Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Talak Dan Talak


__ADS_3

Ezra berangkat ke kantor untuk menyelesaikan keinginan Adeeva lakukan pembersihan di kantor. Ezra merasa kebijakan Adeeva menguntungkan perusahaan. Wanita muda itu berniat baik pulihkan perusahaan yang terlanjur kacau oleh keluarga Pak Jul.


Ezra tiba di kantor ditunggui oleh Ruben. Anak muda itu tampak tegang menunggu kehadiran Ezra. Ruben sudah tahu kondisi Adeeva sedang kurang bagus. Ini pasti akan pengaruhi mood Ezra.


Maklumlah baru pertama kali menjadi seorang ayah. Semua akan dipertaruhkan demi kesembuhan Adeeva.


"Pak...Bu Humaira dan parade selir ada di dalam kantor." lapor Ruben begitu Ezra mendekat.


Ezra mendengus tidak keberatan. Lebih cepat lebih bagus. Ini mungkin final dari kekonyolan Bu Humaira mengontrol hidup Ezra. Ezra tak tahu trik apa akan dilakukan oleh wanita itu untuk pertahankan kekuasaan keluarganya di perusahaan.


"Cepat atau lambat hari ini akan datang. Kita hadapi saja! Apa sudah ada gambaran tentang penculik itu?"


"Ada...mengarah pada Rani."


"Hhhmmm...sudah kuduga! Hanya dia yang punya hati sekejam itu. Aku akan minta tolong pada Don selidiki Rani. Don itu punya koneksi lebih luas."


"Boleh juga..."


Ezra dan Ruben lewati semua pegawai yang sedang jantungan. Semua berlomba beli obat jantung untuk menenangkan jantung karena belum tahu siapa bernasib sial akan didepak dari kantor.


Ezra berjalan angkuh lewati pegawai walau konon katanya Ezra telah turun pangkat. Namun pamor seorang bos masih melekat erat pada diri Ezra.


Ezra tiba di depan ruangnya sedikit ragu masuk ke dalam. Ezra harus bisa atur emosi biar tidak terjebak dalam situasi makin ribet.


Ruben membuka pintu beri jalan pada Ezra untuk pindah ke dalam ruangan. Di dalam ruang sudah duduk rapi enam sosok wanita dengan aneka dandanan. Pokoknya semua cantik dan menarik dengan wewangian berbeda.


Ruangan Ezra berubah harum semerbak dari parfum setiap wanita yang berbeda.


"Hakim...kok terlambat?" tegur Bu Humaira dengan gaya anggun.


"Ada sedikit urusan. Tumben kumpul di sini?" Ezra meletakkan tas kerja menempatkan pantat di kursi kerja.


Ruben tahu diri segera mengundurkan diri. Ini adalah urusan pribadi Ezra. Dia tak bisa ikut nimbrung. Jalan terbaik menghilang dari pandangan mata Ezra.


"Hakim...kamu sudah lama tidak pulang. Mama rindu padamu. Para isterimu juga gitu! Kenapa kamu tega abaikan kami?" tanya Bu Humaira sendu seolah dia paling disakiti.


"Ma...sekarang perusahaan sudah ditangani Adeeva. Aku ini harus melaksanakan semua kebijakan baru Adeeva."


"Keterlaluan...ini perusahaan kita! Dasar apa Adeeva yang jadi pimpinan? Anak kemarin tak tahu diri."


"Ma...aku terlanjur berikan semua kuasa pada Adeeva karena dia mau tinggalkan aku. Aku mencinta dia!" Ezra blak-blakan akui perasaan pada Adeeva.


Ezra tak tahu betapa sakit hati para wanita di situ. Mereka habiskan bertahun menanti cinta Ezra namun Ezra dengan mudah serahkan cinta pada seorang gadis muda. Tapi cinta itu sesuatu yang misterius. Dia datang tanpa diundang. Siapapun tak bisa melarang bila dia hendak datang.


"Mama menyesal nikahkan kamu dengan anak itu. Kalau bukan amanah mendiang mama kamu sampai mati mama tak rela kau nikahi anak itu. Ternyata memang benar anak itu bawa sial bagi keluarga kita." sungut Bu Humaira kesal.


