi makin iri pada Adeeva. Punya segalanya. Siapa sangka anak nakal di divisi mereka dapat berkah demikian besar. Apa karena Adeeva selalu baik hati pada semua orang sehingga Allah memberinya karunia sangat besar. Semoga ke depan giliran dia bahagia.
Ezra, Adeeva dan Desi berjalan beriringan gunakan lift pribadi Ezra naik ke ruang kerja Adeeva. Semua mata memandang salut pada sepak terjang bos baru mereka. Adil dan bijak tanpa KKN. Kini semua bekerja dengan nyaman tanpa tekanan dari keluarga sok berkuasa pak Jul.
"Wah Eva...kau sangat dihormati!" kata Desi tak bisa sembunyikan rasa kagum. Desi yakin itu karena Adeeva berada di posisi nyonya bos. Desi tak tahu Adeeva dihormati karena aksinya berantas persekongkolan jahat dalam perusahaan.
"Iya dong! Aku kan bos tertinggi di sini. Teteh langsung ke ruang kerja teteh ya! Aku sudah atur tetap duduk di posisi mana. Ruben akan beri pengarahan pada teteh."
"Iya Eva..." sahut Desi tetap merasa akrab walaupun Adeeva adalah bosnya sekarang ini.
Ezra yang dari tadi diam merasa kurang suka cara Desi interaksi dengan Adeeva. Adeeva boleh tak peduli segala omong kosong cara panggilan namun Ezra sangat peduli. Di rumah dan kantor harus ada perbedaan. Sekarang mereka berada di kantor jadi Desi harus memanggil adeeva dengan sebutan Bu Adeeva.
Ezra akan meminta Ruben kasih tahu Desi untuk hormati posisi Adeeva sebagai pemimpin di perusahaan. Namun di depan Adeeva laki ini tidak berkata apapun.
Desi kagum pada ruang kerja Adeeva. Satu ruang luks dirancang mewah. Desi bayangkan kalau dia gantiin Adeeva sebagai isteri bos. Apa yang akan terjadi? Apakah dia akan tetap merendah seperti Adeeva? Satu angan kosong tak mungkin terjadi kecuali Adeeva tak ada di bumi ini.
Adeeva duduk di kursi singgasana perusahaan Dilangit dengan gaya penuh wibawa. Ezra duduk di meja tempat Adeeva kerja dulu.
Kalau sudah dalam suasana begini jelas sekali Adeeva menunjukkan kalau dialah pemimpin asli. Pamornya kontan naik melejit ke atas. Tak ada lagi Adeeva si anak bawang. Yang ada seorang pemimpin berwajah cantik.
Desi menanti kehadiran Ruben untuk atur kerjanya. Kalau boleh memilih Desi ini juga berada di sekitar Ezra. Namun Desi harus mematikan hasrat liar mencoba jadi pemburu laki orang. Apalagi laki itu adalah suami sahabat baiknya.
Ruben datang senang melihat Adeeva telah kembali bertugas. Ruben merasa Adeeva jauh lebih andal dari Ezra memimpin perusahaan walaupun kalah di bisnis. Sayap Adeeva belum melebar terbang jauh dari wilayah aman. Adeeva belum siap adu mental di bidang bisnis. Nyali Adeeva belum cukup hadapi saingan bisnis. Ezra lah yang mesti tampil ke depan bicara di forum pengusaha.
"Halo Miss Adeeva... sudah sehat toh? Siap bertempur lagi?" sapa Ruben hangat.
Adeeva acung jempol tanda siap. Ruben tertawa dapat sambutan ramah dari Adeeva. Ruben tahu tatapan mata membunuh dari Ezra sedang bidik dia. Sudah ada Adeeva Ruben tidak terlalu takut pada Ezra. Sudah ada backing kuat siap bela dia.
"Oya Bendi...kamu bawa teh Desi ke ruang kerjanya! Jangan lupa cerita secara garis besar tugasnya. Teh Desi bertanggung jawab kawal semua sistim keamanan kantor. Ikuti Ruben saja!" kata Adeeva pada Ruben dan Desi sekaligus.
"Iya... Miss Adeeva! Makan siang nanti online atau pulang ke rumah?"
Adeeva tak berani jawab. Keputusan ini tergantung pada Ezra. Di sini Adeeva masih patuh pada Ezra sebagai suami. Adeeva juga tak berani sesuka hati ambil keputusan.
__ADS_1
"Terserah pak Ezra saja!"
