Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Penyesalan Ika


__ADS_3

Maunya Desi ya tetap berada di kantor Ezra. Tetapi sayang Ezra sudah tutup akses Desi berada di sekitar dirinya. Ezra tak suka wanita penuh trik jahat.


"Aku tak tahu..."


Ruben sedang menimbang apa yang harus dia lakukan untuk memuaskan hati Ezra. Laki itu sudah memutuskan Desi tak boleh berada di sekitar kantor maka Ruben tetap harus melaksanakannya.


"Kau pindah lagi ke kantor cabang dulu!" kata Ruben pada akhirnya.


"Tidak pak! Aku tak bisa kembali ke sana karena sedikit masalah." ujar Desi masih tetap posisi menunduk.


"Masalah apa? Kau tidak berbuat hal merugikan orang lain kan?"


Desi tak buka mulut. Gadis ini kelihatannya agak berat menceritakan masalah yang sedang dihadapinya. Sikap Desi ini membuat Ruben menjadi gemas.


"Katakan sejujurnya apa yang terjadi di sana kalau tidak aku tidak bisa membantumu menyelesaikan masalahmu. Bagaimana kalau kamu resign saja?" usul Ruben ambil jalan tengah.


Desi mengangkat kepala dengar kata resign. Desi tak tahu apa yang akan dia katakan pada orang tuanya bola dia keluar dari pekerjaan ini. Gajinya cukup lumayan untuk menghidupi keluarga. Keluarganya sangat bergantung pada gaji Desi.


Karena ingin cepat hidup senang maka muncul sifat tamak Desi. Sayang kali ini Desi ketemu batu sandung. Langkahnya harus berhenti di sini.


"Apa aku tak bisa bertahan di sini?"


"Maaf Desi! Kau telah anggap remeh majikan kita! Kau pikir Pak Ezra lelaki mata keranjang? Dia itu takkan melirik wanita yang tak punya moral."


"Tapi isterinya banyak. Artinya pak Ezra itu suka pada wanita cantik. Aku juga suka padanya. Tambah aku satu mungkin Adeeva takkan keberatan." kata Desi tumpahkan hasrat yang dalam terpendam.


Ruben menyandarkan punggung ke sandaran kursi tak habis pikir mengapa para cewek tergiur pada Ezra. Pesona kegantengan Ezra atau pesona harta Ezra.


"Kehidupan pribadi bos kita bukan urusan kamu. Kau mau Adeeva tahu kalau sahabat yang dia sayangi menikung dia? Kujamin hidupmu makin sengsara. Adeeva berhasil singkirkan para isteri Pak Ezra tentu saja gampang singkirkan kamu. Mumpung Adeeva belum tahu maka lebih baik kau menyingkir." ujar Ruben tajam semakin yakin Desi tak boleh ada di sekitar Ezra. Niatnya busuk sekali.


"Aku suka pada pak Ezra itu urusan aku! Apa hubungan dengan Adeeva? Kami memang sahabat tapi dia selalu rebut pamor aku. Dasar apa anak bawang macam dia jadi isteri bos besar?"


"Dasar hatinya bersih. Kau tak pantas disamakan dengan Adeeva. Sekarang tak perlu banyak cerita. Resign atau balik ke kantor cabang?"


Desi agak terpukul Ruben tidak beri kesempatan padanya untuk bertahan. Desi pikir dengan memelas dia akan mendapat keringanan bisa bertahan di perusahaan ini.


"Aku resign..." jawab Desi dengan angkuh. Desi yakin dengan kemampuan dia bisa bekerja di perusahaan lain.


"Ok..deal! Kau lapor pada HRD sekarang juga. Kau buat alasan tepat pada Adeeva kalau kau resign dengan keinginan sendiri. Tinggalkan kesan baik pada Adeeva! Kalian sudah berteman lama jadi sisakan sedikit kesan baik."


"Itu urusanku! Permisi..." Desi pergi dengan langkah tegap uji kesabaran Ruben. Ruben tak beri reaksi anggap persoalan Desi sudah ada jalan keluar.


