Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir

Setengah Lusin Isteri Tuan Tajir
Cari Kebebasan


__ADS_3

Judika senang bukan main dua pekerjaan kelar. Kalau dia memuji Adeeva secara langsung anak itu pasti akan meminta bonus. Maka itu Judika pura-pura bodoh tidak melirik ke arah Adeeva. Penyakit akut Adeeva tidak akan sembuh kalau mendengar yang namanya uang dan bonus. Penyakit itu sudah mendarah daging di dalam tubuh Adeeva.


Adeeva mendehem dengan kencang supaya kuping Judika dapat menangkap dengan baik. Apalagi yang diharapkan Adeeva kalau bukan uang saku dari bosnya.


"Kau sakit kerongkongan? Ini ada permen untuk melegakan tenggorokan!" Judika menarik laci berikan sebungkus permen pada gadis bengal di samping.


Adeeva menarik permen itu dengan kasar sambil lontarkan tatapan permusuhan. Dasar bos tidak peka. Orang lembur semalaman dapatnya cuma permen. Jangan harap Adeeva bersedia korbankan waktu tidur untuk bela bos pelit.


"Kayaknya kantor bos besar lebih nyaman ya teh! Senin nanti aku pindah tugas sana lagi! Kerja dikit bisa santai tidur siang sampai sore." kata Adeeva dengan suara kencang biar tembus kuping Judika.


"Apa yang akan kau kerjakan di sana? Orang bos tak ada." tanya Imron belum ngerti strategi perang Adeeva.


"Masih sedikit tugas dari bos. Kata bos aku harus tugas di sana sampai dia balik. Aku takut bos jatuh cinta padaku! Digaji buat senang-senang."


"Khayalan kelas berat neng! Bos itu punya bini secantik bidadari turun dari..."


"Bajaj..." sahut Adeeva cepat memotong kalimat Imron.


Desi dan Judika tak dapat tahan tawa. Sejak kapan ada bidadari naik bajaj. Mungkin hanya Adeeva terpikir ke situ.


"Ngawur...mana ada bidadari nyasar ke bajaj?"


"Kang...kalau sudah menikah, mau peri, bidadari, putri kecantikan tetap disebut emak-emak. Emak kan turun naik bajaj belanja ke pasar. Gitu!!" sahut Adeeva bikin Imron gondokan.


"Kapan kamu jadi emak-emak? Siapa berani kawini kamu? Seminggu nikah patah gigi depan, sebulan sama gigi taring. Setahun ompong kamu hajar." olok Imron. Adeeva bukan marah malah tertawa renyah tak anggap omongan Imron sebagai ejekan. Kata Imron bisa dekati fakta.


"Aku pasti akan nikah kalau sudah usia lima puluh tahun. Waktu itu aku sudah matang tidak ingin hajar orang lagi. Doain aku masih laku ya!"


Imron terbelalak dengar niat Adeeva akan menikah di usia senja. Siapa mau sama nenek tua keriput bertahta di wajah.


"Hei...punya mulut dijaga! Setiap kata itu doa lho?" Desi ingatkan Adeeva jangan sembarangan punya niat. Adeeva cantik cuma tomboi. Siapapun bakal tertarik padanya. Cuma Adeeva yang tak suka didekati cowok.


"Maaf kak! Canda...aku akan nikah. Besok kali ya!"


"Sama siapa? Kuda Nil?"


"Sama ikan paus." sahut Adeeva teringat pada Ezra. Dia memang menikah dengan ikan paus yang tak dia harapkan. Besok dia akan hadapi masalah lebih besar. Kembali ke keluarga punya tentakel ke seluruh penjuru tanah air. Adeeva adu nasib lepas dari cengkeraman gurita raksasa. Semoga besok dia akan dibebaskan oleh suaminya.


"Kamu ini.. omong nggak pakai filter! Nyaplak saja! Minta doa dapat suami kaya dan baik! Paling tidak seperti aku!" Judika menepuk dada dengan bangga pada diri sendiri.


Adeeva mencibir, "Ya seperti bapak yang ngumpet di bawah ketiak cewek. Galak sama kita tapi takut pada suara sang orator sejati. Dipanggil sekata nyali hilang diterpa angin."