"Aku akan urus makan siang Adeeva. Kau urus saja tugasmu. Gimana dengan lamaran pegawai?"
"Banyak sekali yang lamar. Bagian HRD masih seleksi siapa yang akan dipanggil. Kita butuh sekitar dua puluh sementara yang lamar hampir dua ratusan. Kita pilih yang terbaik saja!" lapor Ruben berubah serius.
"Bagus...pilih satu paling kompeten untuk gantiin kamu!"
"Aku dipecat ya pak?" gurau Ruben.
"Kau pindah ke Sulawesi Utara karena terlalu kepo urus isteri orang." kata Ezra datar membuat Ruben dan Adeeva tersenyum. Ruben bukannya takut malah lucu. Ternyata Ezra punya juga rasa cemburu. Kirain sudah kebal tak mempan kena gelitik soal cinta.
"Siap deh! Miss Adeeva ikut pindah Pak?"
Ezra melempar pulpen ke arah Ruben yang ngakak. Ruben berkelit langsung kabur sebelum Ezra makin anarkis. Disentil sedikit saja sudah demikian marah. Gimana kalau Ruben betulan jatuh cinta pada Adeeva. Bisa perang saudara.
Adeeva beri kode pada Desi untuk ikut Ruben. Desi yang bingung hanya bisa ngekor tak ngerti hubungan Ezra dan Ruben. Desi tentu tak tahu kalau Ruben itu adik sepupu Ezra. Satu bapak dengan Krisna si tajir yang lain.
Ruangan jadi sepi. Adeeva pura-pura tak lihat rasa kesal Ezra. Pura-pura tak paham adalah jalan terbaik hindari hukuman lelaki ini.
Adeeva buka komputer pantau susunan para pegawai. Adeeva periksa satu persatu lihat apa Ruben telah pas laksanakan semua arahan dia.
Sejauh ini Adeeva puas cara kerja Ruben. Laki itu pantas dapat kedudukan lebih baik setelah lalui berbagai gelombang perjuangan bersama Ezra.
"Hubby...ada gerakan dari gudang?" tanya Adeeva memecahkan konsentrasi Ezra.
"Ika bisa apa lagi kau sudah kuasai gudang. Dia tantang aku maka aku sambut. Dia sedang cari jalan kuasai gudang lagi. Tapi anak buah kamu terlalu setia tak bisa diterobos oleh Ika. Kita tunggu saja gerakan dia selanjutnya. Aku mau bahas soal Ruben. Aku mau angkat dia ganti posisi Om Jul. Apa pendapatmu?"
"Pelan saja! Kamu yang pilih biar tak ada kecurigaan kelak. Kalau bisa lelaki saja. Aku tak mau terjadi hal di luar harapan."
"Tak yakin pada diri sendiri?" sindir Adeeva.
"Bukan...untuk hindari segala kemungkinan! Aku tak mau kamu racuni hidup kamu dengan kecurigaan. Aku mau hidup tenang bersama kamu dan anak-anak kita." Ezra tinggalkan kursi hampiri Adeeva. Ezra berdiri di belakang kursi Adeeva seraya mengecup ubun kepala Adeeva. Ezra mau Adeeva tahu kalau dia sudah tobat. Putar sana sini persinggahan terakhir tetap pada anak isteri.
Adeeva tertegun harap omongan Ezra bukan sekedar pemanis bibir. Adeeva juga sangat ingin hidup damai bersama anaknya. Masih tersisa rasa ragu pada kesetiaan Ezra. Ntah berapa puluh wanita lalu lalang dalam hidup laki ini. Dihitung pakai jari tangan pasti sudah melampaui jari yang ada.
"Semoga begitu."
"Terima kasih sudah beri aku kesempatan untuk berubah. Aku merasa semakin tua begitu dengar kamu hamil. Aku merasa seperti seorang tua renta menunggu akhir hidup."
"Jangan dong! Kan belum jumpa dengan anak-anak hubby. Laki atau perempuan saja kita belum tahu bagaimana hubby merasa putus asa."
"Bukan putus asa tapi merasa tua tak ingin berhuru hara lagi."
"Baguslah! Gimana dengan Pak Jul?"
Ezra tak jawab malah menarik Adeeva bangkit dari kursi. Laki ini pindah duduk di sana lalu memaksa Adeeva duduk di atas pahanya. Coba kalau dulu Ezra lakukan hal ini. Ntah kaki atau tangan yang akan patah. Berhubung kuda Poni Ezra sudah jinak maka anteng dalam rengkuhan suami.
