Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Sport Ringan


__ADS_3

Adeeva meremas tangan membentuk tinju. Tangannya sudah gatal ingin hantam kepala penuh ide buruk bagaimana plonco Adeeva. Kirain mahasiswi tahun ajaran baru harus di ospek.


"Simpan delikan matamu! Nanti juling baru tahu rasa. Makin jauh jodoh kamu. Sudah jelek juling lagi." Ezra beri nasehat pada Adeeva agar simpan delikan mata indahnya. Sumpah mati Ezra kagum pada mata Adeeva. Bersinar memukaukan para pria.


"Aku tahu aku jelek tapi nggak usah ingatkan. Aku sadar kok pak!"


Baru saja omongan Adeeva terhenti ketokan bergema di pintu kantor Ezra. Ezra melirik aspri cantiknya mana tahu ada ide siapa tukang usik kerja mereka.


"Masuk...!" seru Ezra wibawa.


Ternyata Ruben yang masuk. Tangan kanan bos Ezra tergopoh-gopoh masuk seakan tak ada waktu untuk satu jam ke depan.


"Pak...di bawah ada keributan!"


"Keributan apa? Bukankah ada satpam? Mereka makan gaji buta tak bisa tangani keributan?"


"Bukan itu pak? Ini soal asmara! Karyawan sini dituduh selingkuh dengan menantu orang kaya kota ini. Siapa tadi? Katanya seperti Desi!"


Mendengar kata Desi, Adeeva bagai kesengat kalajengking. Gadis ini kontan bangkit berlari keluar tanpa permisi pada Ezra.


Ezra dan Ruben terbengong melihat Aspri nakal Ezra nyelonong tanpa ijin. Ada apa dengan Adeeva begitu nama Desi masuk dalam pembicaraan.


Ezra membuka jendela melihat ke bawah cari tahu apa yang sedang terjadi di kantor cabang ini. Mengapa orang sampai datang ke kantor cari tukang perusak rumah tangga orang.


Di bawah Adeeva menyaksikan seorang wanita berdandan wah bersama tiga begundal sedang adu mulut dengan satpam. Untung si Desi tidak turun sambut orang kalap sedang dinaiki emosi setinggi gunung Himalaya.


"Ada apa ini?" Adeeva bertanya pada satpam yang kewalahan hadapi wanita punya suara mirip kaleng rongsokan.


"Kau Desi?" wanita itu langsung menunjuk Adeeva. Adeeva ditilik dari ujung rambut hingga ujung kaki. Wanita jual gaya arogan minta dibeli Adeeva. Untunglah spanning Adeeva masih nol derajat, belum sempat naik ke level panas.


"Bu...omong baik-baik! Ada apa cari Desi? Kita masuk dalam bicara dengan kepala dingin." bujuk Adeeva berusaha hindari konflik membawa akibat buruk.


"Kau Desi? Lumayan cantik juga! Pantas suami aku tergila padamu. Kau mau rebut suami aku? Tak usah mimpi ya!" kata wanita itu pake suara menggelegar cari perhatian.


"Bu...ini siang bolong! Yang mimpi siapa? Aku tidak tidur kok! Maunya ibu pulang dulu konfirmasi sama suami apa iya selingkuh. Kali aja salah paham." Adeeva menahan nafas agar tidak kena pancingan wanita itu.


"Betul kata nona ini! Ini kantor Bu! Masalah pribadi jangan di bawa ke sini!" satpam kantor ikut membujuk agar tak ada keributan. Orang-orang mulai berkerumun tertarik pada keributan yang ditimbulkan wanita ini. Ini jadi tontonan gratis secara live. Ini seru dari sinetron rating tinggi.


"Jangan banyak bacot! Ayok ikut aku jumpa suamiku! Aku akan habisin kamu sampai hancur."


"Bude...aku bukan kerupuk mudah hancur! Aku juga punya darah daging macam bude. Ingat darah tinggi dan jantung! Ntar tewas pula di sini! Kami juga kena sasaran."


Wanita itu makin marah Adeeva tidak ada rasa takut pada ancamannya.