"Jadi mama sudah lama tahu Adeeva itu tunangan aku dari dia bayi?"


"Iya...mamamu berpesan harus nikahkan kamu padanya. Mama sudah baik hati bantu kamu wujudkan keinginan mama kamu tapi akhirnya seperti ini."

__ADS_1


Ezra tertawa getir dengar kelicikan Bu Humaira. Dia sembunyikan Adeeva dari hidup Ezra selama bertahun. Malah dia sodorkan wanita-wanita penggila harta untuk kelabui hidup Ezra. Untunglah Ezra tidak tenggelam dalam kelicikan Bu Humaira.


"Ma...itu bukan topiknya. Yang jadi topik perusahaan hampir hancur karena banyak penyimpangan. Asal mama tahu aku sudah pecat Ika. Dia berbuat sesuka hati impor barang dari luar lalu campakkan di gudang. Mama tahu berapa kerugian perusahaan? Ratusan milyar. Sampah yang dia impor. Menurut catatan bukan sekali dia impor barang offkiran. Cari keuntungan pribadi hancurkan perusahaan. Apa orang begini bisa dipertahankan?"


Bu Humaira terdiam. Kalau ini Ika memang salah namun tak harus dipecat langsung. Ika bisa diminta bertanggung jawab.


"Mungkin Ika juga kena bohong?"


"Salah...Ika asal impor lalu tak peduli lagi pada barang yang dia impor. Itu limbah pabrik tak bisa dipasarkan. Dia impor gunakan uang perusahaan dengan harga standar sementara dari produsen beri harga barang limbah. Betapa pintar otak keponakan mama itu. Aku akan tuntut dia bila telah berhasil lacak rekam jejak kesalahan Ika."


Bu Humaira tak bisa bela Ika lagi. Selama ini Ezra agak longgar pada mereka karena lihat budi jasa Bu Humaira. Tapi keluarga pak Jul melangkah terlalu jauh bikin perusahaan hampir gulung tikar.


"Hakim...kita ini satu keluarga. Kalau terdengar sampai keluar apa kata orang. Lebih baik kita bicara baik-baik minta Ika tutupi kerugian perusahaan."


"Wow..Artinya Ika kaya dong! Perusahaan rugi ratusan milyar sanggup dia tutupi. Dari mana uangnya kalau bukan tilep uang perusahaan. Gaya hidup seperti seorang ratu, piara gigolo. Belanja seperti pemilik perusahaan. Dari mana uang sebanyak gitu? Gajinya seberapa?"


Bu Humaira semakin terpojok oleh kata-kata Ezra. Ternyata Ezra tidak tinggal diam terhadap Ika. Lelaki ini menyelidiki sepak terjang Ika. Dasar anak tolol suka pamer. Kini baru tahu rasa kena sidak oleh Ezra.


"Hakim...mama harap kamu ada rasa belas kasihan. Ika itu sudah bekerja bertahun. Dia cukup berjasa pada perusahaan. Nanti mama akan minta dia pikir cara tutupi kerugian perusahaan. Kau tahu om kamu kena stroke. Rencana mau bawa ke Tiongkok untuk pengobatan. Mama harap kamu bantu biaya pengobatan."


"Maaf ma! Kalau berobat di sini kami tanggung tapi kalau ke luar negeri kami tak sanggup. Mama tahu perusahaan sedang berada di titik terendah. Semua kuasa dipegang oleh Adeeva. Dia tak.kisah kucurkan dana untuk hal tak penting. Dan lagi aku mau bahas keberadaan kalian semua. Aku terus terang takkan pernah masuk dalam hidup kalian jadi kuharap kalian pergi dengan kompensasi sebelum Adeeva tutup aset aku lebih jauh." Ezra kini bahas status kelima isterinya.


"Apa yang akan kau beri pada kami?" tanya Farah paling berani.


"Dulu kutawarkan sejumlah uang namun kalian jual mahal. Sekarang aset aku sebagian telah disita untuk perusahaan. Namun aku tetap bertanggung jawab. Satu rumah dan sejumlah uang. Cuma tak sebanyak yang aku janji dulu."