"Kapan aku takut cewek? Ayo bilang!" Judika bangun berdiri menantang Adeeva. Tinggi mereka hampir sama. Kalau Adeeva layangkan tangan ke wajah Judika jamin akan tinggalkan bekas memar. Adeeva belum gila hajar orang tanpa alasan.


"Bapak nggak takut cewek cuma segan kan? Sudahlah Pak Judika yang cantik! Aku yang takut bapak. Ok?" Adeeva mengalah sambil tersenyum ngejek.


"Senyum apa itu?"


"Senyum ya senyum! Emang aku harus nangis ngemis cinta bapak? Tunggu bapak nikah sama tunangan terpikir mau poligami boleh lamar aku! Aku akan jadi bodyguard bapak."


Desi dan Imron tertawa geli lihat Judika menelan rasa sebel dalam-dalam. Adeeva dilawan.


"Awas kau!" ancam Judika kalah debat. Judika kembali ke mejanya dengan hati panas. Panas dan kesal tapi terhibur. Omong dengan Adeeva tak perlu serius. Anggap seluruh kata Adeeva skenario dagelan.


"Pak...aku minta bonus ya!" seru Adeeva tak malu-malu.


"Pemerasan... bonus apa lagi?"


"Besok aku nggak masuk! Aku disuruh pulang rumah. Kakek tetangga aku sunatan. Ada pesta."


Geerrr..seluruh ruang di penuhi tawa gelak. Judika sendiri tak dapat tahan tawa. Ada saja kelucuan Adeeva hidupkan divisi mereka. Hanya kata sangat sederhana namun lucu di kuping. Adeeva mengatakan tanpa senyum seakan itu kejadian memang nyata. Ada kakek kakek disunat. Baru masuk Islam atau tak ada biaya sunatan. Sudah uzur baru dapat rezeki maka dipestakan.


"Emang kakek tetanggamu masuk Islam?"

__ADS_1


"Bukan...asli Islam! Kata kakeknya dulu dia tak sempat dipestakan maka sekarang saatnya. Undang satu RT kok!" ujar Adeeva menyakinkan Judika.


"Lalu apa hubungan denganmu? Apa dulu kamu jadi saksi dia sunatan?"


"Bukan itu rencana aku pak! Aku incar posisi jadi nenek tetangga aku. Dia duda beranak delapan. Coba bayangin betapa kaya aku! Punya anak delapan dengan cucu dua lusin. Hebat toh!" Adeeva berkata pakai gaya seorang super hero menang lawan monster.


"Stress akut. Ya sudah pergilah! Senin mulai garap dua file lagi ya!"


"Siap bos! Makasih ya!" Adeeva membungkuk badan sembilan puluh derajat. Niat baik Judika tentu saja harus ada apresiasi. Adeeva tak punya uang sogok Judika maka hanya bisa kasih tanda hormat.


"Hati-hati di jalan. Kau pulang sendiri lagi?" tegur Desi selalu kuatir kalau Adeeva pulang ke rumahnya. Mereka kurang mengenal keluarga Adeeva karena anak ini pelit info soal keluarga.


"Iya teh! Utamakan keselamatan. Minggu sore aku pasti balik sini. Senin kita perang lagi. Ok?"


"Itu janjimu lho! Senin masuk kerja seperti biasa."


"Janji...sekarang aku nyicil dulu kerja Senin! Doain aja kelar satu lagi. Di rumah kerja satu artinya hari Senin aku merdeka. Bisa tidur dari pagi hingga siang."


"Datang ke kantor hanya untuk tidur ya?" tanya Imron gemas pada gadis urakan ini. Tidur tak pernah puas. Apa mungkin anak ini keturunan putri tidur dari dongeng Walt Disney's.


"Ya nggak dong! Itu hanya kerja sampingan. Kali aja tidur bisa dibayar. Kan asyik."


"Ngobrol melulu...kerja!" bentak Judika.


"Judes amat...kayaknya lagi halangan!" gerutu Adeeva tetap konyol. Sejak kapan cowok dapat halangan. Hanya Adeeva terpikir keluarkan kalimat itu.