"Bawa perempuan murahan ini!" kata wanita itu hilang kesabaran hadapi kekonyolan Adeeva. Ketiga begundal suruhan wanita itu bergerak ingin ringkus Adeeva.


Satpam bergerak cepat lindungi Adeeva. Satpam tahu tak mungkin melawan tiga kentong nasi itu tapi tetap harus jalankan tugas menjaga keamanan. Pegawai kantor hendak dibawa gitu saja mana mungkin dibiarkan.


"Minggir kau .." salah satu begundal itu mendorong satpam. Satpam sempat terhuyung nyaris jatuh. Adeeva menarik satpam agar tidak terbanting ke tanah.

__ADS_1


"Maaf sobat-sobat! Jangan gunakan kekerasan! Kalau kalian rasa ada yang tak beres bagusnya lapor polisi. Jangan main hakim sendiri!" Adeeva maju lindungi satpam dari serangan orang suruhan wanita itu.


"Nona...ikutlah baik-baik biar jangan ada yang terluka!" si begundal meminta Adeeva ikut secara sukarela supaya tak ada pertumpahan darah. Sekali tinju bicara pasti ada yang terluka.


"Kalau aku tak mau gimana?" tantang Adeeva menyingsingkan lengan baju ke atas bersiap meladeni setiap jurus serangan dari pihak perusuh.


"Jangan banyak mulut! Angkat saja! Paling kita bayar biaya rumah sakit. Kita kasih pelajaran biar tidak genit ganggu suami aku!" seru wanita itu makin garang.


Dua begundal maju hendak pegang Adeeva namun gadis ini berkelit tak sudi disentuh tangan penuh dosa punyaan begundal.


"Mau main kekerasan? Ok.. kamu jual aku beli! Mau berobat di mana kalian nanti? Mau ke rumah sakit atau cukup di klinik kesehatan? Tangan kanan akan antar kalian berlibur di rumah sakit, tangan kiri ke klinik. Pilih yang mana?" Adeeva melemaskan tulang sambil loncat-loncat pemanasan. Otot terasa kaku karena sudah cukup lama tidak masuk latihan taekwondo.


Begundal itu maju hendak menangkap Adeeva. Dengan lincah Adeeva berkelit sambil lepaskan tendangan ke perut begundal itu. Satu kesakitan duanya maju menyerang Adeeva. Tinju Adeeva berbicara telak ke pipi begundal lalu tendangan beruntun buat yang lain terpental jauh.


Penonton pada tepuk tangan memberi spirit pada Adeeva melawan tong kosong yang berbunyi nyaring. Mereka bukanlah lawan Adeeva. Seni bela diri Adeeva sudah capai tingkat tinggi. Tiga begundal kosong bukanlah lawan sulit. Satu dua gebrakan telah mampu kalahkan orang-orang kasar itu.


Wanita itu berteriak-teriak marah melihat jagoan andalannya terkapar di tangan gadis muda.


"Dasar tolol...lawan anak kecil saja kalah! Kalian kugaji mahal bukan untuk jadi pecundang."


Ketiga begundal itu bangkit hendak menyerang Adeeva lagi. Adeeva kembali siaga menanti serangan. Kalau Adeeva disuruh menyerang duluan itu bukan petarung sejati. Hanya pengecut akan menyerang orang sudah kalah.


Ketiga orang itu menyerang Adeeva bersamaan. Dengan gerakan lincah Adeeva menghindar mencari sela balas andalkan tendangan dan tinju mautnya. Gerakan Adeeva terlatih tepat sasaran. Ketiga begundal itu kembali dibuat tak berdaya oleh Adeeva.


Satpam kantor berseru kencang kasih semangat pada Adeeva agar jangan kendor pada begundal tak berotak itu.


"Hei...kalian ini laki atau banci? Masa kalah sama seorang anak cewek. Ayo tangkap!" wanita itu makin histeris teriak seperti orang kurang waras.


Adeeva segera mundur bersembunyi di balik pilar gedung. Adeeva malu ketahuan berantem sama cowok. Apa yang akan dipikir Ezra terhadapnya? Gadis urakan?


"Siapa kamu?" wanita itu melunak setelah melihat Ezra.


