
Adeeva memang tak suka pada Ezra namun Adeeva tetap harus bertanggung jawab sebagai asisten pribadi Ezra.
Sayang sebelum niat Adeeva membawa Ezra istirahat terhalang oleh kehadiran selir-selir yang bergerombolan masuk ke dalam rumah. Entah dari mana munculnya makhluk-makhluk hanya terbalut kimono baju renang. Seperti kata kang Apoy kalau selir-selir Ezra itu berenang di belakang rumah. Mungkin kehadiran Ezra sudah terdeteksi oleh mereka maka dengan cepat mereka datang menyongsong suami tercinta.
Adeeva terpaksa mengurungkan niat membawa Ezra naik ke atas karena telah tertahan oleh ulat-ulat bulu yang sebentar lagi akan meliuk seperti cacing kepanasan.
"Sayang... akhirnya kamu datang juga! aku telah lama menunggu kehadiranmu." Soledad yang paling duluan samperin Ezra. Wanita itu langsung memeluk lengan Ezra dengan manja. Sebagian tubuhnya melekat pada Ezra agar laki itu tahu punya stok selir bertubuh aduhai.
Adeeva mundur memilih tidak ikut bergabung dengan wanita-wanita histeris itu. Toh tak ada gunanya bersaing dengan wanita-wanita pemberani itu. Adeeva tidak memiliki nyali sebesar mereka menggoda Ezra.
Biarlah untuk sementara Ezra dimanjakan oleh wanita-wanita itu. Adeeva percaya kalau wanita-wanita itu tidak akan menyakiti Ezra. Adeeva bisa ambil waktu istirahat sejenak. Ezra pasti suka dikelilingi selir-selir sintal bikin jantung berdebar kencang.
Ezra tak bisa berbuat apa-apa ditinggal oleh Adeeva. Mau ngamuk pada gadis itu akan merusak suasana yang sengaja dia bangun untuk sadap ponsel para wanita cantik penghias hidup Ezra si raja tambang.
Adeeva berjalan ke belakang villa lihat pemandangan menghadap gunung. Betapa sejuk mata jauh lepas memandang. Bebas dari keruwetan kota juga polusi menggila.
Adeeva manjakan diri di tepi kolam renang yang baru digunakan oleh selir-selir Ezra. Mereka tentu bercanda dengan riang menikmati moments bersama yang ntah kapan akan terulang lagi. Hari ini Ezra betulan dikelilingi oleh setengah lusin selirnya.
Maharaja dikerubuti isteri-isteri berkelas. Adeeva juga berkelas di dunia sendiri. Kelas terasing tak sama dengan yang lain.
Adeeva baringkan badan di bangku panjang khusus untuk berjemur. Udara sejuk tidak terlalu panas membuat mata Adeeva berubah sayu. Angin bertiup lembut membuai Adeeva perlahan hilang alam sadar bermimpi pangeran katak yang akan warnai hidupnya.
Cukup lama Adeeva tertidur sampai ada suara lugu bangunkan Adeeva. Suara orang desa yang penuh pengabdian.
"Neng Geulis...bangun!"
Adeeva membuka mata mengucek mata indahnya yang selalu jadi jendela hati orang melihatnya.
"Kang Apoy..sudah senja ya?"
Kang Apoy berdiri menjauh setelah Adeeva buka mata. Tak enak berada dekat dengan wanita yang dibawa bos kemari. Adeeva tentu wanita pilihan bos baru mendapat kehormatan melayani bosnya itu.
"Iya neng! Pak Ezra sudah ada di kamarnya. Beliau minta akang bangunkan kamu."
Adeeva memutar sedikit bokong agar bisa bangun dengan mulus balik ke dalam rumah. Terlihat jelas kabut mulai turun hadirkan suasana lebih remang. Adeeva tak tahu berapa lama dia tertidur. Rasanya nyaman sekali hirup udara bebas polusi.
"Hatur nuhun kang! Aku akan segera urus bos kita. Gimana para gundik bos? Apa masih pecicilan goda bos?"