Adeeva hormati Judika memilih anteng. Tangannya mulai keluarkan kertas catat apa yang perlu dicatat. Adeeva tak mau konyol lagi karena ingin cepat tunaikan tugas.


Besok dia harus berjuang menyelesaikan kemelut dalam hidup. Awali dengan suami pertama yang bangkotan. Selesai dari situ dia harus angkat senjata lawan bos tirani. Kalau Adeeva berhasil keluar dari cengkeraman dua pernikahan tak diharapkan maka hidup Adeeva akan merdeka. Tidak perlu ketakutan dituntut ini itu lagi.


Jam lima pagi Adeeva bersiap meluncur ke J untuk berperang. Masa depan Adeeva dipertaruhkan hari ini. Busana muslim yang jadi trademark isteri ke enam Ezra Hakim Dilangit tersusun rapi di tas travel. Adeeva tidak bawa banyak pakaian karena begitu selesai dia harus balik ke kota Parahyangan lanjut kerja.


Adeeva sengaja keluar cepat karena takut terjebak macet. Adeeva ambil rute via tol Cipali agar lebih cepat sampai. Kalau tidak terjebak macet 3 jam dia sudah bisa tiba di J.


Adeeva tidak sempat pamitan dengan Nunik karena anak itu belum bangun. Adeeva hanya tinggalkan pesan pada Bu Sulis agar kasih tahu Nunik dia pulang ke rumah untuk dua hati.


Awali dengan kata Bismillah mobil kecil Adeeva melaju tinggalkan kontrakan. Tujuan Adeeva hanya satu. Selesaikan pernikahan dan lapor pada kedua orang tuanya kalau dia sudah ditalak. Adeeva tak boleh bocorkan rahasia rencananya karena sadar akan dapat pertentangan dari keluarga.


Perjalanan masih lancar sepanjang tak begitu macet. Udara belum panas bikin adem dalam mobil tua Adeeva.


Dalam perjalanan ponsel Adeeva berbunyi. Adeeva lirik layar ponsel yang sengaja Adeeva tegakkan di dashboard agar tahu siapa telepon.


Nama ikan paus tertera di layar. Ada apa ikan paus telepon mendadak. Apa dia ada berbuat salah?


Adeeva memasang headset di kuping agar jangan terganggu nyetir pegang ponsel. Berbahaya nyetir sambil main ponsel. Rawan kecelakaan.


"Halo.. assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam...kamu di mana? Kata orang di kantor kamu minta ijin."


"Iya pak! Aku ada sedikit urusan di rumah. Besok sore aku sudah balik ke kantor kok! Ini aku sudah setengah perjalanan."


"Ya sudah hati-hati nyetir! Mata fokus ke jalan."


"Ya pak!"


Ponsel dimatikan secara sepihak. Dasar ikan paus sinting rutuk Adeeva. Belum sempat ngasih salam dia sudah matiin ponsel. Apa semua orang kaya tak kenal tata krama?


Adeeva copot headset dari kuping biar bisa dengar suara kenderaan lebih jelas. Adeeva kosongkan pikiran dari hal-hal yang akan merusak konsentrasi. Adeeva percaya Allah takkan kasih cobaan di luar batas kemampuannya. Semua akan berakhir sehingga dia mulai hidup tenang.


Dekat Maribaya tiba-tiba mobil Adeeva mogok. Terhenti tanpa laporan. Adeeva merutuk dalam hati mengapa nasib apes belum mau pergi dari hidupnya. Sudah dekat mogok pula.


Adeeva terpaksa turun dari mobil mendorong mobil ke tepi agar tidak mengganggu kenderaan lain. Susah payah Adeeva berhasil pinggirkan mobil ke tepi jalan.

__ADS_1


Kepala Adeeva kontan berdenyut. Dia buta soal perbengkelan. Di sini tidak kenal siapapun. Sama siapa mau minta tolong. Mata gadis ini berputar-putar cari kalau ada bengkel sekitar sini.


Tak ada yang gambaran ada bengkel selain rumah penduduk dan beberapa toko kecil.


Mau minta tolong pada Ezra rasa gengsi melebihi langit. Adeeva malu harus turunkan derajat memohon bantuan ikan paus. Jatuh harga Adeeva.