"Aku pemimpin perusahaan ini. Mari kita masuk dalam nona! Tak baik umbar emosi." kata Ezra wibawa diiyakan wanita itu.


Adeeva mencibir. Tadi dia ajak menolak tanpa alasan. Giliran cowok ganteng ajak langsung mau. Kalau suaminya selingkuh tak bisa disalahkan. Orang isterinya model orang kesurupan jin temperamen.


Ezra dan wanita itu masuk kantor diikuti oleh ketiga bodyguard yang meringis kesakitan. Sudah sakit harga diri hancur lebur dikalahkan gadis muda.


"Non...hebat!" puji satpam pada Adeeva. Dua jempol untuk Adeeva.


Adeeva hanya tertawa kecil anggap semua ini hanya selingan untuk melemaskan otot kaku.


"Urus kecoa got itu mudah pak! Bukan lawan sulit. Aku permisi mau lihat keadaan. Takut nanti Desi dipersulit oleh nenek lampir hasil oplasan Korea." Adeeva pamitan pada satpam.


"Neng hebat! Kapan-kapan ajarin bapak tendangan dobel yang indah."


"Siipp.." Adeeva berlari kecil mencari Desi. Adeeva takkan biarkan orang hujat temannya. Adeeva yakin Desi bukan orang tak punya moral.


Adeeva mencari ke mana Ezra bawa tamu-tamu tak diundang. Adeeva harus bela Desi. Adeeva yakin Desi bukan wanita nakal seperti tuduhan wanita itu.

__ADS_1


Adeeva bertanya-tanya akhirnya ketemu Ezra dan tamunya di aula pertemuan para pegawai. Tamu tak diundang duduk angkuh di bangku di apit oleh tiga gentong nasi yang babak belur kena bogem gratis Adeeva.


Adeeva sengaja berdiri agak jauh agar bisa memantau dari jauh. Adeeva tak tahu pangkal masalah pilih nyimak dulu. Jika perlu baru turun tangan. Biarlah Ezra sebagai pemimpin perusahaan menyelesaikan masalah ini secara baik-baik. Cari musuh terlalu banyak bikin hidup makin sarat beban.


Desi akhirnya muncul membawa satu bungkusan dipanggil oleh Ezra untuk bertanggung jawab soal tuduhan wanita itu. Adeeva melihat Desi agak takut kena panggilan Ezra. Wanita mana tidak ketakutan dituduh berselingkuh dengan suami orang. Itu bukan reputasi yang baik.


Desi berdiri di hadapan Ezra dan wanita histeris tadi. Wanita itu meneliti Desi dari atas kepala hingga ke ujung kaki yang tak kelihatan terbalut sepatu. Mata wanita itu nanar seolah Desi adalah sampah busuk mengganggu penciuman orang.


"Ini siapa?" tanya wanita itu tidak segarang tadi. Mungkin jaga image karena adanya Ezra.


Kalau tidak ada Ezra mungkin wanita itu akan berteriak-teriak seperti orang kesurupan. Adeeva sudah melihat kelakuan perempuan ini menjadi heran bagaimana bisa transformers menjadi wanita sok lembut. Dasar wanita berkepribadian ganda.


"Ini Desi yang nona cari!" kata Ezra tenang. Ini gaya bos punya etika. Santun tidak grasak-grusuk.


"Lha yang tadi cewek urakan bukan Desi?"


"Bukan...dia itu penjaga parkiran kantor ini!" Ezra melirik Adeeva yang berdiri agak jauh. Dari tadi Ezra sudah melihat kehadiran Adeeva. Ezra jengkel pada gadis itu maka sengaja rendahkan posisi gadis itu.


Adeeva mengomel dalam hati. Teganya bos menjatuhkan harganya. Adeeva mengumpulkan point undangan perang Ezra. Bosnya itu harus bayar satu persatu pelecehan status.


"Pantas tak sopan. Orang tak berpendidikan..." kata wanita itu merasa diri sendiri sudah dibekali ilmu satu karung. Padahal di bawah tadi ntah siapa yang berlagak kayak tarzan kota. Teriak-teriak seakan berada di hutan rimba.