Kang Apoy tertawa lihat cara kasar Adeeva sebut para selir Ezra. Baru kali ini kang Apoy jumpa ada orang berani sebut isteri bos dengan sebutan gundik. Punya nyawa rangkap nih bocah. Mungkin ini yang terlintas di benak Kang Apoy.
"Ssssttt kita orang kecil tak usah cari gara-gara. Istri akang sudah datang membawa makanan."
"Akang sudah punya isteri? Wah pikir anak muda jomblo! Berapa isteri akang? Enam juga saingi bos?"
Kang Apoy goyang tangan menolak kata Adeeva. Punya satu isteri saja kepala mumet gimana mau tambah lagi. Tambah satu tambah pusing. Lama kelamaan kepalanya berputar akibat sering pusing.
"Satu saja akang angkat tangan. Sakit kuping akang dengar omelan isteri akang. Ada saja yang salah."
Adeeva tertawa geli dengar curhatan kang Apoy. Isterinya pasti wanita berkarir pakai mulut. Nyerocos bak petasan super dahsyat.
"Sabar kang! Orang yang mulutnya suka nyerocos biasa hatinya baik. Apa yang ada di hati langsung ditumpahkan. Ayok kita jumpa teteh! Aku tak sabar mau kenalan."
"Hayuk..."
Keduanya beriringan masuk ke dalam villa setelah lalui beberapa anak tangga. Di dalam ruangan sepi tak ada siapa-siapa membuat hati Adeeva bertanya pada ke mana para selir genit itu?
__ADS_1
"Mana teteh?" tanya Adeeva tak melihat siapa pun.
"Ada di dapur! Mari akang perkenalkan pada istri akang!" Kang Apoy menunjuk jalan dengan sopan. Kang Apoy belum mengenal Adeeva dengan baik maka tetap sopan jaga sikap.
Adeeva ikuti arahan kang Apoy menuju ke dapur. Di situ sudah ada satu sosok wanita bertubuh subur kenakan daster panjang serta penutup kepala dari kain karet.
Perempuan itu menoleh begitu dengar ada suara langkah masuk ke dapur. Wajah istri Kang Apoy cermin wanita sahaya tanpa sentuhan alat kosmetik.
"Hai teh...aku ini Poni! Asisten pak Ezra. Teteh tentu istri tercinta kang Apoy ya?" Adeeva duluan menyapa supaya perempuan itu tidak kaku jumpa orang baru.
"Wah neng geulis pisan! Cocok sama pak Ezra!" kata wanita bertubuh subur itu cerah.
"Cocok apanya teh? Aku ini karyawan pak Ezra. Bukan simpanan pak Ezra. Pak Ezra sudah cukup banyak bini, aku tak usah masuk buku lagi." ujar Adeeva pura-pura tak senang dianggap mainan Ezra juga.
"Gitu ya! Kalau gitu maafkan teteh! Panggil aku Teh Yuni ya! Istri kang Apoy!"
Adeeva merangkul pundak yang sarat dengan lemak penuh persahabatan. Tak ada alasan Adeeva sebel pada Teh Yuni. Wanita itu mungkin sudah terbiasa melihat Ezra bawa wanita ke villa ini maka anggap wanita yang datang itu simpanan Ezra.
"Santai saja teh! Aku pergi mandi ya! Sediakan makanan lezat lho! Aku ini gembul suka makan. Apalagi kalau masakannya enak."
"Pasti enak. Mandi sana! Nanti dingin lho! Orang kita biasa tak tahan dingin. Kalau kami sudah biasa dingin."
Adeeva ingin katakan dia juga tahan dingin karena sudah biasa tinggal di daerah dingin yakni kota B. Namun Adeeva harus ingat dia tak boleh banyak buka kartu yang bisa bongkar siapa dirinya.
"Iya teh! Aku pergi mandi! Senang kenalan sama teteh. Tunggu aku bantai masakan teteh!" Adeeva mengedipkan mata menawarkan kehangatan sahabat baru.