Kini tinggal ke kantor polisi urus masalah Rani dan Kenzo. Semoga semua mendapat jalan terang. Jangankan Ezra yang jalani semua ini, Ruben yang lihat saja sudah merasa lelah. Kasihan Ezra harus lalui hidup begitu berliku padahal dia lelaki tegar.


Desi menyesal juga telah sok gagah minta resign. Namun nasi telah menjadi bubur mau tak mau Desi memang harus resign dari perusahaan. Namun Desi tidak menyesal telah menyatakan isi hatinya kepada Ruben.


Desi tetap merasa lebih berhak daripada Adeeva berada di samping Ezra. Dia yang duluan datang di perusahaan mengapa Adeeva yang dapat hasil terbaik. Desi tidak tahu sejarah Ezra dan Adeeva. dalam pemikiran Desi hubungan Ezra dan Adeeva hanyalah hubungan umum lelaki dan wanita.


Desi terpaksa urus surat resign untuk diserahkan pada kepala HRD. Tanpa banyak proses surat pengunduran diri Desi langsung diterima oleh HRD yang telah mendapat persetujuan dari Ezra.


Secara resmi Desi keluar dari perusahaan tanpa uang pesangon karena dia resign sendiri bukan dipecat. Desi harus terima konsekuensi mengacaukan kehidupan orang lain.


Desi tak berani jumpa dengan Adeeva karena ada rasa kesal pada Adeeva. Desi tak sadar dia yang salah malah limpahkan rasa kesal itu pada Adeeva. Gitulah manusia tak tahu balas Budi. Adeeva sudah tulus padanya namun dia salah gunakan kebaikan orang.


Anggap saja Ezra sukses lalui godaan besar yang diberikan oleh Tuhan. Ini untuk test ketulusan Ezra pada Adeeva. Semoga untuk selanjutnya Ezra tetap teguh tak tergoyahkan.


Ruben lanjutkan tugas temui Kenzo serta urus masalah Rani. Soal.hukuman Ruben juga tak mampu jadi penentu. Semua berpulang pada kesalahan Rani. Ada yang lebih berhak menentukan hukuman Rani.

__ADS_1


Dari kantor polisi Ruben menuju ke kediaman Ika untuk lihat kondisi gadis itu. Ika sangat hancur dikhianati oleh Kenzo. Orang yang dia anggap sebagai dewa terganteng sedunia. Tampang bukan jaminan akhlak seseorang.


Bu Jul yang menyambut Ruben karena Ika sangat frustasi belum mau jumpa siapapun. Ruben merasakan aura orang kalah perang dalam keluarga ini. Tak ada cahaya gemerlap lagi. Hingar bingar suara orang pamer kekayaan tak terdengar secuil pun.


Ruangan rumah pak Jul sepi membisu. Keadaan seperti berada di kuburan. Mungkin masih lebih ramai kuburan ada orang melayat. Di sini hening tak ada suara.


Bu Jul suguhkan minuman buat Ruben tanpa semangat. Aura Bu Jul suram.


"Minum nak Ruben!" Bu Jul berkata sambil duduk di seberang Ruben.


"Terima kasih Bu. Pak Jul gimana?"


"Ada kemajuan sejak fisioterapi. Sudah bisa bergerak sedikit. Gimana nak Ezra?"


"Baik...dia yang suruh aku datang lihat keadaan kalian. Dia yang minta aku cari Kenzo. Sebenarnya Ezra itu baik Bu. Ya cuma mungkin dia agak kesal pada kesalahan Ika dan yang lainnya. Perusahaan merugi sangat banyak akibat perbuatan keluarga Bu Jul. Tapi Ezra masih pertimbangkan rasa kekeluargaan tidak membawa semua ini karena hukum. Semoga kita semua mendapat pelajaran berharga dan akan berubah menjadi lebih baik."


"Jujur ibu tak tahu semua perbuatan bapak dan anak-anak ibu. Di sini Ibu minta maaf atas kesalahan mereka. Dan sekarang kami telah mendapat bayaran atas kesalahan yang telah diperbuat oleh keluarga ibu." Bu Jul tak malu mengakui kesalahan keluarganya yang terlalu tamak itu.