"Terima kasih Farah. Aku bebaskan kamu dari ikatan pernikahan. Mulai detik ini kita tak ada hubungan apa-apa lagi selain mantan suami isteri. Semoga ke depan hidupmu lebih baik. Ruben akan urus semua keperluan kamu."


Hati Farah tercekat tak sangka Ezra akan langsung jatuh talak padanya. Ezra tak mau buang kesempatan bagus ceraikan Farah. Lepas satu hilang beban satu.


"Aku ada permintaan Hakim...tak usah beri rumah. Cukup dana sebesar uang rumah. Aku bisa pulang ke rumah orang tuaku berbisnis dengan uang dari kamu."


"Ok...aku setuju. Aku jamin hidupmu akan lebih terarah ketimbang terkurung di tempat aku." Ezra melunak pada Farah yang tak banyak tingkah. Andai semuanya sama dia akan lebih ringan jalani perceraian.


"Ok...terima kasih juga telah beri aku kehidupan cukup mewah. Kalau boleh aku minta sepuluh milyar. Aku mau usaha cafe."


"Baik...aku juga tidak akan sia-sia kamu! Uang ini cukup setimpal dengan kesengsaraan kamu di istana aku. Menikahlah dengan pacarmu sekarang. Jangan murahkan diri pada lelaki! Ingat...tak semua lelaki tertarik pada wanita murahan."


Farah tertawa kecil Ezra tahu semua tindak tanduknya. Walaupun sedih harus tinggalkan semua kemewahan dari Ezra namun Farah lega terbebas dari kemunafikan.


"Terima kasih."


Yang lain terkesima begitu mudah Farah lepas dari Ezra. Isteri Ezra berkurang satu.


"Aku mau keluar." Soledad buka mulut mau menyusul Farah. Dapat uang sepuluh milyar cukup lumayan untuk menyambung hidup. Soledad tidak sepintar Farah cari peluang bisnis. Tapi uang segitu bisa membuatnya bertahan beberapa tahun.


Ezra mendapat angin untuk jadi lelaki tak punya hati untuk kedua kali. Ezra mana mau buang kesempatan bagus untuk talak Soledad. Lebih cepat lebih baik.


"Baik...aku lepaskan kamu dari segala kewajiban padaku nona Soledad. Mulai detik ini kita bukan suami isteri lagi. Aku jatuhkan talak tiga." Ezra tidak tanggung-tanggung beri talak paling berat agar wanita ini takkan pernah muncul lagi dalam hidupnya.

__ADS_1


Soledad tertawa dengar talak di beri padanya. Tak peluang hadir lagi dalam hidup laki ini. Ini lebih baik ketimbang hidup dalam awang-awang tanpa pegangan.


"Aku terima. Terimakasih untuk selama ini. Besok aku akan pindah dari rumah. Bolehkah kubawa barang yang kuanggap barang pribadi?"


"Silahkan! Kamu boleh bawa apapun dalam rumah karena itu dibeli untuk kamu. Dan kau Farah boleh gitu juga. Aku tak paksa kamu harus pindah besok. Perlahan saja sampai kamu dapat tempat pasti. Satu lagi untukmu Soledad. Cari pasangan yang pasti. Bukankah jadi diri dalam rumah tangga orang."


Soledad merasa malu Ezra tahu dia berhubungan dengan suami orang. Mereka pikir Ezra tutup mata terhadap mereka ternyata salah. Ezra tahu persis semua tindak tanduk mereka.


"Akan kuingat." sahut Soledad lemah.


Kini tinggal Michelle, Dorce dan Renata. Ketiga orang ini ragu untuk ikut jejak Farah dan Soledad. Kalau mereka keluar di mana akan mulai hidup baru. Mereka tak punya keahlian selain pamer kemewahan serta menggoda laki. Tak mungkin mereka menjajakan diri jadi kupu-kupu malam.