Teh Yuni dan kan Apoy suka pada Adeeva yang tidak angkuh walau dipilih bos jadi perawat pribadi. Kang Apoy merasa isteri Ezra yang lain sombongnya selangit. Tahu mereka punya suami kaya raya bisa seenak dengkul perlakukan orang kecil semena-mena.
Adeeva naik ke atas cari kamar Ezra. Seluruh perlengkapan Adeeva ditahan laki itu dalam kamarnya. Adeeva tak punya pilihan lain selain cari laki ini minta tasnya agar bisa bersihkan badan ganti pakaian.
"Masuk!" terdengar jawaban dari hasil ketokan Adeeva.
Adeeva memutar handel pintu menyembulkan wajah ke dalam kamar Ezra sebelum masuk ke dalam. Adeeva mau lihat apa yang dilakukan laki itu selama dia bermimpi.
"Maaf pak ketiduran di belakang!" Adeeva langsung ngaku dosa sebelum diproses bertele-tele oleh laki ini.
Ezra hanya mendengus tak beri jawaban. Laki itu masih setia duduk hadap jendela yang makin buram akibat senja makin jatuh.
"Pak...aku mau mandi! Di mana pakaian aku?"
"Sudah disusun dalam lemari oleh Teh Yuni." kata Ezra tanpa menoleh ke Adeeva.
Kini Adeeva mengerti mengapa Teh Yuni salah sangka padanya. Siapapun akan berpikiran buruk bila bos meminta pakaian anak gadis disatukan satu lemari dengan pakaian bos. Hanya orang tertentu punya rezeki dekat dengan Ezra. Salah satunya Adeeva.
Adeeva merasa tak ada guna protes melulu. Yang ada bikin hati Ezra makin tak enak. Sudah apes jumpa pula asisten kanibal. Kerjanya membantah melulu.
Gadis ini segera buka lemari cari pakaian yang pantas untuk udara dingin. Adeeva memang tak punya banyak pilihan karena pakaian yang dibawa hanya beberapa potong. Adeeva pilih baju tebal dengan celana satu warna dengan baju atasan. Baju training warna biru muda menutup rapat seluruh tubuh pemakainya.
Setelah mendapat apa yang dia inginkan Adeeva masuk ke kamar mandi bersihkan badan dari kotoran. Untung ada air hangat sehingga tidak terlalu dingin mandi. Mandi air dingin juga tak masalah karena Adeeva sudah biasa.
Puas bersihkan badan gadis ini berpakaian barulah berani keluar temui bos yang sedang muram durja. Dari sini Adeeva timbul rasa iba pada laki ini. Punya uang segudang namun dikhianati oleh keluarga yang dia percayai. Betapa menyakitkan.
"Pak...kita turun ke bawah?" tanya Adeeva pelan takut membuat Ezra kaget.
Kali ini Ezra menoleh karena tercium bau yang paling dia sukai. Bau abadi yang tak lekang dari hidung Ezra.
__ADS_1
"Sudah mandi?"
"Sudah...Bapak tak mau ngobrol dengan selir-selir bapak? Mungkin ngobrol akan temukan titik temu."
"Ngobrol apa? Apa yang kita bicarakan dengan orang hanya tahu uang dan uang. Oya...nanti kang Apoy akan beri kita minum wedang jahe. Kau masukkan obat dalam tas saya lima tetes setiap gelas. Itu sesuai takaran aman. Kau tak perlu kuatir mereka celaka. Cuma akan tidur lelap."
"Pak apa itu tak bahayakan jiwa mereka?"
"Sudah kubilang aman. Cukup lima tetes jangan lebih!"
"Jujur aku takut karena belum pernah kerja yang ginian. Salah-salah mereka tidur panjang."
"Kalau kau tuang satu botol pasti tidur panjang. Makanya kuminta lima tetes saja."
"Kalau ada apa-apa bapak yang tanggung jawab ya!"
"Itu urusan aku! Sekarang kita turun ke bawah."