"Berterima kasihlah kepada Ezra yang berbesar hati memaafkan kalian! Adeeva berperan sangat penting membujuk Ezra untuk memaafkan kalian. Istri Ezra itu orangnya sangat baik dan murah hati."


Bu Jul angguk-angguk setuju. Peran seorang istri sangat penting di dalam kehidupan seorang lelaki. Seorang istri mampu membetulkan yang salah asal istri itu pun berjalan di jalan yang benar.


"Aku boleh jumpa Ika? Ada yang harus kutanyakan secara langsung agar bisa bantu dia tuntut Kenzo lebih maksimal."


"Ika? Dia nangis tiap hari. Dia menyesal terlalu ikuti nafsu. Kini dia kehilangan segalanya segalanya."


"Menangis tak ada gunanya Bu! Selama kita masih bernafas maka kita bisa memperbaiki semua kesalahan kita. Kalau Ika belum bersedia jumpa lain kali aku datang."


"Maafkan ibu ya! Atau nak Ruben langsung saja masuk ke kamar Ika. Ibu percaya kau takkan berbuat tak sopan. Silahkan saja!"


Ruben surprise Bu Jul ijinkan dia masuk kamar anak gadis. Bukankah tabu bagi anak cowok masuk ke kamar anak gadis?


"Ibu percaya padamu! Mungkin kau bisa bujuk Ika untuk bersikap lebih tegar. Kehilangan harta bukan berarti kita kehilangan segalanya."


"Akan kucoba!"


Bu Jul bangkit mengantar Ruben ke kamar Ika berada di bagian belakang rumah. Dilihat dari dekor rumah pak Jul yang sangat mewah kamar Ika pasti juga sangat bagus. Ruben tak tahu berapa duit yang telah dicuri dari perusahaan untuk membangun rumah ini. Yang pasti bermiliar-miliar.


Ezra yang apes menjadi korban dari keserakahan keluarga ini. Kini Ruben masih makin mengerti mengapa Ezra sangat marah pada keluarga ini.


"Ini kamarnya!" Bu Jul membawa Ruben berhenti di pintu berwarna oranye menyala. Selera warna yang sangat buruk. Pintu saja dicat warna tak lazim. Pemilik pasti orang buta warna.


Ruben mengetok pintu dengan perlahan. Bu Jul beri kode agar ketok lagi sampai Ika menyahut.


"Ada apa? Ika mau tidur." terdengar suara dari dalam.


"Ika...buka pintu nak!"


"Masuk saja ma! Tidak dikunci kok."


Bu Jul dorong Ruben segera masuk untuk beri semangat pada Ika. Semoga kehadiran Ruben bisa kembalikan semangat hidup Ika.


Dengan sedikit ragu Ruben memutar handel pintu agar daun kayu itu bisa terbuka.


Ruben melihat Ika duduk termenung di atas ranjang dengan kondisi berantakan. Rambut riap-riapan belum kena sisir dan baju masih baju tidur agak tipis.


Gadis itu menekuk kedua lutut ke dada sambil lingkarkan kedua tangan ke lutut sendiri.

__ADS_1


"Ika..."


Ika mendongak kaget karena suara itu bukan suara mamanya melainkan suara seorang pria. Ika segera meraih selimut tutupi tubuhnya yang berpakaian kurang pantas.


Ruben juga agak jengah melihat Ika dalam kondisi belum siap terima tamu.


"Pak Ruben?"


"Maaf! Aku tunggu kamu di luar saja. Ada yang ingin aku bicarakan tentang Kenzo."


"Aku tak mau dengar nama setan itu lagi."


"Ok...tapi kita harus bicara. Kutunggu kamu di luar."


"Baiklah! Beri aku waktu sepuluh menit."


Ruben segera keluar tanpa menoleh ke arah Ika. Suasana begini sangat canggung. Ika boleh dibilang hampir perlihatkan lekuk tubuhnya dalam balutan baju tidur tipis.


Ruben sebagai lelaki punya sopan santun tahu diri segera keluar. Ruben tak ada niat buruk selain ingin tegakkan keadilan buat Ika. Lelaki pengerat model Kenzo tak pantas mendapat Maaf daripada Ika.


