
Adeeva menjadi istimewa di mata dokter muda itu. Gadis bersemangat tak peduli yang namanya harta. Harta bisa dicari selama orangnya sehat sedangkan kebahagiaan tak bisa diganti dengan harta.
Adeeva pilih tunggu Nunik di luar rumah sakit. Berada di dalam tambah sakit di seluruh badan. Sakit kepala, sakit hati dan sakit akibat terkilir.
Adeeva merapatkan tangan memeluk tubuh sendiri untuk hindari angin nakal yang pastinya angin jantan. Gerayangi tubuh Adeeva dengan mesumnya. Suasana parkiran sudah sepi dari aktifitas. Orang tentu pada istirahat merangkai mimpi sesuai keinginan.
Hati Adeeva terasa kosong seakan ada sesuatu hilang dari isi dalam. Perasaan aneh yang tak pernah dirasakan gadis ini. Adeeva belum tahu apa penyebab hati terasa ngilu. Ngilu bukan dari rasa sakit di tangan.
Di ruang perawatan Ezra perlahan mulai sadar. Sadar dari mabuk menggila yang buat hidup Adeeva makin hancur. Ezra membuka mata kaget melihat dia berada di ruang serba putih. Ada peralatan medis membuat laki ini sadar dia berada di rumah sakit.
Mata Ezra menangkap sosok temannya sedang duduk terngantuk di kursi plastik yang disediakan pihak rumah sakit.
Ezra menyentuh kepalanya yang masih pusing dan sakit. Apa yang telah terjadi? Mengapa dia berada di rumah sakit.
"Don..." panggil Ezra membangunkan Don yang tidur ayam.
Don segera bangkit hampiri Ezra. Laki ini senang temannya sadar tanpa geger otak. Cuma nanti wajah ganteng itu akan cacat akibat luka di pelipis. Seiring waktu juga akan sembuh.
"Gimana bro? Enakan?" tanya Don mengulas senyum di bibir.
Ezra berusaha duduk menggeser badan bersandar pada dinding ujung brankar.
"Mengapa aku di sini?"
Don tertawa kecil ingat keseruan malam ini. Poni Ezra ngamuk hajar preman suruhan Rani berakhir ke rumah sakit.
"Lhu mabuk gue telepon Ruben. Nggak aktif maka kutelepon si Poni. Dia datang dengan sahabatnya. Datang si Rani mau ambil alih kamu. Poni lhu nggak kasih. Tahulah si Rani sok pakai preman! Kedua preman itu babak belur dihajar Poni. Dalam perjalanan pulang dia dikejar Rani terjadi kecelakaan."
"Poni muncul? Kau telepon dia angkat? Sialan tuh anak! Artinya dia blokir nomor aku!"
"Pesona lhu sudah luntur! Buktinya Poni tidak tertarik padamu."
"Sekarang mana dia?"
"Tadi di luar. Mungkin sudah pulang."
"Kenapa kau tak tahan dia? Kau tahu betapa sulit lacak keberadaannya. Dia Poni binti belut. Licin..." sungut Ezra kesal Adeeva lolos lagi.
"Dia tampak syok karena tabrakan ini. Biar dia pulang istirahat. Kasihan dia. Dia itu cuma anak remaja yang punya sayap baru tumbuh. Masih senang terbang sana sini."
"Kau tak paham sifatnya. Sekarang kamu telepon dia katakan aku gawat. Dia harus tanggung jawab atas kejadian ini!"
"Woi...kau waras bro? Dia hanya anak kecil belum matang. Lhu yang bangkotan permainkan anak kecil! Apa tidak malu?"
"Terserah kamu mau pikir apa! Pokoknya dia harus di sini sekarang juga."
"Stress..." sungut Don terpaksa angkat telepon hubungi Adeeva sesuai permintaan Ezra.
"Buka loudspeaker...aku mau dengar suaranya!"
"Iya...kok jadi bawel? Puber kedua ya? Orang tua jatuh cinta pada anak kecil."
Ezra tidak membantah karena itu fakta. Dia makin hari makin penasaran pada Adeeva. Sehati tak lihat gadis itu hati terasa kosong.