Ezra menatap ketiga isterinya yang tersisa. Ezra tak memaksa mereka untuk tunduk tapi Ezra beri kesempatan pada mereka menyerah sendiri.


"Well...apa cukup sekian? Soledad dan Farah telah mendapat hak mereka. Aku punya kartu kalian semua jadi kuharap jangan sampai aku cari bukti lebih lanjut. Aku takkan beri satu senpun bila aku sendiri turun tangan korek lubang kesalahan kalian."


Bu Humaira menarik nafas dalam-dalam tak sangka Ezra yang tampak cuek bebek punya data mereka.


"Aku ikut..." Dorce akhirnya menyerah. Lebih baik mundur ketimbang tak dapat apapun. Sepuluh milyar bukan jumlah kecil. Kalau dia pandai kelola bisa beranak Pinak.


"Bagus...Aku jatuhkan talak tiga pada saudari Dorce binti Maksum. Mulai detik ini putus hubungan suami isteri antara kita." Ezra gunakan moments baik ini jatuhkan talak agar tak jadi beban.


"Aku terima. Aku juga akan bawa semua barang di rumah dan mobil yang kupakai selama ini. Kuharap kau tak keberatan."


"Tidak...Farah dan Soledad juga berhak atas mobil kalian. Ruben akan berikan semua perlengkapan suratnya. Kalian cari tempat tinggal dulu baru pindahkan barang kalian. Aku masih beri toleransi selama kalian mau kerja sama akhiri hubungan konyol ini. Dan aku minta maaf tak bisa penuhi tugas sebagai suami yang baik."


Dorce mengangguk terima penyataan Ezra. Mereka menikah juga bukan keinginan Ezra. Mereka hadir karena permintaan Bu Humaira janjikan kehidupan mewah bagai ratu. Itu sudah mereka dapatkan. Kini semua telah berakhir.


"Hakim...aku juga akan pergi tapi aku punya satu permintaan. Ini sebagai permintaan terakhir aku selama menjadi isteri kamu." tiba-tiba Renata bersuara.


Ezra surprise Renata mau ikutan keluar. Angin apa membuat wanita ini berubah pikiran. Karena merasa tak punya tempat lagi karena pak Jul sudah stroke?


"Katakan!"


Renata menatap Ezra lekat-lekat seolah memendam rasa cinta sangat dalam. Mata Renata sayu seperti sangat menderita harus ikhlas berpisah dari Ezra.


"Aku mau habiskan sayu malam denganmu! Satu malam saja untuk jadi kenangan seumur hidupku! Aku akan puas berpisah pernah tidur denganmu."


Ezra termenung dengar permintaan Renata. Cara Renata elegan masuk akal. Tapi Ezra bukan orang bodoh mau diajak masuk perangkap. Renata sedang hamil. Begitu mereka bersama maka wanita itu akan klaim ini anak Ezra. Selamanya Ezra tak bisa lepas dari jeratan Renata bila wanita itu sukses jalankan rencananya.


"Baik...tapi aku punya permintaan sangat tinggi. Aku bukan lelaki baik tapi harapan aku sangat tinggi. Aku mau isteri yang kutiduri adalah perawan tulen. Aku tak pernah menyentuh kamu artinya kamu pasti wanita suci. Aku akan penuhi permintaanmu bila terbukti kau suci. Gimana? Sekarang juga kutemani kamu cek di rumah sakit."


Renata dan Bu Humaira bagai kesengat kalajengking beracun. Nyeri sampai ke ulu hati. Dari mana gadis suci sedangkan Renata sedang hamil anak pak Jul.


Ezra berterima kasih pada Adeeva yang pintar bisa dapat kabar perselingkuhan Renata dan Pak Jul. Isterinya itu memang luar biasa. Masih muda tapi otaknya licin.


"Hakim...hormati wanita dong! Renata itu isteri kamu. Kamu tak boleh abaikan permintaan seorang isteri." bentak Bu Humaira berusaha lindungi Renata.


Renata menunduk sedih. Wajahnya sendu akibat tak dihargai Ezra. Renata berbuat demikian hendak tunjukkan dia korban keegoisan Ezra.

__ADS_1


__ADS_2