"Aku sholat dulu ya! Bapak mau ikut sholat?"
Ezra tertegun dengar pertanyaan Adeeva. Ezra belum siap laksanakan permintaan Adeeva. Dia masih sangat buta soal agama. Masih butuh tangan khusus bimbing Ezra menjadi sosok lebih baik. Semoga Adeeva punya jiwa sabar antar kembali Ezra pada hakikat seorang umat beragama.
Melihat Ezra tidak buka mulut Adeeva telah tahu jawaban ajakan dia. Tak usah dijawab pakai mulut Adeeva ngerti Ezra menolak.
Adeeva tidak memaksa selain balik ke kamar ambil air wudhu sebagai persyaratan pertama untuk dirikan sholat.
Adeeva sholat sementara Ezra masih duduk di posisi semula menanti Adeeva selesaikan melapor keluh kesah dalam hati pada Ilahi.
Selesaikan sholat tiga raka'at Adeeva simpan peralatan sholat ke tempat semula. Hati Adeeva terasa adem telah tunaikan tugas sebagai umat muslim. Adeeva lebih semangat bantu Ezra cari kebenaran dari kelima isterinya. Berdosa sedikit cari pahala lebih besar selamatkan Ezra dari jurang kehancuran.
Tatkala Adeeva dan Ezra turun ke lantai bawah kelima selir Ezra sudah duduk manis di ruang keluarga dengan pakaian beda model. Rata pakai baju tebak untuk hindari hawa dingin. Gunakan pakaian minim juga tak ada guna karena Ezra buta tak bisa lihat betapa sintal tubuh para gundik nya. Sekarang bukan soal pakaian tapi soal kelihayan masing-masing iring Ezra ke tempat tidur. Siapa cepat dia dapat. Seperti ikuti kuis berhadiah saja. Pemenang bakal dapat hadiah besar berupa suami ganteng.
Baru beberapa langkah Ezra jalan sudah ada dua ulat bulu nemplok pada Ezra caper. Mereka segera gandeng Ezra untuk duduk di sofa lembut di ruang keluarga.
Soledad paling aktif cari perhatian Ezra karena dia paling muda di antara mereka berlima. Tua tiga tahun dari Adeeva. Pesonanya masih sanggup rontokkan iman para cowok.
"Sayang...malam ini aku tidur di kamarmu ya!" bujuk Soledad manja menempelkan wajah ke lengan Ezra.
"Kalau kau tidur di kamar pak bos gimana yang lain?" tanya Adeeva membela yang lain.
"Nona Poni benar.. bukan kamu saja isteri Mas Ezra! Kami ini apa?" tukas Renata kurang senang Soledad sok hebat kuasai Ezra.
"Betul...harus ada keadilan di sini!" sambung Dorce sumbang pendapat.
"Lalu apa solusinya?" Farah yang ikut bantu Ezra berjalan ke sofa tak mau kalah ikut bicara.
Adeeva pilih jadi penonton budiman saja! Biarlah perang nuklir meledak malam ini. Ezra jadi pemicu perang saudara di villa ini. Adeeva dengan suka cita jadi saksi perang di antara para selir. Bodoh kalau dia ikutan.
Adeeva meringsut cari tempat strategis saksikan tayangan live yang telah mulai. Tanpa sutradara dan produser dalam tayangan ini. Akting alami dari manusia berbakat dimulai sejak dari rahim emak mereka.
"Kalian ini gila ya? Kalian anggap aku apa?" bentak Ezra hilang kesabaran dijadikan bahan rebutan para selir.
Adeeva tertawa geli lihat satu persatu selir Ezra terdiam. Baru mulai tayang sudah pose. Sungguh tak asyik. Maunya ribut lebih hebat menambah semarak villa yang jauh dari keramaian.
"Kita di sini sampai pagi biar tak ada perbedaan. Nanti kalian bawa selimut masing-masing supaya jangan masuk angin! Suruh kang Apoy tutup semua pintu dan jendela." kata Ezra keras tak mau dibantah.
__ADS_1