"Aku merindukan saat begini dari dulu. Kau duduk manis dalam pangkuan aku!" Ezra menempel pipinya ke pipi Adeeva. Ezra sudah tidak takut kena bogem mentah Adeeva. Ezra yakin seiring waktu Adeeva akan berubah menjadi isteri soleha patuh pada suami.
__ADS_1
Adeeva menutup mata mengendus bau maskulin Ezra. Pikiran Adeeva terasa tenang dekat dengan Ezra.
Mungkin ini pengaruh janin di perut Adeeva. Anak-anak senang cium bau harum tubuh papi mereka.
Ezra makin berani melihat Adeeva tidak melawan. Tangan Ezra bertindak ke pinggang Adeeva yang dulunya ramping. Tak lama lagi bentuk itu akan bundar akibat ulah dua bocil dalam perut Adeeva.
"Kau akan patuh sampai lahiran kan?"
"Patuh gimana? Diam lihat hubby selingkuh lagi?"
Adeeva memotong leher Ezra dengan kejam. Naluri Adeeva kirim signal tak bagus bila Ezra sudah minta yang tak mungkin dia penuhi.
"Lepaskan! Mau bunuh suami biar jadi janda kaya?"
Adeeva tertawa sinis. Apa takut jadi janda. Kan hanya status janda. Hidup tetap harus berlanjut. Tanpa Ezra di dalam hidupnya Adeeva juga hidup dengan baik.
"Kuharap hari itu tidak datang. Awas kalau main hati. Aku akan kabur bawa anak kamu." Adeeva mengancam sambil melepaskan tangannya dari leher Ezra.
Ezra mengusap lehernya yang agak sakit. Dalam keadaan hamil kekuatan Adeeva tidak berkurang. Masih garang seperti masih gadis.
Ezra harus berpikir ulang kalau mau main gila dengan wanita lain.
"Ampun nyonya Ezra! Aku bersumpah takkan main gila. Kalau aku main gila biar disambar gledek tujuh kali." Ezra angkat sumpah dengan yakin.
Adeeva yang merasa ngeri dengan sumpah Ezra. Kita ini semua manusia tak luput dari kesilapan. Bisa saja suatu saat Ezra lupa daratan memulai petualangan baru dengan wanita. Mampus dia dimakan sama sumpah.
"Huss! Sembarangan omong! Untuk sekarang aku coba percaya! Ingat kalau langgar janji! Aku akan buat latto-latto dari biji manusia." kata Adeeva santai buat ancaman sambil melucu.
"Latto-latto apa itu?"
"Itu mainan jaman dulu yang lagi viral. Ada dua bola kecil diikat tali lalu diayunkan biar beradu. Hubby kan punya dua latto-latto siap difungsikan. Kalau nakal ya terpaksa kuambil biar aman."
Ezra merasa dibodohi oleh Adeeva. Wanita ini tentu menyebut dua buah bola di antara pahanya untuk jadi mainan. Sungguh ancaman kejam ingin menutup masa depan Ezra secara tuntas.
"Sadis..."
Adeeva hanya tertawa kecil. Adeeva nyaman duduk di atas paha Ezra sampai lupa berdiri. Paha Ezra lebih empuk dari kursi berlapis bisa tebal. Adem duduk di sana.
"Kita mulai kerja lagi? Lama kamu duduk di situ nanti ada yang berontak minta dimanja."
Adeeva semakin dewasa tahu apa tujuan Ezra. Tentu saja bicara hal mesum antara suami isteri. Adeeva cepat-cepat pindah ke kursi tempat Ezra duduk tadi.
Kini posisi telah berganti. Ezra kembali duduk sebagai bos di kantor. Adeeva telah duduk di posisi sebagai tangan kanan Ezra. Seharusnya memang demikian posisinya tapi Ezra tak mau buat Adeeva kecewa biarkan Adeeva merasa tersanjung.
"Ayo duduk sini!" Ezra bangkit beri kursinya pada Adeeva. Adeeva yang sudah terlanjur duduk di kursinya dulu malas pindah sana sini seperti induk kucing pindah anak kucing.
"Tak usah hubby. Aku nyaman di sini! Lanjut saja!"
"Tapi sini lebih nyaman. Kursinya juga lebih lembut."
__ADS_1
"Tak masalah. Yang penting hati suami tidak bercabang itu sudah wakili zona nyaman aku!" ujar Adeeva buat Ezra manggut-manggut. Mulut bilang tak masalah buntutnya sekak Ezra agar ingat punya orang harus dijaga hati.