"Halo om... assalamualaikum.. ada apa lagi?"
"Waalaikumsalam...kamu sudah pulang?"
"Lagi nunggu jemputan. Gimana ikan paus eh maksudku pak Ezra? Sudah wafat?"
Ezra menggeram dengar Adeeva beri pertanyaan sangat menyakiti hati. Don malah ngakak.
"Nona...jahat amat mulut kamu!"
"Jahat? Orang jahat harus dilawan jahat. Gimana? Patah batang otak atau putus urat malu? Atau buta?"
Tak satupun harapan indah untuk Ezra. Semua harapan Adeeva pada Ezra sangat buruk. Don tak tahu mengapa gadis itu sangat ilfil pada Ezra. Apa yang telah dilakukan Ezra pada si Poni. Pelecehan akut?
__ADS_1
Ezra mencolek Don tunjuk matanya. Kata buta dari Adeeva menimbulkan ide bagus di kepala Ezra.
Don tidak paham apa maksud Ezra tunjuk mata. Don angkat bahu tak ngerti. Ezra segera ambil ponsel ketik bilang aku buta. Don angkat jari paham maksud Ezra.
"Begini nona Poni. Kepala pak Ezra terbentur menyebabkan dia kehilangan penglihatan. Kasarnya dia buta. Cuma kata dokter ini cuma buta trauma. Mungkin bisa lihat dalam seminggu, setahun bisa juga seumur hidup."
"Ya Allah...yang serius om! Dasar mulut aku ini tak bisa direm!" kata Adeeva seperti menyesal telah mengucapkan kata kurang baik untuk Ezra.
"Emang ada orang mau sengaja buta? Apalagi Ezra orangnya. Dia kan harus tangani proyek besar. Mana mungkin bikin ulah. Kau mau datang lihat dia? Secara moral kamu harus tanggung jawab karena dia begini karena kamu tabrakan. Tapi ini juga salahmu! Aku juga salah minta kamu jemput dia."
Don tak mendapat jawaban. Hanya terdengar ******* nafas berat Adeeva. Gadis itu pasti sedang perang batin. Don kasihan juga pada Adeeva jadi korban keegoisan Ezra. Segala cara ditempuh untuk jerat Adeeva agar tetap di sisinya.
Don anggap Ezra kurang waras tergila pada gadis remaja. Kalau dia mau wanita mana tidak bertekuk lutut pada nama besar Ezra. Mengapa justru anak baru berangkat dewasa.
"Om...aku tanya sekali lagi. Ini serius?" akhirnya Adeeva bersuara.
"Serius dong! Aku sih cuma kasih tahu. Semua kan terserah kamu! Ezra butuh orang jujur dampingi dia karena dia tak bisa melihat apapun. Bisa saja orang manfaatkan kebutaan dia cari untung."
"Itu aku tahu...aku kok jadi bingung. Besok aku sudah harus berangkat. Gimana ya?"
"Berangkat? Kau mau kemana?"
"Ada deh! Om tak perlu kepo. Beri aku waktu satu jam untuk berpikir!"
"Pikir apa?"
"Tinggal atau kabur?" sahut Adeeva seenak dengkul bikin perut Don tergelitik. Masih ada orang sekonyol Adeeva jujur apa yang mau dia lakukan.
"Oh gitu! Aku tunggu kabar darimu! Pilihlah yang terbaik!"
"Terimakasih Om! Untuk sementara jaga pak Ezra dulu! Jangan ijinkan siapapun jumpa dia! Tolak semua yang ingin ketemu dia. Ini demi keselamatan dia! Sekali lagi terimakasih. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam..."
Don tersenyum sedih lihat bos besar kaya raya tak berdaya hadapi anak kemarin. Di mana harga Ezra yang tersohor. Untuk mendapat perhatian anak kemarin harus pakai sandiwara jadi orang buta.
"Ini bagus untukku! Aku bisa pantau siapa yang tulus dan curang dalam kondisi begini. Kesempatan tendang mereka yang kurang ajar selama ini."