Pikir punya pikir Adeeva pilih teleponi Abang sepupunya si Farhan. Abangnya itu tidak mungkin abaikan adik secantik Adeeva nelangsa di jalan.


Adeeva mengambil ponsel dari dalam mobil mencoba mobil mencoba hubungi Farhan. Lama di telepon baru diangkat.


"Halo assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam...Eva? Ya ampun kamu di mana dek? Dua bulan kamu tak ada kabar."


Adeeva jauhkan kuping dari ponsel karena yang jawab bukan Farhan melainkan Deswita isteri abangnya. Suaranya nyaring bisa memecahkan gendang telinga. Sebelum kejadian Adeeva menyelamatkan kupingnya dari kehancuran.


"Kak Des...aku lagi bertapa nyari wangsit kabur dari kakek jompo. Bang Farhan mana?"


"Abangmu kurang sehat. Demam sudah dua hari. Ada apa?"


"Orang lagi butuh dia sakit. Nggak setia amat sama adik sendiri. Aku dalam perjalanan pulang. Mobilku mogok."


"Kok bisa?"


"Kakak yang cantik. Mobilku sudah uzur. Minta masuk salon dioperasi plastik. Ntah minta sedot lemak atau bongkar mesin! Minta bang Farhan utus orang ke sini. Kasih nomor hp aku!"


"Ya sudah biar kakak urus. Share lokasi biar gampang dicari. Kau sendirian?"


"Iya..kakak harap aku dengan siapa? Ayoklah kak! Aku harus buru waktu."


"Mau ke mana?"


"Pokoknya ada deh! Kabar gembira. Kutunggu kakak ya!"


ujar Adeeva menaruh harapan Deswita mampu mengurus montir kepadanya.


Adeeva belum mau berbagi kabar baik pada keluarga tentang rencana menerima talak dari suami pertama. Biarlah setelah semua kelar batu dia pulang ke rumah Abah. Abah dan Umi pasti tidak keberatan Adeeva keluar dari keluarga Dilangit. Bukan kekayaan dan nama besar dikejar tapi ketenangan hidup.


Seusai telepon Adeeva cek di mana masalah mobilnya. Dari luar tampak semua ok. Tapi mesinnya ntah sakit demam atau kena covid 19. Adeeva harus merelakan tunggangan setia selama ini nginap di bengkel mobil.


Adeeva bersandar pada pintu mobil melayangkan mata ke arah jalan raya lihat siapa tahu ada orang kenal. Tidak bisa bantu jadi teman ngobrol juga lumayan.


Semua orang asing. Mereka pun tidak open pada Adeeva yang mulai kegerahan karena matahari mulai marah pada penduduk bumi hentakan tangan beri tamparan panas ke bumi.


Adeeva masuk ke dalam mobil hindari sinar ultraviolet matahari yang bisa gosongkan kulit. Baru sebentar masuk Adeeva merasa makin gerah karena dalam mobil tak ada pendingin. Mesin mati AC mana bisa hidup.


Adeeva keluar dari mobil bergerak cari tempat teduh di emperan toko orang. Baru beberapa langkah Adeeva berjalan terdengar ada orang memanggil namanya. Semula Adeeva mengira kupingnya salah tangkap signal suara.


"Adeeva..." panggilan itu nyata karena berkumandang dua kali.


Adeeva menoleh lihat pemilik suara. Gadis ini melihat satu sosok yang dia kenal berlari kecil hampiri dia.


"Tiang listrik?"


Satria akhirnya berdiri sejajar dengan Adeeva. Nafas laki itu sedikit berburu mungkin berlari mengejarnya. Adeeva heran untuk apa lari. Memang dia mau ke mana sementara mobil ngadat.


"Ngapain sendiri di sini?" tegur Satria heran gadis ini selalu sendirian.


"Mau pulang ke rumah. Mobilku mogok..." Adeeva menunjuk SUV yang tak tahu diri itu. Mogok tanpa beri alasan pasti.


"Kenapa?" tanya Satria ikut prihatin.


"Nah itu dia! Belum sempat kutanya pada si mobil. Sakit gigi kali dia!"

__ADS_1


__ADS_2