"Nah kembali ke topik. Apa maksud nona tuduh pegawai aku selingkuh dengan suami nona?"


Wanita itu langsung tunjukkan semangat 45 menunjuk Desi pakai jari telunjuk maju mundur berulangkali. Desi menunduk tak bersuara. Desi diam menanti apa jawaban wanita itu.


"Coba bapak pikir! Wanita ini janjian sama suami aku untuk jumpa di kantor bapak selepas jam kerja. Untung aku sigap baca chatting dua manusia bejat ini. Janjian mau buka kamar di hotel mana hah?"


Ezra kaget tak sangka Desi berani melakukan hal menjijikkan melibatkan nama baik kantor. Alamat dipecat tanpa pesangon.


Hati Adeeva sakit mendengar sahabatnya tega lakukan hal memalukan. Adeeva tak percaya Desi orang kayak gitu. Selama ini Desi jarang umbar masalah pribadi cenderung dingin. Apa mungkin main belakang?


"Itu semua salah Bu! Aku tidak kenal suami ibu. Dua hari lalu aku pulang kerja kecipratan air dari mobil suami ibu. Dia merasa bersalah telah membasahi aku lalu pinjamkan jaket untuk tutupi tubuh aku. Aku minta nomor ponsel bapak itu dan janji akan kembalikan setelah dicuci. Pas sudah siap maka aku janjian jumpa di kantor selepas kerja. Cuma mau kembalikan jaket suami ibu. Itu saja! Ini chatting masih ada. Nama suami ibu saja aku tak tahu bagaimana kami selingkuh. Ini murni salah paham." Desi mulai bela diri seraya menyerahkan ponselnya pada wanita itu.


Wanita itu mengambil ponsel Desi dengan ekor mata masih curiga. Apa cuma segitu janjian mau ketemu? Hanya urusan balas jasa? Wanita itu buka ponsel Desi yang tanpa kata sandi. Tak ada yang mencurigakan. Chatting wajar hanya ucapan terima kasih dan janji ketemu di kantor selepas kerja. Tak ada pemanis ataupun janji hendak ke mana.


"Cuma segini?" wanita itu menyerahkan ponsel pada Desi.


"Ya cuma segini. Dan ini jaket suami ibu. Berhubung ibu sudah di sini maka kukembalikan dan terima kasih. Aku akan hapus nomor suami ibu karena telah kembalikan jaket pada yang berhak. Ibu tak usah kuatir aku silap rebut suami ibu. Di luar sana masih banyak pria lajang yang baik. Kalau ibu belum puas boleh lanjutkan ke pihak berwajib untuk cari kebenaran. Aku bisa tuntut balik pencemaran nama baik." ujar Desi tenang. Tak perlu tarik urat leher bikin tegang tengkuk leher saja.


Adeeva tertawa ngakak puas wanita itu dapat pelajaran dari Desi. Adeeva anggap Desi sudah naik kelas tak mudah di bully lagi. Gadis itu selalu tampak lemah asyik jadi sasaran mereka yang sok hebat.


Suara tawa Adeeva menarik perhatian semuanya termasuk Ezra. Ezra tak habis pikir mengapa gadis ini bisa masuk jajaran parade isterinya. Urakan, nakal, keras tak tahu sopan santun. Apa kelebihan gadis ini?


"Kau mau tuntut balik? Aku ini punya power bisa putar balik fakta. Kau takkan dapat apa-apa nona! Siapa berani sentuh aku?"


"Aku bisa bude..." Adeeva sudah gregetan lihat keangkuhan wanita itu. Sudah salah masih sombong selangit. Orang gini harus dikasih pelajaran biar tahu uang bukan segalanya.


"Kau...cewek bar-bar tak tahu adat? Sejak kapan aku kawin sama pakde kamu? Jangan panggil aku bude! Aku masih muda. Masih tiga puluh."

__ADS_1


"Tiga puluh? Boros amat tuh wajah. Aku tiga dua. Jauh lebih awet dari saudari..." Adeeva tak gentar hadapi wanita itu. Delikan mata Ezra tak tampak oleh Adeeva lagi. Ntah pura-pura tak nampak atau memang tak nampak.


__ADS_2