"Kau yakin dia akan tinggal?"
"Yakin...jiwanya keras tapi hatinya lembut. Apa kau tak dengar dia wanti-wanti jaga aku dari orang lain. Dia kuatir aku dimanfaatkan orang tak bertanggung jawab."
"Gimana kalau dia yang mencari keuntungan daripada kekurangan kamu?"
"Kau pikir aku bodoh biarkan orang merebut hak aku? Untuk sementara kau tutup mulut. Sogok dokter yang tangani aku katakan keinginan aku! Aku takut Poni datang cek data medis."
"Rumah sakit punya aturan tak boleh bocorkan riwayat penyakit pasien. Itu kau tak perlu kuatir."
Ezra tertawa dengar kata Don. Kalau cuma cari data rumah sakit mungkin hanya seperti minum air putih bagi Adeeva. Yang lebih sulit telah sukses dia kerjakan apalagi cuma curi data rumah sakit.
"Bagi dia tak ada rahasia. Aku lebih kenal dia. Aku mau pulang. Minta dokter persiapkan sedikit vitamin agar sandiwara ini sukses."
"Kalau anak itu pintar pasti tahu mana obat mana vitamin. Otakmu pikun ya!"
"Kamu yang tolol. Beli vitamin lalu buka dan masukkan dalam wadah lain. Bagusnya kalau ada wadah untuk penyembuhan penyakit mata. Itu saja kau tak ngerti. Oya.. Ruben juga tak usah dikasih tahu ini cuma sandiwara. Aku mau test anak itu juga. Sampai di mana kesetiaan dia padaku? Hanya dia yang paling dekat dengan aku. Aku mau tahu kejujuran dia."
"Baiklah! Aku akan atur sebaik mungkin. Cuma kuminta jangan kelewatan pada si Poni. Dia itu anak lugu. Dunianya penuh kisah indah."
"Aku tahu batasan."
Jujur Don tak tega pada Adeeva. Gadis itu keras tapi lugu. Anak itu memang bikin kesal dalam obrolan namun Don bisa rasakan anak itu bukan dari kalangan gadis matre. Dia tidak open Ezra orang kaya.
"Kalau itu tujuan lhu pura-pura buta gue tak keberatan tapi bila untuk kacangi Adeeva aku sangat tidak setuju."
"Aku hanya minta gadis itu jadi pengganti mata aku! Dia pasti takkan biarkan orang berbuat curang padaku."
Ponsel Don berbunyi. Don beri tanda tutup mulut karena itu panggilan dari Adeeva.
__ADS_1
"Halo... Assalamualaikum nona Poni..." Don duluan menyapa karena sudah hafal gaya Adeeva akan menyapa dengan salam.
"Waalaikumsalam...apa pak Ezra sudah sadar?"
"Sudah tapi dia agak syok tiba-tiba kehilangan indera mata. Dari tadi dia diam saja agak kecewa pada nasibnya. Siapa yang akan handel perusahaan dengan kondisi begini." Don sengaja bikin nada sedih biar Adeeva jatuh kasihan.
"Itu yang kutakuti. Orang yang ingin curang antrian. Aku sudah ambil keputusan dampingi pak Ezra sampai matanya pulih. Aku pulang dulu ambil pakaian pindah ke apartemen pak Ezra. Om jaga dia sampai hari terang ya! Aku akan datang begitu hari terang."
"Kau yakin pada keputusan kamu?"
"Emang aku ada pilihan lain? Aku juga punya tanggung jawab karena telah membuat mata pak Ezra buta. Aku pasti datang."
"Baik...kutunggu kamu!"
"Terima kasih sudah merepotkan om. Jaga bos aku ya! Kalau nakal cambuk saja pantatnya. Pantat ikan paus itu tebal. Cambuk yang kuat."
"Ok...kuingat nasehatmu! Hati-hati di jalan. Kamu tak usah nyetir ya! Minta teman kamu yang nyetir."
"Iya... tangan aku agak sakit! Tapi akan segera sembuh kok? Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Mata Ezra menyipit dengar Adeeva bilang tangannya sakit. Apa gadis itu juga terluka. Tapi mengapa dia tidak berobat.