Ruben kembali balik ke ruang tamu rumah Ika. Ruben sedang berpikir bagaimana caranya agar Ika bisa lega melupakan semua kebusukan Kenzo.


Bu Jul hanya bisa memantau dari samping melihat bagaimana Ruben membujuk Ika agar kembali bersemangat. Sebagai seorang ibu Bu Jul sangat berharap keluarganya bisa kembali seperti dulu walaupun tanpa harta melimpah.


Ika datang sudah berdandan sedikit tanpa bisa tutupi kekecewaan pada Kenzo. Cahaya keglamoran Ika luntur seperti lukisan mahal kena air. Hancur lebur tak berbentuk.


Ika duduk di depan Ruben tanpa daya. Bahasa tubuh Ika siratkan bahwa dia sudah tidak memiliki harapan. Kedua tangan Ika diletakkan di atas lutut sendiri gambarkan jiwa gelisah anak ini. Pikiran Ika sedang kacau merasa bodoh diperdaya oleh Kenzo.


"Ika...kau sudah tenang?" tanya Ruben mulai ingin korek keterangan dari mulut Ika.


"Mau tanya apa Pak Ruben?"


"Kenzo memiliki mobil mahal. Apa itu juga darimu?"


"Iya...tapi surat tertera namanya. Dia memang telah merencanakan semua ini dari jauh hari maka Dia meminta agar semua surat atas namanya."


"Kau ada bukti bahwa kau yang beli?"


"Ada...uang itu keluar dari rekening aku! Cuma aku bodoh biarkan setan itu berbuat semaunya."


"Baik. Nanti kamu kirim semua datanya kepada aku. Aku bisa tuntut balik mobil itu. Hanya ini yang bisa kulakukan pada kalian. Ezra sudah tidak kejar semua kesalahanmu karena Adeeva telah urus semua kecerobohan kamu. Dia akan perbaiki semua laptop bermasalah agar bisa dipasarkan. Kau harus terima kasih pada Adeeva. Kalau tidak ntah berapa rugi perusahaan."


"Aku memang salah. Aku terlalu percaya pada Kenzo sehingga lakukan kesalahan berulang kali. Aku akan temui Adeeva dan Ezra untuk minta maaf. Terima kasih untuk semuanya."


Ruben mengangguk, "Kau masih muda bisa memulai hidup baru. Petik pelajaran daripada kesalahan kamu agar kedepan kamu menjadi manusia lebih baik."


Ika mengangguk. Sama halnya dengan Bu Humaira melihat orang baik selalu ke depan. Mereka yang culas hanya senang sesaat namun derita di akhir.


"Aku akan usaha. Tapi pikiranku sangat kacau. Aku ingin sekali cekik Kenzo sampai mati. Dia telah butakan hatiku sehingga berbuat curang berulang kali." Ika geram pada kebodohan diri sendiri terpesona oleh kegantengan Kenzo yang seperti racun. Perlahan melumpuhkan hidup Ika.


"Sekarang kau tata hidupmu! Tetap semangat kejar masa depan. Gunakan skill kamu mengais rezeki halal. Kamu sudah pasti tak bisa masuk perusahaan lagi. Cari rezeki dari tempat lain." nasehat Ruben agar Ika tidak terpaku pada kesialan nasibnya.


"Aku akan buka salon lagi. Mungkin dengan demikian aku bisa lupakan kesalahan aku. Aku minta maaf telah banyak datangkan masalah pada perusahaan. Aku akan minta maaf secara langsung pada Adeeva dan Ezra."


"Ok...mereka pasti memaafkan kamu! Oya... sebagian sisa uang dari Kenzo akan dikembalikan ke rekening kamu. Gunakan uang itu untuk buka usaha salon kamu."


"Itu yang perusahaan Ezra. Kembalikan saja ke sana. Mungkin dengan demikian rasa bersalah aku akan berkurang. Aku tak butuh apa-apa lagi selain ingin hidup tenang. Aku sudah dapat pelajaran berharga."

__ADS_1


Ruben bersyukur Ika punya itikad baik kembalikan uang pada yang berhak. Untuk sementara Ruben hanya bisa terima niat baik Ika. Semua masih perlu tunggu keputusan Ezra.


__ADS_2