"Apa dia terluka?"
"Aku tak tahu...cuma tadi kulihat dia ok saja. Kau tunggu sini biar kucari dokter untuk urus obat matamu."
"Kau kenal dokter sini?"
"Dokter kamu si Pangeran. Dia yang tangani kamu."
"Oh..lebih gampang urusan!"
"Kau sudah buta jangan keliaran sana sini! Orang buta harus patuh." ejek Don sebenarnya kesal Ezra bersandiwara bodohi Adeeva. Don sungguh tak tega lihat Adeeva dipermainkan Ezra. Tapi dibalik ini Ezra menyimpan misi lain ingin mencoba cari tahu siapa yang tulus padanya. Secara garis besar semua baik padanya karena harta Ezra melimpah ruah. Dengan pura-pura buta mungkin Ezra akan melihat lebih jelas siapa orang yang tulus kepadanya. Termasuk Adeeva.
Setelah segala prosedur beres, Don antar Ezra pulang ke apartemen. Don nginap di apartemen Ezra menanti pagi datang. Sudah tanggung balik ke pub. Pub juga sudah tutup jam segini. Ada tim Don akan urus pub seperti biasa.
Rasanya Don baru tidur sebentar terdengar ada suara orang buka pintu. Orang yang bisa buka pintu apartemen Ezra tentu bukan orang asing. Hanya orang tertentu tahu kode pintu Ezra. Don saja tak dapat akses masuk ke apartemen orang kaya ini. Laki itu harus hati-hati karena banyak musuh.
"Siapa?" Don bertanya dengan suara keras. Keras hanya untuk gaya gertak maling kecil. Kalau diajak duel satu lawan satu mungkin Don masih sanggup tapi kalau dikeroyok pasti K O.
Don segera keluar dari kamar Ezra lihat siapa yang datang. Ezra tak bisa bebas bergerak lagi sejak menyamar jadi orang buta. Semoga Tuhan tidak kasih sanksi berat pada insan suka permainkan takdir hidup.
Andai Tuhan marah ada orang menipu bisa saja Ezra diberi cobaan hidup dalam kegelapan selamanya.
"Aku om.!" sahut Adeeva. Wajah gadis ini kusut tapi tak mengurangi kecantikan alami.
Don menduga semalaman gadis itu tidak tidur. Lingkaran mata panda jelas tercetak di sekeliling mata indah itu. Kalau bukan ingat misi Ezra ingin sekali Don buka rahasia Ezra. Anak ini pasti akan ambil langkah seribu.
"Kau sudah datang. Sudah sarapan?"
"Sarapan? Kayaknya belum deh! Begitu bangun aku langsung ke sini. Gimana keadaan ikan paus? Dia pasti terpuruk ya?" Adeeva prihatin pada nasib Ezra. Don melihat gadis ini ikut sedih lihat kondisi Ezra. Gimanalah kalau anak ini tahu Ezra sedang permainkan dia. Jamin dipatahkan batang leher.
"Dia masih tidur. Kau jangan galak padanya ya! Orang begitu pasti akan sensitif."
"Iya om. Maafkan aku kalau semalam kurang sopan! Aku ini memang tak pandai ramah tamah."
"Tak apa...aku order sarapan ya! Kita makan bersama. Setelah itu aku harus pulang ke rumah."
"Oh...apa om sudah kasih kabar pada orang di rumah nginap sini? Jangan biarkan orang di rumah kuatir pada om!" ujar Adeeva serius kuatir terjadi salah paham di rumah Don pula.
"Aku hidup berdua dengan ibuku! Dia sudah tahu di mana aku! Kau tak perlu kuatir."
"Om masih jomblo? Kenapa tidak minta satu selir dari ikan paus. Dia tuh kelebihan selir pula."
"Selir bos kamu itu barang offkiran. Di tong sampah juga banyak. Tinggal dipungut."
__ADS_1
Adeeva terdiam. Don omong gitu artinya dia juga barang tak berharga. Sampah seperti kata Don.